16. Ratu Drama.

Pagi yang sangat cerah, burung-burung bernyanyi dengan riangnya dan juga sinar mentari yang hangat dan tidak terlalu menyengat. Saat ini aku berada dalam perjalanan ke rumah nyi Gendhik dengan delman. Tapi terasa menyenangkan karena suasana pagi ini mendukung dan tidak membuatku bosan sama sekali.

Ini adalah hari terakhir aku belajar menari untuk dipersembahkan pada Raja, jika dihitung mungkin baru beberapa kali saja aku belajar bersama Raden Rawikara, mungkin tidak lebih dari tiga kali. Tapi meski begitu gerakan kita tetap serasi, karena Raden Rawikara menyesuaikan gerakanku.

Besok adalah hari dimana tarian Rama Shinta ini dipersembahkan untuk Raja, dengan harapan dia segera memilih permaisuri agar kerajaan segera memiliki putra penerus. Ya itu sangat penting mengingat saat ini yang dikatakan keluarga kerajaan hanya dia seorang diri, raja sebelumnya beserta seluruh keluarganya tewas dalam peristiwa memilukan itu.

Tak terasa kita sudah sampai dikediaman nyi Gendhik, karena ini pagi aku bisa melihat Galuh dan yang lainnya. Tapi tidak ada Ratmi disana, kemana gadis itu.

Disana Arumsari menatapku dengan tatapan matanya yang tajam, selanjutnya kulihat dia dan kedua temannya itu berjalan menuju ke arahku.

Dia mendorong bahuku, untung saja aku dalam posisi siaga sehingga tidak harus jatuh tersungkur. "Kau gadis kurang ajar!"

"Ada apa? Aku tidak memiliki masalah denganmu."

"Dengan pelet darimana Kau menggoda Raden Rawikara hah?!"

Jadi masalahnya adalah Raden Rawikara, ini kan yang juga aku tidak sukai, tatapan benci dari para gadis yang menyukai Raden Rawikara termasuk Arumsari. Bukan hanya benci bahkan Arumsari ini terlihat seperti akan memakanku sampai tak bersisa.

"Aku tidak serendah itu untuk menjadi penggoda,"

"Aku sudah bertahun-tahun belajar menari disini, aku juga cantik tentunya. Tapi mengapa justru Kau orang baru yang menggoda, sungguh biadap!"

"Aku tidak menggodanya berhentilah mengataiku."

"Lalu apa? Kau pasti menjadi seorang pelacur yang mau menyerahkan tubuhmu demi mengemis cintanya."

"Jaga bicaramu! Aku tidak serendah itu."

"Kau harus mendapatkan pelajaran. Pegangi dia!"

Dua teman atau sebut saja anak buah Arumsari karena mereka selalu menurut dengan Arumsari. Mereka memegangi kedua lengaku, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

"Ndoro, tolong jangan berbuat seperti itu." Ratini mencoba melepaskan kedua gadis yang memegangi lengaku tapi Arumsari justru membawa Ratini menjauh.

"Diam saja Kau pelayan rendahan!"

"Bawa dia ke kolam!"

Aku tadi sudah mandi dan pasti dingin dimasukan ke kolam lagi, sebenarnya aku bisa melawan dan melepaskan cekalan dua gadis ini. Tapi kebetulan sekali aku melihat Nyi Gendhik dan Raden Rawikara di belekang Arumsari tengah berjalan ke arah sini.

Aku menjatuhkan diriku sendiri hingga tersungkur ke tanah, sebut saja aku ratu drama tapi biarlah Arumsari juga mendapatkan akibat dari perbuatan ini.

"Akhh.... Sakit sekali." Aku memegangi kakiku yang sebenarnya tidak sakit.

"Maheswari," Suara Nyi Gendhik itu membuat raut wajah Arumsari dan juga kedua anteknya itu pucat seketika.

Tanpa kata apapun Raden Rawikara membantuku berdiri, dan aku juga menerima saja uluran tangannya, sengaja untuk sekaligus memanasi Arumsari.

"Raden, mereka jahat sekali." Aduku dengan wajah yang kubuat dramatis.

"Tidak, aku tidak mendorongnya." Bela teman Arumsari.

"Semua sudah melihat dan Kau masih mau mengelaknya?" Panasku, kulihat wajah mereka sudah seperti tomat. Marah sekali padaku rupanya

"Mengapa Kau membuat keributan Arumsari?"

"Nyi dia sudah berbuat tidak pantas padaku, bukankah aku harusnya menerima keadilan?"

"Kalian minta maaflah pada Maheswari."

"Tidak, Nyi sud– "

"Minta maaf dan berjanjilah untuk tidak membiat keributan seperti ini lagi."

Arumsari hanya diam, tapi tatapan marah itu dengan jelas sekali ditujukan kepadaku.

"Aku paling tidak suka jika ada yang membuat keributan di kediamanku."

"Nyi aku benar-benar tidak mendorongnya, aku akan membuktikannya."

"Sudahlah ini hanya masalah kecil, aku harus segera berlatih dengannya."

Raden Rawikara menarik lenganku menuju ke halaman belakang, mengapa orang ini sungguh tidak asyik. Aku kan mau melihat Arumsari di permalukan justru aku yang terseret kesini.

Sudah bagus-bagus aku berakting seperti aktris layar lebar seperti itu sangat natural dan membuat semua orang percaya. Tapi lagi-lagi orang satu ini sungguh menyebalkan.

"Mengapa Raden membawaku? Aku kan ingin melihat mereka mendapatkan hukuman."

"Kau tadi hanya berpura-pura jatuh, aku tahu itu?"

"Benarkah Raden tahu?"

Aku sudah berakting layaknya Amanda Manopo seperti ini ternyata masih belum terlihat natural, haduh mengapa juga Raden Rawikara tahu jika aku pura-pura jatuh. Tapi untung saja dia tadi tidak mengatakannya, kukira dia masih marah padaku karena masalah kemarin syukurlah jika tidak.

"Tidak mungkin gadis sepertimu sampai bisa dijahati oleh mereka,"

"Ya tadi kan aku hanya berakting agar mereka mendapatkan hukuman, tapi belum sampai itu terjadi kau sudah membawaku kesini."

"Berakting? Apa itu?"

"Ah bukan Raden, bukan aku hanya salah berbicara."

Mataku tidak sengaja menangkap tangan kanan Raden Rawikara yang terluka, luka pada ruas-ruas jarinya, seperti dia habis meninju sesuatu yang keras dengan sekuat tenaga. Luka-luka itu pasti sangat sakit, masih terbuka meski sudah dibasuh karena belum di obati.

"Raden, ada apa dengan tanganmu?"

Dengan segera dia menyembunyikan tangan kanannya, tapi percuma saja tadi aku sudah melihatnya dengan jelas. "Tak apa."

"Ayo Raden aku akan mengobatinya."

"Tidak terjadi apapun dengan tanganku Maheswari."

"Berbohong itu tidak baik, aku hanya tidak ingin besok Ramaku tampil dengan luka yang menganga ... tunggu sebentar."

Aku meminta pelayan untuk menunjukan dimana tempat daun untuk luka, setelah menemukannya aku lekas menumbuknya dengan hati-hati. Entah dorongan dari mana aku melakukan hal ini, entah itu hanya sebagai rasa kemanusiaan semata atau bahkan lebih. Aku tidak tahu, karena sejujurnya aku untuk sekarang kurang bisa memahami diriku sendiri.

Setelah memastikan sari-sari dari daun ini keluar aku kembali ke Raden Rawikara, tidak lupa juga membawa kain untuk membebat lukanya.

"Kemarikan tanganmu."

"Aku tidak apa-apa."

"Raden cepatlah, aku sudah capek-capek membuat ini." Aku mengangkat mangkuk batu di tanganku.

Dia menyerahkan tangan kanannya yang terluka, luka itu sepertinya bukan luka baru,  mungkin dia dapat kemarin. Terlihat sekali dia meninju sesuatu yang keras sehingga meninggalkan luka mengerikan seperti itu, masih terbuka hingga sekarang.

"Apakah ini belum diobati sama sekali."

Dia hanya memggeleng seadanya.

"Sebenarnya Raden meninju apa, bisa sampai seperti ini?"

Tidak ada jawaban sama sekali, hanya wajah datar yang dia tampakkan. Kurasa akhir-akhir ini dia sering sekali menampakkan wajah datar tanpa ekspresi itu. Bahkan saat dengan perlahan aku mengolesi lukanya dengan tumbukkan daun itu dia masih berekspresi datar, seolah tidak terasa perih sama sekali. Padahal ku yakin rasanya pasti perih, mengingat lukanya masihlah terbuka.

"Apakah tidak perih, Raden?"

Dia kembali menggeleng, dia mendadak menjadi sependiam ini tiba-tiba. Lebih baik melihatnya yang sok seperti tadi daripada yang diam seperti patung seperti ini.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Terpopuler

Comments

istri_cantik

istri_cantik

gara gara lu mahes ngak mau nikah sm si raden 🤭🤣🤣

2022-10-18

0

lihat semua
Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!