"Ndoro... matahari sudah naik diatas kepala bagunlah."
Entah itu sudah keberapa kalinya Ratini mengucapkan hal yang sama, lagi-lagi aku hiraukan karena selimut ini sangat hangat memelukku.
"Ndoro... "
Aku menyerah karena merasa percuma kembali memejamkan mata karena suara Ratini semakin mengangguku, badanku pegal semua dan mataku masih terasa berat.
Kemarin aku tidur pada pukul dua pagi, karena sibuk menyambut keluarga besar yang datang kesini. Aku tidak tahu siapa saja mereka maka dari itu sebagai cara jitu untuk mencari aman, aku hanya tersenyum dan menjawab setiap pertanyaan mereka sehati-hati mungkin.
"Kau berisik sekali Ratini."
"Maaf Ndoro ... tapi itu– "
Ratini menghentikan kalimatnya membuatku menunkikkan kedua alis karena penasaran.
"Itu... "
"Apa? Katakan saja cepatlah!"
"A-ada Raden Rawikara sedang menunggu Ndoro."
Aku hanya mengangguk dan bersiap untuk bangkit dari ranjang, tunggu... tunggu. Siapa tadi? Raden Rawikara? Apakah aku tidak salah dengar tadi karena kesadaranku belum sepenuhnya pulih.
"Siapa yang sedang menungguku?"
"Raden Rawikara, Ndoro."
"APA?!"
Ratini terkejut mendegar keterkejutanku. "Ndoro pelankan suara Anda."
"Bagaimana dia bisa berada disini?"
"Ndoro sebaiknya Anda segera membersihkan diri, Raden sudah cukup lama menunggu Anda."
Kebetulan macam apa lagi ini? Orang yang ingin sekali aku hindari justru semakin dekat denganku seiring berjalannya waktu. Dia memang tampan tapi apa untungnya jika nanti aku tetap akan digoshting, seperti kejadian Arsen.
Atau mungkin saja dia kesini tidak untuk menjemputku, aku punya dua kakak dan mungkin Raden Rawikara ingin menemuinya bukan menemuiku kan.
"Ratini, pasti dia tidak sedang menungguku. Dia pasti kesini untuk mengunjungi kandaku bukan aku."
*Kanda : Sebutan untuk kakak laki-laki.
"Ndoro, apakah Ndoro tidak tahu jika Raden Rawikara hampir tidak memiliki teman?"
"Masa sih?"
Ratini mengernyit, "Ndoro berbicara apa?"
Dia lelaki yang terlihat ramah, dari tatapannya yang tegas mengambarkan jika dia mampu mengutarkan apa yang dia inginkan jadi sepertinya mustahil jika seseorang seperti itu ternyata antisosial. "Dia tidak memiliki teman? Benarkah itu?"
"Iya Ndoro, kabar itu seudah tersebar. Sedari dulu Raden Rawikara menjadi orang yang paling sulit untuk didekati berbeda dengan kakaknya."
"Ndoro cepatlah, jangan membuat Raden menunggu lebih lama lagi."
Dengan malas aku melangkahkan kakiku untuk pergi membersihkan diri.
Meski sudah melakukan gerakan selambat mungkin agar kegiatan ini semakin lama, nyatanya kini aku sudah berganti baju dengan rapi. Mengatur nafasku setenang mungkin aku mendatangi Raden Rawikara yang tengah menyesap secangkir teh di pendopo depan.
Rahang tegas yang berpadu dengan hidung runcung itu terlihat sangat menawan, ditambah lagi bibir yang terlihat menggoda itu juga turut membuatnya semakin tampan. Pantas saja banyak gadis yang memujanya, seperti saat pemilihan tari kemarin, mereka semua berharap untuk bisa dipilih dan menari bersamanya.
Namun takdir berkata lain, dari sekian banyak yang ingin mengapa yang terpilih justru aku yang jelas-jelas tidak menginginkan untuk menari bersamanya.
"Maaf Raden membuat Anda menunggu lama." Ucapku sesopan mungkin.
Meski suasana hatiku sedang buruk aku harus bisa menarik sudut bibirku, ini diajarkan oleh ibu, bukan ibuku tapi ibunya Maheswari. Dia sangat baik dan sudah mengajariku banyak hal semenjak aku berada disini.
Matanya berbinar begitu melihatku datang, jangan sampai aku semakin dengan dengan orang ini, aku tidak ingin jika nantinya hanya akan dikecawakan.
"Tidak apa-apa. Kediamanmu sangat nyaman dan indah dipandang itu tidak akan membuatku bosan meski harus menunggumu setengah hari."
Jadi sudah selama itu dia menungguku, haduh malu sekali rasanya, menyembunyikan wajah dibalik kantong kresek rasanya lebih baik untuk saat ini.
"Maaf Raden, " ada rasa bersalah juga di hatiku, sudah tahu dia menunggu lama tapi aku justru melambatkan kegiatan mandiku barusan.
"Tidak apa."
Aku mendudukan diri di kursi sebelahnya, dia masih fokus memandang belukar hijau di depan. Tukang kebun mungkin lupa untuk memotong rumput hingga sudah sepanjang itu.
Selang beberapa detik masih keheningan masih menjadi nuansa utama di tempat ini, Raden Rawikara tidak membuka suara sama sekali, tapi kuyakin pikirannya sedang tidak kosong. Entah apa yang tengah dia pikirkan aku juga tidak tahu.
"Eum, jika boleh tahu apa maksud Raden datang?" Pada akhirnya aku memecah keheningan, meski kalimat itu sedikit tidak sopan untuk kutujukkan pada tamu. Tapi daripada keheningan ini berlanjut lebih lama, itu semakin tidak bagus.
"Aku tadi ada urusan dari kerajaan, karena melewati rumahmu jadi sekalian saja menjemputmu."
"Menjemput?"
Dia mengangguk, "Bukankah kita akan berlatih menari hari ini? Jadi sekalian saja aku menghampirimu."
Salahkan saja otakku yang mendadak lola ini, maklumlah aku baru saja bangun, meski sudah mandi tapi kinerja otakku belum pukih seratua persen.
Jadi dia datang kesini tujuannya hanya untuk itu bukan dengan alasan lain, syukurlah jika dia tidak memiliki perasaan lebih padaku. Lagipula tidak mungkin juga, orang setampan dia akan menaruh hati padaku.
Mungkin dimasa depan wajah tampan Raden Rawikara itu hanya disebut tampan saja karena masih banyak yang lebih tampan, yaitu mereka keturunan blasteran. Entah blasteran korea, china, belanda atau amerika tapi mereka pastinya sangat tampan.
Berbeda dengan di zaman ini, belanda saja belum masuk ke sini, belum ada keturunan blasteran. Semuanya murni pribumi, jadi jangan heran kalo Raden Rawikara dielu-elukan banyak gadis. Jarang sekali ada yang lahir dengan garis wajah sebagus itu.
"Jika begitu mari kita berangkat ke rumah Raden, karena hari sudah siang."
Dia hanya mengangguk seadanya lalu bangkit, "Marilah." Aku berjalan pelan mengekor di belakangnya, langkahku tertinggal lumayan jauh karena jaritku terlalu ketat, pasti Ratini buru-buru tadi hingga jarituku ini terlalu ketat.
Sampai di depan kediaman ada seekor kuda yang tengah makan rumput disana, "Kita naik ini?"
"Tentu saja, memangnya kau ingin berjalan kaki?"
Rumah Raden Rawikara lumayan jauh darisini, biasanya aku akan berjalan cukup jauh dengan diantar satu pengawal dan satu lagi pelayan, memang cukup melelahkan jika berjalan kaki. Tapi saat itu aku juga pernah sekali naik kereta kuda, tapi itu membuatku mengantuk karena kudanya berjalan sangat lambat jadi aku lebih suka berjalan kaki meski harus kelelahan.
"Tapi Raden, saya menggunakan jarit, pasti akan sulit."
Raden rawikara menaiki kudanya dan mengulurkan satu lengannya padaku, yang benar saja. Bagaiamana caranya aku naik, kain batik ini saja sudah cukup membuatku susah berjalan karena terlalu ketat..
"Naiklah."
Aku mulai naik ke pijakan, meski sudah berada di pijakan tapi sekali lagi masih ingin kukatakan jika kain ini terlalu ketat aku tentu tidak bisa naik.
Tubuhku tersentak saat tiba-tiba saja kedua lengan Raden Rawikara mengangkatku ke atas kuda, membawa tubuhku untuk duduk di depannya dengan posisi miring. Dia menarik kekang kudanya yang membuat jarak kami tentu semakin dekat.
Jantungku seperti sedang bermain drum saat nafas Raden Rawikara terembus tepat di tengkukku. Bagaimana bisa sekarang jarak kami sangatlah dekat, oh jantung tidak bisakah kau diam. Kan malu kalo sampai dia mendengar detak jantungku.
Kuda sudah berjalan cukup jauh, tapi detak jantungku masih saja terdengar sangat keras. Kami melewati jalanan ibu kota yang ramai, banyak pasang mata yang memperhatikan kami, pasti banyak yang mengenal Raden Rawikara dan mereka akan mengosipkan tentang peristiwa ini.
Naik kuda bersamanya dan duduk dengan posisi seperti ini, pasti banyak yang akan membicarakan. Terlebih orang ini adalah Raden Rawikara, orang yang digandrungi cukup banyak gadis disini. Pasti banyak sekali omongan yang akan membuat telingaku cukup panas.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
...And, see you....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments