06. Zaman Raja Airlangga.

"Ndoro, apakah Anda memotong rambut Anda?" Ratini yang tengah membantuku menyisir rambut menghentikan kegiatannya.

Harus kujawab apa? Setelah tubuhku berpindah ke tempat ini rambutku tidak ikut memanjang tentunya, tapi masih untung dari awal rambutku sepinggang jadi tidaklah begitu aneh di zaman ini.

"Tidak, aku tidak memotongnya mungkin kau yang lupa sudah sepanjang apa rambutku."

Ratini mengangguk, meski kulihat raut wajahnya masih menunjukan kebingungan. Aku tidak heran karena di zaman ini rambut para wanita tidak ada yang pendek, mereka seperti tidak pernah potong rambut sedari bayi. Rata-rata panjangnya dibawah pinggul, sedangkan mereka yang sudah berumur kulihat menggelung rambutnya, seperti memaakai konde padahal itu rambut asli mereka.

"Ratini aku ingin bertanya,"

"Tanyakan saja Ndoro."

"Apakah raja belum menikah?"

Ratini terlihat menautkan kedua alisnya, "Apakah Anda tidak tahu–"

"Kemarinkan sudah kubilang aku melupakan beberapa hal, jadi jawab saja."

"Maharaja Airlangga belum menikah, beliau masih lajang sibuk memikirkan negara."

"Apa?! Airlangga? Bukankah ini zaman Majapahit?"

Ratini menempelkan jarinya di bibir, "Ndoro, jangan asal menyebut nama maharaja, jika ada yang mendengar Anda pasti dihukum."

Aku menutup mulutku yang tidak bisa diajak kompromi ini, tapi aku benar-benar terkejut. Gapura wringin lawang adalah peninggalan kerajaan Majapahit dan mengapa aku bisa terdampar di kerajaan yang berdiri jauh sebelum Majapahit?

Atau mungkin saja gapura wringin lawang memang sudah ada sejak zaman ini. Pantas saja aku tidak menemukan jejak Majapahit lain disini, ternyata ini memang bukan zaman Majapahit.

Raja Airlangga memimpin kerajaan yang bernama Kahuripan, kerajaan yang hanya memiliki satu raja saja sepanjang berdirinya. Aku tidak tahu banyak tentang kerajaan ini yang kutahu adalah kerajaan ini berdiri setelah mataram kuno diruntuhkan.

"Ah aku tahu pasti maharaja masih terlarut dengan cinta yang sudah meninggal."

Ratini mengernyit, "maksud Ndoro?" Okey kosakata di zaman ini sangatlah minim rupanya.

"Ituloh, kan saat mataram runtuh bersamaan dengan pernikahan Airlangga dengan putri dari raja Dharmawangsa. Jadi mungkin cintanya masih sangat dalam pada putri itu."

"Ndoro jangan menyebut nama Maharaja semabarangan!"

"Ah iya, iya maaf." Maklumlah aku belum terbiasa di zaman ini, di zamanku kepala pemerintah adalah presiden. Dan saat itu jangankan menyebut pemimpin negara demgan namanya, tak jarang presiden menjadi bahan olokan karena tidak sesuai dengan apa yang oknum-oknum itu inginkan.

"Jadi maksud Ndoro maharaja tidak bisa melupakan Dewi Galuh Sekar Kedhaton?"

Aku baru mendengar nama itu, nama yang pastinya panjang dan susah diingat. Mungkin aku akan mengingatnya sebagai Dewi Galuh saja.

"Benar."

"Tapi Ndoro saat itu hanyalah pernikahan politik, maharaja juga belum mengenal Dewi Galuh Sekar Kedhaton, jadi...." Ratini membungkam mulutnya dengan kedua lengannya sendiri. "Ndoro kita jangan membicarakan raja itu tidak boleh."

Aku menghela nafas, disini tentu tidak ada yang mendengarkan kita bagaimana Ratini mengatakan hal itu.

"Terserah padamu saja Ratini."

***

Gerakan tangan yang seirama dengan tubuh itu terlihat begitu apik dan menarik, yang tengah menari disana adalah Galuh. Ku akui jika dia memang pandai dan sangat luwes saat menari mungkim diantara empat orang lainnya disini dia paling luwes. Berbeda dengan Arumsari yang gayanya sudah selangit, dan yang beberapa hari lalu mengataiku, parasnya memang cantik tetapi gerakannya cenderung kaku, meksi dia sudah melakukan yang terbaik.

Galuh sampai pada gerakannya yang terakhir, penabuh gamelan berhenti. Sekarang adalah giliranku untuk menari, setelah kemarin belajar tari Rama Shina bersama nyi Gendik. Gerakannya hampir sama dengan yang ditarikan di zaman modern hanya saja ada beberapa yang dikreasikan atau dirubah. Meski begitu aku harus tetap menari yang sama seperti lainnya tanpa adanya kreasi sedikitpun, bagaimanapun prinsipku adalah tidak ingin merubah sedikitpun sejarah yang ada.

Aku mengambil sampur lalu melingkarkannya di pinggang, menghela nafas pelan aku berjalan ke arah tengah. Entah mengapa rasanya gugup, nyi Gendhik yang duduk untuk menilai mengayunkan lengan memeberi tanda untuk penabuh gamelan mulai menabuh. Tidak ada tape recorder ataupun radio untuk menyetel musik jadi harus tetap dengan para penabuh lengkap dengan satu set gamelan.

Saat alunan suara gamelan sampai di gendang telingaku, aku langsung mengerakan tubuhku sesuai dengan irama yang tercipta. Menari itu sama dengan bernyanyi kita harus menyelasarakan dengan musik.

Aku tidak sadar jika gamelan sudah berhenti berbunyi, rupanya terlalu asyik untuk menari. Aku meletakkan kembali sampur dan lekas mundur untuk berdiri bersama yang lainnya.

"Kalian menari seperti dewi, tapi pemilihan ini putraku meminta agar dia sendiri yang memilih pasangannya,"

"Woahh itu sangat romantis." Bisik Galuh dengan wajahnya yang memerah.

"Romantis apanya justru sangat kekanakan, dia kan bukan guru tari tapi mengapa dia yang meminta untuk memilih."

Galuh memegangi keningku, "apakah kau waras?"

Aku menaikkan kedua alisku, tentu saja aku waras. "Tentu saja. "

"Wanita waras mana yang tidak menyukai Raden Rawikara?"

"Aku!"

Galuh mengikuti mendumel tidak jelas ditempatnya, tapi kan memang benar aku tidak menyukai putra nyi Gendhik itu.

"Jadi nanti sore kalian akan menari bersama dengan kelas sore di aula depan sekaligus dilakukan pemilihan."

"Nyi, kita harus menari bersama dengan yang lain? Mereka itu– "

"Jangan seperti itu Arumsari, semua perempuan yang aku ajari memiliki hak untuk pemilihan kali ini."

Arumsari mendecak di tempatnya, sudah kubilang bukan jika gayanya dia itu selangit.

Seperti dugaanku beberapa waktu lalu, kelas sore itu berasal dari warga setempat atau mungkin dari desa yang bukan dari bangsawan. Betapa baiknya hati nyi Gendhik ini membiarkan mereka juga ikut berlatih disini.

Kami berenam menunggu sampai sore hari, dan sampailah pada suasana ramai karena banyak wanita muda yang berkumpul disini. Kami berenam berdiri di depan mereka, kulihat dengan jelas wajah Arumsari sangat bete. Dia rupanya kesal disatukan dengan gadis-gadis desa ini.

"Seperti yang sudah kukatakan yang akan memilih adalah putraku sendiri bukan aku, jadi ... silahkan Nak."

Pandangan semua orang termasuk aku teralih pada ambang pintu, mataku membulat sempurna. Mencoba memastikan lagi apakah aku salah melihat atau tidak ternyata tidak, lelaki itu adalah lelaki yang beberapa hari lalu aku temui, lelaki yang sangat mirip dengan Arsen. Jadi dia adalah Raden Rawikara yang digandrungi banyak wanita.

Kudengar banyak sekali bisik-bisikan dari para perempuan di belakangku, mereka ingin dipilih dan beberapa lagi mengagumi sosok itu. Tapi ada juga yang ingin dipilih karena ingin menari saja bukan karena lelaki itu.

Namun untukku sendiri aku lebih memilih untuk tidak dipilih, dan jika tau jika dia lelaki yang serupa dengan Arsen mungkin aku tidak akan disini untuk mengikuti seleksi. Trauma dengan wajah yang sekarang kubenci itu, aku sudah merasakan seperti apa sesaknya ditinggalkan tanpa kesalahan bahkan tanpa alasan juga.

Dia mengambil sampur panjang berwarna kuning lalu lekas mengamati kami satu persatu,  sungguh kekanakan menurutku. Bagaimana bisa memilih hanya dengan melihat saja seharusnya kan yang dipilih itu karena gerakan tarinya atau keluwesannya dalam menari tapi ini hanya memilih dengan mengamati.

Aku menunduk dalam, untuk menghindari tatapannya. Aku tidak ingin dipilih, masa bodoh dengan berjalan-jalan dan melihat kerajaan di zaman ini. Aku lebih tidak ingin berlama-lama bersama lelaki bernama Rawikara itu, nanti aku dighosting lagi.

════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════

Jendela fakta

• Mataram kuno atau Medang runtuh pada tahun 1006 oleh warawuri kerajaan yang diduga sebagai sekutu dari Sriwijaya saat pernikahan putri Dharmawangsa(raja terakhir Medang) dengan Pangeran Airlangga.

• Malapralaya adalah peristiwa runtuhnya kerajaan Medang/Mataram kuno, saat itu raja dan banyak orang tewas termasuk putrinya. Pangeran Airlangga berhasil melarikan diri, lalu beberapa tahun kemudian kerajaan dibangun lagi dengan nama Kahuripan.

════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════

Terpopuler

Comments

daruraharjeng ˈˇˈ

daruraharjeng ˈˇˈ

tau aje belio sibuk mikirin negara 🗿

2025-03-17

0

Imas Masripah

Imas Masripah

semangat KK,ini lah yg aku suka cerita sejarah tp dengan kisah cinta yg fiksi imajinasi penulis.❤️
teruslah berkarya semangat 💪💪💪

2024-07-23

1

Iekyu

Iekyu

makasih ilmu sejarahnya 🥰

2022-12-01

0

lihat semua
Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!