Bab 1. Awal dari penderitaan.

Namanya Zoya Adhisty. Dia bersyukur karena Tuhan masih memberikan dia keluarga harmonis dan bahagia walau sudah tiga tahun ini, dirinya belum juga diberi amanah oleh yang Maha Kuasa.

Zada, suaminya selalu mendukung dan menemani Zoya. Zada tidak pernah menuntut Zoya dengan ini dan itu. Zada selalu berpikir, jika dirinya belum dikaruniai anak, mungkin suatu saat Allah akan memberikan kepercayaan itu padanya dan Zoya.

Zada sangat mencintai Zoya. Dia tidak mau membuat istrinya tertekan hanya karena masalah momongan. Bila ditanya, Zada ingin sekali segera mempunyai momongan. Tapi, balik lagi pada Zoya yang akan menanggung semua rasa sakit sewaktu hamil dan melahirkan.

Saat ini, Zoya dan Zada sedang sarapan bersama. Rutinitas yang selalu keduanya lakukan. Sejak tadi, Zoya memerhatikan suaminya yang hanya mengacak-acak isi piringnya, seperti tidak berselera. "Kok nggak di makan, Mas? Nggak enak ya, masakannya? Apa Mas nggak terlalu suka?" tanya Zoya begitu manis dan lembutnya.

Zada mengangkat kepala untuk menatap istrinya. Dia tersenyum tipis dan menjawab. "Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," Zoya mengernyit kebingungan. "Memikirkan apa memangnya? Mas nggak mau cerita gitu, ke aku?" Zoya mencoba untuk membuat suaminya mau bercerita.

Namun, Zada hanya tersenyum. "Nggak, hanya masalah kantor saja. Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik," Zada berpamitan pada istrinya itu.

Zoya beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan untuk menyalimi tangan suaminya. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Semoga, Allah memberikan kelancaran dan kemudahan pada pekerjaan Mas hari ini," Dengan tulus, Zoya mendoakan suaminya. Tidak lupa, Zoya menyunggingkan senyum manisnya terkhusus untuk Sang suami.

Zada mengangguk dan tersenyum tipis. Zoya mengantarkan Zada sampai depan. Setelah mobil Zada tidak terlihat, Zoya masuk kembali untuk merapikan meja makan.

Jam terus berputar dan pagi sudah berganti siang. Setelah mengantarkan suaminya tadi pagi, hati Zoya dirundung gelisah tiada henti. Zoya tidak tahu apa penyebabnya. Tidak berapa lama, azan Zuhur terdengar dan Zoya segera mengambil air wudu.

Zoya yakin, setelah wudu dan salat, pasti suasana hatinya akan kembali tenang. Namun, saat salatnya sudah selesai, Zoya tak kunjung mendapat ketenangan batinnya.

Akhirnya, Zoya memilih untuk menelepon suaminya. Kebetulan juga, jam menunjukkan jika saat ini waktunya Zada istirahat. Dia mencari nama suaminya dan mendial tombol hijau. Tut, tut, tut. Hingga dering ketiga, belum ada tanda-tanda jika Zada akan menerima panggilan.

Zoya mencoba menghubungi lagi saat sambungan itu berakhir tidak terjawab. Tut,Tut,Tut,Tut. Tepat dering ke lima, Zada menerima panggilannya.

"Assalamualaikum, Mas Zada."

Zoya tidak langsung mendapat jawaban dari seberang sana. Zoya malah mendengar suara berisik yang bisa Zoya perkirakan seperti kerumunan. Setelah itu, suara berisik itu berubah menjadi kresak-kresek. 'Mungkin, Mas Zada sedang makan siang,' batin Zoya menebak-nebak.

"Waalaikumsalam, Zoya."

"Mas Zada lagi makan ya? Kok berisik banget. Pasti makan di kantin kan?"

"I–iya. Mas lagi makan."

Zoya menjauhkan ponselnya saat mendengar suara gugup dari suaminya.

"Mas Zada nggak kenapa-napa kan? Kok kaya gugup gitu?"

"Nggak papa, Zoya. Mas cuma lagi lapar aja, jadi nggak konsentrasi."

"Ya udah, aku tutup ya. Aku cuma mau memastikan kalau Mas Zada baik-baik saja. Sejak tadi, pikiran dan hati Zoya nggak tenang, kepikiran Mas terus,"

"Jangan banyak pikiran. Mas baik-baik saja. Kalau gitu, mas lanjut makan lagi ya? Wassalamu'alaikum,"

Belum sempat Zoya menjawab salam dari suaminya, Zada sudah memutuskan sambungan teleponnya. Zoya menatap layar ponselnya yang sudah berubah gelap. "Waalaikumsalam," lirih Zoya.

Zoya merasa aneh dengan sikap suaminya sejak pagi. "Semoga, mas Zada baik-baik saja. Semoga hari Mas Zada berjalan dengan lancar,"

*

"Saya terima nikahnya Ghaida Sanjaya binti bapak Rudi Sanjaya dengan seperangkat alat sholat di bayar ... Tunai!"

Dengan lantang, Zada mengucapkan ijab Qabul yang hanya di hadiri oleh kerabat dan keluarga dekat. Sesuai doa Zoya, hari ini berjalan lancar.

"Para saksi, sah?"

"SAH!"

"Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih."

Setelah penghulu membacakan doa ijab qobul, Ghaida dipersilahkan untuk mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu, Zada mencium kening Ghaida, istri keduanya.

Zada tahu, yang dilakukannya akan membuat Zoya sakit hati. Tapi, Zada tidak punya pilihan lain selain menikahi Ghaida yang sedang hamil.

Setelah ijab qobul selesai, Zada dan Ghaida masuk ke salah satu kamar hotel untuk beristirahat dan berganti baju. Zada mandi terlebih dahulu dan akan menjalankan salat asar. Hal itu juga diikuti oleh Ghaida.

Zada tidak langsung salat melainkan menyempatkan dirinya untuk melamum. Sejak tadi, Zada sama sekali tidak membuka suaranya untuk berbicara dengan Ghaida. Pikirannya sedang kalut memikirkan reaksi Zoya. "Mas Zada, kita salat berjamaah kan?" tanya Ghaida saat Zada belum melaksanakan kewajibannya.

Zada mendongak untuk menatap istri keduanya. "Iya, kita salat berjamaah," jawab Zada lalu memposisikan dirinya berada di depan. Zada memimpin salat itu dengan khusyuk.

Setelah salam, Ghaida menyalimi dan mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu, keduanya larut dalam doanya masing-masing.

"Ya Allah, jika memang ini tanggung jawab yang Engkau berikan padaku, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Ya Allah, ini bukan keinginan nafsuku. Engkau tentu sangat mengetahui niatku. Bantulah aku menerima semua ujian hidup yang menerpa rumah tanggaku dengan Zoya, Ya Allah. Tolong, jangan buat Zoya sakit hati terlalu lama. Mungkin setelah ini, Zoya akan membenciku. Tapi aku mohon Ya Allah, segera sembuhkan luka di hati Zoya yang telah aku torehkan aamiin."

Zada berdoa panjang lebar untuk ketenangan hati Zoya. Jika Zoya merasa sakit hati, Zada juga akan merasakannya.

"Mas Zada." Ghaida memanggil Zada dengan lembut. Wanita yang memakai kerudung bergo berwarna navy itu mendekati suami barunya.

Zada yang sedang duduk di sofa pun menoleh dengan tatapan yang ... Entahlah. "Ada apa Ghaida?" tanya Zada lalu mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Zada tidak mampu menatap sorot mata Ghaida yang penuh kelembutan itu.

Zada takut, dirinya akan menghianati cinta Zoya. "Terima kasih karena telah sudi menikahiku," ucap Ghaida sambil menunduk dan memainkan jari-jarinya.

Zada menghela nafasnya lelah. "Duduklah di sini, Ghaida," perintah Zada lembut dan menepuk ruang kosong di sebelahnya.

"Jangan bahas itu lagi. Semua sudah kehendak Allah SWT," ucap Zada menatap ke depan. Ghaida tersenyum manis. Ghaida tidak menyangka jika laki-laki di sebelahnya sudah resmi menjadi imamnya.

Namun, hati Ghaida sangat bimbang saat suaminya mengatakan ingin mengajaknya pulang ke tempat istri pertamanya tinggal. Ketiganya akan tinggal di dalam satu atap yang sama.

Ghaida takut akan menyakiti istri pertama suaminya.

"Mas, apa nggak sebaiknya kita menyembunyikan pernikahan kita dulu? Aku takut, istri pertama Mas akan sakit hati,"

"Namanya Zoya Adhisty. Wanita yang sangat aku cintai." terang Zada merasa tidak terima Ghaida hanya menyebut Zoya dengan sebutan 'istri pertama'

Ghaida langsung tertunduk lesu. Dia cukup sadar diri yang hanya berstatus sebagai istri siri. Sedangkan Zoya, dia istri yang sudah sah di mata hukum dan negara.

Terpopuler

Comments

andi hastutty

andi hastutty

pernah seperti Zoya istri yg sangat peka yg entah kenapa yg bikin nyesek

2023-05-03

0

andi hastutty

andi hastutty

kenapa ada pernikahan klo mencintai istri dan kenapa menyesal padahal i2 hamil penasaran ???

2023-05-03

0

Eliyana Mobile

Eliyana Mobile

baru nyimak thorr

2023-01-24

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!