07. Tidak Berharap Terpilih.

Raden Rawikara mulai mengambil sampur panjang berwarna kuning, mengamati kami satu persatu. Kuakui soal ketampanan dia memang tampan, sama persis seperti Arsen. Itu mengapa aku tadinya juga beruntung menjadi kekasih dari lelaki setampan Arsen meski akhirnya dighosting.

Aku menunduk dalam dan hanya melihat lantai menghitung detik demi detik berharap waktu dengan cepat berlalu. Tapi nafasku tercekat saat tiba-tiba saja sampur kuning itu dikalungkan pada leherku. Perasaanku mendadak tidak enak, kunaikan pandangan dan tepat didepan mataku dada bidang itu terhampar.

Menaikan lagi pandanganku aku dapat melihat lelaki yang memiliki tinggi lebih dariku, bahkan tinggi lelaki ini sama persis dengan Arsen. Dulu jika berjalan bersama tinggiku sepundaknya dan dengan Raden Rawikara ini juga sama.

"Pergilah ke taman belakang." Ucapnya pelan.

Aku masih belum mengedipkan mataku, bahkan sampai Raden Rawikara berlalu. Ini adalah hal yang sangat aku tidak inginkan tapi harus terjadi, Raden Rawikara itu membuatku selalu teringat dengan Arsen, lalu sekarang harus menari bersamanya.

"Maheswari cepat pergilah! Jangan membuat Raden menunggumu." Galuh menyengol lenganku.

"Galuh aku tidak mau pergi, aku tidak ingin menari.... "

"Semua orang disini menginginkannya dan kau malah menolaknya, kurasa kau ini memang tidak waras."

"Maheswari, ayo aku akan mengantarmu."

Di depan nyi Gendhik mengucapakan kalimat itu, mau tidak mau aku menyeret malas kakiku untuk mengikuti langakahnya.

"Putraku itu aneh, biasanya dia tidak akan mau menari meski dia bisa melakukannya. Tapi kali ini tanpa harus membujuknya dia mau." Celetuk nyi Gendhik tiba-tiba.

Memang bakat itu menurun dari orang tua, jadi pasti Raden Rawikara bisa menari karena gen dari Nyi Gendhik.

"Mungkin karena ini dipersembahkan untuk raja sehingga Raden berkenan." Jawabku pelan.

"Dia memang lebih menyukai memanah dan berlatih kanuragan daripada menari, tapi syukurlah kali ini dia mau."

Sampailah kami di taman belakang, disana ada dua orang lelaki yang satu Raden Rawikara dan yang satu lagi terlihat lebih tua beberapa tahun darinya.

"Rawikara penari yang kau pilih ini bernama Maheswari dia putri dari Panji Kartasana."

Raden Rawikara hanya mengangguk mendengar ucapan itu, tapi aku yakin dia masih ingat namaku karena beberapa hari lalu kita sempat berjumpa.

Seseorang disamping Raden Rawikara menyunggingkan senyuman, "Ibunda putramu yang satu ini memang tidak salah pilih, selera Rawikara memanglah bagus." Sontak saja kalimat itu mendapatkan lirikan tajam dari Raden Rawikara.

"Berhenti menggoda adikmu Raganta, bukankah kau memiliki tamu didepan."

"Baiklah Ibunda, aku kesini hanya untuk melihat gadis yang membuat adikku mau menari, ka- "

Belum sempat kalimat itu diakhiri Raden Rawikara sudah menyeret lengan Raden Raganta untuk segera menjauh. Raden Raganta ini memiliki garis wajah yang berbeda meski dia adalah kakaknya Raden Rawikara. Raden Raganta banyak bicara sedangkan Raden Rawikara lebih banyak diam.

"Aku kemarin melihatmu menari, dan gerakanmu sangat halus Maheswari."

"Anda terlalu memuji Nyi."

Nyi Gendhik mengalihkan pandangannya pada Raden Rawikara, "Coba kalian sesuaikan gerakan, aku ingin melihatnya."

Aku menatap cengo ke arah Raden Rawikara, tapi wajahnya tetap santai, dia justru bergerak untuk berdiri dibelakangku. "Menarilah aku akan mengikuti gerakanmu. "

Aku mengangguk, mulai menekuk sedikit kakiku dan menggerakan tubuh. Tarian Rama Sita ini memiliki khas yaitu Sita yang berdiri anggun dan juga Rama yang berdiri di belakangnya dengan gagah. Jika di zaman modern Rama menggunakan busana sama seperti yang kini Raden Rawikara gunakan tetapi di punggungnya mengantung selusin anak panah.

Aku lekas menari dengan tarian yang selama ini kutahu, sedikit juga memadukan dengan yang dicontohkan Nyi Gendhik. Sesekali mata kita beradu beradu pandang saat melakukan gerakan menyamping.

Sekarang aku tahu perbedaan ketara antara Raden Rawikara dan Arsen. Raden Rawikara memiliki wajah datar atau bisa dibilang cool dia sangat irit senyum, sedangkan Arsen dia selalu tersenyum bahkan memperlihatkan tawa lepasnya di depanku.

Aku memghembuskan nafasku lega, akhirnya selesai juga. Meski hanya beberapa menit saja rasanya sangat lama. Selain karena mirip dengan Arsen, faktor Raden Rawikara yang telanjang dada juga menjadi pengaruh perasaanku yang tidak menentu, siapa wanita normal yang tidak memandang dua kali perut six pack itu.

Nyi Gendhik menepuk tangan saat aku sampai digerakan terakhir, "Kalian sangat cocok." Nyi Gendhik mungkin bukan orang pertama yang mengatakan itu karena dulu juga bukan satu dua orang saja yang mengatakan aku dan Arsen pasangan yang sangat serasi.

"Saya pamit pulang Nyi, hari sudah mulai gelap dan saya harus segera kembali."

Nyi Gendhik mengangguk, aku memberi seulas senyum pada nyi Gendhik dan Raden Rawikara dan langsung beranjak pergi dari tempat itu. Aku diantar dan juga pulang naik kereta kuda yang dikendarai orang dari rumah. Jangan bayangkan kereta kuda mewah di dongeng Cinderella atau yang ada di kerajaan Inggris, kereta yang kupakai adalah kereta kuda tanpa atap, kereta kuda yang sangat sederhana.

Mungkin lebih nyaman naik delman karena naik kereta kuda yang satu ini tetap panas.

Mungkin karena memang zamannya belum terlalu maju, atau mungkin di kerajaan yang ada kereta kuda bagus.

Aku melewati pasar dimana pasar ini yang kulihat pertama kali saat terdampar disini, diujung sana gapura wringin lawang berdiri gagah seperti gapura batu yang masih baru dibuat. Andai aku bisa kembali lagi ke masa depan, aku kangen sama Ibu sama Bapak, mereka pasti sekarang tengah mencariku.

Aku harus menemukan cara untuk kembali, tapi pada siapa aku harus bercerita? Orang yang kuberi cerita tidak akan mungkin percaya dengan apa yang aku alami justru mengangapku orang gila.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...

...And, see you....

Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!