Saat aku sampai di pendopo timur sudah ada lima orang wanita disana, rambut panjang mereka yang tergerai indah dan kemben sebagai setelan yang paling pas digunakan oleh anak muda di zaman ini. Sejujurnya menurutku memakai kemben itu tidak terlalu nyaman, begitu terbuka, apalagi kalau malam rasanya sangat dingin karena hanya menutupi sebatas dada saja.
Sesuai pengamatanku setelah dua hari berada di sini, para gadis semuanya menggunakan kemben ada juga yang hanya memakai jarit saja. Rambut mereka tergerai indah karena hampir tidak ada yang memiliki rambut pendek, sepertinya mereka tidak pernah memotong rambut. Di zaman ini sudah ada kebaya, tapi bukan kebaya payet loh. Hanya kebaya lurik dan biasanya itu dipakai oleh orang yang sudah berumur tua dan juga para nyonya.
Tanpa berlama-lama lagi aku melangkahkan kakiku menuju pendopo, tersenyum semanis mungkin saat beberapa dari mereka menatapku. Sudah kubilang aku ini tidak pandai begaul, aku tidak tahu kalimat seperti apa yang harus diucapkan pertama kali untuk memulai pembicaraan.
"Kau nampak asing,"
Seorang gadis dengan badan berisi tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan itu, sebelum menjawab aku mendekat terlebih dahulu padanya yang tengah duduk berdua dengan seorang gadis lagi. "Aku murid baru, namaku Maheswari."
"Wah kau cantik sekali...."
Aku hanya tersenyum menangapi celetukan itu, "Kau terlalu berlebihan."
"Namaku Ratmi,"
"Aku Galuh."
Senyumku semakin lebar karena mereka berdua rupanya ramah dan sangat bersahabat, berbeda dengan tiga orang di ujung yang memandangku dengan tatapan sinis mereka. Okey sepertinya itu tidak terlalu baik, tapi tak apalah jika aku tidak menganggu mungkin juga aku tidak akan diganggu.
"Itu Arumsari, kau jangan mencari sebaiknya kau jauh-jauh dari dia." Galuh mengikuti arah pandangku ke arah tiga wanita itu dan langsung menjelaskan siapa dia.
"Mengapa seperti itu?"
"Dia memang cantik tapi dia sangat sombong dan dia pasti tidak suka padamu karena kau cantik, dia tidak ingin tersaingi."
Benar Arumsari memang cantik, rambutnya panjang bergelombang, tubuhnya juga ramping dalam balutan kemben itu hanya saja wajahnya terlihat angkuh dan seperti karakter antagonis.
"Apakah yang belajar menari disini hanya kita berlima saja?" Tanyaku mengalihkan perhatian, tidak baik kan ghibahin orang.
"Saat pagi hari hanya kita saja, tapi saat sore hari sangatlah ramai ... Nyi Gendhik juga mengajari banyak gadis lain."
Aku tahu maksudnya, saat ini yang datang mereka berlima dan dari pakaiannya tidak jauh berbeda dariku. Mereka dari kaum kelas atas terlihat juga dari kulit mereka yang putih bersih. Kaum bawah atau rakyat biasa di masa ini rata-rata memiliki kulit tidak terawat, mayoritas pekerjaan adalah sebagai petani yang tentu setiap hari pergi ke ladang, tidak mengenal usia memang mereka pergi ke ladang untuk membantu orang tua mereka.
Jadi yang belajar menari di sore hari mungkin dari orang dari kalangan bawah yang tentu jumlahnya lebih banyak. Lalu mengapa harus dipisah? Bukankah lebih baik sekalian sore saja? Anak bangsawan di zaman ini tidak semuanya berperilaku baik, lihat saja Arumsari dan dua temannya itu mereka sudah tidak mau berbaur bahkan dengan anak kalangan atas juga lalu bagaiamana dengan mereka yang berasal dari kalangan bawah.
Cukup cerdas adanya pengelompokan ini agar tidak terjadi diskriminasi antar mereka.
Tidak lama Nyi Gendhik datang bersama beberapa orang penabuh gamelan, pembawaannya yang anggun membuatku terpukau, perempuan di zaman ini memang berkali lipat lebih cantik dan anggun meski tanpa bedak super tebal.
"Aku perlu mengirim penari untuk perayaan di istana apakah dari kalian ada yang menginginkannya?"
Istana? Mendengar kalimat itu entah mengapa aku jadi tertarik, hanya penasaran seperti apa itu istana di zaman ini. Karena di sinetron-sinetron tidak menampilkan bentuk istana yang asli, penuh tipuan. Apakah sama seperti kraton Yogyakarta yang sekarang atau jauh lebih megah? Penasaran karena sepertinya zaman ini jauh lebih kuno.
Aku tidak tahu juga ini tahun berapa, gapura wringin lawang adalah peninggalan kerajaan majapahit jadi kemungkinan ini adalah zaman majapahit berjaya. Tapi anehnya kondisi yang kulihat tidak semaju masa majapahit, di buku digambarkan majapahit dengan masa keemasannya tapi untuk saat ini yang kulihat jauh berbeda dari di buku.
Entahlah aku bukan guru sejarah seperti bu Ratna yang tahu segalanya, pengetahuanku tentang sejarah sangatlah minim. Andai saja tahu akan terdampar disini, mungkin satu malam akan aku habiskan membaca buku sejarah bukan malah memikirkan Arsen yang brengsek.
Aku ingin mengacungkan tangan tapi ucapan Arumsari menghentikkan kegiatanku. "Saya Nyi,"
Rupanya mengacungkan tangan bukan hal yang tepat, saat ini mungkin mengacungkan tangan akan dianggap aneh jadi kuurungkan juga.
"Saya juga Nyi," Aku turut mengajukan diri.
"Kau orang baru ... Bisa apa kau!"
Kalimat pedas itu sangat bertentangan dengan wajahnya yang cantik, sabarlah Zaina ini cobaan.
"Disini tempat belajar, jadi tidak masalah!" Celetuk galuh dengan nada tidak sukanya.
Sepertinya Galuh ini memang memiliki dendam pribadi dengan Arumsari, Ratmi saja daritadi juga diam.
"Tapi ini untuk istana harus yang terbaik tentunya."
"Kau pikir kau yang terbaik? Ak–"
"Cukup! Semuanya bisa mengikuti ini tanpa terkecuali." Final Nyi Gendhik.
"Tarian apa yang akan ditarikan di istana, Nyi?" Seorang gadis di samping Arumsari bertanya.
"Tari Rama Shinta, tarian ini akan dipersembahkan untuk Maharaja agar beliau bisa tahu seperti apa makna cinta."
Rama Shinta indentik dengan pengambaran cinta, rupanya kisah itu sudah melegenda dari zaman ini. Tapi itu dipersembahkan untuk raja, itu artinya raja belumlah menikah. Setahuku tidak ada raja yang tidak menikah, atau memenag pengetahuanku terlalu minim? Ah mungkin saja rajanya masih muda jadi belum menikah.
"Lalu bukankah tidak ada penari lelaki, siapa yang akan menjadi Rama Nyi?"
"Putraku, dia cukup pandai menari."
Kulihat mereka berlima langsung antusias mendengarkan kalimat dari Nyi Gendhik itu, "Aku harus ikut jika itu Raden Rawikara." Bisik Ratmi tepat di depan telingaku.
"Memang siapa dia?"
"Tidak mungkin kau tidak tahu Maheswari."
Nyatanya aku memang tidak tahu Raden Rawikara yang merupakan putra dari nyi Gendhik itu. Seperti apa dia sehingga membuat mereka berlima tampak antusias dan sangat senang. Apalagi arumsari dia terlihat paling senang dengan kalimat itu.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
...And, see you....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Nera
kakak, dukung novel pertamaku ya "get my love life, back"
2022-09-07
0
Mahrul Putra Kurnia
ceritanya seru
2022-08-17
1