Bab 6. Kedatangan Zada

Setelah dua hari berada dalam masa terpuruknya, Zoya kini bangkit kembali untuk memulai hidup. Hidup yang sudah tidak seperti dulu saat ada Zada, Sang suami.

Bagaimana pun, hidup akan terus berjalan dan Zoya harus menerima semua badai dan ombak yang datang menghampiri hidupnya. Selama Zoya masih hidup, Zoya akan terus berusaha berjuang dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Zoya sudah membuka toko bunganya dan membersihkan area toko serta menyiram bunga yang akan layu karena pemiliknya meninggalkan Sang bunga begitu saja.

Ada rasa nyaman dan damai saat Zoya bisa melihat dan merasakan bunga-bunganya perlahan mulai tumbuh dengan tegak kembali setelah di siram. Zoya seperti, melihat ada kehidupan baru lagi.

Setelah selesai, Zoya menuju meja kasir untuk mengecek pembelian minggu lalu. Zoya sudah bertekad untuk bangkit dan hidup dengan hasil jerih payahnya sendiri. Zoya tidak mengharapkan akan diberi nafkah setiap bulannya oleh Zada. Akan Zoya buktikan bahwa Zoya pasti bisa mandiri dan mengurus dirinya sendiri.

Hingga siang menjelang, belum ada tanda-tanda seseorang akan membeli bunganya. Belum ada satu pun yang masuk untuk sekedar melihat atau membelinya. Namun, Zoya tidak ambil pusing dan memilih untuk melaksakan salat Zuhur terlebih dahulu saat telinganya mendengar azan sudah di kumandangkan.

Zoya mengganti papan yang bertuliskan 'BUKA' dengan tulisan 'SHOLAT'. Setelah itu, Zoya bergegas ke atas untuk melaksanakan kewajibannya.

Tidak lama, Zoya kembali turun untuk menjaga toko bunganya. Karena masih sepi, Zoya akhirnya larut dalam lamunan tentang Zada. Zoya tidak tahu mengapa dia sangat berharap bahwa Zada akan datang menemui dirinya.

Jujur, Zoya begitu merindukan suaminya itu. Tapi, rindu hanyalah tinggal rindu saat Zada sama sekali tidak mencari dirinya. Saat sedang larut dalam lamunannya, lonceng berbunyi pertanda ada seseorang yang membuka pintu. Zoya tersentak dan langsung bisa menguasai dirinya kembali.

"Selamat datang di toko bunga Adhisty," sambut Zoya saat pelanggan pertamanya masuk. Zoya memasang senyum dan menatap pelanggannya. Namun, senyum itu pudar saat melihat siapa yang datang. Seseorang yang membuatnya terluka sudah ada di depan matanya.

"Zoya ...." panggil Zada lembut dan menatap Zoya sendu seakan begitu banyak kerinduan yang terpancar dari manik coklat itu. Zoya bergeming di tempat dengan mata tertuju pada Zada.

Zada berjalan mendekat dan langsung membawa tubuh Zoya ke dalam dekapannya. Zada begitu merindukan istri tercintanya. "Zoya, aku sangat merindukanmu. Apa kamu sama sekali tidak merindukanku?" tanya Zada saat Zoya pasrah dalam dekapan Zada.

Zoya tidak menolak dan tidak membalas pelukan itu. Dia juga bergeming, enggan menjawab pertanyaan Zada. Rindu? Jelas Zoya sangat merindukan suaminya. Tapi, Zoya terlalu gengsi jika menjawabnya dengan kejujuran.

Bahkan, Zoya bisa merasakan pelukan Zada yang begitu hangat, tidak ada yang berubah. Zoya kembali meneteskan air mata saat logikanya selalu kalah dengan kata hatinya. Zoya berkata ingin menjauh dari suaminya. Namun, saat di hadapkan dengan pelukan senyaman mentari pagi, Zoya tidak bisa menolaknya.

Zoya jelas merindukan pundak ternyamannya. Zoya segera menghapus air matanya dan melepas pelukan Zada. Saat bibir Zoya akan terbuka untuk berbicara, seseorang datang dari arah pintu. Zoya kembali mengatupkan bibirnya dan mendadak kecewa.

Suaminya datang bersama Ghaida. Zoya pikir, Zada hanya datang sendirian untuk mencari dan menemui dirinya. "Tolong ... Jangan ganggu hidupku lagi. Kalian bisa hidup bahagia tanpa harus menggangguku," Zoya berucap dengan menangkupkan dua tangannya di depan dada.

Bukan tanpa sebab Zoya mengatakan hal itu. Hatinya kembali merasakan sayatan demi sayatan baru. Padahal, sayatan yang kemarin saja belum sembuh. "Mengapa kamu berpikir seperti itu, Zoya? Tolong ... dengarkan aku dulu ...," Zada berucap lirih.

Zoya memejamkan matanya agar amarahnya bisa terkontrol. "Mas, beri aku waktu untuk bisa mendengarkan ceritamu. Aku tidak sekuat itu sampai rela mendengarkan suamiku menceritakan maduku. Aku nggak sanggup, Mas." Zoya menggeleng lemah dengan air mata yang mulai membendung di pelupuk mata.

Zada mengusap wajahnya kasar dan mengembuskan nafasnya lelah. "Zoya ... Kembalilah ke rumah. Kita pulang ya?" ajak Zada lembut sambil meraih jemari lentik Zoya. Zoya tidak menolah saat tangan lembur Zada menyentuh permukaan kulitnya.

Zoya mendongak untuk menatap wajah Zada yang terlihat lebih tirus dengan lengkungan hitam di bagian bawah matanya. "Apa Mas Zada kurang tidur?" tanya Zoya khawatir. Zada mengangguk. Tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali. Dia memang kurang makan dan tidur.

Tidur nyenyaknya sudah ikut dibawa pergi bersama kepergian Zoya dari rumah. "Tidak ada yang baik-baik saja setelah kamu pergi dari rumah. Aku nggak pernah baik-baik saja, Zoya,"

Ghaida yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, semakin di rundung rasa bersalah. 'Aku sudah memisahkan dua manusia yang saling mencintai. Maafkan aku Ya Allah ... Jika aku boleh egois, aku juga ingin merasakan cinta suamiku,' batin Ghaida berdoa.

"Mas ...." panggil Ghaida lembut. Zada menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. "Ada apa Ghaida?" tanya Zada mengernyit heran. Ghaida tampak ragu untuk mengucapkan keinginannya. Namun, dia segera mengutarakannya. "Boleh aku bicara dengan Mbak Zoya terlebih dahulu?" tanya Ghaida meminta izin.

Zada menatap Zoya meminta persetujuan. Zoya pun mengangguk dan akan membiarkan Ghaida bersuara. "Silahkan bicara ... Kalau urusan kalian sudah selesai, kalian bisa cepat-cepat pergi dari sini," ucap Zoya membuang muka.

Entah mengapa, Zoya masih merasa kesal dengan Ghaida yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan pernikahannya. Dan Zoya tidak mau membuang waktu untuk berbicara dengan madunya. Itu hanya akan membuat Zoya semakin terluka.

Ghaida terlihat memberikan isyarat pada Zada untuk meninggalkan mereka berdua. Zada yang paham akan tatapan Ghaida pun memilih untuk keluar setelah berpamitan dengan Zoya.

Setelah Zada keluar, Ghaida berjalan mendekati Zoya. "Mbak ... Mbak tahu jika dimadu itu, seorang istri akan mendapatkan surga?" tanya Ghaida seperti provokator.

Zoya menatap tajam Ghaida yang masih berbicara sesukanya. "Maksud kamu apa?" tanya Zoya meminta penjelasan. Ghaida tersenyum manis. "Jika Mbak rela di madu, Mbak akan mendapatkan surganya Allah SWT,"

Zoya membuang pandangannya. Dia mengukir senyum masam karena ucapan Ghaida sama sekali tidak membuat Zoya ikhlas begitu saja. "Memangnya, kamu mau kalau di madu? Kamu aja belum pernah merasakan rasanya dimadu, kok udah main nilai orang lain aja," ketus Zoya merasa kesal.

Ghaida lagi-lagi tersenyum dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Zoya. "Aku memang belum pernah tahu rasanya di madu. Namun, di nikahi tanpa mendapat cinta dari suaminya itu sangatlah sakit. Tidak sepadan dengan yang Mbak Zoya rasakan," ucap Ghaida mulai membandingkan.

"Pppfft ... Hahahahampt." Zoya berusaha menahan tawanya yang sudah meledak mendengar omong kosong Ghaida. "Kamu ngomong apa sih? Jangan ngelantur deh. Setiap orang itu punya kekebalan batin yang berbeda-beda. Dan Allah sudah menakar sesuai porsinya. Jadi, nggak usah merasa paling menderita dan paling berat cobaannya,"

Terpopuler

Comments

Endang Supriati

Endang Supriati

zada tdk bisa tidur karena sibuk pengaten baru.sdh berapa malam!! sampai lupa sama iatri pertama! sdh puas dan kenyang sama gaida, baru ingat zoya.

2024-02-01

1

Erik Herawati

Erik Herawati

yang namanya menerima mdu gak dapat surga, neraka iya, tersiksa lahir bathin

2023-09-03

0

andi hastutty

andi hastutty

sebaik apapun perempuan ngga ada yg mau jadi madu dan tidak ada yg mau di madu

2023-05-03

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!