Saat pukul lima sore tiba, Zoya mulai menutup toko bunganya. Dia menarik pintu geser agar tertutup dan tidak menampakkan pemandangan di dalam ruangan.
Namun, saat pintu itu sudah setengahnya tertutup, Zoya merasa kesulitan Karena roda pintunya sedikit karatan. Begitu juga dengan tuasnya. Zoya berusaha menariknya sekuat tenaga hingga tubuhnya hampir saja terjatuh.
Namun, hal itu tidak terjadi saat Zoya merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada bidang milik seseorang. Zoya menoleh, dan mendapati Zada sudah menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Terima kasih, Mas." Kemudian, Zoya segera berdiri dengan benar.
"Hati-hati, Zoya. Ini akan berbahaya jika sampai kamu terjatuh. Aku nggak mau itu terjadi. Jagalah diri kamu baik-baik," ucap Zada penuh kekhawatiran yang besar.
Zoya menelisik sorot mata Zada yang penuh akan ketulusan. "Iya, Mas. Tadi nggak sengaja aja karena roda sama tuasnya sudah karatan. Jadi, agak susah untuk nutupnya," jelas Zoya panjang lebar.
"Biar aku yang tutup. Besok aku akan belikan pelumas biar nggak susah buka tutupnya."
Zada bergerak menutup pintu geser tersebut. Dalam satu kali tarikan, pintu tertutup sempurna. Zoya tersenyum tipis menatap suaminya. "Terima kasih sekali lagi, Mas,"
Zada menepuk-nepuk telapak tangannya dan tersenyum hangat. "Kamu nggak perlu berterima kasih karena itu sudah menjadi tugasku untuk menjaga kamu dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja,"
Zoya mendengus pelan dan memutar bola matanya malas, mengabaikan ucapan suaminya, Zoya masuk ke rumah dan mulai menaiki anak tangga. Tidak mau tertinggal, Zada mengekori Zoya menapaki anak tangga.
Sesampainya di atas, Zoya mencuci tangannya di wastafel. Saat tangannya bergerak untuk membuka kran, tangan Zada sudah bergerak untuk memutarnya dengan posisi memeluk Zoya dari belakang.
"Mas!" Zoya melayangkan protesnya karena tidak nyaman dengan posisi tersebut. Tanpa memedulikan Zoya, Zada mulai menyabuni tangan Zoya dengan lembut lalu membilasnya hingga bersih. Setelah itu, Zada mengelapkan tangan Zoya pada lap yang menggantung di sana.
Zoya sejak tadi bergeming dan melihat tangannya yang mendapat sentuhan lembut dari suaminya. Zoya merasa di perlakukan dengan baik oleh Zada. "Duduk dulu ya, Zoya. Aku buatkan kamu teh biar rileks," ucap Zada yang terdengar seperti sindiran bagi Zoya.
Memang, sejak tadi Zoya merasa sangat kaku saat suaminya memperlakukan dirinya sangat manis. Zoya sudah waspada takut suaminya akan menanyakan hal yang sama seperti kemarin, yaitu tentang dirinya yang sudah rela atau belum untuk di madu.
Zoya menurut dan memperhatikan gerakan yang Zada lakukan.
Zada mulai membuka satu persatu kabinet atas untuk mencari keberadaan benda bernama teh dan gula. Namun, saat membuka salah satu kabinet, mata Zada dikejutkan dengan adanya susu untuk ibu hamil.
Sungguh, Zada sangat terkejut hingga tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Zada mengulurkan tangannya pelan untuk mengambil benda tersebut. Zada bisa mendengar suara Zoya yang bertanya mengapa dirinya lama sekali.
"Mas, kenapa? Kok diam? Udah nemu belum?" Terdengar begitu khawatir takut kehamilannya terbongkar.
"Ini apa, Zoya?" tanya Zada dengan wajah datar dan menunjukkan dus susu bertuliskan 'untuk ibu hamil'.
Deg.
Jantung Zoya seketika berhenti berdetak saat itu juga. "Aku bisa jelasin, Mas ...." lirih Zoya lalu, beranjak untuk mendekati suaminya yang berdiri mematung di depan kabinet.
Zoya bisa merasakan aura mencekam yang mengisi ruangan tersebut. Namun, Zoya berusaha untuk berani melawan segala ketakutannya. Zoya terus menyemangati diri sendiri dan tidak ada yang boleh menyalahkan dirinya atas kehamilan yang dia alami.
'Semangat Zoya ... Selama ini kamu yang berjuang sendiri untuk anak yang ada dalam kandunganmu. Bukankah mas Zada sudah jarang memperhatikan dirimu akhir-akhir ini? Jadi, yakinlah bahwa kamu bisa memberikan penjelasanmu nanti,' batin Zoya tak karuan.
"Kamu hamil?" Lagi-lagi Zada bertanya dengan wajah datarnya. Zoya hanya membalas dengan anggukan. "Berapa bulan?" tanya Zada lagi. "Dua bulan," jawab Zoya tak kalah datar.
Zada terpaku di tempat. Wajah yang semula tegang berangsur melembut. Zoya menautkan alisnya heran saat wajah Zada sudah terlihat tak marah padanya.
Tanpa diduga, Zada langsung mendekap tubuh Zoya ke dalam pelukannya. Zada juga memberikan usapan-usapan lembut pada punggung Zoya. "Zoya ... Aku bahagia ... Akhirnya anak kita hadir di dalam perutmu setelah penantian kita tiga tahun lamanya," Zada berucap dengan penuh haru biru.
Tangan Zoya bergerak untuk membalas pelukan Zada, pelukan yang selalu Zoya rindukan disaat tidak ada siapapun yang bisa Zoya jadikan sandaran. Mata Zoya mulai berkaca-kaca, merasa bahagia. "Mas?"
"Hm?"
"Kamu nggak marah?"
"Gimana aku bisa marah, Zoya ... Aku sangat bahagia,"
Zada melonggarkan pelukan untuk menatap wajah Zoya. Zoya mendongak dan melihat mata suaminya itu berair. "Mas Zada nangis?" tanya Zoya. Tangannya bergerak untuk menghapus sisa air mata di pipi suaminya.
Zada mengangguk beberapa kali dan tersenyum haru. "Aku bahagia Zoya ... Akhirnya penantian kita berujung mendapatkan hasil," Tangan Zada bergerak untuk menangkup kedua pipi Zoya. Ditatapnya wajah cantik Zoya yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya. "Itu anakku kan?" tanya Zada sambil menatap mata Zoya.
Zoya balas menatap mata suaminya. "Apa Mas Zada meragukanku?" tanya Zoya merasa tersakiti. Zada menggeleng dan tersenyum. "Bukan seperti itu ... Katakan bahwa itu anakku. Aku ingin mendengarnya langsung," pinta Zada lembut.
Zoya mendongak dan menatap mata Zada lekat. "Ini anak kita, Mas. Buah dari cinta kita," Zada semakin tersenyum lebar. Ingin rasanya Zada mengabarkan pada dunia bahwa dirinya sangat bahagia. "Terima kasih, Sayang. Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku? Belum cukup kamu membuatku merasa bersalah seumur hidupku dengan menikah lagi? Zoya ... Bagaimana jika terjadi sesuatu dan aku tidak tahu? Aku tidak mau sampai kehilanganmu Zoya," cetus Zada khawatir.
Zoya merasakan ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Zada tidak pernah berubah walau sudah menikah lagi. Tanpa terasa, setitik air mata jatuh, air mata haru dan bahagia.
"Jangan nangis. Kamu harus tetap tersenyum." Zada menghapus air mata Zoya dengan satu tangannya. Zada menatap mata Zoya lekat seakan sedang menembus manik dalam milik Zoya yang selalu bisa menenggelamkannya ke dalam lautan cinta.
Perlahan, Zada mendekatkan wajahnya pada wajah Zoya. Zoya pun memejamkan matanya lembut saat wajahnya merasakan sapuan lembut dan hangat nafas Zada. Setelah itu, Zoya bisa merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.
Zoya sangat merindukan sentuhan lembut itu. Sentuhan yang sudah lama tidak Zoya dapatkan. Zoya mulai mengalungkan tangannya pada leher Zada. Begitu juga dengan Zada yang salah satu tangannya digunakan untuk menarik tengkuk Zoya, untuk memperdalam ciumannya.
Sedang satu tangannya, Zada gunakan untuk memeluk pinggang Zoya. Saat Zada semakin memperdalam ciumannya, Zoya bisa merasakan darahnya berdesir. Ciuman lembut itu telah membuainya.
Ciuman akan kerinduan yang sudah lama tertabung dalam hatinya. Zoya dan Zada tersenyum disela ciuman itu ketika merasakan cinta di antara mereka masih sama besarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
awokawokawok🙈
kayaknya Zoya Zada makin dekat aja ya?😅🙈
aku mau tutup mata aja biar nggak lihat keuwuan mereka🙏😂
jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya🙏😍
dukungan kalian sangat berarti.
untuk para readerskuh tercintah ...
terima kasih masih setia dan memberi dukungannya❤️😍😍🙏
lope sekebon duren untuk kalian semua😍😘😘🔥
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Siti Masitah
jijik nengoknya ..sana sini mw ..zoya lgi..gataaal...naziiis
2024-05-02
0
R yuyun Saribanon
jangan serakaj zada.. istri ke dua mengandung nikan anakmu... masa niat kasian menyakiti istri pertamu yg mengandung anak pula.. situ waras
2024-01-28
0
andi hastutty
hayoo loh Zada pilih mana istri pertama dan istri kedua ???
2023-05-04
0