Setelah dua hari berada dalam masa terpuruknya, Zoya kini bangkit kembali untuk memulai hidup. Hidup yang sudah tidak seperti dulu saat ada Zada, Sang suami.
Bagaimana pun, hidup akan terus berjalan dan Zoya harus menerima semua badai dan ombak yang datang menghampiri hidupnya. Selama Zoya masih hidup, Zoya akan terus berusaha berjuang dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Zoya sudah membuka toko bunganya dan membersihkan area toko serta menyiram bunga yang akan layu karena pemiliknya meninggalkan Sang bunga begitu saja.
Ada rasa nyaman dan damai saat Zoya bisa melihat dan merasakan bunga-bunganya perlahan mulai tumbuh dengan tegak kembali setelah di siram. Zoya seperti, melihat ada kehidupan baru lagi.
Setelah selesai, Zoya menuju meja kasir untuk mengecek pembelian minggu lalu. Zoya sudah bertekad untuk bangkit dan hidup dengan hasil jerih payahnya sendiri. Zoya tidak mengharapkan akan diberi nafkah setiap bulannya oleh Zada. Akan Zoya buktikan bahwa Zoya pasti bisa mandiri dan mengurus dirinya sendiri.
Hingga siang menjelang, belum ada tanda-tanda seseorang akan membeli bunganya. Belum ada satu pun yang masuk untuk sekedar melihat atau membelinya. Namun, Zoya tidak ambil pusing dan memilih untuk melaksakan salat Zuhur terlebih dahulu saat telinganya mendengar azan sudah di kumandangkan.
Zoya mengganti papan yang bertuliskan 'BUKA' dengan tulisan 'SHOLAT'. Setelah itu, Zoya bergegas ke atas untuk melaksanakan kewajibannya.
Tidak lama, Zoya kembali turun untuk menjaga toko bunganya. Karena masih sepi, Zoya akhirnya larut dalam lamunan tentang Zada. Zoya tidak tahu mengapa dia sangat berharap bahwa Zada akan datang menemui dirinya.
Jujur, Zoya begitu merindukan suaminya itu. Tapi, rindu hanyalah tinggal rindu saat Zada sama sekali tidak mencari dirinya. Saat sedang larut dalam lamunannya, lonceng berbunyi pertanda ada seseorang yang membuka pintu. Zoya tersentak dan langsung bisa menguasai dirinya kembali.
"Selamat datang di toko bunga Adhisty," sambut Zoya saat pelanggan pertamanya masuk. Zoya memasang senyum dan menatap pelanggannya. Namun, senyum itu pudar saat melihat siapa yang datang. Seseorang yang membuatnya terluka sudah ada di depan matanya.
"Zoya ...." panggil Zada lembut dan menatap Zoya sendu seakan begitu banyak kerinduan yang terpancar dari manik coklat itu. Zoya bergeming di tempat dengan mata tertuju pada Zada.
Zada berjalan mendekat dan langsung membawa tubuh Zoya ke dalam dekapannya. Zada begitu merindukan istri tercintanya. "Zoya, aku sangat merindukanmu. Apa kamu sama sekali tidak merindukanku?" tanya Zada saat Zoya pasrah dalam dekapan Zada.
Zoya tidak menolak dan tidak membalas pelukan itu. Dia juga bergeming, enggan menjawab pertanyaan Zada. Rindu? Jelas Zoya sangat merindukan suaminya. Tapi, Zoya terlalu gengsi jika menjawabnya dengan kejujuran.
Bahkan, Zoya bisa merasakan pelukan Zada yang begitu hangat, tidak ada yang berubah. Zoya kembali meneteskan air mata saat logikanya selalu kalah dengan kata hatinya. Zoya berkata ingin menjauh dari suaminya. Namun, saat di hadapkan dengan pelukan senyaman mentari pagi, Zoya tidak bisa menolaknya.
Zoya jelas merindukan pundak ternyamannya. Zoya segera menghapus air matanya dan melepas pelukan Zada. Saat bibir Zoya akan terbuka untuk berbicara, seseorang datang dari arah pintu. Zoya kembali mengatupkan bibirnya dan mendadak kecewa.
Suaminya datang bersama Ghaida. Zoya pikir, Zada hanya datang sendirian untuk mencari dan menemui dirinya. "Tolong ... Jangan ganggu hidupku lagi. Kalian bisa hidup bahagia tanpa harus menggangguku," Zoya berucap dengan menangkupkan dua tangannya di depan dada.
Bukan tanpa sebab Zoya mengatakan hal itu. Hatinya kembali merasakan sayatan demi sayatan baru. Padahal, sayatan yang kemarin saja belum sembuh. "Mengapa kamu berpikir seperti itu, Zoya? Tolong ... dengarkan aku dulu ...," Zada berucap lirih.
Zoya memejamkan matanya agar amarahnya bisa terkontrol. "Mas, beri aku waktu untuk bisa mendengarkan ceritamu. Aku tidak sekuat itu sampai rela mendengarkan suamiku menceritakan maduku. Aku nggak sanggup, Mas." Zoya menggeleng lemah dengan air mata yang mulai membendung di pelupuk mata.
Zada mengusap wajahnya kasar dan mengembuskan nafasnya lelah. "Zoya ... Kembalilah ke rumah. Kita pulang ya?" ajak Zada lembut sambil meraih jemari lentik Zoya. Zoya tidak menolah saat tangan lembur Zada menyentuh permukaan kulitnya.
Zoya mendongak untuk menatap wajah Zada yang terlihat lebih tirus dengan lengkungan hitam di bagian bawah matanya. "Apa Mas Zada kurang tidur?" tanya Zoya khawatir. Zada mengangguk. Tidak ada yang ditutup-tutupi sama sekali. Dia memang kurang makan dan tidur.
Tidur nyenyaknya sudah ikut dibawa pergi bersama kepergian Zoya dari rumah. "Tidak ada yang baik-baik saja setelah kamu pergi dari rumah. Aku nggak pernah baik-baik saja, Zoya,"
Ghaida yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, semakin di rundung rasa bersalah. 'Aku sudah memisahkan dua manusia yang saling mencintai. Maafkan aku Ya Allah ... Jika aku boleh egois, aku juga ingin merasakan cinta suamiku,' batin Ghaida berdoa.
"Mas ...." panggil Ghaida lembut. Zada menoleh dengan wajah penuh tanda tanya. "Ada apa Ghaida?" tanya Zada mengernyit heran. Ghaida tampak ragu untuk mengucapkan keinginannya. Namun, dia segera mengutarakannya. "Boleh aku bicara dengan Mbak Zoya terlebih dahulu?" tanya Ghaida meminta izin.
Zada menatap Zoya meminta persetujuan. Zoya pun mengangguk dan akan membiarkan Ghaida bersuara. "Silahkan bicara ... Kalau urusan kalian sudah selesai, kalian bisa cepat-cepat pergi dari sini," ucap Zoya membuang muka.
Entah mengapa, Zoya masih merasa kesal dengan Ghaida yang telah hadir di tengah-tengah kehidupan pernikahannya. Dan Zoya tidak mau membuang waktu untuk berbicara dengan madunya. Itu hanya akan membuat Zoya semakin terluka.
Ghaida terlihat memberikan isyarat pada Zada untuk meninggalkan mereka berdua. Zada yang paham akan tatapan Ghaida pun memilih untuk keluar setelah berpamitan dengan Zoya.
Setelah Zada keluar, Ghaida berjalan mendekati Zoya. "Mbak ... Mbak tahu jika dimadu itu, seorang istri akan mendapatkan surga?" tanya Ghaida seperti provokator.
Zoya menatap tajam Ghaida yang masih berbicara sesukanya. "Maksud kamu apa?" tanya Zoya meminta penjelasan. Ghaida tersenyum manis. "Jika Mbak rela di madu, Mbak akan mendapatkan surganya Allah SWT,"
Zoya membuang pandangannya. Dia mengukir senyum masam karena ucapan Ghaida sama sekali tidak membuat Zoya ikhlas begitu saja. "Memangnya, kamu mau kalau di madu? Kamu aja belum pernah merasakan rasanya dimadu, kok udah main nilai orang lain aja," ketus Zoya merasa kesal.
Ghaida lagi-lagi tersenyum dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Zoya. "Aku memang belum pernah tahu rasanya di madu. Namun, di nikahi tanpa mendapat cinta dari suaminya itu sangatlah sakit. Tidak sepadan dengan yang Mbak Zoya rasakan," ucap Ghaida mulai membandingkan.
"Pppfft ... Hahahahampt." Zoya berusaha menahan tawanya yang sudah meledak mendengar omong kosong Ghaida. "Kamu ngomong apa sih? Jangan ngelantur deh. Setiap orang itu punya kekebalan batin yang berbeda-beda. Dan Allah sudah menakar sesuai porsinya. Jadi, nggak usah merasa paling menderita dan paling berat cobaannya,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Endang Supriati
zada tdk bisa tidur karena sibuk pengaten baru.sdh berapa malam!! sampai lupa sama iatri pertama! sdh puas dan kenyang sama gaida, baru ingat zoya.
2024-02-01
1
Erik Herawati
yang namanya menerima mdu gak dapat surga, neraka iya, tersiksa lahir bathin
2023-09-03
0
andi hastutty
sebaik apapun perempuan ngga ada yg mau jadi madu dan tidak ada yg mau di madu
2023-05-03
0