Berendam air dingin pagi hari seperti ini rasanya sangat segar, mungkin ini akan menjadi hal favoritku dipagi hari. Suara burung dari hutan dibelakang pemandian ini menambah suasana asri. Mungkin di zamanku sudah tidak ada rumah yang berbatasan langsung dengan hutan seperti ini. Bayangkan saja jika mandi di malam hari aku pasti tidak akan berani, sangat menyeramkan.
...
...
Aku memperhatikan telapak tanganku yang mulai keriput, tidak terasa aku sudah terlalu lama berendam disini. Suhu tubuhku saja sudah sama seperti air dingin ini. Dengan segera aku beranjak naik, dan menanggalkan kain basahku untuk mengantinya dengan kain kering. Untung saja aku sudah terbiasa mengunakan kostum tari sehingga tidak kesulitan untuk menggenakan kemben yang sekarang menjadi pakaian sehari-hariku ini.
Seekor kelinci dari balik pohon mengalihkan perhatianku, warnanya putih bersih dan sangat lucu. Huft, aku tidak tahan dengan keimutan hewan berbulu itu. Saat kedua tanganku siap menangkapnya kelinci itu justru dengan segera pergi ke pepohonan lebat hutan. Teryata disana aku melihat banyak titik-titik putih yang kuyakini kelinci juga.
Saking antusiasnya aku beranjak untuk mendekat, melihat dalam jarak sedekat mungkin kelinci itu. "Wah banyak banget kelincinya," Ada sekitar sepuluh kelinci kerwarna putih yang tengah memakan dedauanan hutan.
Hutam ini cukup rimbun tapi tidak menyeramkan karena ini siang hari. Jangan bayangkan hutan seperti yang digunakan untuk syuting sinetron, hutan ini sangat ribun dengan pepohonan besar, semak belukar juga menghiasi tanah.
Kelinci-kelinci itu tiba-tiba saja membubarkan diri dengan cepat aku terheran melihatnya, sejak aku datang mereka asyik menikmati rumput. Selanjutnya aku dikejutkan dengan ular hitam seukuran lengan datang ke arah sini dengan melata.
"Aaaa.... " Dengan kalang kabut aku melangkahkan kakiku, berlari ke arah mana saja untuk menghindari ular itu. Aku tidak mau mati konyol di sini hanya karena seekor ular.
Nafasku sudah satu-satu sudah cukup jauh aku berlari, tapi aku juga belum ingin berhenti. Aku tidak mau digigit ular.
Karena tidak melihat, aku terperosok ke dalam jurang, tidak terlalu tinggi hanya sekitar 4meteran. Tapi karena itu seluruh badanku sakit dan juga perih karena bergesekan dengan rumput yang tidak semuanya lembek. Tapi aku masih bersyukur karena tidak menabrak batu ataupun kayu.
Aku mencoba untuk berdiri meski badanku masih sekidit nyeri, tentu aku tidak mati hanya karena jatuh dalam jurang sependek itu, ini bukan sinetron yang setiap sore ibu tonton orang jatuh ke jurang 2meter saja mati. Disini masih sama juga semak dan juga pepohonan juga, tapi penampilan sudah entahah seperti apa.
Baru saja aku melangkahkan kaki,
Slap....
Sebuah anak panah melesat dengan cepat mengenai pohon, tapi sebelumnya sudah menggores sedikit pipiku. Tidak dalam tetapi mengalirkan darah dari sana, sungguh hari ini adalah hari paling sial yang aku alami.
Suara hentakan kaki kuda yang mendekat membuatku was-was, seseorang dengan busur panah di tangannya mendekat. Tidak salah lagi orang ini yang telah melukaiku.
"Hei Kau! lihatlah aku terluka karenamu, apakah kau sengaja melakukannya?!"
Dengan wajah datarnya dia menuruni kuda, seulas senyuman muncul saat dia menegok wajahku yang tergores panah. Penampilan lelaki satu ini berbeda dengan Raden Rawikara, dia mmenggukan baju tanpa lengan dan juga jubah yang tersampir di punggungnya.
Jika dilihat-lihat dari wajahnya dia belum terlalu tua, mungkin seumuran dengan Raden Bayanaka, kakaknya Maheswari. Bukankah pemuda di zaman ini kebanyakan bertelanjang dada seperti halnya Raden Rawikara atau kedua kakak Maherswari? Mengapa dia tidak?
"Mengapa kau diam saja Bertanggungjawablah!"
Pemuda itu terlihat terkejut mendengar omelanku, pasti karena wanita di zaman ini semuanya kalem dan pendiam jadi dia kaget melihatku marah.
"Hei!"
"Bukan salahku."
Aku suskes membolakan kedua mataku, sudah jelas-jelas anak panah itu miliknya dan juga dia yang melepaskannya, masih saja tidak mau mengakui kesalahannya.
"Itu jelas-jelas milikmu, luka ini pasti akan membekas diwajahku. Hais.... "
"Memang bukan salahku, kau saja yang tiba-tiba melintas."
"Tapi aku mana lihat ada panah kau yang seharusnya sudah melihatku ada disini dan mengapa kau masih mengarahkan panahnya kesini?"
"Jangan hanya menyalahkanku, seharusnya itu kau gunakan sebagai pelajaran untuk lebih hati-hati jika melangkahkan kakimu. Dengan bekas luka di wajah seorang gadis akan sulit mendapatkan suami, jadi lain kali kau harus hati-hati."
Sok-sokan bijak dan memberikan nasihat padahal dia tidak mau mengakui kesalahannya. Eh, tapi bukannya salahku juga ya yang tidak melihat-lihat padahal kan ini hutan pasti ada orang yang tengah berburu. Hais, tetap saja salahnya, sudah tahu ada aku yang mau melintas masih saja diarahkan kesini anak panahnya.
Apa katanya, gadis dengan bekas luka diwajah akan sulit mendapatkan suami? Apakah itu benar? Apakah pada zaman ini kecantikan digunakan untuk ukuran segala hal sehingga wanita harus cantik dan sempurna.
Namun mereka gadis yang memiliki orang tua sebagai petani juga sejak kecil sudah kekebun, wajah mereka kusam dan terbakar matahari sejak usia dini karena tidak adanya sun blok atsu krim lainnya di zaman ini. Tapi mereka juga tetap menikah.
"Gadis petani saja bisa menikah, bagaimana aku tidak bisa?"
"Dasar bodoh, kau pikir ada pernikahan antar kaum bagsawan dengan anak petani? Apakah kau mau menikah dengan seorang petani desa?"
Okey aku sadar di zaman ini kasta sangat di perdepankan, wajarlah ini masih zaman kerajaan orang di zaman modern saja anak konglomerat juga dilarang pasti menikahi seorang pembantu. Tapi menurutku itu tidaklah bagus, kenyamanan itu tidak mudah di dapatkan. Saat kita sudah nyaman dengan seseorang seperti apapun latar belakangnya pasti akan diterima.
Uang itu tidak menjamin kebahagiaan, dengan orang miskin saja jika kita mau menerima setulus hati kita juga bisa bahagia dengan uang yang pas-pasan.
"Harta tidak menjamin kebahagiaan, bahkan dengan seorang petanipun jika kita saling mencintai aku akan sangat bahagia."
Dia menatapku aneh membuatku was-was, "Kau aneh,"
"Aneh apanya? Aku benar, harta tidak menjamin semuanya. Kebahagiaan itu bisa datang darimana saja asalkan orang itu membuatku nyaman aku mau bersamannya."
"Jadi jika seorang pangeran meminangmu tetapi kau memiliki kekasih seorang petani kau tidak akan menerima pinangannya?"
"Tentu aku akan menerimanya."
Dia mendecak, "Kau tadi berkata tidak haus harta? Tapi sekarang–"
"Jika sampai ada orang lain yang meminangku itu artinya kekasihku tidak serius padaku karena tidak kunjung datang melamar dan tidak cepat-cepat menikahiku. Untuk apa memilih orang yang tidak serius, karena itu artinya dia tidak mencintaiku."
Sekarang aku terdengar seperti sedang membicakan Arsen, baru sadar rupanya aku bodoh juga mempertahakan orang yang tidak serius padaku.
"Carilah sungai dan bersihkan lukamu." Dagunya menunjuk pada pipiku yang tergores.
Sudah tidak terasa sakit lagi karena kuyakin lukanya sudah mengering, karena berdebat dengan orang ini aku justru lupa dengan kesalahannya.
"Dasar laki-laki tidak punya tanggungjawab!"
Dia terlihat mengedarkan pandangannya, bergerak beberapa meter dan memetik daun berwarna hijau yang berukuran kecil. Dia menyerahkan daun itu pada tanganku, aku tidak tahu jenis daun apa ini tapi baunya seperti daun hijau biasa.
"Untuk apa daun ini? Apakah daun ini bisa berubah jadi uang?"
"Uang? Apa itu."
Aku menghela nafas, rupanya uang beli ada di zaman ini. "Tidak-tidak kau salah mendengar. Jadi untuk apa daun ini?"
"Dasar bodoh, daun ini dijadikan ramuan dan kau gunakan untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu, tidak mungkin kau tidak tahu itu."
Sudah kedua kalinya dia mengatai aku bodoh, aku akan memang tidak tahu fungsi daun ini apa. Orang di masa depan saja bekas luka dihilangkan dengan saleb bukan dengan daun.
"Yasudah aku pergi, dasar lelaki tidak bertanggungjawab!"
Aku lekas melangkahkan kaki untuk pergi dari hadapan lelaki itu.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
...And, see you....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
daruraharjeng ˈˇˈ
iyalah, jaman masih belum ada emansipasi wanita
2025-03-17
0
daruraharjeng ˈˇˈ
women ☕
2025-03-17
0
Iekyu
ciyeee ketemu raja
2022-12-01
0