09. Jangan Harap Bisa Menindas.

"Ndoro! Ndoro Anda darimana saja?"

Ratini berjalan ke arahku dengan terpogoh-pogoh, raut cemas dan khawatir diwajahnya tidak bisa disembunyikan lagi. Matanya menelusuri seluruh tubuhku, dan membola saat melihat goresan kecil di pipiku. L

"Ya Gusti, Ndoro ada apa dengan wajahmu."

"Hais hanya luka kecil, jangan heboh seperti itu."

"Ndoro luka itu akan membekas lama, baga... bagimana– " Aku memutar kedua bola mataku malas dan pergi dari hadapannya. Ini memamg luka kecil, aku bukanlah berlian berharga yang tidak boleh tergores sedikitpun.

"Ndoro! Ndoro!"

Aku berbalik dan mendapati raut wajahnya yang semakin tidak karuan itu, "Apa lagi?"

"Ndoro jika sampai ndoro ibu dan ndoro bapak tahu, hamba pasti akan mati."

Pelayan yang bertanggung jawab tentang apa yang terjadi dengan nonanya, istilah gampangnya seperti baby sister yang menjaga anak asuhnya. Saat terjadi masalah tentu yang pertama disalahkan adalah dirinya.

"Hais kau sangat berlebihan Ratini, diamlah dan siapkan saja makanan untukku!"

"Ndoro apakah Anda tidak tahu, luka diwajah seorang gadis akan membuatnya kesulitan mendapatkan pinangan?"

Apa yang dikatakan Ratini ini sama dengan yang dikatakan lelaki asing tadi, tapi aku tidak peduli dengan yang namanya pernikahan. Apalagi di zaman ini pernikahan pastinya bukan dilandasi dengan cinta dan kenyamanan tetapi perjodohan untuk menyatukan dua keluarga baik untuk membuat dua keluarga itu sama-sama lebih kuat atau untuk kepentigan salah satunya.

Sebagai wanita di zaman ini hanya bisa duduk duduk di dalam rumah untuk menunggu pinangan tanpa bisa memilih lelaki mana yang dia cintai dan dia inginkan. Cinta itu hanyalah omong kosong di zaman ini, jadi sekalipun aku tidak menikah sampai mati aku tidak akan peduli.

"Aku tidak peduli, cepat siapkan makanan aku lapar!"

"Ndoro.... " Kali ini nada bergetar yang kudengar, sepertinya Ratini ini benar-benar takut Romo tahu tentang luka kecil di wajahku.

"Aku akan memastikan tidak ada yang tahu." Aku langsung bergegas meninggalkan Ratini, dia pasti mengoceh lagi jika diladeni.

Aku beranjak ke pancuran, membasuh lukaku dengan air bersih.

"Shhh," Sedikit perih saat luka

itu bersentuhan dengan air.

Sebuah daun di tanganku membuatku terpaku, mungkin tadi tidak hanya satu tetapi aku tidak sengaja menjatuhkannya. Lelaki tak bertanggungjawab tadi yang memberikannya, dengan gaya sok nya yang seperti itu kupastikan dia keturunan bangsawan.

Meski aku termasuk orang awam yang baru saja masuk ke zaman ini tapi aku melihat dengan jelas jika dia memiliki wabawa yang tinggi, terbukti dengan pemikiran logis dan juga perkataannya yang tidak ingin disanggah.

Sebenarnya siapa dia?

***

Menatap hamparan bintang mungkin kini menjadi hobiku setiap malam, duduk hanya beralaskan rumput dan juga angin yang sedari tadi bermain-main dengan lenganku yang terbuka. Tapi itu tidak menjadi masalah selagi bintang-bintang itu mampu menciptakan senyuman di bibirku. Bintang di malam ini benar-benar banyak sekali, meski tiada bulan tapi langit tetap indah.

Suara gamelan juga melatari kegiatan melohat bintangku kali ini, kata Ibu nanti akan ada acara temu keluarga sekaligus syukuran karena aku tidak meninggal. Kutebak itu adalah yang datang akan banyak, karena pelayan menyiapkan banyak sekali makanan lezat. Jangan bayangkan makanan disini tidak enak karena tidak ada micin dan penyedap lainnya, justru masakannya kaya akan rempah-rempah dan terasa sangat sedap.

Hihihi... Hihihi...

Suara tawa itu membuatku sedikit was-was, aku disini sendiri dan suasana memang terasa mencekam. Tapi aku harus tenang, tidak ada hantu disini. Mengedarkan seluruh pandanganku aku melihat seorang gadis kecil yang tengah tertawa sendirian di depan sebuah kolam. Mengapa dia sendirian? Kan kalau terjebur bisa bahaya, dimana ibunya?

Langkah kakiku terarah ke sana, berjungkok menyamakan tinggiku dengan gadis kecil itu. "Kau sedang melihat apa heum?"

"Lihatlah Mbakyu, ada banyak kura-kura lucu disini."

Aku mengikuti arah pandangnya, ada anak kura-kura yang tubuhnya tercelup air separuh. Hanya dengan melihat kura-kura saja anak ini bisa sangat bahagia. Tapi tunggu, di kediaman ini belum ada yang menikah, kedua kakakku masih melajang dan aku tentunya juga.

"Siapa namamu?"

"Ananta Gayatri."

"Wah cantik sekali namamu."

Kikikan terdengar darinya, mungkin dia berusia lima tahunan. Gigi susunya masih lengkap, berbeda dengan anak kecil di masa depan pasti giginya habis karena kebanyakan permen. Untung saja saat ini permen masih belumlah diciptakan.

"Mbak– "

"Gayatri!"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang perempuan menarik lengan anak itu. Dia terkejut begitupun aku karena aku juga tidak mengenal wanita yang wajahnya tidak bersahabat itu. Apakah dia bermusuhan sebelumnya dengan Maheswari?

"Mengapa Kau bersama putriku? Kau pasti sudah ingin memiliki anak tapi tidak kunjung ada pria yang Menikahimu kan?" Ucapnya dengan dengusan.

Tidak salah lagi orang ini musuhnya musuhnya Maheswari, dari gaya bicara dan juga mimik wajah yang rasanya ingin sekali ku cakar-cakar sampai tak berupa. Kutebak usianya mungkin dia tidak lebih tua dariku tapi bedanya dia sudah memiliki anak berusia lima tahun. Jangan heran dengan itu bahkan anak berusia tigabelas tahun saja sudah dinikahkan.

"Tidak, hanya saja seorang ibu yang meninggalkan anaknya sendirian di depan kolam rasanya kurang pantas."

Mendengar kalimat itu wajahnya langsung memerah, "Tau apa Kau?! Gadis tanpa masa depan sepertimu tidak akan tahu apa-apa."

Ternyata mulut tipisnya ini tajam juga, sepertinya dia sangat membenciku.

"Apa maksudmu tidak punya masa depan?"

"Tentu saja tidak punya! Mana ada lelaki yang mau meminang gadis yang kesukaannya adalah menari, kau tidak akan memiliki masa depan Maheswari!"

Menari bukanlah sesuatu yang memalukan saat menari wanita terlihat anggun dan melambangkan sejatinya keindahan, tidak masuk akam jika seorang penari tidak memiliki masa depan. Aku suka menari, meski tidak menjadi guru tari tapi aku menjadi seorang guru seni budaya, dan aku nantinya bercita-cita untuk mendirikan sanggar tari. Tapi mungkin itu tidak akan terwujud karena aku sudah terdampar ke masa beribu tahun sebelumnya.

Kembali lagi ke topik, disini bisa juga dibuktikan, Nyi Gendhik tetap menjadi seorang bangsawan dengan reputasinya juga yang bagus karena mengajari banyak gadis menari.

"Aku tetap memiliki masa depan, wajahku cantik dan aku berasal dari keluarga terpandang. Bagaimana bisa aku masa depanku suram?"

"Tapi buktinya sampai sekarang kau belum juga juga menikah?"

"Apakah kau pernah memancing?"

Dia mengeryitkan kedua alisnya merasa bingung dengan apa yang aku ucapkan. "Tidak nyambung!"

"Ibaratnya memancing, jika umpannya sudah bagus maka kita hanya perlu sersabar untuk mendapatkan tangkapan besar. Aku menginginkan lelaki yang semuanya jauh diatasku bukannya sembarangan lelaki yang mau aku nikahi!"

Dia terdiam dengan wajah memendam amarah mendengarkan kalimatku itu, jika mengabaikan harga diri aku sudah terpingkal-pingkal melihat wajahnya yang seperti merah tomat. Puas rasanya membuatnya kehabisan kata-kata.

"Kau!"

"Apa? Aku mengatakan yang sebenarnya."

"Darwiyah!" Seorang wanita paruh baya datang dan menyungingkan seulas senyumnya, dia mencoba menenangkan wanita muda ini yang sepertinya bernama Darwiyah.

"Kenanga Masih harum, sungguh Gusti sangat memberkatimu Maheswari, kau masih selamat dari kejadian itu. Budhemu ini ikut senang."

Meski kata-kata itu terdengar manis tapi terselip makna implisit, oh siapa yang tidak tahu jika bunga Kenanga itu melambangkan kematian dan dia menyebutkan bunga itu sebagai kalimat pembuka. Dia menyayangkan mengapa aku tidak benar-benar mati di kejadian itu.

Ku kira hidup menjadi putri bangsawan seperti ini enak ternyata masih banyak sekali musuh, terlebih itu justru dari keluarga sendiri. Itu bisa terjadi karena timbulnya keirian dihati mereka.

"Tentu saja Budhe, kenanga itu masih akan harum selagi lalat lalat penjilat disekitarnya belum ia musnahkan."

Pasangan ibu dan anak itu terlihat membolakan matanya saat mendengar kalimatku. Aku sengaja mengucapkan itu untuk membuat mereka jera beradu mulut denganku, rasanya malas saja melayani mereka.

"Jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, Maheswari pamit." Aku melangkahkan kakiku menjauhi mereka berdua, menyudahi menatap wajah masam itu.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...

...And, see you....

Terpopuler

Comments

Maya Audina

Maya Audina

Thor aku mengikuti senja di Kahuripan dari awal, apa ini lanjutan nya dan cm ganti judul . makasih Thor kesayangan😘

2022-09-11

1

Maya Audina

Maya Audina

Thor aku mengikuti senja di Kahuripan dari awal, apa ini lanjutan nya dan cm ganti judul . makasih Thor kesayangan😘

2022-09-11

0

lihat semua
Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!