Namanya Zoya Adhisty. Dia bersyukur karena Tuhan masih memberikan dia keluarga harmonis dan bahagia walau sudah tiga tahun ini, dirinya belum juga diberi amanah oleh yang Maha Kuasa.
Zada, suaminya selalu mendukung dan menemani Zoya. Zada tidak pernah menuntut Zoya dengan ini dan itu. Zada selalu berpikir, jika dirinya belum dikaruniai anak, mungkin suatu saat Allah akan memberikan kepercayaan itu padanya dan Zoya.
Zada sangat mencintai Zoya. Dia tidak mau membuat istrinya tertekan hanya karena masalah momongan. Bila ditanya, Zada ingin sekali segera mempunyai momongan. Tapi, balik lagi pada Zoya yang akan menanggung semua rasa sakit sewaktu hamil dan melahirkan.
Saat ini, Zoya dan Zada sedang sarapan bersama. Rutinitas yang selalu keduanya lakukan. Sejak tadi, Zoya memerhatikan suaminya yang hanya mengacak-acak isi piringnya, seperti tidak berselera. "Kok nggak di makan, Mas? Nggak enak ya, masakannya? Apa Mas nggak terlalu suka?" tanya Zoya begitu manis dan lembutnya.
Zada mengangkat kepala untuk menatap istrinya. Dia tersenyum tipis dan menjawab. "Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," Zoya mengernyit kebingungan. "Memikirkan apa memangnya? Mas nggak mau cerita gitu, ke aku?" Zoya mencoba untuk membuat suaminya mau bercerita.
Namun, Zada hanya tersenyum. "Nggak, hanya masalah kantor saja. Kalau begitu, aku berangkat dulu ya, Sayang. Jaga diri kamu baik-baik," Zada berpamitan pada istrinya itu.
Zoya beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan untuk menyalimi tangan suaminya. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Semoga, Allah memberikan kelancaran dan kemudahan pada pekerjaan Mas hari ini," Dengan tulus, Zoya mendoakan suaminya. Tidak lupa, Zoya menyunggingkan senyum manisnya terkhusus untuk Sang suami.
Zada mengangguk dan tersenyum tipis. Zoya mengantarkan Zada sampai depan. Setelah mobil Zada tidak terlihat, Zoya masuk kembali untuk merapikan meja makan.
Jam terus berputar dan pagi sudah berganti siang. Setelah mengantarkan suaminya tadi pagi, hati Zoya dirundung gelisah tiada henti. Zoya tidak tahu apa penyebabnya. Tidak berapa lama, azan Zuhur terdengar dan Zoya segera mengambil air wudu.
Zoya yakin, setelah wudu dan salat, pasti suasana hatinya akan kembali tenang. Namun, saat salatnya sudah selesai, Zoya tak kunjung mendapat ketenangan batinnya.
Akhirnya, Zoya memilih untuk menelepon suaminya. Kebetulan juga, jam menunjukkan jika saat ini waktunya Zada istirahat. Dia mencari nama suaminya dan mendial tombol hijau. Tut, tut, tut. Hingga dering ketiga, belum ada tanda-tanda jika Zada akan menerima panggilan.
Zoya mencoba menghubungi lagi saat sambungan itu berakhir tidak terjawab. Tut,Tut,Tut,Tut. Tepat dering ke lima, Zada menerima panggilannya.
"Assalamualaikum, Mas Zada."
Zoya tidak langsung mendapat jawaban dari seberang sana. Zoya malah mendengar suara berisik yang bisa Zoya perkirakan seperti kerumunan. Setelah itu, suara berisik itu berubah menjadi kresak-kresek. 'Mungkin, Mas Zada sedang makan siang,' batin Zoya menebak-nebak.
"Waalaikumsalam, Zoya."
"Mas Zada lagi makan ya? Kok berisik banget. Pasti makan di kantin kan?"
"I–iya. Mas lagi makan."
Zoya menjauhkan ponselnya saat mendengar suara gugup dari suaminya.
"Mas Zada nggak kenapa-napa kan? Kok kaya gugup gitu?"
"Nggak papa, Zoya. Mas cuma lagi lapar aja, jadi nggak konsentrasi."
"Ya udah, aku tutup ya. Aku cuma mau memastikan kalau Mas Zada baik-baik saja. Sejak tadi, pikiran dan hati Zoya nggak tenang, kepikiran Mas terus,"
"Jangan banyak pikiran. Mas baik-baik saja. Kalau gitu, mas lanjut makan lagi ya? Wassalamu'alaikum,"
Belum sempat Zoya menjawab salam dari suaminya, Zada sudah memutuskan sambungan teleponnya. Zoya menatap layar ponselnya yang sudah berubah gelap. "Waalaikumsalam," lirih Zoya.
Zoya merasa aneh dengan sikap suaminya sejak pagi. "Semoga, mas Zada baik-baik saja. Semoga hari Mas Zada berjalan dengan lancar,"
*
"Saya terima nikahnya Ghaida Sanjaya binti bapak Rudi Sanjaya dengan seperangkat alat sholat di bayar ... Tunai!"
Dengan lantang, Zada mengucapkan ijab Qabul yang hanya di hadiri oleh kerabat dan keluarga dekat. Sesuai doa Zoya, hari ini berjalan lancar.
"Para saksi, sah?"
"SAH!"
"Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih."
Setelah penghulu membacakan doa ijab qobul, Ghaida dipersilahkan untuk mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu, Zada mencium kening Ghaida, istri keduanya.
Zada tahu, yang dilakukannya akan membuat Zoya sakit hati. Tapi, Zada tidak punya pilihan lain selain menikahi Ghaida yang sedang hamil.
Setelah ijab qobul selesai, Zada dan Ghaida masuk ke salah satu kamar hotel untuk beristirahat dan berganti baju. Zada mandi terlebih dahulu dan akan menjalankan salat asar. Hal itu juga diikuti oleh Ghaida.
Zada tidak langsung salat melainkan menyempatkan dirinya untuk melamum. Sejak tadi, Zada sama sekali tidak membuka suaranya untuk berbicara dengan Ghaida. Pikirannya sedang kalut memikirkan reaksi Zoya. "Mas Zada, kita salat berjamaah kan?" tanya Ghaida saat Zada belum melaksanakan kewajibannya.
Zada mendongak untuk menatap istri keduanya. "Iya, kita salat berjamaah," jawab Zada lalu memposisikan dirinya berada di depan. Zada memimpin salat itu dengan khusyuk.
Setelah salam, Ghaida menyalimi dan mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu, keduanya larut dalam doanya masing-masing.
"Ya Allah, jika memang ini tanggung jawab yang Engkau berikan padaku, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Ya Allah, ini bukan keinginan nafsuku. Engkau tentu sangat mengetahui niatku. Bantulah aku menerima semua ujian hidup yang menerpa rumah tanggaku dengan Zoya, Ya Allah. Tolong, jangan buat Zoya sakit hati terlalu lama. Mungkin setelah ini, Zoya akan membenciku. Tapi aku mohon Ya Allah, segera sembuhkan luka di hati Zoya yang telah aku torehkan aamiin."
Zada berdoa panjang lebar untuk ketenangan hati Zoya. Jika Zoya merasa sakit hati, Zada juga akan merasakannya.
"Mas Zada." Ghaida memanggil Zada dengan lembut. Wanita yang memakai kerudung bergo berwarna navy itu mendekati suami barunya.
Zada yang sedang duduk di sofa pun menoleh dengan tatapan yang ... Entahlah. "Ada apa Ghaida?" tanya Zada lalu mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Zada tidak mampu menatap sorot mata Ghaida yang penuh kelembutan itu.
Zada takut, dirinya akan menghianati cinta Zoya. "Terima kasih karena telah sudi menikahiku," ucap Ghaida sambil menunduk dan memainkan jari-jarinya.
Zada menghela nafasnya lelah. "Duduklah di sini, Ghaida," perintah Zada lembut dan menepuk ruang kosong di sebelahnya.
"Jangan bahas itu lagi. Semua sudah kehendak Allah SWT," ucap Zada menatap ke depan. Ghaida tersenyum manis. Ghaida tidak menyangka jika laki-laki di sebelahnya sudah resmi menjadi imamnya.
Namun, hati Ghaida sangat bimbang saat suaminya mengatakan ingin mengajaknya pulang ke tempat istri pertamanya tinggal. Ketiganya akan tinggal di dalam satu atap yang sama.
Ghaida takut akan menyakiti istri pertama suaminya.
"Mas, apa nggak sebaiknya kita menyembunyikan pernikahan kita dulu? Aku takut, istri pertama Mas akan sakit hati,"
"Namanya Zoya Adhisty. Wanita yang sangat aku cintai." terang Zada merasa tidak terima Ghaida hanya menyebut Zoya dengan sebutan 'istri pertama'
Ghaida langsung tertunduk lesu. Dia cukup sadar diri yang hanya berstatus sebagai istri siri. Sedangkan Zoya, dia istri yang sudah sah di mata hukum dan negara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
andi hastutty
pernah seperti Zoya istri yg sangat peka yg entah kenapa yg bikin nyesek
2023-05-03
0
andi hastutty
kenapa ada pernikahan klo mencintai istri dan kenapa menyesal padahal i2 hamil penasaran ???
2023-05-03
0
Eliyana Mobile
baru nyimak thorr
2023-01-24
0