Sore ini, setelah toko bunganya tutup, Zoya terpaksa harus datang ke rumahnya yang ditinggali Zada dan Ghaida. Tujuannya adalah, untuk mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal disana.
Setelah melaksanakan salat asar, Zoya bergegas memesan taksi online dan tidak lama kemudian, taksi sudah menunggunya di depan. Zoya segera naik taksi dan mengatakan tujuannya.
Tidak berapa lama, mobil taksi itu berhenti di depan rumah berpagar sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. Setelah membayar dan taksi itu menghilang, Zoya mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu sebelum masuk.
Zoya menatap rumah yang dulunya merupakan rumahnya. Zoya tersenyum masam melihat keadaan dirinya yang sekarang. 'Aku sudah selayaknya istri simpanan yang tinggal di lain rumah. Dan Ghaida, dia sudah seperti istri pertama dan Sang Nyonya Besar yang tinggal di rumah utama. Sungguh, ini semua tidak lucu sama sekali,' monolog Zoya merutuki nasibnya sendiri.
Perlahan, kaki Zoya mulai menapaki paving untuk menuju pintu masuk. Ingatan tentang dirinya yang pergi dari rumah tanpa dicegah pun tergambar jelas di kepala. Zoya menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan pikiran itu.
'Jangan lagi di pikirkan, Zoya. Kamu harus tetap melangkah,' batin Zoya menyemangati dirinya sendiri. Tidak berapa lama, Zoya sudah mencapai pintu masuk. Zoya bimbang apakah dia harus mengetuk pintu atau masuk begitu saja. Bagaimana pun, Zoya sudah tidak tinggal di rumahnya lagi.
Setelah batinnya mengalami peperangan, akhirnya Zoya memilih untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam. Zoya bisa melihat Zada yang sedang menatap dirinya sumringah. "Zoya ... Kamu datang?" tanya Zada penuh binar di matanya.
Zoya mengangguk dengan mempertahankan wajah datarnya. "Ada barang yang harus aku ambil. Jadi, aku perlu ke sini," jawab Zoya yang sudah menjawab pertanyaan di benak Zada.
Zada menghela nafasnya panjang. "Tidak adakah maksud lainnya? Aku berharap kamu datang untuk menemui ku," Zada menunduk dengan wajah lesunya.
"Maaf, Mas. Aku nggak punya banyak waktu. Sebentar lagi hari akan gelap. Jadi, aku harus cepat," ucap Zoya tidak mau berbasa-basi terlebih dahulu dengan seseorang yang masih resmi menjadi suaminya itu.
Zada mengangguk pasrah. Dia menyingkir agar Zoya bisa masuk dengan leluasa. Setelah hampir mencapai tangga, Zoya berbalik dan berkata. "Mas, aku boleh ke kamar kamu kan? Barang aku ada disana," Zoya bermaksud meminta izin.
Zada tersenyum dan mengangguk. "Masuklah, Zoya. Kamar itu akan tetap menjadi kamarku dan kamarmu," jawab Zada mempersilahkan. Zoya mengernyit heran dengan jawaban suaminya. Namun, Zoya memilih untuk tidak mengambil pusing.
Setelah berada di kamar, Zoya membuka pintu lemari untuk mencari barang yang diinginkan. Benda berbentuk balok berukuran 30×20×10 cm itu berhasil Zoya ambil dari laci dalam lemari.
Zoya membukanya dan memastikan tidak ada barang yang hilang di dalamnya. Setelah semua lengkap, Zoya ingin bergegas keluar dari kamar. Kamar yang menjadi saksi bisu awal dari penderitaannya.
Zoya jelas tidak bisa berlama-lama di dalamnya karena banyak sekali kenangan yang begitu membekas di ingatan. Zoya masih sangat mencintai Zada. Zoya juga merindukan peluk hangatnya. Namun, hal itu hanya bisa Zoya pendam sendiri.
Dia terlalu gengsi untuk mengatakan yang sejujurnya. Tanpa terasa, satu tetes cairan bening berhasil lolos dari sudut mata Zoya. Zoya segera menghapusnya karena tidak mau terlihat lemah.
Zoya mengembuskan nafasnya lelah dan berjalan menuju pintu. Namun, belum sempat Zoya keluar, Zada sudah masuk lebih dulu dan menutup pintu itu. Bahkan, Zada juga mengunci pintu dan menyimpan kunci itu di dalam saku celananya.
"Mas! Apa-apaan sih kamu. Aku mau pulang, Mas!" ketus Zoya merasa kesal. Zada hanya bergeming dan menatap Zoya lekat. Zada mendekati Zoya dengan langkah perlahan. Zoya bergerak mundur untuk menghindari Zada mendekatinya.
"Mas! Berhenti! Aku mau pulang!"
Zada tidak mempedulikan Zoya yang sudah melayangkan protes padanya. Zada tetap melangkah untuk mengikis jarak antara dirinya dan Zoya. "Jangan begini, Mas! Berhenti!" Zoya terus berteriak agar Zada mengehentikan aksi gilanya.
Hingga Zoya merasakan punggungnya sudah merapat pada tembok begitu juga dengan kedua telapak tangannya. Zada langsung mengunci pergerakan Zoya dengan meletakkan kedua lengannya di sisi tubuh Zoya.
Zoya mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan kesal. "Mas! Aku nggak suka kamu gini! Lepasin aku!" Zoya seakan tidak kenal lelah untuk memprotes apa yang dilakukan Zada. "Aku juga nggak suka berjauhan dari kamu. Aku maunya dekat kamu terus," jawab Zada sambil menatap wajah Zoya lekat.
Deg, deg, deg.
Jantung Zoya tidak bisa di ajak bekerja sama. Dia berdebar-debar disaat Zada mengikis jarak dan merapatkan tubuh padanya. Zoya terdiam dan membuang muka asal. Zada justru tersenyum melihat wajah Zoya yang enggan menatap dirinya lagi. "Kenapa? Jantung kamu berdebar ya? Aku bisa dengar kok,"
Zoya langsung melayangkan tatapan tajam. Suaminya ini tidak pernah berubah dan selalu membuat wajah Zoya seketika merona. "Nggak usah galak gitu matanya. Wajah kamu bersemu. Jadi, kamu nggak usah bohong sama keadaan hati kamu," Zada tersenyum simpul menatap Zoya yang langsung tertunduk malu.
"Zoya ...." Zada memanggil nama Zoya dengan lembut lengkap dengan suara baritonnya.
Sial! Zoya mengumpati dirinya sendiri yang justru terbuai dengan panggilan merdu dari Zada. Zoya mendongak untuk membalas tatapan Zada. "Ya?"
"Kembalilah ... Tinggallah disini," pinta Zada dengan wajah memohon. Zoya menatap manik dalam milik Zada seakan sedang mencari jawaban apakah Zada benar-benar menginginkannya kembali. Dan benar saja, Zoya menemukan ketulusan, cinta, dan sayang yang ada di mata Zada.
'Apakah mas Zada masih mencintaiku dengan sebegitu besarnya?' batin Zoya bertanya-tanya. "Aku mencintaimu, Zoya," Zoya membelalakan mata tak percaya saat Zada mengucapkan kalimat yang sedang Zoya pertanyakan dalam hati.
"Apa Mas Zada mendengar sesuatu?" tanya Zoya memastikan. Zada tersenyum dan semakin mengikis jarak wajahnya dengan wajah Zoya. Zoya memalingkan wajah dan mencengkeram dress yang dia kenakan saat Zoya merasakan embusan nafas Zada menyapu lembut wajahnya.
Cup.
"Mas!"
"Hahahaha."
Zoya menatap kesal pada Zada yang sembarangan mencium pipinya. Kekesalan itu semakin bertambah saat Zada malah tertawa begitu lepas dan berlalu untuk duduk di pinggiran ranjang.
Tanpa keduanya sadari, di luar kamar, ada sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraan keduanya. Sepasang telinga itu milik Ghaida. Dia tidak sengaja mendengar suara Zoya yang berteriak kesal hingga Ghaida tertarik untuk mendengarkannya.
Ghaida tersenyum penuh luka saat mendengar tawa suaminya begitu lepas. Selama Zoya meninggalkan rumah, Ghaida tidak pernah melihat suaminya tertawa dengan lepas. Dan ini merupakan kali pertama Ghaida mendengarnya.
"Sumber bahagiamu adalah Mbak Zoya, Mas. Maafkan aku yang sudah hadir dalam rumah tangga kalian,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**hai ... hai ...
terima kasih untuk kalian yang sudah Sudi mampir kesini..
terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberi like, komen, bunga, hati, dan kopinya😘
terlope sekebon bunga untuk kalian semua😍
emuuuah😘**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Siti Masitah
ternyata hijab hanya ntuk nutupin kepalanya..tdak dengan tingkahnya..sebenarnya sama juga ama zada..
2024-05-02
0
R yuyun Saribanon
maaf maaf tp situ jd pelakor.. waras kah?
2024-01-28
0
Sona Muchsin
suami serakah..meng atas namakan cinta..??....kwekwekwek
2023-10-09
0