"Maheswari."
Aku menoleh dan mendapati ibu berada di ambang pintu, seperti biasa senyuman menawan selalu ia sertakan. Ibu itu cantik, dia sangat ramah dan mampu menciptakan seulas senyuman dalam keadaan apapun. Jangan salah, karena senyumanya itu sangat menangkan hati. Pasti beliau ini saat masih muda menjadi rebutan banyak orang.
Dibalik lelaki hebat pasti ada wanita lebih hebat lagi dibelakangnya, dan itu sepertinya benar. Romo memiliki nama baik dan bekedudukan tinggi di istana, itu juga tidak lepas dari pern besar ibu didalamnya.
"Ibu, masuklah."
Ibu masuk dan mendudukkan dirinya di sebelahku.
"Putri ibu ini memang sudah besar, sudah waktunya untuk menikah."
"Ibu jangan mengatakan seperti itu, Maheswari tidak ingin berpisah dengan ibu secepat itu."
Di zaman ini menikah pasti akan tinggal dikediaman suami yang artinya juga tinggal bersama mertua. Itu adalah hal yang paling buruk, tinggal dirumah sendiri adalah yang paling baik.
Aku takut jika mendapatkan mertua yang galak atau tidak sepaham denganku. Terlebih di zaman ini wanita yang sudah menikah seperti air tumpah, keluarga sudah tidak akan ikut campur lagi sesuah dia ikut bersama suaminya.
Entah disana akan diperlakukan seburuk atau sebaik apapun itu yang akan kurasakan sendiri, keluargaku sudah menyerahkan aku sepenuhnya.
"Raden Rawikara sangat terkenal, tahun ini dia mulai memasuki istana dan melihat seperti apa dia, ibu yakin dia akan memiliki jabatan yang bagus. Wajahnya juga sangat tampan, banyak sekali para gadis yang ingin berada disisinya. Bukankah lebih baik kau katakan padanya agar kalian segera menikah saja– "
"Ibu sudah aku katakan kami tidak memiliki hubungan apapun."
Ibu mengenggam jariku dengan lembut, "Tidak usah malu-malu seperti itu, ini adalah ibumu Nak."
"Tapi aku mengatakan yang sejujurnya, kami tidak memiliki hubungan apapun."
"Romomu masih marah, maafkan ibumu ini yang tidak berhasil memujuknya. Ibu harap kau sendiri memiliki cara untuk meredakan amarah romomu."
"Bagaimana caranya Ibu?"
"Mintalah dia untuk mengirim pinangan, pasti romomu akan sangat senang."
Harus berapa kali aku mengatakan pada ibu jika kami sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Memgapa dia masih belum percaya jika kami memang tidak memiliki hubungan apapun.
Semua ini memang salah Raden Rawikara dari awal, dan dia juga yang harus bertanggungjawab menjelaskan semuanya.
"Ibu aku akan meminta dia untuk menjelaskan sendiri pada romo tentang kesalahan pahaman ini."
Aku mengalihkan pandanganku pada Ratini, "Ayo Ratini antar aku!"
"Kau mau kemana?"
"Meminta Raden Rawikara menjelaskan semuanya, Ibu."
"Tap– "
Belum sempat ibu melanjutkan kalimatnya aku sudah beranjak pergi, aku harus cepat sampai disana dan meminta si brengsek itu untuk menjelaskan semuanya.
***
Akhirnya sampai juga setelah aku duduk kebosanan, perjalanan menggunakan delman atau kereta kuda ini memakan waktu cukup banyak. Sampai disini hari sudah mulai sore padahal tadi pas datang masih siang.
Tepat sekali begitu aku masuk dia baru akan keluar menaiki kudanya, untung saja tidak terlambat untuk pergi. Melihatku dia bergegas menuruni kudanya.
"Ada perlu denganku?"
"Kau pikir untuk apa?!"
"Ndoro...." Ratini di belakang mengingatkanku untuk tidak berbicara terlalu keras. Tapi bodoamatlah, karena lelaki brengsek ini aku jadi terjebak masalah.
"Jelaskan sekarang juga pada romoku jika kita tidak memiliki hubungan apapun!"
Dia menautkan kedua alis tebalnya membuatku semakin geram, masih pura-pura tidak tahu rupannya.
"Karena rumor kita memiliki hubungan, romoku sangat murka. Dan jelas sekali ini adalah kesalahanmu. Sekarang bertanggungjawablah dengan semua hal yang sudah terjadi."
"Nanti aku akan berbicara dengan romomu."
"Tidak! Aku ingin sekarang juga Kau menjelaskannya."
"Aku akan pergi ke istana, dan nanti akan berbicara dengan romomu."
Tidak aku tidak akan percaya dengan itu, aku harus melihat sendiri dengan mata dan kepalaku saat dia menjelaskan semuanya.
"Romo sekarang sedang berada di rumah, dan aku ingin kau menjelaskannya di rumahku!"
"Maheswari aku ada kepentingan untuk pergi ke istana, aku– "
"Aku tidak peduli yang aku inginkan hanya kau menjelaskan masalahnya, aku tidak peduli dengan urursanmu sekarang."
Dia hanya menghela nafasnya, wajahnya masih sana seperti tadi. Dengan air muka tenang yang entah perasaan apa yang tengah dia rasakan.
"Baiklah cepatlah naik," Raden Rawikara menunjuk kuda dengan dagunya.
Aku menggeleng, tentu saja tidak mau naik kuda lagi dengannya. Rumor itu ada karena ini, mana mungkin aku bersedia untuk mengulanginya.
"Kau tidak mau?"
"Aku akan pergi dengan kereta kuda."
"Itu sangat lambat, biarkan pelayanmu yang naik kereta kuda. Kau ikut denganku."
"Tidak!"
"Terserah jika tidak mau aku tidak akan pergi kerumahmu."
Aku menganga mendengarnya, mengapa dia itu selalu membuatku darah tinggi kan tidak lucu kalo aku tiba-tiba terserang stroke. Mungkin benar menaiki kuda itu akan jauh lebih cepat ketimbang naik delman seperti tadi. Dia juga sedang buru-buru ke istana, aku tidak boleh egois juga.
"Baiklah, tapi aku akan naik dibelakang."
"Lihatlah pakaianmu, kau akan terjatuh jika dibelakang."
"Tap– "
"Cepatlah aku tidak memiliki banyak waktu."
Pada akhirnya aku mengalah dan berada dalam posisi seperti waktu itu, kuda dilajukan dengan cepat membuat posisi kami semakin dekat saja.
Bagaimanapun aku adalah wanita normal, perasaanku bercampur aduk saat berada dalam jarak sedekat ini dengan lawan jenis. Mengapa aku harus mengalami posisi seperti ini lagi.
"Mengapa detak jantungmu terdengar begitu keras dan– akhhh"
Dengan reflek aku mencubit pinggangnya hingga membuatnya meringis, aku benci dengan orang ini sangat benci.
Dia pikir aku bukan gadis normal yang akan biasa saja saat berada dalam jarak sedekat ini, bahkan setiap hembusan nafasnya saja sangat terasa di tengkukku.
Slap...
Satu buah anak panah melesat tepat di depan kita, disusul oleh banyak lagi anak oanah yang terarah pada kami. Raden Rawikara mengarahakan kudanya ke arah berbalik dengan cepat untuk menghindari panah anak yang ditujukan ke arah kami.
Aku tidak tahu keadaan macam apa yang tengah terjadi saat ini, jangan tanyakan perasaanku. Bayangkan saja banyak anak panah yang sedang dihindari.
"Raden," entah sejak kapan suaraku menjadi bergetar seperti ini, tapi saat ini aku sangat takut.
"Pejamkan saja matamu dan jangan takut."
Meski kalimat itu bertujuan untuk menenangkan tapi aku sama sekali tidak tenang. Aku tidak ingin mati disini, aku ingin kembali lagi ke masaku bukan menjadi mayat disini.
Tanpa sadar air mataku menetes, aku sangat takut, memanjatkan semua doa yang kubisa agar tidak mati di tempat ini.
Sebuah lengan mengelus rambutku dan membawaku menuju ke dada bidangnya, entah mengapa aku jauh lebih tenang karena hal itu.
"Jangan takut."
Pekikan nyaring kuda yang kami tunggangi bersamaan dengan aku dan Raden Rawikara yang tersungkur ke kerasnya tanah. Rupanya tiga buah anak penah menancap di perut kuda itu, malang sekali kuda ini.
Jauh di belakang sana kulihat ada sekitar lima belas orang yang masih terus menembakan anak panah. Jadi mereka adalah tersangkanya, menyeramkan sekali.
Raden Rawikara mengenggam lenganku dan mengajakku berlari, pepohonan lebat disekeliling dan juga semak belukar yang tingginya hingga lutut. Bukan hutan yang sering kulihat di sinetron, tapi hutan yang benar-benar lebat, menyasak satu persatu ilalang dan belukar tinggi itu.
Kakiku terasa perih karena sedari tadi tersabet ujung ilalang yang tajam, tapi aku tidak peduli selagi tidak meligat lagi orang-orang menyeramkan yang tengah mengejar kita.
Raden Rawikara menghentikan langkahnya, kulihat kebelakang tidak ada juga tanda-tanda dari orang-orang itu mengejar kita. Sepertinya kita memang sudah
"Kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk, dan perhatianku teralihkan pada lengan Raden Rawikara yang tergores anak panah. Sepertinya lumayan dalam karena mengalirkan banyak darah.
"Raden lenganmu..."
"Hanya luka kecil, ayo kita harus cepat pergi dari sini."
Jelas-jelas luka itu mengeluarkan banyak darah tapi dia masih menganggapnya luka kecil, luar biasa memang orang ini.
"Raden akan kehilangan seluruh darah Raden jika luka itu tidak dibebat."
Dengan sedikit usaha aku berhasil menyobek ujung kain yang aku kenakan, untung saja ini bukanlah kain baru sehingga tidak terlalu sulit untuk disobek. Dengan perlahan aku membebat lengannya agar darah yang keluar tidak semakin banyak. Aku masih memiliki rasa kemanusiaan, tidak ingin dia mati karena kehabisan darah.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
daruraharjeng ˈˇˈ
anjing, sampeyan segawon tenan le 👍🏽
2025-03-17
0
istri_cantik
thor jangan masangin mahes sm sikawakari it..ane ngak setuju 🙄
2022-10-18
0