18. Permaisuri?

Resi mulai melantukan doa, aku tidak begitu mengerti karena itu menggunakan bahasa jawa kuno yang ini baru pertama kali aku dengar bahasa itu. Untung saja Maharaja tidak melihat kearahku, jika sampai dia tahu aku waktu itu sangat kurang ajar dengannya, bisa-bisa nanti aku dipenggal disini.

Setelah doa itu selesai dibacakan, para pelayan istana yang tadi membawa nampan berisi tepung berwarna kuning yang tidak kuketahui namanya itu mulai melemparkan tepungnya kesembarang arah. Mengenai banyak orang tapi mereka tetap diam di tempat meski terkena tepung berwaran kuning itu.

Aku tidak mengerti mengapa itu dilakukan, hanya menurut dan melihat saja.

Setelah itu rombongan raja meninggalkan tempat, orang-orang beranjak ke sisi timur, disana ada merpati di dalam kurungan. Sejauh pandanganku yang berjalan kesana adalah pasangan-pasangan muda yang sedang dimabuk cinta. Oh mungkin yang dimaksud Candrawati untuk mengajak Raden Rawikara melepaskan merpati tadi itu.

"Ayo,"

"Kita akan kemana?"

"Melepaskan merpati."

"Untuk apa Raden?"

Dia tidak menjawabku, tapi melihat yang kesana hanya mereka yang berpasangan aku yakin apa artinya. Merpati itu berpasangan, dan merpati sebagai simbol cinta sejati dimana mereka tidak akan mencari pasangan lain saat pasangannya mati.

Melepaskan sepasang merpati juga sering dilakukan saat acara pernikahan, itu sebagai simbol dimulainya kehidupan harmonis yang baru. Dan aku yakin pelepasan merpati hari ini, sebagai simbol untuk meminta langgengnya hubungan dan juga keharmonisan hubungan bahkan hingga maut memisahkan.

"Kita tidak memiliki hubungan apapun untuk apa melepaskan merpati?"

Setelah menari nanti kami pasti tidak akan pernah memiliki kepentingan untuk bertemu, tidak bersapa lagi seperti orang asing jadi untuk apa dia mengajakku melepaskan merpati.

Tanpa sepatah katapun Raden Rawikara melangkahkan kakinya, dengan wajahnya datarnya yang lagi-lagi tidak bisa aku tebak apa arti dibaliknya.

***

Untuk kesekian kalinya aku mencoba untuk menetralkan irama jantungku, aku sudah berada di pintu pendopo agung yaitu tempat raja bersantai. Dari luar sini pintu kayu menjulang tinggi dengan ukirannya yang rumit kembali membuatku kagum, bakat orang-orang di zaman ini memang sangat perlu mendapatkan apresiasi.

Beberapa saat lagi, aku akan menari dengan Raden Rawikara. Dia memerankan Rama dan aku menjadi Shinta. Tapi sedari tadi aku berkeringat dingin, padahal kuyakin aku tidak memiliki yang namanya demam panggung. Aku adalah seorang guru yang setiap hari berdiri di depan kelas untuk mengajar, aku juga sering mengikuti pertunjukan tari yang ditonton ratusan orang. Bagaimana bisa aku mendadak memiliki demam panggung.

Yang ku khawatirkan adalah raja masih mengenaliku, hanya itu. Tapi semoga saja tidak, memangnya siapa aku hingga dia masih mengingatku. Aku hanyalah gadis yang tidak sengaja bertemu dengannya dan dirugikan karena anak panah itu. Pasti dia tidak akan mengingatku.

Pintu terbuka menadakan aku harus segera memulai langkahku untuk masuk, menetralkan detak jantungku akhirnya aku mantap masuk.

Menggerakaan badanku sebaik mungkin diikuti Raden Rawikara yang dengan gagahnya berdiri di belakangku.

...

...

Sedari tadi aku terus merapalkan doa didalam hati, berharap semoga raja tidak mengenaliku. Sepertinya dia memang tidak mengenaliku.

"Baginda, bukankah Baginda melihat begitu indahnya asmara. Kerajaan ini membutukan seorang Ratu, apakah Baginda tidak ingin untuk segera mengangkat Ratu."

Meski dibarengi dengan suara gamelan, aku masih bisa mendengar kalimat itu. Seorang paruh baya disamping raja yang mengatakannya, mungkin dia adalah penasihat kerajaan.

"Aku belum terpikir kesana, aku masih terlalu sibuk dengan urusan negara."

Wajar saja jika jawaban itu yang muncul, memanglah benar yang dikatakan Maharaja. Tapi pastinya bukan hanya itu alasannya, kutebak raja belum memiliki seorang wanita dipikirannya untuk dijadikan ratu. Jika sudah ada pasti akan langsung dinikahi.

Menjadi ratu adalah hal yang cukup berat, harus siap menutup telinga dari kata-kata buruk orang-orang dan juga harus kuat seperti karang untuk berdiri bersama raja memimpin negara. Seorang wanita yang mampu menjadi cahaya bukannya menjadi beban. Jadi harus benar-benar hati-hati dalam memilih ratu, bukan sembarang orang tentunya.

Namun sejauh yang kuketahui, Raja muda ini sangat cakap dalam memimpin negaranya. Pondasi negara tetap kokoh dan dia tetap bisa menjalankan pemerintahan tanpa adanya ratu disampingnya. Jadi sepertinya bukan masalah besar tentang adanya ratu ini, hanya saja sedikit kurang.

"Istana dalam tentu membutuhkan seseorang untuk mengurusnya Baginda."

Tidak sengaja tatapan mataku dengan sang raja bertemu, dengan segera aku memutus kontak dan segera fokus pada gerakan tariku. Tidak lucu kan kalau sampai jatuh tersungkur gara-gara tidak fokus.

"Baginda–"

"Aku lelah, ingin istirahat."

Dia melangkahkan kaki meninggalkan tempat duduknya yang beberapa orang disana terkejut, tak terkecuali aku. Gamelan juga berhenti karena raja sudah tidak ada disana. Aku dan Raden Rawikara lekas meninggalkan pendopo, karena orang yang kita beri tontonan sudah pergi meninggalkan tempat.

"Raden apakah kita gagal membujuk Raja agar dia segera menikah?"

"Mau dibujuk seperti apapun jika dia belum berkenan tidak ada gunanya."

"Menurut Raden mengapa Raja seperti itu."

"Saat ini Kahuripan tengah memperluas wilayahnya, jikalau itu aku yang berada dalam posisinya. Aku pasti juga akan mengambil keputusan yang sama."

"Mengapa seperti itu?"

"Urusan wanita itu seperti bunga beracun, indah dipandang tapi juga akan mengacaukanmu pada akhirnya."

"Itu tidak benar Raden, tidak semua wanita seperti itu!"

Aku memang pernah mendengar, sebuah kerajaan yang awalnya berdiri kokoh, porak poranda dalam semalam hanya karena seorang wanita. Betapa besarnya pengaruh wanita hingga bisa menyebabkan peristiwa sekelam itu.

Namun tidak semuanya, ada yang menghancurkan ada juga yang mengkokohkan. Jangan memandang semua wanita itu sama karena nyatanya mereka itu berbeda satu sama lain.

"Kau benar Maheswari, tapi untuk saat ini yang dilihat adalah kekosongan kursi permaisuri. Para pejabat istana yang haus akan jabatan dan harta, pasti akan sibuk berlomba-lomba membuat putri mereka meraih posisi ratu ... jika raja mengatakan ingin memilih ratu itu yang akan terjadi, sehingga untuk saat ini baginda tidak ingin membahas hal itu."

Aku membatu mendengar ucapannya, ya aku tidak bisa berpikir sejauh Raden Rawikara. Pantas saja orang ini akan mendapatkan posisi bagus di usia muda, dia memang benar-benar menggunakan otaknya.

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!