"Raden mereka sedang apa?"
Aku menunjuk pada orang-orang yang tengah berkerumun, para pemuda yang telihat tengah berpikir melihat kain dengan tulisan aksara pallawa di depan mereka.
"Memecahkan teka-teki dari Raja."
Mereka terlihat antusias dengan kegiatan mereka sepertinya memecahkan teka-teki adalah hal yang menarik.
"Raden aku ingin juga."
"Aku akan mengantarkanmu pulang, tidak perlu pergi kesana."
"Raden ayolah, setelah ini kita pulang."
Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung melangkahkan kakiku menghampiri mereka. Dua paragraf kalimat dengan aksara pallawa yang sama sekali tidak aku mengerti, inilah yang menjadi masalahnya. Huruf ABCD pasti belum digunakan pada zaman ini.
Kuedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Raden Rawikara dan ternyata dia sudah berdiri tepat dibelakangku.
"Raden bisakah kau bacakan itu untukku."
"Bukankah Kau yang ingin menebaknya?"
Disini aku tidak bisa membaca aksara itu bukanlah suatu hal yang aneh, karena di zaman ini seorang perempuan memang tidak diajari untuk membaca menulis. Belum ada emansipasi wanita yang dicetuskan oleh R.A Kartini.
"Raden ayolah."
"Seperti mawar berduri, durinya bahkan bisa menghancurkan satu negara. Semakin kau mengenggamnya maka kau akan semakin terluka. Luka berbekas yang akan selamanya kau sesali karena pernah melihatnya."
Begitu mendengarnya aku sudah langsung tahu jawabannya, itu adalah topik yang tadi baru aku dan Raden Rawikara bicarakan.
Meski benci mengatakannya tapi jawaban dari teka-teki itu adalah wanita, ya raja terlalu mengagap wanita sebagai perusak segalanya hingga mengeluarkan sajak yang begitu mengerikan.
Pantas jika banyak yang kesulitan menebaknya, sajak untuk wanita biasa digambarkan sebagai eloknya bulan dan harumnya bunga. Bukan duri mawar yang tajam dan menyakitkan.
"Raja benar-benar keterlaluan, aku tidak terima.
"Kau tahu jawabannya?"
"Raden juga pasti tahu kan?"
"Lalu mengapa Kau marah?"
"Aku seorang wanita, dan kalimatnya itu tentu sangat merendahkan wanita. Seolah tidak ada wanita baik saja di dunia ini."
"Seperti tadi yang kukatakan Maheswari, Kau sud– "
"Iya Raden aku tahu, tapi aku tidak terima jika sajaknya seburuk itu."
"Lalu Kau mau apa? Dia seorang raja."
"Aih Raden Kau sangat menyebalkan."
Dia meraih lenganku tapi dengan segera aku menipisnya, "Ayo kita pulang."
"Tidak!"
"Kau marah padaku?"
Aku menggelengkan kepalaku, marah sih tidak hanya kesal saja. Mengapa para lelaki ini mengangap wanita sebagai perusak. Tidak bisakah melihat yang lain, tidak semuanya merusak dan membebani.
"Tidak adakah yang ingin menjawab lagi?"
Pertayaan abdi istana itu mengalihkan perhatianku, "Aku."
"Silahkan Ndoro Ayu?"
Aku melihat seluruh tatapan mata mereka mengarah ke arahku, banyak yang menertawakan. Mengangap itu adalah hal lucu, perempuan memang tidak disekolahkan di zaman ini mereka hanya bertugas mengurusi rumah. Tapi aku kan bukan darisini tentu aku wanita yang berpendidikan.
"Aku ingin menjawabnya di depan orang yang membuat pertanyaan."
"Maheswari!"
Aku hanya menatap seklias Raden Rawikara yang dengan jelas melarangku melakukan hal ini.
Namun aku perlu mendebatkan hal ini dengan orang yang menganggap wanita seperti hama. Mengubah presensinya, tentang semua itu. Jika jawaban itu terpecahkan, akan tersebar sajak untuk seorang wanita seburuk itu, aku yakin diskriminasi wanita akan semakin menjadi.
Tidak hanya perbedaan pendidikan seperti sekarang, pasti nanti akan lebih lagi. Mengingat yang mengeluarkan sajak itu adalah Raja, orang nomor satu dalam negeri ini.
"Kau hanya perlu menulis jawaban anda dalam kain ini lalu nanti aku akan membacakan jawaban dari Raja. Jika jawabanmu benar, kau akan mendapatkan banyak koin emas dari baginda."
"Tidak, aku tidak ingin koin emas tapi aku ingin menjawabnya di depan raja!"
"Maheswari jangan melewati batasmu." Raden Rawikara menarik lenganku agar aku sedikit mundur dari tempat itu.
"Raden jika semua orang tahu, sajak mengerikan itu ditujukan untuk wanita. Diskriminasi akan semakin menjadi, aku tidak ingin harga diri para wanita semakin diinjak-injak."
"Itu hanya sajak, tidak akan berdampak seburuk itu."
"Tentu saja akan buruk, hanya kaum lelaki yang mendapatkan pendidikan lalu nanti apa lagi? Raden kumohon jangan halangi aku."
"Teka teki yang raja berikan biasanya sebagai wadah untuk dia menemukan pemuda yang cerdas, dia akan bersemangat tentang teka-teki ini. Mungkin Kau bisa menjawabnya langsung di depan raja ... Tapi ingat apapun yang nanti akan Kau katakan, jangan sampai melewati batasmu."
"Tentu Raden."
Ya aku memang perlu berdebat tentang hal ini pada raja, mungkin presepsi ini juga yang membuatnya enggan memilih ratu. Seperti yang Raden Rawikara katakan, para pejabat akan sibuk membuat putri mereka menepati posisi ratu.
Namun itu yang akan terjadi mengapa pihak wanitanya yang disalahkan? Yang haus kekuasan kan ayah mereka, bukan mereka. Itu sangat tidak adil.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments