02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.

Panas terik matahari rasanya sebentar lagi akan membakar tubuhku, kami baru saja menuruni bus untuk selanjutnya masuk ke museum sejarah. Aku adalah seorang guru di salah satu SMP, meski mengampu mapel SB tapi karena menjadi seorang wali kelas jadinya harus ikut pergi study tour seperti ini. Hey Bung, menjaga anak SMP yang tengah mencari jati diri itu bukanlah hal yang mudah.

Jika diberi pilihan mungkin aku lebih memilih untuk tidur seharian saja daridapa harus pergi seperti ini, terlebih perasaanku sedang kacau. Meski berusaha terlihat baik-baik saja, tapi nyatanya ada yang pecah namanya hati.

Mengulas senyumku sedikit lebih lebar, aku masih ingat kok etika seorang guru, harus selalu bisa tersenyum dan ramah dalam kondisi apapun. Baiklah aku bisa melalui ini, ini hanyalah cobaan dari Tuhan.

Memasuki area dalam museum aku benar-benar bernafas lega karena banyaknya ac yang membuat tubuhku dingin seketika. Mengatur barisan anak didikku yang sudah kubilang sangat susah diatur.

Setelah mengabsen mereka dan memastikan tidak ada satupun yang menghilang, aku menyuruh mereka mengikuti pemandu yang berada di depan. Sedangkan aku lebih memilih duduk di salah satu kursi daripada harus pegal ikut berkeliling museum. Di sampingku ada Bu Ratna, yang merupakan temanku mengajar juga dia adalah seorang guru sejarah.

Bu Ratna beranjak dari duduknya dan mendekati sebuah kotak kaca, "Zaina, lihatlah ini adalah gelang.... " Dia menatapku yang berarti sedang berbicara denganku.

Tanpa lama-lama akupun ikut beranjak untuk berdiri di dekatnya, gelang emas dengan ukiran naga yang pastinya terlihat sekali jika itu sudah berumur sangat lama, emasnya juga bukan emas berkilau. Emas kuning yang mungkin saja karatnya tinggi, pastilah kan jaman dulu mana ada emas campuran.

"Ini adalah gelang yang dibuat oleh Raja Airlangga, untuk wanitanya."

Aku hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari bu Ratna itu, tapi menurutku seorang raja itu kan memiliki waktu yang sangat sibuk untuk mengurusi kepemimpinannya. Apakah dia punya waktu untuk membuat sebuah gelang? Jika itu benar maka raja itu sangat romantis.

"Sangat bagus itu, Bu. Itu artinya raja sangat mencintai wanitannya itu."

Bu Ratna menggeleng, "Heum, benar juga. Tapi.... "

"Tapi apa Bu?"

"Raja pada akhirnya memutuskan untuk menjadi pertapa, bukankah itu berarti dia tidak tertarik dengan urusan dunia bahkan yang namanya cinta."

Seorang pertapa berarti sudah melepaskan semua urusan dunianya, sampai membuat gelang di waktu sibuknya tentu adalah arti jika raja sangat mencintai wanita itu, membuat gelang itu tidak mudah. Lalu jika cintanya terlalu besar bagaimana bisa dia menjadi seorang pertapa, meninggalkan wanitanya itu dan pergi bertapa di gunung. Sangat aneh tentunya.

Setelah mengunjungi museum bus bergerak untuk menuju ke gapura wringin lawang yang merupakan peninggalan dari zaman majapahit. Dulu aku juga pernah kesini, saat masa sekolah tentunya, tapi hari ini tidak terlalu ramai.

Mengkondisikan barisan muridku yang ada saja yang nakal, tentu mengeluarkan tenaga ektra. Disana bu Ratna tengah menjelaskan tentang gapura wringin lawang ini, yaitu gapura untuk masuk ke kawasan majapahit. Setelah menjelaskan panjang lebar pada anak-anak, bu Ratna membubarkan anak-anak untuk beristirahat sebentar disini.

Hanya memandangi gerak gerik anak didikku, memastikan mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh.

"Bu ayo kita foto disana, Bu." Muridku yang bernama Aldo ini memang tidak pernah sopan, tiba-tiba saja menarikku untuk berdiri di tengah-tengah gapura wringin lawang.

Aku tersenyum saat jepretan foto mengarah ke arah kami, "Terimaksih Bu Zai yang cantik." Ucap Aldo dengan senyum sok Manisnya yang dibuat-buat.

"Udah sana ngumpul sama yang lain awas kalo ngilang!" Daguku menunjuk pada anak didikku yang lain, mereka tengah menikmati makan siang atau sekedar bersantai di bawah pohon.

"Siap, Bu."

Aldo pergi berkumpul bersama teman-temanya, aku sangat bersyukur dia tidak membuat ulah kali ini. Melihat mereka ada yang sedang makan, akupun berniat untuk mendatangi mereka dan mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, ini kawasan cagar budaya tentu jangan sampai dikotori.

Saat aku akan beranjak, tiba-tiba saja sinar matahari yang tadinya sangat terik perlahan meredup lalu semua semakin gelap, aku mendogak ke atas dan melihat jika matahari mulai tertutup perlahan oleh bayangan.

"Gerhana! Gerhana! Tutup mata kalian!" Kudengar suara pak Anton memperingatkan para murid, setelah menyadari jika itu gerhana aku juga langsung menutup mata tanpa ada niatan untuk beranjak bersama yang lain dahulu. Lebih baik menutup mata dulu daripada jadi buta, karena tadi aku sempat menatapnya sedikit.

Gerhana matahari itu bisa menyebabkan kerusakan fatal pada mata, itu sebabnya jika ingin melihat gerhana tidak bisa secara langsung, harus pakai kacamata khusus gerhana.

Mataku tertutup, tapi aku tidak tuli. Para murid perempuan ada yang berteriak dan suasana seketika menjadi ramai. Karena ini memang hal yang aneh, biasanya gerhana matahari akan diprediksi datangnya dan seperti biasa peristiwa unik itu akan disiarkan di televisi tapi kali ini bahkan aku tidak mendapatkan berita akan terjadi gerhana matahari.

Sayup-sayup keributan itu semakin jelas, bukan lebih tepatnya sepertinya orang disini semakin ramai. Aku mendengar suara muridku sudah nyaris tidak terdengar tergantikan oleh suara orang dewasa yang tengah berbincang. Tunggu, darimana datangnya mereka?

"Ndoro...." Satu kalimat lembut itu akhirnya membuatku mantap membuka mata, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Yang pertama aku lihat adalah sebuah pasar luar ruangan yang sangat ramai, pasar tradisional yang sangat-sangat sederhana. Aku mengerjapkan mata memastikan jika pandanganku tidak salah, menguceknya berkali-kali mungkin sampai merah. Tapi tidak juga tempat di hadapanku ini berubah.

Aku melihat sekeliling dan tempatku berdiri adalah sama seperti tadi yaitu gapura wringin lawang hanya saja tempat di depanku yang tadinya taman kini berubah menjadi pasar tradisional. Apa maksudnya ini?

"Ndoro.... " Aku melihat ke bawah mencari sumber suara itu seorang anak kecil yang menadahakan tangannya ke atas, pakaiannya banyak tambalan dan wajahnya juga kusam penuh debu.

Mengesampingkan kebingunanku aku merogoh bungkusan kecil yang berada di tanganku, memberikan satu keping pada anak itu. "Terimaksih Ndoro... Terimaksih." Dia sepertinya sangat senang.

Tunggu, sejak kapan aku memegang bungkusan, kuperhatikan pakaianku. Ini adalah kemben, jarit dan selendang. Mengapa aku juga berubah penampilan? Rasanya tidak mungkin jika ini tempat syuting film kolosal, orang-orang yang belanja di pasar ini sangat banyak, bahkan kulihat di ujung sana ada rumah-rumah kayu.

Apakah aku terdampar di masa lalu?

Aku melanjutkan langkahku untuk menuruni gapura, berbaur dengan orang-orang yang tengah tawar-menawar barang. Kelihatannya di pasar ini semua berbaur dari kalangan atas yang menggunakan kemben bagus hingga mereka yang hanya terlilit oleh jarit.

Mungkin ini mimpi, bisa saja tadi karena terlalu lama menutup mata aku malah jadi tertidur. Kucoba untuk mencubit sekuat tenaga tangan kiriku, awhhhh... sakit. Tubuhku lemas seketika, saat sadar jika ini bukanlah mimpi dan aku juga bukan sedang syuting drama kolosal.

Takdir macam apa ini? Mengapa aku harus terdampar di negri antah berantah seperti ini.

"Ndoro...." Seorang wanita memegang tanganku dengan wajah terkejut. Dia terlihat dua tahun lebih muda dariku, kulitnya kuning langsat dan rambutnya di cepol.

"Mbok Jum! Ndoro Ayu selamat Mbok." Dari teriakan itu, seorang lagi wanita tua datang terpogoh-pogoh dengan sayuran di pelukannya.

Aku masih diam seperti patung saat wajah mereka berubah senang seperti baru saja mendapat lontre.

"Ayo kita pulang Ndoro ... Ndoro kemana saja?"

Kulihat wajah wanita tua itu bahkan berkaca-kaca, dia seperti senang sekali melihatku. Tapi aku tidak tahu siapa mereka.

Aku mengikuti langkah mereka karena kurasa mereka bukan orang jahat dan juga sepertinya menguntungkan bagiku untuk mengikuti mereka. Disini aku tidak mengenal siapapun, tidak mungkin kan aku harus menjadi gelandangan yang meminta-minta uang.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Terpopuler

Comments

Iekyu

Iekyu

nyimak

2022-11-13

1

ZannyA Purty

ZannyA Purty

Lnjuttt

2022-08-29

0

lihat semua
Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!