Bab 7. Masih saling mencintai

Matahari sudah kembali ke peraduan hingga menampakkan sinar kuning keperakan. Setelah kedatangan Zada dan Ghaida ke toko bunga tadi siang, membuat Zoya semakin merasakan sesak di dadanya.

Zoya menatap sunset di depannya yang begitu menarik perhatiannya. "Senja selalu terlihat istimewa. Sebab, ada cerita yang tak usai, meski kita telah selesai," ucap Zoya sendu.

Akhir-akhir ini, Zoya suka sekali menghabiskan sore harinya untuk duduk di balkon kamarnya. Kegiatan yang menciptakan kenyamanan dan kedamaian di hatinya.

Zoya mengembuskan nafasnya panjang. Hari-harinya cukup berat tanpa Zada menemani. Tangan Zoya bergerak membuka galeri di ponselnya. Dia mencari potret Zada yang mengisi penuh memori ponselnya.

Hanya ada Zada dan Zoya di dalam galeri ponsel Zoya. Hidup Zoya hanya seputar tentang Zada. Tidak ada hal lain yang lebih menarik daripada suaminya sendiri. Zoya sengaja tidak menghapus foto-foto itu agar saat Zoya sedang berteman dengan sepi, dia bisa melihat potret Zada, seperti sekarang ini.

"Mas Zada ... Kangen banget ...." Tanpa terasa, cairan bening menetes dari sudut mata Zoya. Zoya menggulir layar untuk melihat potret Zada yang selalu tersenyum saat bersama dirinya.

Sebesar apapun Zoya berusaha membenci Zada, hal itu akan kalah dengan rasa cinta yang ada di hatinya. Zoya sangat mencintai suaminya. Tapi, Zoya tidak mau diduakan. Dia ingin menjadi istri satu-satunya. "Nggak sadar diri banget ya. Udah nggak punya anak, wajah juga mulai ada garis halus. Zoya, kamu sungguh nggak tahu diri," monolog Zoya merutuki dirinya sendiri.

Zoya kembali menggulir ponselnya. Namun ternyata, ada telepon masuk dan sudah terlanjur di terima karena tidak sengaja terpencet.

"Assalamualaikum, Zoya ...."

Deg.

Zoya menatap ponselnya yang bertuliskan 'my hubby' sedang melakukan panggilan video padanya. Zoya bisa melihat jelas wajah suami yang sedang Zoya rindukan.

Zoya berpura-pura tidak peduli dengan memalingkan wajah. "Waalaikumsalam." jawab Zoya singkat. Zoya melirik ponselnya yang menampilkan wajah Zada sedang tersenyum sendu melihat dirinya.

Dan entah tertarik magnet apa, Zoya balas menatap Zada. Zada semakin tersenyum lebar saat melihat sorot mata Zoya seperti sangat merindukan dirinya. "Zoya ...." panggil Zada lembut dengan senyum manisnya.

"Apa?" tanya Zoya ketus.

"Mulut kamu mungkin bisa berbohong. Tapi, mata kamu kelihatan banget lagi rindu sama aku," Zada tersenyum penuh arti.

"Percaya diri banget." Zoya memutar bola matanya jengah.

"Ya udah, kalau kamu nggak rindu, aku tutup teleponnya ya?"

Zoya langsung melihat layar ponselnya. Zada sudah menutup panggilan video itu sepihak. Entah mengapa, Zoya merasa kecewa saat tak lagi melihat wajah Zada terbingkai dalam ponselnya.

Zoya mengembuskan nafasnya lelah dan kembali larut dalam lamunan. Pikirannya berkelana tentang Zada yang pasti sedang bermesraan dengan Ghaida penuh suka dan tawa.

Zoya kembali terisak dalam tangisnya. Masih terlalu sakit untuk menerima kenyataan yang ada di hadapannya. Dadanya seperti terhimpit oleh batu yang sangat besar, terasa menyesakkan.

Zoya segera menghentikan tangis dalam diamnya saat mendengar azan magrib dikumandangkan. Zoya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan melaksanakan kewajibannya.

Zoya sudah menyelesaikan salat tiga rakaat dan membaca Al Qur'an. Sambil menunggu isya, Zoya menyalakan televisi untuk membunuh rasa bosannya.

Baru saja Zoya menyalakan TV, bel di rumahnya berbunyi. Zoya mengernyit heran. "Siapa yang datang malam-makam begini? Bukankah tidak banyak yang tahu kalau aku sudah tinggal disini?" Monolog Zoya bertanya-tanya.

Untuk menjawab rasa penasarannya, Zoya segera menuruni anak tangga. Tanpa memastikan terlebih dahulu siapa yang ada di balik pintu, Zoya langsung membukanya.

Ceklek.

Deg.

Zoya terpaku di tempat saat tahu siapa yang datang di jam malam seperti ini. "Boleh aku masuk, Sayang?" ucap seseorang tersebut terdengar sangat lembut.

Dan bodohnya, Zoya mengangguk polos hingga membuat seseorang tersebut tersenyum simpul. Zoya tersentak dan segera menutup pintu rumahnya. "Mas, kenapa ke sini? Ghaida gimana? Dia sendirian dong, di rumah," tanya Zoya khawatir.

Zada tidak menjawab dan langsung membawa tubuh Zoya ke dalam gendongannya. "Aaaarg!" pekik Zoya saat tubuhnya terasa melayang. Zoya refleks mengalungkan tangannya di leher Zada. Zada tersenyum puas saat melihat Zoya hanya pasrah saat dirinya gendong ala bridal style.

Tujuan Zada adalah kamar tidur. Zoya semakin gelagapan saat Zada membawa dirinya ke kamar. Bodohnya lagi, Zoya sama sekali tidak menolak atau memberontak. Entah mengapa, hati Zoya malah bersorak gembira karena bisa berjumpa dengan suami tercintanya.

"Makanya, kalau kangen bilang. Kalau aku nggak kesini, kamu pasti sedang tersiksa dengan yang namanya rindu," ucap Zada dengan percaya dirinya setelah berhasil merebahkan tubuh Zoya dengan pelan di atas ranjang.

Zoya menatap manik kecoklatan milik Zada yang selalu bisa membuat dirinya terhanyut dan ingin menyelami kedalamannya.

Tuk.

Zada menyentil kening Zoya karena sejak tadi pandangannya tidak berpaling menatap dirinya. Zoya jelas langsung tersadar dari rasa kagumnya. "Gimana? Aku semakin ganteng kan? Rambut baru, khusus buat kamu," ucap Zada sambil melakukan gerakan mengelus bagian samping rambutnya ala iklan gel rambut.

Zoya mencebikkan bibirnya kesal. Zada memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tapi, tebakan Zada memang benar. Zoya selalu terpesona dengan penampilan suaminya beribu-ribu kali.

"Mas kok kesini? Sadar diri dong, Mas tuh pengantin baru yang harusnya menghabiskan waktu bersama istri barunya. Lah ini ... Mas malah datang ke rumah istri lamanya," sindir Zoya lalu memberi jarak pada Zada. Namun, Zada tidak mau ada jarak sedikit pun antara dirinya dan Zoya.

Zada terus bergerak merapatkan tubuhnya pada tubuh Zoya. "Jangan gini dong, Mas." protes Zoya merasa tak nyaman dengan tingkah suaminya. Zada tidak peduli dengan protes yang dilayangkan Zoya. "Makanya, jangan jauh-jauh. Aku nggak mau jauh dari kamu," Lalu, Zada bergerak memeluk Zoya sangat erat.

Zoya mengernyit heran. "Kenapa sih, Mas? Kok sikapnya aneh banget, isssh,"

Zada merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah cantik Zoya. Tatapan penuh cinta dan sayang Zada berikan pada Zoya, istri pertamanya. "Zoya ... Maafkan aku bila sikapku menyakitimu. Tapi, semua itu tidak mengurangi rasa cinta yang telah aku berikan padamu. Yang ada, rasa cinta itu semakin hari semakin bertambah," Tangannya bergerak untuk membelai rambut Zoya lembut.

Eh!

Zoya terpaku. Sikap Zada masih sama seperti yang dulu. Tidak ada yang berubah dari suaminya walau sudah beristri dua. Zada tatap lembut dan menatap Zoya dengan penuh cinta. Zoya bergeming hingga Zada memilih untuk bersuara lagi.

"Zoya ... Apa kamu belum memaafkan aku? Bagaimana dengan hatimu? Apakah rasa cinta untukku masih tetap sama?" tanya Zada penuh keingin-tahuan.

"Tidak ada yang berubah, Mas. Semua masih sama," jawab Zoya memalingkan wajahnya. Namun, Zada segera mengangkat dagu Zoya lembut agar mau menatap dirinya. "Jangan berpaling muka. Aku ingin melihat wajah cantikmu menatapku dengan tatapan yang masih sama," Zada berucap sangat lembut sambil mengulas senyumnya.

"Katakan, apakah kamu tidak bisa membenciku? Aku punya maksud lain untuk menikahi Ghaida, Zoya. Percayalah, suatu saat kamu akan tahu,"

Terpopuler

Comments

Anonymous

Anonymous

Zoya goblok, kalau masih mau di madu krnapa harus marah dan pergi, bertahan aja dalam sakit melihat suami dan istri barunya aneh

2025-02-25

0

Siti Masitah

Siti Masitah

zoya..di kawinin zada mw

2024-05-02

0

Endang Supriati

Endang Supriati

munafil juga si zoya! banyak bacot yg engga penting. hrsnya datang begitu kasih obat perangsang 2 sendok makan dan di kasih obat tidur 3 butir.
bisa bayangkan nafsu lg tinggi buruh penyaluran ! tp matanya ngantuk berat ! tubuhnya lemassss tdk bertenaga.
yg jelas jantungnya langsung pecahhhhh

2024-03-06

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!