Pagi kembali menjelang. Seperti biasa, Zoya selalu terbangun pukul tiga pagi secara otomatis. Dia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Zoya segera mendirikan salat dua rakaatnya. Dia memanjatkan doa-doa untuk ketenangan dan kebahagiaan batinnya. Setelah larut dalam doa panjangnya, Zoya lanjut dengan membaca Al Qur'an.
Sekitar dua lembar Zoya membaca, azan subuh mulai di kumandangkan. Setelah selesai azan, Zoya membaca doa dan mulai mendirikan salat Subuhnya.
Tanpa terasa, matahari semakin berani menampakkan wajahnya. Namun, hanya cahayanya yang menyinari. Panasnya tidak ikut muncul karena kabut dan awan gelap yang menutupinya. Ya, pagi ini cuaca mendung, semendung hati Zoya saat ini.
Walau dalam hati yang mendung, Zoya tetap melakukan aktifitas paginya dengan baik. Dia mengisi perutnya dengan makanan sisa semalam yang dia simpan dalam lemari pendingin.
"Masih enak kayaknya deh. Sayang kalau dibuang. Sup buntut yang ini kan lumayan mahal," monolog Zoya mulai memanaskan sup yang baru dia keluarkan dari kulkas. Setelah panas, Zoya bergegas membawanya menuju meja makan.
Setelah itu, Zoya makan dengan tenang. Hanya ada denting sendok yang beradu dengan piringnya. Setelah selesai dan membereskannya, Zoya menyeduh susu khusus ibu hamil. Tanpa menunggu lama, Zoya duduk terlebih dahulu. Dia menyeruput sedikit demi sedikit susu itu.
Sambil minum, tangan kirinya Zoya gunakan untuk memberikan usapan lembut pada perutnya. "Enak nggak, Dek? Kayaknya kamu lebih suka rasa vanilla ya? Kemarin, Bunda minum yang coklat muntah-muntah. Ya udah, mulai sekarang Bunda bakal minum yang rasa vanilla, rasa kesukaan kamu," monolog Zoya bermaksud berbicara dengan anaknya yang berada dalam kandungan.
"Kamu harus kuat ya. Bunda lagi ngumpulin uang untuk kita. Ayah kamu memang mengirimkan uang ke rekening Bunda. Tapi, Bunda segan untuk memakainya." Lagi, Zoya berbicara sendiri.
Setelah cukup perbincangannya dengan Sang Anak, Zoya turun untuk melakukan rutinitasnya, yaitu menyirami bunga dan menjaga toko bunganya. Zoya mengganti papan yang menggantung di depan pintu kaca yang bertuliskan 'close' menjadi 'open'.
Zoya berbalik untuk menatap deretan rak yang terdapat bunga-bunga bermekaran yang selalu dia rawat dengan baik. Zoya tersenyum bahagia. Berbaur dengan alam seperti ini membuat Zoya mendapatkan ketenangan tersendiri.
Setelah puas, Zoya berjalan menuju meja kasir dan duduk di kursinya. Zoya mulai sibuk mengecek pemasukannya minggu lalu. Dan bersyukurnya, penghasilan mengalami peningkatan.
"Alhamdulillah Ya Allah ... Rezeki memang sudah Engkau atur dengan baik bagi hamba-Mu yang mau rajin berusaha," ucap Zoya merasa bersyukur.
Perhatian Zoya teralihkan saat mendengar bel berdenting menandakan ada pelanggan yang masuk. "Selamat datang di Adhisty Florist ...." sapa Zoya ramah.
"Mbak, disini jual bunga Daisy nggak?" tanya seorang wanita paruh baya ramah. Zoya tersenyum. "Ada, Bu. Ibu mau bunga Daisy?" tanya Zoya tak kalah ramah. "Boleh deh, Mbak. Saya mau sepuluh tangkai ya," ucap seorang wanita dengan jilbab besar yang menutup bagian atasnya itu.
Zoya mengangguk dan berjalan menuju rak bunga. Wanita itu mengekori Zoya. "Eh, Mbak! Saya baru sadar dengan penampilan Mbak yang baru," ucap wanita itu menelisik penampilan Zoya. Zoya mengenakan rok plisket berwarna hitam dan tunik berwarna rose. Sedangkan untuk jilbab, Zoya memakai pashmina berwarna hitam.
Zoya tersenyum hangat. "Iya, Bu. Bismillahirrahmanirrahim, Bu," jawab Zoya ramah. "Alhamdulillah ... Saya doakan semoga Istiqomah ya, Mbak," Zoya hanya mengangguk dan segera memotong tangkai bunga Daisy satu persatu.
Ya, wanita paruh baya itu memang pelanggan setia di toko bunga Zoya. Dia selalu datang setiap harinya dan membeli bunga yang berbeda. Setelah dapat, Zoya berjalan menuju kasir untuk mengeksekusi bunganya. "Mau di ikat biasa atau dibuat bucket, Bu?"
"Di bucket deh, Mbak ... Biar cantik. Aku tunggu sambil duduk,"
Setelah itu, Zoya mulai membuat bucket bunga Daisy itu dengan lincahnya. Tidak berapa lama, bucket bunga itu sudah jadi dan Zoya segera menotalnya. "Sudah. Jadi seratus lima puluh ribu ya, Bu,"
Wanita paruh baya itu segera membayarnya. Dan menerima bucket bunga pesanannya. Zoya mengucapkan terima kasih saat wanita itu keluar. Saat Zoya kembali fokus pada komputernya, belnya berdenting lagi menandakan ada pelanggan.
Zoya mendongak dan memasang senyum ramahnya. Namun, senyum itu seketika pudar saat melihat seseorang yang datang itu adalah suaminya. "Zoya?" panggil Zada lembut dengan raut wajah penuh rasa kagum. Zoya mengabaikan panggilan itu dan kembali fokus pada komputernya. "Kamu? Beneran pakai hijab mulai sekarang? Masya Allah, Zoya ... Kamu cantik banget. Semoga Istiqomah,"
"Aamiin, Mas." jawab Zoya singkat.
"Nanti malam aku akan tidur di sini, boleh?" Zoya mendongak lagi setelah mendengar permohonan dari suaminya.
"Kenapa tidur di sini? Memangnya Ghaida kemana? Nggak kasihan sama dia?" ketus Zoya kesal dan kembali pada kegiatannya. "Pokoknya, nanti aku tidur disini. Uang bulanan kamu udah aku transfer. Kamu kalau mau beli sesuatu, tinggal beli aja pakai uang itu. Nanti sore aku langsung pulang kesini,"
Tanpa menunggu jawaban dari Zoya, Zada berbalik dan mendadak berhenti saat melihat seorang pria berseragam polisi akan masuk ke toko Zoya. Zada langsung berlari merangsek mendekati Zoya.
Zoya menyingkir saat Zada tiba-tiba saja memeluk pinggangnya. "Apaan sih, Mas! " ketus Zoya bergerak tak nyaman. "Udah, kamu menurut saja. Ini demi kebaikanmu,"
Bersamaan dengan itu, pintu tokonya berdenting menandakan ada seseorang yang masuk. Zoya mengangkat satu alisnya saat tahu tujuan Zada yang sebenarnya. "Assalamualaikum, Mbak Zoya ... Eh, ada suaminya ... Tumben disini, Pak?" sapa Zaky menyindir.
Zaky jelas tahu permasalahan Zoya dan Zada karena Zoya sudah menceritakan sedikit tentang permasalahan dengan suaminya. "Waalaikumsalam, Pak Zaky." jawab Zoya tersenyum ramah. Zada langsung menatap tajam pada Zoya yang bersikap sangat manis pada pak Polisi itu. Sedangkan padanya, Zoya bersikap ketus. Zada merasa, di perlakukan tidak adil oleh Zoya.
"Ada apa datang kesini?" Pertanyaan ketus itu terlontar dari mulut Zada. Zaky menatap Zada dan tersenyum sinis. "Anda lupa? Kalau Mbak Zoya jual bunga?" jawab Zaky yang justru balik bertanya.
Untuk memecahkan ketegangan di antara dua lelaki itu, Zoya berusaha menengahi dengan mengalihkan perhatian keduanya. "Pak Zaky mau beli bunga kan? Silahkan pilih dulu ya, Pak. Nggak perlu dengerin suami saya," ucap Zoya dengan maksud terselubung.
Zaky menurut dan mulai mengambil bunga seperti biasa. Zaky kembali lagi dengan lima tangkai mawar seperti biasa. "Seperti biasa kan, Pak?" tanya Zoya dan setelah mendapat anggukan dari Zaky, Zoya mulai mengikat bunganya.
"Ini, Pak. Yang kemarin kembaliannya belum di ambil. Jadi, Bapak nggak perlu bayar lagi." Zaky mengabaikan ucapan Zoya. Dia justru menyodorkan dua tangkai mawar merah seperti biasa. Zoya bimbang antara harus menerima atau menolaknya karena posisinya ada Zada di sampingnya.
Saat tangan Zoya ingin menerima, Zada kembali bersuara. "Oooh ... Jadi, selama ini yang kasih bunga ke kamu ternyata pak Polisi ini. Pelit banget cuma dua tangkai. Aku bisa kasih kamu lebih banyak dari ini," ucap Zada dengan pongahnya.
Zoya memejamkan matanya merasa malu. Suaminya memang berubah posesif sejak dulu saat sedang cemburu. "Nggak usah di dengerin ya, Pak. Terima kasih atas bunganya. Assalamualaikum," ucap Zoya mengakhirinya dengan salam agar Zaky segera keluar dari tokonya.
Zoya tidak ingin membuat dua lelaki itu bersitegang hanya karena dirinya. Beruntung, Zaky menurut dan bergegas keluar setelah menjawab salam Zoya. "Waalaikumsalam, Mbak Zoya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa like, komen, vote, dan kasih dukungan semampu kalian ya😘
dukungan kalian sangat berarti untuk othor 🔥
terima kasih yang sudah kasih dukungan untuk para readerskuh terlopeh..
lope kalian sekebon ❤️❤️❤️
sarangbeo😍😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Aldi Suwarta
ingat pak Zaky itu perempuan masih istri orang, jgn cari simpati ya, malu sama seragam
2023-08-03
0
andi hastutty
dia yg punya istri 2 malah dia yg cemburuan
2023-05-04
0
maharastra
wuidihhj,,marahh
2022-12-13
0