Bab 11. Zoya datang

Sore ini, setelah toko bunganya tutup, Zoya terpaksa harus datang ke rumahnya yang ditinggali Zada dan Ghaida. Tujuannya adalah, untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal disana.

Setelah melaksanakan salat asar, Zoya bergegas memesan taksi online dan tidak lama kemudian, taksi sudah menunggunya di depan. Zoya segera naik taksi dan mengatakan tujuannya.

Tidak berapa lama, mobil taksi itu berhenti di depan rumah berpagar sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. Setelah membayar dan taksi itu menghilang, Zoya mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu sebelum masuk.

Zoya menatap rumah yang dulunya merupakan rumahnya. Zoya tersenyum masam melihat keadaan dirinya yang sekarang. 'Aku sudah selayaknya istri simpanan yang tinggal di lain rumah. Dan Ghaida, dia sudah seperti istri pertama dan Sang Nyonya Besar yang tinggal di rumah utama. Sungguh, ini semua tidak lucu sama sekali,' monolog Zoya merutuki nasibnya sendiri.

Perlahan, kaki Zoya mulai menapaki paving untuk menuju pintu masuk. Ingatan tentang dirinya yang pergi dari rumah tanpa dicegah pun tergambar jelas di kepala. Zoya menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran itu.

'Jangan lagi di pikirkan, Zoya. Kamu harus tetap melangkah,' batin Zoya menyemangati dirinya sendiri. Tidak berapa lama, Zoya sudah mencapai pintu masuk. Zoya bimbang apakah dia harus mengetuk pintu atau masuk begitu saja. Bagaimana pun, Zoya sudah tidak tinggal di rumahnya lagi.

Setelah batinnya mengalami peperangan, akhirnya Zoya memilih untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.

Tok. Tok. Tok.

Ceklek.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam. Zoya bisa melihat Zada yang sedang menatap dirinya sumringah. "Zoya ... Kamu datang?" tanya Zada penuh binar di matanya.

Zoya mengangguk dengan mempertahankan wajah datarnya. "Ada barang yang harus aku ambil. Jadi, aku perlu ke sini," jawab Zoya yang sudah menjawab pertanyaan di benak Zada.

Zada menghela nafasnya panjang. "Tidak adakah maksud lainnya? Aku berharap kamu datang untuk menemui ku," Zada menunduk dengan wajah lesunya.

"Maaf, Mas. Aku nggak punya banyak waktu. Sebentar lagi hari akan gelap. Jadi, aku harus cepat," ucap Zoya tidak mau berbasa-basi terlebih dahulu dengan seseorang yang masih resmi menjadi suaminya itu.

Zada mengangguk pasrah. Dia menyingkir agar Zoya bisa masuk dengan leluasa. Setelah hampir mencapai tangga, Zoya berbalik dan berkata. "Mas, aku boleh ke kamar kamu kan? Barang aku ada disana," Zoya bermaksud meminta izin.

Zada tersenyum dan mengangguk. "Masuklah, Zoya. Kamar itu akan tetap menjadi kamarku dan kamarmu," jawab Zada mempersilahkan. Zoya mengernyit heran dengan jawaban suaminya. Namun, Zoya memilih untuk tidak mengambil pusing.

Setelah berada di kamar, Zoya membuka pintu lemari untuk mencari barang yang diinginkan. Benda berbentuk balok berukuran 30×20×10 cm itu berhasil Zoya ambil dari laci dalam lemari.

Zoya membukanya dan memastikan tidak ada barang yang hilang di dalamnya. Setelah semua lengkap, Zoya ingin bergegas keluar dari kamar. Kamar yang menjadi saksi bisu awal dari penderitaannya.

Zoya jelas tidak bisa berlama-lama di dalamnya karena banyak sekali kenangan yang begitu membekas di ingatan. Zoya masih sangat mencintai Zada. Zoya juga merindukan peluk hangatnya. Namun, hal itu hanya bisa Zoya pendam sendiri.

Dia terlalu gengsi untuk mengatakan yang sejujurnya. Tanpa terasa, satu tetes cairan bening berhasil lolos dari sudut mata Zoya. Zoya segera menghapusnya karena tidak mau terlihat lemah.

Zoya mengembuskan nafasnya lelah dan berjalan menuju pintu. Namun, belum sempat Zoya keluar, Zada sudah masuk lebih dulu dan menutup pintu itu. Bahkan, Zada juga mengunci pintu dan menyimpan kunci itu di dalam saku celananya.

"Mas! Apa-apaan sih kamu. Aku mau pulang, Mas!" ketus Zoya merasa kesal. Zada hanya bergeming dan menatap Zoya lekat. Zada mendekati Zoya dengan langkah perlahan. Zoya bergerak mundur untuk menghindari Zada mendekatinya.

"Mas! Berhenti! Aku mau pulang!"

Zada tidak mempedulikan Zoya yang sudah melayangkan protes padanya. Zada tetap melangkah untuk mengikis jarak antara dirinya dan Zoya. "Jangan begini, Mas! Berhenti!" Zoya terus berteriak agar Zada mengehentikan aksi gilanya.

Hingga Zoya merasakan punggungnya sudah merapat pada tembok begitu juga dengan kedua telapak tangannya. Zada langsung mengunci pergerakan Zoya dengan meletakkan kedua lengannya di sisi tubuh Zoya.

Zoya mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan kesal. "Mas! Aku nggak suka kamu gini! Lepasin aku!" Zoya seakan tidak kenal lelah untuk memprotes apa yang dilakukan Zada. "Aku juga nggak suka berjauhan dari kamu. Aku maunya dekat kamu terus," jawab Zada sambil menatap wajah Zoya lekat.

Deg, deg, deg.

Jantung Zoya tidak bisa di ajak bekerja sama. Dia berdebar-debar disaat Zada mengikis jarak dan merapatkan tubuh padanya. Zoya terdiam dan membuang muka asal. Zada justru tersenyum melihat wajah Zoya yang enggan menatap dirinya lagi. "Kenapa? Jantung kamu berdebar ya? Aku bisa dengar kok,"

Zoya langsung melayangkan tatapan tajam. Suaminya ini tidak pernah berubah dan selalu membuat wajah Zoya seketika merona. "Nggak usah galak gitu matanya. Wajah kamu bersemu. Jadi, kamu nggak usah bohong sama keadaan hati kamu," Zada tersenyum simpul menatap Zoya yang langsung tertunduk malu.

"Zoya ...." Zada memanggil nama Zoya dengan lembut lengkap dengan suara baritonnya.

Sial! Zoya mengumpati dirinya sendiri yang justru terbuai dengan panggilan merdu dari Zada. Zoya mendongak untuk membalas tatapan Zada. "Ya?"

"Kembalilah ... Tinggallah disini," pinta Zada dengan wajah memohon. Zoya menatap manik dalam milik Zada seakan sedang mencari jawaban apakah Zada benar-benar menginginkannya kembali. Dan benar saja, Zoya menemukan ketulusan, cinta, dan sayang yang ada di mata Zada.

'Apakah mas Zada masih mencintaiku dengan sebegitu besarnya?' batin Zoya bertanya-tanya. "Aku mencintaimu, Zoya," Zoya membelalakan mata tak percaya saat Zada mengucapkan kalimat yang sedang Zoya pertanyakan dalam hati.

"Apa Mas Zada mendengar sesuatu?" tanya Zoya memastikan. Zada tersenyum dan semakin mengikis jarak wajahnya dengan wajah Zoya. Zoya memalingkan wajah dan mencengkeram dress yang dia kenakan saat Zoya merasakan embusan nafas Zada menyapu lembut wajahnya.

Cup.

"Mas!"

"Hahahaha."

Zoya menatap kesal pada Zada yang sembarangan mencium pipinya. Kekesalan itu semakin bertambah saat Zada malah tertawa begitu lepas dan berlalu untuk duduk di pinggiran ranjang.

Tanpa keduanya sadari, di luar kamar, ada sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraan keduanya. Sepasang telinga itu milik Ghaida. Dia tidak sengaja mendengar suara Zoya yang berteriak kesal hingga Ghaida tertarik untuk mendengarkannya.

Ghaida tersenyum penuh luka saat mendengar tawa suaminya begitu lepas. Selama Zoya meninggalkan rumah, Ghaida tidak pernah melihat suaminya tertawa dengan lepas. Dan ini merupakan kali pertama Ghaida mendengarnya.

"Sumber bahagiamu adalah Mbak Zoya, Mas. Maafkan aku yang sudah hadir dalam rumah tangga kalian,"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

**hai ... hai ...

terima kasih untuk kalian yang sudah Sudi mampir kesini..

terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberi like, komen, bunga, hati, dan kopinya😘

terlope sekebon bunga untuk kalian semua😍

emuuuah😘**

Terpopuler

Comments

Siti Masitah

Siti Masitah

ternyata hijab hanya ntuk nutupin kepalanya..tdak dengan tingkahnya..sebenarnya sama juga ama zada..

2024-05-02

0

R yuyun Saribanon

R yuyun Saribanon

maaf maaf tp situ jd pelakor.. waras kah?

2024-01-28

0

Sona Muchsin

Sona Muchsin

suami serakah..meng atas namakan cinta..??....kwekwekwek

2023-10-09

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!