Bab 18. Cinta yang sama besar

Saat pukul lima sore tiba, Zoya mulai menutup toko bunganya. Dia menarik pintu geser agar tertutup dan tidak menampakkan pemandangan di dalam ruangan.

Namun, saat pintu itu sudah setengahnya tertutup, Zoya merasa kesulitan Karena roda pintunya sedikit karatan. Begitu juga dengan tuasnya. Zoya berusaha menariknya sekuat tenaga hingga tubuhnya hampir saja terjatuh.

Namun, hal itu tidak terjadi saat Zoya merasakan punggungnya bersentuhan dengan dada bidang milik seseorang. Zoya menoleh, dan mendapati Zada sudah menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. "Terima kasih, Mas." Kemudian, Zoya segera berdiri dengan benar.

"Hati-hati, Zoya. Ini akan berbahaya jika sampai kamu terjatuh. Aku nggak mau itu terjadi. Jagalah diri kamu baik-baik," ucap Zada penuh kekhawatiran yang besar.

Zoya menelisik sorot mata Zada yang penuh akan ketulusan. "Iya, Mas. Tadi nggak sengaja aja karena roda sama tuasnya sudah karatan. Jadi, agak susah untuk nutupnya," jelas Zoya panjang lebar.

"Biar aku yang tutup. Besok aku akan belikan pelumas biar nggak susah buka tutupnya."

Zada bergerak menutup pintu geser tersebut. Dalam satu kali tarikan, pintu tertutup sempurna. Zoya tersenyum tipis menatap suaminya. "Terima kasih sekali lagi, Mas,"

Zada menepuk-nepuk telapak tangannya dan tersenyum hangat. "Kamu nggak perlu berterima kasih karena itu sudah menjadi tugasku untuk menjaga kamu dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja,"

Zoya mendengus pelan dan memutar bola matanya malas, mengabaikan ucapan suaminya, Zoya masuk ke rumah dan mulai menaiki anak tangga. Tidak mau tertinggal, Zada mengekori Zoya menapaki anak tangga.

Sesampainya di atas, Zoya mencuci tangannya di wastafel. Saat tangannya bergerak untuk membuka kran, tangan Zada sudah bergerak untuk memutarnya dengan posisi memeluk Zoya dari belakang.

"Mas!" Zoya melayangkan protesnya karena tidak nyaman dengan posisi tersebut. Tanpa memedulikan Zoya, Zada mulai menyabuni tangan Zoya dengan lembut lalu membilasnya hingga bersih. Setelah itu, Zada mengelapkan tangan Zoya pada lap yang menggantung di sana.

Zoya sejak tadi bergeming dan melihat tangannya yang mendapat sentuhan lembut dari suaminya. Zoya merasa di perlakukan dengan baik oleh Zada. "Duduk dulu ya, Zoya. Aku buatkan kamu teh biar rileks," ucap Zada yang terdengar seperti sindiran bagi Zoya.

Memang, sejak tadi Zoya merasa sangat kaku saat suaminya memperlakukan dirinya sangat manis. Zoya sudah waspada takut suaminya akan menanyakan hal yang sama seperti kemarin, yaitu tentang dirinya yang sudah rela atau belum untuk di madu.

Zoya menurut dan memperhatikan gerakan yang Zada lakukan.

Zada mulai membuka satu persatu kabinet atas untuk mencari keberadaan benda bernama teh dan gula. Namun, saat membuka salah satu kabinet, mata Zada dikejutkan dengan adanya susu untuk ibu hamil.

Sungguh, Zada sangat terkejut hingga tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Zada mengulurkan tangannya pelan untuk mengambil benda tersebut. Zada bisa mendengar suara Zoya yang bertanya mengapa dirinya lama sekali.

"Mas, kenapa? Kok diam? Udah nemu belum?" Terdengar begitu khawatir takut kehamilannya terbongkar.

"Ini apa, Zoya?" tanya Zada dengan wajah datar dan menunjukkan dus susu bertuliskan 'untuk ibu hamil'.

Deg.

Jantung Zoya seketika berhenti berdetak saat itu juga. "Aku bisa jelasin, Mas ...." lirih Zoya lalu, beranjak untuk mendekati suaminya yang berdiri mematung di depan kabinet.

Zoya bisa merasakan aura mencekam yang mengisi ruangan tersebut. Namun, Zoya berusaha untuk berani melawan segala ketakutannya. Zoya terus menyemangati diri sendiri dan tidak ada yang boleh menyalahkan dirinya atas kehamilan yang dia alami.

'Semangat Zoya ... Selama ini kamu yang berjuang sendiri untuk anak yang ada dalam kandunganmu. Bukankah mas Zada sudah jarang memperhatikan dirimu akhir-akhir ini? Jadi, yakinlah bahwa kamu bisa memberikan penjelasanmu nanti,' batin Zoya tak karuan.

"Kamu hamil?" Lagi-lagi Zada bertanya dengan wajah datarnya. Zoya hanya membalas dengan anggukan. "Berapa bulan?" tanya Zada lagi. "Dua bulan," jawab Zoya tak kalah datar.

Zada terpaku di tempat. Wajah yang semula tegang berangsur melembut. Zoya menautkan alisnya heran saat wajah Zada sudah terlihat tak marah padanya.

Tanpa diduga, Zada langsung mendekap tubuh Zoya ke dalam pelukannya. Zada juga memberikan usapan-usapan lembut pada punggung Zoya. "Zoya ... Aku bahagia ... Akhirnya anak kita hadir di dalam perutmu setelah penantian kita tiga tahun lamanya," Zada berucap dengan penuh haru biru.

Tangan Zoya bergerak untuk membalas pelukan Zada, pelukan yang selalu Zoya rindukan disaat tidak ada siapapun yang bisa Zoya jadikan sandaran. Mata Zoya mulai berkaca-kaca, merasa bahagia. "Mas?"

"Hm?"

"Kamu nggak marah?"

"Gimana aku bisa marah, Zoya ... Aku sangat bahagia,"

Zada melonggarkan pelukan untuk menatap wajah Zoya. Zoya mendongak dan melihat mata suaminya itu berair. "Mas Zada nangis?" tanya Zoya. Tangannya bergerak untuk menghapus sisa air mata di pipi suaminya.

Zada mengangguk beberapa kali dan tersenyum haru. "Aku bahagia Zoya ... Akhirnya penantian kita berujung mendapatkan hasil," Tangan Zada bergerak untuk menangkup kedua pipi Zoya. Ditatapnya wajah cantik Zoya yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya. "Itu anakku kan?" tanya Zada sambil menatap mata Zoya.

Zoya balas menatap mata suaminya. "Apa Mas Zada meragukanku?" tanya Zoya merasa tersakiti. Zada menggeleng dan tersenyum. "Bukan seperti itu ... Katakan bahwa itu anakku. Aku ingin mendengarnya langsung," pinta Zada lembut.

Zoya mendongak dan menatap mata Zada lekat. "Ini anak kita, Mas. Buah dari cinta kita," Zada semakin tersenyum lebar. Ingin rasanya Zada mengabarkan pada dunia bahwa dirinya sangat bahagia. "Terima kasih, Sayang. Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku? Belum cukup kamu membuatku merasa bersalah seumur hidupku dengan menikah lagi? Zoya ... Bagaimana jika terjadi sesuatu dan aku tidak tahu? Aku tidak mau sampai kehilanganmu Zoya," cetus Zada khawatir.

Zoya merasakan ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Zada tidak pernah berubah walau sudah menikah lagi. Tanpa terasa, setitik air mata jatuh, air mata haru dan bahagia.

"Jangan nangis. Kamu harus tetap tersenyum." Zada menghapus air mata Zoya dengan satu tangannya. Zada menatap mata Zoya lekat seakan sedang menembus manik dalam milik Zoya yang selalu bisa menenggelamkannya ke dalam lautan cinta.

Perlahan, Zada mendekatkan wajahnya pada wajah Zoya. Zoya pun memejamkan matanya lembut saat wajahnya merasakan sapuan lembut dan hangat nafas Zada. Setelah itu, Zoya bisa merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.

Zoya sangat merindukan sentuhan lembut itu. Sentuhan yang sudah lama tidak Zoya dapatkan. Zoya mulai mengalungkan tangannya pada leher Zada. Begitu juga dengan Zada yang salah satu tangannya digunakan untuk menarik tengkuk Zoya, untuk memperdalam ciumannya.

Sedang satu tangannya, Zada gunakan untuk memeluk pinggang Zoya. Saat Zada semakin memperdalam ciumannya, Zoya bisa merasakan darahnya berdesir. Ciuman lembut itu telah membuainya.

Ciuman akan kerinduan yang sudah lama tertabung dalam hatinya. Zoya dan Zada tersenyum disela ciuman itu ketika merasakan cinta di antara mereka masih sama besarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

awokawokawok🙈

kayaknya Zoya Zada makin dekat aja ya?😅🙈

aku mau tutup mata aja biar nggak lihat keuwuan mereka🙏😂

jangan lupa like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian ya🙏😍

dukungan kalian sangat berarti.

untuk para readerskuh tercintah ...

terima kasih masih setia dan memberi dukungannya❤️😍😍🙏

lope sekebon duren untuk kalian semua😍😘😘🔥

Terpopuler

Comments

Siti Masitah

Siti Masitah

jijik nengoknya ..sana sini mw ..zoya lgi..gataaal...naziiis

2024-05-02

0

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

jangan serakaj zada.. istri ke dua mengandung nikan anakmu... masa niat kasian menyakiti istri pertamu yg mengandung anak pula.. situ waras

2024-01-28

0

andi hastutty

andi hastutty

hayoo loh Zada pilih mana istri pertama dan istri kedua ???

2023-05-04

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!