14. Mulai Peduli.

Suara yang ditimbulkan dari aliran air sungai ini sangat menyejukkan hati, ikan berenang ria tanpa beban dibawah sana. Ikan-ikan itu terlihat dengan jelas, karena sungainya bersih belum tercemari oleh limbah apapun. Berbeda dengan dimasa depan, di kota-kota besar kita akan jarang mememukan sungai yang mengalirkan air bersih.

Di sampingku Raden Rawikara tengah membersihkan lukanya, sebenernya dia tadi berkeras kepala tidak ingin melalukan hal itu. Tapi dengan paksaanku dia akhirnya mau ke sungai ini untuk membersihkan lukanya.

Tidak lucu kan jika dia mati karena luka itu, sedari tadi kulihat wajahnya sangat pucat sedangkan dirinya bersikukuh itu hanya luka kecil. Jika dia mati kan bahaya, rumor itu nanti tidak selesai dan romo akan tetap marah padaku.

"Raden wajahmu sangat pucat, apakah Kau baik-baik saja?"

Bukan hanya pucat tapi bibirnya juga mulai membiru.

Memang luka itu cukup dalam dia juga kehilangan cukup banyak darah, tapi kan tidak mungkin dia tidak memiliki ilmu kanuragan sehingga dalam keadaan setidak baik itu hanya karena anak panah.

"Lukaku terasa gatal, mungkin anak panah itu mengandung racun juga." Ucapnya dengan wajah datar.

Dia berkata dengan entengnya seolah racun itu bukan hal besar, jika aku yang terkana pasti sudah panik bukan main. Aku tidak mau mati secepat itu.

"Bagaiamana bisa Raden setenang itu menyebutkan racun, cepatlah kita harus keluar dari hutan dan segera mencari tabib!"

Tidak lucu kan kalau dia mati sekarang di hadapanku, nanti aku malah jadi tersangka pembunuhan dan masalahku bukannya selesai tapi tidak bertambah.

Dia justru terkekeh mendegarkan kalimatku, sungguh rasanya ingin meninggalkan orang ini dan pergi jauh. Lama-lama bisa gila aku berhadapan dengan dia.

"Raden! Mengapa kau begitu tenang? Ini–"

"Maheswari sepertinya otakmu kosong."

"Apa kau bilang, justru Kau yang aneh! Cepatlah kita pergi cari tabib."

"Kau pikir jika racun itu berbahaya aku masih bisa bernafas saat ini?"

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, mengapa aku tidak berpikir sampai kesitu. Raden Rawikara wajahnya juga terlihat tenang tidak panik sama sekali, itu artinya racunnya memang tidaklah berbahaya.

Namun untuk apa mereka melakukan itu? Bukannya menggunakan racun berbahaya sekalian agar target mereka langsung terbunuh tapi ini menggunakan racun yang tidak berbahaya.

"Tapi mengapa mereka melakukan itu? Mengapa tidak langsung racun berbahaya saja?"

"Karena niat awal mereka memang bukan untuk membunuh."

"Maksud Raden?"

"Mereka hanya sedang memberi peringatan."

Sekarang aku paham, seperti kata ibu waktu itu. Raden Rawikara saat ini sedang merintis karirnya di istana. Istana tidak melulu tentang kemegahan dan kenyamanannya, ada saatnya perbutan kedudukan terjadi. Mungkin serangan itu berasal dari musuh Raden yang iri dengannya atau orang yang berebut jabatan dengan Raden.

Inilah sisi lain dari megahnya istana, banyak sekali peristiwa berdarah dibaliknya. Orang-orang yang gila akan jabatan dan juga mengingakn banyak harga tidak segan untuk menghilangkan satu nyawa demi hal itu. Sungguh kejamnya.

***

Sampai di kediaman hari sudah gelap, dikarenakan kami pun juga melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ibu dan romo sudah menunggu di pendopo depan dengan wajah cemas mereka, Ratini juga bersimpuh disana kuyakin dia sudah sampai dari tadi.

Andai saja tadi aku tidak ikut bersama Raden Rawikara pasti tidak perlu capek-capek berjalan dan juga ketakutan karena dikejar orang-orang jahat itu.

"Kau membuatku sangat marah Maheswari!"

Romo berdiri dari duduknya, wajahnya berubah merah padam. Aku baru sampai saat matahari sudah tenggelam, dan kami hanya berdua saja. Memangnya yang pertama kali terpikir apa jika bukan hal yang aneh-aneh.

"Romo tadi ada pembu–"

Raden Rawikara memegang lenganku dan menggelengkan kepalanya, pertanda aku tidak boleh melanjutkan ceritaku. Tapi mengapa? Aku tidak ingin romo salah paham lagi, kan aku lagi yang kena.

"Paman tadi kami mengalami kecelakaan kecil, sehingga sedikit terlambat."

"Kecelakaan?"

"Kuda yang kami tunggangi terjatuh, maaf tidak bisa menjaga putrimu dengan baik."

Romo perlahan menghilangkan raut kemarahannya saat melihat luka di lengan Raden Rawikara. Tapi aku masih heran kenapa Raden malah menyembunyikan tentang para pembunuh itu?

Bukankah sebaiknya itu diperkarakan agar dicari siapa dalang dibaliknya dengan begitu Raden dapat merasa aman. Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang ini.

Ibu ikut berdiri lalu pandangannya beralih ke arahku, mungkin untuk memastikan aku terluka atau tidak. Dia terlihat menghela nafas lega saat tahu tidak adanya luka di tubuhku.

"Maheswari segerlah obati Raden Rawikara!" Perintah ibu.

Aku menunjuk diriku sendiri, "Aku?"

"Cepatlah!"

"Mari Raden."

Aku berjalan ke ruang penyimpanan obat, disana ada pelayan yang tengah membersihkan ruangan. Obat-obatan disini hanyalah dedaunan kering bukan seperti obat yang biasa ditemui di apotek. Jadi aku mana tahu jenis obat apa yang harus kugunakan.

"Hei Kau."

Seorang pelayan lelaki yang tengah membersihkan tempat ini beranjak ke arahku. "Ada apa Ndoro?"

"Daun untuk luka yang mana?"

"Ndoro saya hanya pelayan yang membersihkan ruangan ini, saya tidak tahu apa-apa. Ndoro mungkin bisa bertanya pada Nyi Sumi."

"Siapa Nyi Sumi?"

"Apakah Ndoro lupa jika Nyi Sumi itu kepala pelayan."

Mungkin aku masih bisa mengenali beberapa daun untuk luka tapi itupun hanya beberapa, dan jenis daun kering disini sangat banyak, mana aku tahu mana yang berguna. Ada juga pot-pot berisi tanaman hidup di ujung sana tapi itu juga bermacam-macam kan tidak lucu kalau sampai salah mengambil.

"Kau tidak tahu?"

Suara dibelakangku membuatku terkejut, sejak kapan lelaki itu berada di belakangku.

"Tidak." Cengirku dengan senyuman tanpa dosa.

Kalo ada mbah google mungkin aku akan tahu, di zamanku kan sudah ada obat-obatan di apotek yang tinggal beli saja. Jadi tidak perlu mengenali satu persatu fungsi dari daun herbal.

"Ambilkan saja kain untuk membebat lukaku."

Meski tadi lukanya sudah dibasuh tapi tetap bisa infeksi kalau tidak diberi obat, jika itu terjadi ibu pasti akan menyalahkanku jika aku tidak mengobati orang ini. Ditambah lagi akan tercipta rumor baru, yaitu Raden Rawikara tidak diperlakukan baik di kediamanku, tidak tidak... satu rumor saja sudah membuatku pusing tujuk keliling jangan sampai bertambah lagi.

"Tidak Raden luka itu harus diobati, bisakah Raden tunjukan mana daun yang bisa digunakan?"

"Bagaimana bisa putri dari keluarga terhormat sepertimu tidak tahu."

Aku hanya menanggapi kalimat itu dengan sumpah serapah di hati, mulutnya ini benar-benar minta disumpal.

Dia beranjak ke pot tanaman hidup, memetik beberapa lembar daun berwarna hijau dan menyerahkannya padaku. Entah apa namanya aku juga tidak tahu, tapi sepertinya aku pernah melihat daun ini. Ah rupanya daun yang sama diberikan oleh orang yang mengores pipiku dengan anak panah itu.

"Tumbuk ini."

Aku mengangguk dan segera beranjak dari hadapannya, "Maheswari,"

"Ada lagi Raden?"

"Kau harus belajar banyak Maheswari."

Aku menghela nafasku malas, ya memang aku tidak tahu karena bukan berasal darisini. Tapi kan mengobati orang juga bukan tugasku jadi untuk apa aku harus belajar.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!