17. Orang Itu Adalah Raja.

Angkasa menampakkan warna kelabunya meski hari sudah mulai beranjak siang, dingin masih menyapa begitu juga dengan kesunyian yang tercipta. Tidak ada burung bernyanyi, atau seruling alami dari angin yang meniup rumpunan pohon bambu.

Aku baru akan berangkat menuju ke istana karena hari ini tepat dengan acara perayaan atau lebih tepatnya ucapan syukur atas berkat maha kuasa. Aku tidak tahu juga akan seperti apa acaranya, yang pasti adalah nanti aku akan menari bersama Raden Rawikara di hadapan Raja.

Menarikan tarian Rama Shinta, yang mengambarkan tentang arti cinta sejati. Sungguh lucu rasanya, aku sendiri saja tidak percaya dengan sesuatu yang bernama cinta, tapi nanti aku akan membuat orang lain untuk sadar akan cinta melalui tarian itu.

Mungkin jika hari itu Arsen tidak memutuskanku, aku juga masih akan percaya dengan yang namanya cinta bahkan masih akan terbuai di dalamnya. Hais, mengapa aku masih mengingat si brengsek itu, seharusnya aku melupakannya. Ingat MELUPAKANNYA!

"Ndoro ayo kita berangkat, delmannya sudah siap."

Aku mengangguk dan segera beranjak untuk menaiki delman, ini adalah pertama kalinya aku akan melihat kerajaan jaman kuno. Entah seperti apa bentuknya, tapi pastinya memiliki sisi kemegahan tersendiri.

"Bukankah Romo dan Ibu juga berangkat? Dimana mereka Ratini?"

"Ndoro bapak dan Ndoro ibu sudah pergi terlebih dahulu."

"Kenapa mereka meninggalkanku? Terus nanti aku sendirian disana?"

"Tentu saja Ndoro akan bersama Raden Rawikara."

Apa maksudnya bersama pria itu? Apakah tidak bisa hidupku jauh-jauh saja darinya.

"Kenapa dia lagi?"

"Nanti kan Ndoro akan menari bersamanya."

Aku hanya memutar bola mataku malas, ya memang kita akan menari bersama, tapi kan menari itu nanti di akhir acara. Lebih baik aku sendiri saja daripada harus bersamanya.

Tidak memerlukan waktu yang lama kereta kuda sudah berhenti, aku menatap sekelilingku. Sepertinya ini adalah memasuki kawasan istana. Diasana menjulang gapura batu besar, batu yang memiliki ukiran-ukiran yang pastinya memiliki arti tersendiri.

Betapa hebatnya mereka para pengrajin, mengukir di batu yang sangat keras. Batu kan rawan hancur saat dipahat berbeda dengan kayu, bakat mereka tentunya perlu untuk diapresiasi.

Aku melihat kakak sulungku berjalan bersama seorang gadis disampingnya, dia manis dan juga cantik. Pinangan sudah sampai di keluarga gadis itu, tinggal menunggu balasannya saja untuk segera melakukan pernikahan.

"Ayo,"

Aku tidak tahu sejak kapan lelaki itu berdiri di sampingku, selalu saja membuatku kaget. "Raden Kau bisa berjalan duluan, aku akan masuk bersama Ratini."

"Maheswari kami sudah menunggumu sampai pegal dan Kau dengan gampangnya berbicara seperti itu?" Itu bukan suara Raden Rawikara, tetapi suara Raden Raganta yaitu kakaknya.

"Ah maaf Raden aku tidak tahu itu."

"Yasudah aku pergi duluan, " Raden Raganta melangkahkan kakinya dengan mengacungkan jempolnya pada Raden Rawikara.

Greb,

Raden Rawikara meraih lenganku, tapi dengan segera aku menipisnya. Seenaknya saja dia mau berbuat, kan aku tidak mau ada rumor yang tidak mengenakkan lagi. Memegang sembarangan kan tersamuk pelecehan atau paling tidak bisa diperkarakan sebagai perbuatan yang tidak menyenangkan.

"Tolong jaga sikapmu Raden."

Tidak ada jawaban apapun selain wajahnya yang kembali datar itu, padahal saat tadi aku melihat seulas senyuman. Apakah dia marah? Tapi kan dia tidak memiliki hak sedikitpun untuk berbuat semaunya terhadapku, memangnya siapa dia.

Kami memasuki kawasan istana, pendopo besar langsung nampak begitu masuk dari gapura batu. Luas dan juga megah tentu saja hal yang pertama kulihat. Jangan bayangkan lantai marmer dan juga tiang menjulang tinggi, meski tanpa itu istana ini memiliki kemegahannya sendiri.

Melalui pemeliharan yang bagus dan juga semuanya berkualitas, yang namanya istana pasti akan menjadi tempat paling bagus di daerah kekuasaanya.

Aku mengikuti langkah Raden Rawikara yang menuju ke latar luas dengan bangunan kecil tanpa dinding yang berada di tengah latar tersebut. Sudah banyak sekali orang yang berdiri disana, sejauh pandangan mataku rupanya mereka hanya orang yang berpakaian bagus. Mungkin hanya orang yang memiliki jabatan diistana saja berserta kekuarganya saja yang hadir.

Para pelayan istana datang, mereka masing-masing membawa nampan yang entah itu berisi apa. Seperti tepung tapi bertekstur kasar dan juga berwarna kuning. Mereka berdiri mengelilingi di setiap ujung latar ini.

Seorang gadis menatap kearah sini dengan mata berbinarnya, bukan kearahku tapi ke arah Raden Rawikara yang berada tepat di sampingku.

"Raden," dengan senyuman manisnya dia menghampiri Raden Rawikara.

"Bagaimana kabar Anda Raden?"

"Aku baik, bagaimana denganmu Candrawati?"

"Saya sangat baik Raden."

"Syukurlah."

Wajahnya ayu, pembawaannya sopan dan juga senyumnya yang menawan. Apakah dia kekasih Raden Rawikara? Karena Raden Rawikara juga berbicara lebih lembut dengan gadis itu, senyum tipis itu juga dia suguhkan.

Gadis itu terus menatap Raden Rawikara dengan wajah berbinar, aku tahu tatapan itu sarat akan kekaguman. Sudah kubilang Raden Rawikara itu idola hampir semua gadis jadi tatapan kekaguman itu sudah tidak perlu ditanyakan lagi.

"Raden maukah Anda nanti melepas merpati bersamaku?"

Betapa beraninya dia mengajak terlebih dahulu, gadis sesopan dan terlihat jelas jika dia tipe putri bangsawan yang berhati baik. Atau dia sudah menunggu Raden Rawikara mengajaknya tapi tidak kunjung terucap, sehingga dia mengutarakan itu.

"Maaf Candrawati, aku sudah bersamanya." Raden Rawikara menoleh ke arahku.

Apakah aku tidak salah dengar? Dia menolak ajakan gadis itu dengan alasan sudah pergi bersamaku? Kulihat mereka cukup dekat, sebenarnya apa yang ada dipikiran lelaki ini?

"Ah maaf aku tidak melihatmu,"

Bagaimana mau melihatku, padangan gadis itu sedari tadi tidak lepas dari wajah Raden Rawikara.

"Raden jika ingin pergi bersamanya, maka pergilah. Aku bisa pergi sendiri." Bisikku pelan padanya.

"Jadi rumor itu benar ya Raden?"

Kulihat raut wajah kecewa muncul dari gadis itu, apakah dia korban ghostingan Raden Rawikara? Tebakkanku adalah, dia mendekati gadis itu dan meninggalkannya tanpa alasan. Entah benar atau tidak, tapi Raden Rawikara ini memang sebenarnya menyebalkan.

"Itu benar Candrawati."

"Kalau begitu maaf sudah menganggu waktu kalian."

"Tidak, marilah jika Kau ingin bergabung."

"Tidak Raden, Saya permisi."

Meski senyuman yang gadis itu tampakkan tapi aku tahu hatinya sedang menagis, betapa jelas tatapan mata kagum tadi bahkan sampai tidak menyadari keberadaanku saking fokusnya menatap Raden Rawikara.

"Dia pasti korbanmu kan Raden?"

"Korban?"

"Iya, kau pasti memberikan harapan palsu padanya lalu dengan seenaknya meninggalkannya bukan?"

"Aku memang menyanyanginya..." dia menatapku lekat, entah mengapa jantungku berdetak kencang hanya karena tatapan matanya itu. "Tapi hanya menyayanginya sebatas adik, aku mengangapnya sebagai adikku bukan yang lain."

Aku berusaha memenangkan jantungku yang berirama tidak karuan ini, "Tidakkah terlihat dengan jelas pandangan matanya, dia mengangumimu Raden."

"Jika dia mengangumiku, apakah aku harus bersamanya? Memaksakan perasaanku yang jelas-jelas bukan untuknya?"

Aku terdiam, ucapan itu memang benar. Sesuatu yang dipaksakan itu memanglah tidak baik. Tapi lelaki ini membuat hampir setiap gadis memandang siapa dua kali ke arahnya dan itu tidaklah baik.

"Maharaja telah tiba."

Melalui ucapan bisikan itu aku mengalihkan pandangan, semua orang membungkukan badannya guna menghormati kehadiran raja begitu juga denganku. Setelah raja sampai di bangunan yang berada di tengah-tengah kami semua mengangkat tubuh.

Disana raja berdiri dengan para punggawanya, dan ada juga dua orang berbaju putih mungkin mereka berdua resi. Sama sekali aku tidak melihat perempuan dalam rombongan raja itu, dan memang terasa ada yang kurang. Di istana wanita milik raja itu menjadi penghias dan juga bunga istana, mereka pastinya cantik dan menjadi hiasan yang berharga. Tapi kali ini pemandangan sangat ganjil, karena bahkan seorang selir pun tidak ada disana.

Mungkin memang raja masih sangat fokus untuk memperluas wilayah Kahuripan dan belum memikirkan hal lainnya, tapi kan peran seorang wanita dalam sebuah kerajaan itu juga penting.

Aku pernah mendengar kalimat 'Jangan menginjak bayangan raja dan juga menatap wajahnya' kau akan dipenggal jika melakukan hal itu. Meski terdengar konyol, tapi nyatanya orang di zaman ini gampang sekali untuk membunuh, hukum membunuh seseorang belumlah diperhatikan seperti di masa depan. Jadi sekarang aku cari aman saja.

"Sang Hyang whidi memberkati kita dengan kemakmuran seluruh negri, harap semuanya menyucikan hati saat resi menuturkan doa."

Aku sepontan mendogak mendengar kalimat itu, bukan kalimatnya tapi suara itu tidaklah asing, aku seperti pernah mendengarnya. Disana Maharaja berdiri dengan wajahnya yang penuh wibawa, dia masih muda mungkin seusia kakakku tapi dia memiliki aura tersendiri.

Tunggu, wajah itu mengingatkanku pada seseorang.

'Jangan hanya menyalahkanku, seharusnya itu kau gunakan sebagai pelajaran untuk lebih hati-hati jika melangkahkan kakimu. Dengan bekas luka di wajah seorang gadis akan sulit mendapatkan suami, jadi lain kali kau harus hati-hati.' Kalimat itu tiba-tiba saja melintas, dan orang yang mengucapkannya adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab itu.

Kupandang lagi wajah raja dengan saksama memastikan jika dugaanku salah, meksi sudah berminggu-minggu kejadian itu tapi aku bukanlah tipe orang yang mudah melupakan wajah orang lain, apalagi orang yang membuatku kesal.

Itu artinya orang yang waktu itu mengoreskan ujung panah di wajahku adalah Raja? R-A-J-A?!

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!