Zoya sudah mengubah meja makan menjadi meja dinner romantis. Dia juga menghias kamarnya dan Zada. Hari ini adalah hari anniversary pernikahan Zoya dan Zada yang ke-3. Zoya sengaja mempersiapkan semua untuk memberikan kejutan pada suaminya.
Zoya tidak berhenti tersenyum ketika melihat kamarnya yang sudah dihias dengan begitu indah. "Aku harus mandi dan berdandan dengan cantik khusus untuk Mas Zada," Zoya bermonolog penuh rasa bahagia.
Tidak berapa lama, Zoya sudah siap dengan penampilan anggun dan cantiknya. Zoya memakai dress selutut berwarna mint yang sangat cocok dengan kulit putihnya.
Zoya menggerai rambut panjangnya dan memakai wewangian agar suaminya merasa senang. Tidak berapa lama setelah Zoya selesai merias diri, dia mendengar deru mobil Zada di teras.
Zoya tersenyum lebar saat sadar suaminya sudah pulang. Zoya berlari kecil menuruni anak tangga. Zoya sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan pada suaminya.
Zoya menunggu Zada di depan pintu dengan senyum merekah menyambut Zada. Namun, senyum merekah itu memudar ketika melihat ada seorang wanita yang ikut bersama suaminya.
Zada menatap Zoya yang terdiam mematung di depan pintu. Kemudian, pandangannya jatuh pada Ghaida dan berkata. "Kopernya biar aku yang bawa saja nanti. Kamu masuk dulu ikut aku,"
Ghaida menoleh ke pintu dan melihat istri pertama suaminya sudah berdiri dengan tatapan yang sulit di artikan. Ghaida sama sekali tidak masalah jika istri pertama suaminya akan membenci dirinya.
Zoya masih memperhatikan dua manusia di hadapannya. Perasaannya mendadak tidak enak namun, Zoya tetap berusaha berpikir positif. Dia berusaha mengulas senyum walau di paksakan. Zoya melihat jari-jari suaminya bertaut dengan jari wanita yang dibawa bersamanya.
"Assalamualaikum, Mas. Bagaimana hari ini? Apakah lancar? Dan ... Dia siapa, Mas?" Zoya masih berusaha bersikap normal walau nada bicaranya terdengar kalut. Dia masih sempat menyalimi dan mencium punggung tangan suaminya yang terpaksa dilepas dari pertautan.
"Waalaikumsalam. Alhamdulilah lancar karena doa dari istri Solehah," jawab Zada berusaha tersenyum. "Perkenalkan, dia Ghaida, istri kedua Mas,"
Bagai tersambar petir, tubuh Zoya mendadak lemas, dadanya terasa sesak, tenggorokannya seperti ada batu besar yang mengganjalnya. "Ka–kamu b–bilang, d–dia siapa? I–istri keduamu?" tanya Zoya terbata-bata.
Zada menunduk dan mengangguk membenarkan. Dia tidak sanggup menatap mata Zoya yang menatap dirinya penuh luka. Melihat Zada yang mengangguk, Zoya semakin kehabisan nafasnya. Dia merasa, dunianya telah berhenti berputar detik itu juga.
Zoya mundur perlahan dengan tangan yang ingin menggapai sesuatu. Zoya butuh pegangan karena tubuhnya seakan tidak berdaya. Zoya terlalu syok dengan pengakuan suaminya.
Zada dan Ghaida yang sadar bahwa tubuh Zoya mendadak tak seimbang, berinisiatif untuk membantunya berpegangan. Zoya segera mengangkat tangannya untuk menghentikan sepasang suami istri di depannya.
"Jangan sentuh aku! Kalian pikir aku tidak bisa berdiri sendiri?" Nada suara Zoya terdengar bergetar dan parau. Padahal, Zoya sama sekali belum mengeluarkan air matanya. Lidah Zoya terasa kelu, tenggorokannya seakan tercekat dan terganjal batu berukuran besar. Zoya tidak sanggup, dia tidak sanggup.
Namun, dia tidak mau terlihat lemah di depan istri baru suaminya. Zoya sudah linglung menatap tidak jelas ke mana arahnya. "Zoya ... Mas bisa jelaskan semuanya...."
Lagi, Zoya mengangkat tangannya merasa tidak butuh penjelasan apa pun. Niat hati ingin memberikan kejutan, justru dirinyalah yang diberi kejutan yang begitu menyakitkan.
Seperti orang linglung, Zoya kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia memutar ingatan tentang wanita yang baru saja suaminya bawa. Dia memang berkerudung. Tapi, mengapa dia mau dijadikan yang kedua?
'Dia memang cantik, bahkan lebih cantik dari aku. Dia juga sepertinya wanita baik-baik. Tapi, bukankah wanita baik-baik tidak akan merusak kebahagiaan wanita lain?'
Zoya berperang dengan batinnya. Mencoba mencari jawaban atas apa yang sedang dia alami. Zoya masih belum menangis. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh di depan istri kedua.
Tanpa menutup pintu, Zoya berjalan menghadap cermin. Dia memandang pantulan dirinya di kaca. Meraba-raba wajahnya yang belum banyak berubah. Zoya sedang mencari kekurangan dirinya sampai Zada bisa menduakannya.
Zoya menatap tampilannya di cermin. Zoya seketika tahu apa penyebab Zada menduakannya. Zoya tertawa getir, bahkan sangat getir. "Aku tidak memakai kerudung, itulah kekuranganku. Ya, aku sadar, aku kalah telak dari dia," Zoya tertawa parau.
Sesak sekali dadanya. Zoya memukul dadanya beberapa kali karena rongga saluran pernapasannya seperti dihimpit oleh batu yang sangat besar.
Masih mencoba tegar, Zoya mengacak-acak isi lemari untuk mencari sesuatu untuk dikenakan. Zoya sudah mendapatkannya. Dia segera mengganti dress selututnya dengan gamis berwarna maroon. Dia juga memakai kerudung segi empatnya.
"Zoya..." panggil Zada yang melihat Zoya terdiam di depan cermin dengan penampilan barunya. Zoya menoleh dan menunjukkan senyum manisnya. Namun bukan itu yang Zada lihat. Zoya tersenyum penuh luka yang mendalam.
Zada juga mematung di ambang pintu saat melihat kamarnya yang sudah dihias dengan indah. Zada mengarahkan pandangan pada nakas di sebelah ranjang yang terdapat kue yang bertuliskan 'Happy Anniversary ke-3'.
Zada semakin dirundung rasa bersalah.
"Kenapa, Mas? Kamu lihat ruangan ini kan? Kamu lihat kue yang disana kan? Itu untuk hari jadi kita. Aku yang sudah menyiapkannya," lirih Zoya bergetar saat mengucapkannya.
Tanpa permisi, air mata mulai menetes membasahi pipi mulusnya. Sangat deras hingga Zoya tak mampu lagi untuk menghentikannya. "Kenapa kamu melakukan ini kepadaku, Mas? Apa aku harus menjadi seperti dia, berhijab? Aku sudah melakukannya. Aku terlihat cantik kan? Atau lebih cantik dia? Lihat aku, Mas! Lihat aku sekali saja,"
Zoya semakin menangis menjadi-jadi. Dia terduduk di lantai keramik dengan menekuk kedua lututnya. Zoya menjerit, meraung, dan memukul apa saja yang ada di depannya. Zoya merasakan, hatinya sudah hancur berkeping-keping hingga tidak berbentuk lagi.
Zada berjalan mendekati Zoya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. "Zoya ... Kamu cantik dengan ciri khas kamu sendiri. Aku bahkan masih sangat mencintaimu. Cintaku padamu sama sekali tidak berkurang," Zada berucap dengan dada yang terasa sesak melihat Zoya yang telah hancur karena dirinya.
Zoya mendongak dengan air matanya yang masih setia mengalir. "Cinta? Cinta seperti apa yang kamu maksud? Ini bukan cinta, Mas. Ini bukan cinta ... Cinta tidak akan sesakit ini," ucap Zoya tanpa meninggikan suaranya. Dia sangat marah dan kecewa hingga tidak sanggup lagi untuk mengekspresikannya seperti apa.
Zoya berdiri menghadap suaminya. "Lihat aku, Mas! Aku cantik kan, pakai hijab? Ini kan, yang kamu mau sejak dulu? Kenapa kamu nggak bilang ... Kamu bisa memaksaku untuk memakainya. Kenapa kamu malah mencari wanita lain yang berhijab, Maaas," Zoya semakin tidak terkendali. Dia menangis meraung-raung meratapi nasibnya.
Zoya menyambar apa saja yang ada di ruangan itu. Dia mengobrak-abrik semuanya untuk melampiaskan rasa kecewa dan terlukanya.
"Aaaargh!!" Zoya menjerit, meronta untuk melepaskan semua sesak di dadanya. Hingga dia merasa lelah dan terduduk kembali di atas lantai dengan lutut yang tertekuk. Dia terdiam dengan sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.
"TALAK AKU, MAS!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Arin
nysek bcany,sy pling benci sm suami yg dngn seenakny nduain istri......😡😭
2024-02-03
0
Abinaya Albab
sudah mengandung bawang sesek rasanya 😭😭
2023-09-02
0
andi hastutty
sakit Zoya aku pernah merasakannya cuman bedanya saya yg berkerudung dan sebaliknya dia tidak, saya cuman bisa menangis dalam diam dan bertanya kekuranganku apa?
sakit dan kecewa i2 yg dirasa Zoya seperti kaca yg pecah tidak akan kembali utuh meskipun sudah diperbaiki dengan baik😭😭😭😭
2023-05-03
1