Setelah melalui perjalanan yang kurasa sangat panjang ini akhirnya kuda sampai di kediaman nyi gendhik. Di pendopo depan banyak sekali gadis-gadis yang tengah belajar menari, ini sudah akan menuju sore hari pada gadis yang berada di kelas sore tengah belajar saat ini.
Pandangan semuanya langsung tertuju pada kami, sebagian besar gadis yang berdiri disana pasti mengagumi Raden Rawikara, dan aku datang bersama Raden Rawikara ini pasti akan menjadi gosip panas.
Greb...
Raden Rawikara meraih lenganku dan menariku untuk berjalan mengikutinya, senyuman manis juga tercipta dari sudut bibirnya.
Perilakunya hari ini sungguhlah aneh, pertama dia mau menungguku sangat lama, berbuat hal yang menurutku tidak terlalu sopan seperti ini TAPI yang lebih aneh lagi adalah diriku, karena aneh dengan bodohnya tidak berbuat apa-apa saat dia menggengam tanganku. Hanya diam dan justru mengikutinya, entah bagaimana aku bisa menurut saja seperti ini.
Setelah sampai di taman belakang Raden Rawikara melepaskan genggamannya, bersamaan dengan senyumnya juga yang kian memudar.
Ini bukan keanehan biasa, aku tahu ada hal lain dibalik sikapnya hari ini. Bagaiamanapun aku bukanlah seorang anak SMA yang sedang bucin-bucinnya, diperlakukan seperti itu tidak membuatku langsung buta dan meleleh karenanya. Aku ini sudah dewasa dan tentu sudah bisa berfikir selogis mungkin sebelum menentukan sesuatu.
"Saya tidak mengerti apa maksud Raden."
"Apa maksudmu Maheswari?"Aku yakin dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti kemana arah pembicaraanku, kecuali jika dia sedang berpura-pura bodoh.
"Tentang perlakuan aneh Raden hari ini."
Ekspresi wajahnya berubah, tapi beberapa detik selanjutnya sudah biasa lagi. Pasti dia kira aku akan meleleh diperlakukan seperti itu, tidak tentu saja tidak karena ini sangat aneh.
"Sang Hyang Karsa menganugerahi diri kita perasaan yang singgah dihati, dan kita hanya tinggal memilih untuk siapa akan memberikan perasaan itu."
"Tidak usah berpura-pura Raden aku tahu bukan itu alasannya."
"Mengapa kau berpikir seperti itu?"
"Raden seolah mendekatkan diri Raden saat di depan orang-orang saja, sedangkan saat sudah tidak ada mata yang melihat Raden bersikap biasa lagi."
Dia menyunggingkan seulas senyuman. "Menarik. Aku kira kau tidak akan mengamati sejauh itu."
Haih dikiranya aku gadis bodoh apa bagaimana, tentu saja aku tahu sikap anehnya ini memang tidaklah wajar.
"Jadi bisakah Raden jelaskan?"
"Jadi.... "
Dia tidak melanjutkan kalimatnya, meragu untuk merangkai kata selanjutnya. Tapi aku adalah orang yang paling tidak suka jika ada orang yang berkata setengah-setengah seperti itu.
"Katakan Raden!"
"Jangan tersingung Maheswari. Aku memang tadi sengaja memegang lenganmu, di depan banyak orang. Itu karena aku sudah habis kesabaran menerima surat mereka, surat itu sampai kekediamanku tanpa kusentuh dan kubaca sama sekali, daridapa mereka menghabiskan waktu untuk menulis surat yang tidak kubaca lebih baik jika tidak usah saja."
"Jadi kau menginginkan agar mereka mengira kita memiliki hubungan sehingga surat-surat cinta tidak lagi dikirim menuju kediamanmu?"
Raden Rawikara mengangguk, dia memang berniat untuk menciptakan rumor hubungan kami. Tapi tidakkah itu simbiosis parasitisme, hanya dia yang diuntungkan sedangkan aku sangat dirugikan.
Bayangkan betapa banyak gadis yang memujanya, mereka pasti akan mengarahkan tatapan kebencian saat tahu pujaan hati mereka memiliki hubungan lain denganku.
Sungguh tidak adil sama sekali.
"Tapi mengapa harus saya? Bukankah banyak gadis lain yang bisa Raden manfaatkan." Ucapku penuh penekanan pada kalimat terakhir.
"Satu, namamu bersih karena tidak pernah ada sedikitpun kabar tidak sedap tentangmu. Kedua kau berasal dari keluarga yang cukup terpandang sehingga nantinya tidak ada yang berani menyinggungmu karena kejadian ini." Ucapnya dengan gamblang.
Persamaan Arsen dan Raden Rariwakara bukan di wajah mereka yang serupa, tapi mereka juga sama-sama brengsek. Memanfaatkan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi denganku.
"Tapi Raden saya hanyalah seorang gadis yang belum menikah, jika tersebar kabar saya memiliki hubungan dengan Raden itu akan membuat pinangan terhambat untuk datang. Mereka pasti berpikir dua kali untuk mengirimkan pinangan sehingga itu akan semakin merugikan. Menguntungkan untuk Raden tapi sangat merugikan untuk saya."
Sebenarnya menikah itu untuk sekarang bagiku tidaklah penting, tapi aku membawa fakta itu karena ingin mendebatkan hal yang menurutku brengsek ini. Hanya memanfaatkanku untuk kepentingannya tanpa berfikir jika hal itu cukup berdampak buruk untukku.
Memang lelaki itu sama saja tidak Arsen, tidak lelaki yang tidak berhati kemarin dan juga lelaki yang berdiri di depanku ini, rasanya hanya ayahku lelaki yang tidak brengsek di dunia ini.
Dia mengira aku akan luluh dan jatuh ke pelukannya sebagai penutup yang hanya akan dimanfaatkan. Tidak semudah itu ferguso!
"Aku ak–"
Sebelum dia melanjutkan kalimatnya dengan segera aku memotongnya, "Raden hanya memanfaatkan gadis selugu saya untuk kepentingan Raden sendiri. Sungguh perilaku yang sangat tidak sopan."
Aku memasang mimik muka semelas mungkin agar dia merasa bersalah dan meminta maaf, dia juga perlu menjelaskan ke semua orang yang tadi melihat kami, jika kami tidak ada hubungan apa-apa. Enak saja dia bisa memanfaatkanku.
"Mengapa diam saja Raden? Raden ingin nantinya saya menjadi prawan tua karena tidak kunjung mendapatkan pinangan. Dan itu semua karena perbuatan Raden?"
"Kalau begitu aku yang akan mengirimkan pinangan ke kediamanmu." Ucapnya dengan wajah tenang.
Aku berhasil menganga mendengar kalimat itu, dengan entengnya dia berbicara seperti itu. Tapi kuyakin itu hanyalah kata-kata manis darinya, dari awal saja sudah memanfaatkan bagaimana untuk nantinya.
"Berhenti membuat janji yang tidak bisa kau tepati! Sebaiknya Raden menjelaskan kejadian ini pada semua orang yang tadi melihat jika kita tidak memiliki hubungan apapun."
"Aku bukanlah orang yang suka mengingkari janji Maheswari."
"Lalu apa itu hanyalah kata-kata manismu?"
"Mengapa kau tidak menaruh kepercayaan sedikitpun? Apakah perlu saat ini juga aku kirimkan pinangan ke kediamanmu."
"Sudahlah percuma berbicara dengan Raden!"
Aku membalikan tubuhku karena kesal, tidak aku tidak akan pernah luluh dengan lelaki semacam ini. Nanti dighosting lagi.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments