Matahari sudah kembali ke peraduan hingga menampakkan sinar kuning keperakan. Setelah kedatangan Zada dan Ghaida ke toko bunga tadi siang, membuat Zoya semakin merasakan sesak di dadanya.
Zoya menatap sunset di depannya yang begitu menarik perhatiannya. "Senja selalu terlihat istimewa. Sebab, ada cerita yang tak usai, meski kita telah selesai," ucap Zoya sendu.
Akhir-akhir ini, Zoya suka sekali menghabiskan sore harinya untuk duduk di balkon kamarnya. Kegiatan yang menciptakan kenyamanan dan kedamaian di hatinya.
Zoya mengembuskan nafasnya panjang. Hari-harinya cukup berat tanpa Zada menemani. Tangan Zoya bergerak membuka galeri di ponselnya. Dia mencari potret Zada yang mengisi penuh memori ponselnya.
Hanya ada Zada dan Zoya di dalam galeri ponsel Zoya. Hidup Zoya hanya seputar tentang Zada. Tidak ada hal lain yang lebih menarik daripada suaminya sendiri. Zoya sengaja tidak menghapus foto-foto itu agar saat Zoya sedang berteman dengan sepi, dia bisa melihat potret Zada, seperti sekarang ini.
"Mas Zada ... Kangen banget ...." Tanpa terasa, cairan bening menetes dari sudut mata Zoya. Zoya menggulir layar untuk melihat potret Zada yang selalu tersenyum saat bersama dirinya.
Sebesar apapun Zoya berusaha membenci Zada, hal itu akan kalah dengan rasa cinta yang ada di hatinya. Zoya sangat mencintai suaminya. Tapi, Zoya tidak mau diduakan. Dia ingin menjadi istri satu-satunya. "Nggak sadar diri banget ya. Udah nggak punya anak, wajah juga mulai ada garis halus. Zoya, kamu sungguh nggak tahu diri," monolog Zoya merutuki dirinya sendiri.
Zoya kembali menggulir ponselnya. Namun ternyata, ada telepon masuk dan sudah terlanjur di terima karena tidak sengaja terpencet.
"Assalamualaikum, Zoya ...."
Deg.
Zoya menatap ponselnya yang bertuliskan 'my hubby' sedang melakukan panggilan video padanya. Zoya bisa melihat jelas wajah suami yang sedang Zoya rindukan.
Zoya berpura-pura tidak peduli dengan memalingkan wajah. "Waalaikumsalam." jawab Zoya singkat. Zoya melirik ponselnya yang menampilkan wajah Zada sedang tersenyum sendu melihat dirinya.
Dan entah tertarik magnet apa, Zoya balas menatap Zada. Zada semakin tersenyum lebar saat melihat sorot mata Zoya seperti sangat merindukan dirinya. "Zoya ...." panggil Zada lembut dengan senyum manisnya.
"Apa?" tanya Zoya ketus.
"Mulut kamu mungkin bisa berbohong. Tapi, mata kamu kelihatan banget lagi rindu sama aku," Zada tersenyum penuh arti.
"Percaya diri banget." Zoya memutar bola matanya jengah.
"Ya udah, kalau kamu nggak rindu, aku tutup teleponnya ya?"
Zoya langsung melihat layar ponselnya. Zada sudah menutup panggilan video itu sepihak. Entah mengapa, Zoya merasa kecewa saat tak lagi melihat wajah Zada terbingkai dalam ponselnya.
Zoya mengembuskan nafasnya lelah dan kembali larut dalam lamunan. Pikirannya berkelana tentang Zada yang pasti sedang bermesraan dengan Ghaida penuh suka dan tawa.
Zoya kembali terisak dalam tangisnya. Masih terlalu sakit untuk menerima kenyataan yang ada di hadapannya. Dadanya seperti terhimpit oleh batu yang sangat besar, terasa menyesakkan.
Zoya segera menghentikan tangis dalam diamnya saat mendengar azan magrib dikumandangkan. Zoya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan melaksanakan kewajibannya.
Zoya sudah menyelesaikan salat tiga rakaat dan membaca Al Qur'an. Sambil menunggu isya, Zoya menyalakan televisi untuk membunuh rasa bosannya.
Baru saja Zoya menyalakan TV, bel di rumahnya berbunyi. Zoya mengernyit heran. "Siapa yang datang malam-makam begini? Bukankah tidak banyak yang tahu kalau aku sudah tinggal disini?" Monolog Zoya bertanya-tanya.
Untuk menjawab rasa penasarannya, Zoya segera menuruni anak tangga. Tanpa memastikan terlebih dahulu siapa yang ada di balik pintu, Zoya langsung membukanya.
Ceklek.
Deg.
Zoya terpaku di tempat saat tahu siapa yang datang di jam malam seperti ini. "Boleh aku masuk, Sayang?" ucap seseorang tersebut terdengar sangat lembut.
Dan bodohnya, Zoya mengangguk polos hingga membuat seseorang tersebut tersenyum simpul. Zoya tersentak dan segera menutup pintu rumahnya. "Mas, kenapa ke sini? Ghaida gimana? Dia sendirian dong, di rumah," tanya Zoya khawatir.
Zada tidak menjawab dan langsung membawa tubuh Zoya ke dalam gendongannya. "Aaaarg!" pekik Zoya saat tubuhnya terasa melayang. Zoya refleks mengalungkan tangannya di leher Zada. Zada tersenyum puas saat melihat Zoya hanya pasrah saat dirinya gendong ala bridal style.
Tujuan Zada adalah kamar tidur. Zoya semakin gelagapan saat Zada membawa dirinya ke kamar. Bodohnya lagi, Zoya sama sekali tidak menolak atau memberontak. Entah mengapa, hati Zoya malah bersorak gembira karena bisa berjumpa dengan suami tercintanya.
"Makanya, kalau kangen bilang. Kalau aku nggak kesini, kamu pasti sedang tersiksa dengan yang namanya rindu," ucap Zada dengan percaya dirinya setelah berhasil merebahkan tubuh Zoya dengan pelan di atas ranjang.
Zoya menatap manik kecoklatan milik Zada yang selalu bisa membuat dirinya terhanyut dan ingin menyelami kedalamannya.
Tuk.
Zada menyentil kening Zoya karena sejak tadi pandangannya tidak berpaling menatap dirinya. Zoya jelas langsung tersadar dari rasa kagumnya. "Gimana? Aku semakin ganteng kan? Rambut baru, khusus buat kamu," ucap Zada sambil melakukan gerakan mengelus bagian samping rambutnya ala iklan gel rambut.
Zoya mencebikkan bibirnya kesal. Zada memang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tapi, tebakan Zada memang benar. Zoya selalu terpesona dengan penampilan suaminya beribu-ribu kali.
"Mas kok kesini? Sadar diri dong, Mas tuh pengantin baru yang harusnya menghabiskan waktu bersama istri barunya. Lah ini ... Mas malah datang ke rumah istri lamanya," sindir Zoya lalu memberi jarak pada Zada. Namun, Zada tidak mau ada jarak sedikit pun antara dirinya dan Zoya.
Zada terus bergerak merapatkan tubuhnya pada tubuh Zoya. "Jangan gini dong, Mas." protes Zoya merasa tak nyaman dengan tingkah suaminya. Zada tidak peduli dengan protes yang dilayangkan Zoya. "Makanya, jangan jauh-jauh. Aku nggak mau jauh dari kamu," Lalu, Zada bergerak memeluk Zoya sangat erat.
Zoya mengernyit heran. "Kenapa sih, Mas? Kok sikapnya aneh banget, isssh,"
Zada merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah cantik Zoya. Tatapan penuh cinta dan sayang Zada berikan pada Zoya, istri pertamanya. "Zoya ... Maafkan aku bila sikapku menyakitimu. Tapi, semua itu tidak mengurangi rasa cinta yang telah aku berikan padamu. Yang ada, rasa cinta itu semakin hari semakin bertambah," Tangannya bergerak untuk membelai rambut Zoya lembut.
Eh!
Zoya terpaku. Sikap Zada masih sama seperti yang dulu. Tidak ada yang berubah dari suaminya walau sudah beristri dua. Zada tatap lembut dan menatap Zoya dengan penuh cinta. Zoya bergeming hingga Zada memilih untuk bersuara lagi.
"Zoya ... Apa kamu belum memaafkan aku? Bagaimana dengan hatimu? Apakah rasa cinta untukku masih tetap sama?" tanya Zada penuh keingin-tahuan.
"Tidak ada yang berubah, Mas. Semua masih sama," jawab Zoya memalingkan wajahnya. Namun, Zada segera mengangkat dagu Zoya lembut agar mau menatap dirinya. "Jangan berpaling muka. Aku ingin melihat wajah cantikmu menatapku dengan tatapan yang masih sama," Zada berucap sangat lembut sambil mengulas senyumnya.
"Katakan, apakah kamu tidak bisa membenciku? Aku punya maksud lain untuk menikahi Ghaida, Zoya. Percayalah, suatu saat kamu akan tahu,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Anonymous
Zoya goblok, kalau masih mau di madu krnapa harus marah dan pergi, bertahan aja dalam sakit melihat suami dan istri barunya aneh
2025-02-25
0
Siti Masitah
zoya..di kawinin zada mw
2024-05-02
0
Endang Supriati
munafil juga si zoya! banyak bacot yg engga penting. hrsnya datang begitu kasih obat perangsang 2 sendok makan dan di kasih obat tidur 3 butir.
bisa bayangkan nafsu lg tinggi buruh penyaluran ! tp matanya ngantuk berat ! tubuhnya lemassss tdk bertenaga.
yg jelas jantungnya langsung pecahhhhh
2024-03-06
0