"TALAK AKU, MAS!"
Suara Zoya menggema diseisi ruangan. Ucapan Zoya benar-benar membuat nafas Zada sesak, jantungnya seakan berhenti bekerja. Zada terdiam dengan tatapan penuh luka.
Zada tahu bahwa, Zoya pasti akan meminta hal itu. Tapi, Zada tidak akan menuruti keinginan Zoya. "Zoya ... Kita bisa bicara baik-baik. Aku punya alasan mengapa aku harus menikahi Ghaida," lirih Zada menunduk merasa bersalah.
Zoya tersenyum masam. "Alasan apa yang membuatmu menduakanku, Mas?" Zoya berusaha bersikap setenang mungkin. Bahkan, tidak ada nada getar pada suaranya.
Zada mengembuskan nafasnya kasar sebelum menjawab. "Ghaida hamil," jawab Zada tanpa menatap Zoya. Zada tidak mampu menatap mata penuh luka milik Zoya yang disebabkan karena dirinya.
Zoya merasa, bumi sudah berhenti untuk berputar, matahari sudah berhenti untuk terbit, pelangi sudah tak muncul lagi setelah hujan. Suram. Satu kata yang bisa menggambarkan suasana hati Zoya saat ini.
Zoya kembali meraung-raung dalam tangisnya. Zoya sudah tidak mengenal Zada, sebagai suaminya. Zada sudah berubah dan perubahan itu membuat Zoya kehilangan arah.
Melihat keadaan Zoya yang begitu berantakan, Zada berniat untuk memberikan pelukan. Dia mendekati Zoya untuk menenangkan. Hati Zada bagai tersayat beribu sembilu melihat Zoya yang begitu terluka.
Zada juga terluka karena harus mengambil keputusan ini. "Zoya ...." panggil Zada lembut. Zoya mendongak, matanya beradu dengan mata Zada yang memerah dan berair.
Zoya menghentikan tangisnya. "Mas, sebesar apapun kamu menyakitiku, aku tetap tidak bisa membencimu. Aku justru semakin takut kehilanganmu. Aneh bukan? Aku terlalu bodoh dan sangat bodoh," Suara Zoya parau dan begitu menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya.
Zada mengurungkan niat untuk memeluk Zoya. Dia terus memerhatikan apa yang akan Zoya lakukan.
Zoya memukul kepalanya sendiri karena sudah terlalu dibutakan oleh cinta Zada. Zoya juga memukul dadanya agar sesak itu segera hilang dan berganti dengan kelegaan.
Namun, hal itu tak kunjung Zoya dapatkan. Zoya yakin, dirinya pasti terlihat begitu menyedihkan. Tapi, Zoya tidak peduli dengan tanggapan siapa pun yang menganggapnya lemah.
Zoya akan menumpahkan semua air matanya hari ini. Dan bagi Zoya, tidak akan ada lagi air mata yang terjatuh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi seseorang yang sudah membuat dirinya terluka.
"Zoya ... Jangan menyakiti diri sendiri. Maafkan aku harus melakukan pernikahan ini. Aku—" ucapan Zada terhenti karena Zoya sudah mengangkat tangan agar Zada tidak lagi berbicara.
"Talak aku, Mas!" Lagi, Zoya menagih kata talak agar keluar dari mulut suaminya. Zada menggeleng lemah. Dia tidak akan melakukan itu.
"Nggak, Zoya. Aku nggak akan talak kamu. Kamu akan tetap jadi istriku," ucap Zada dengan sorot mata penuh luka.
Zoya tersenyum masam. Tidak tahu dengan jalan pikiran suaminya. "Baiklah jika itu mau Mas Zada. Tapi, aku tidak mau tinggal serumah dengan maduku!" Zoya berucap dengan nada dingin dan datarnya. Aura mencekam seakan mengisi ruangan tersebut.
Zada luruh ke lantai. Dia terkulai lemas seperti tidak makan tiga hari tiga malam. Zada menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya erat-erat. "Kamu akan tetap tinggal disini, Zoya. Bagaimana denganku jika kamu tinggal begitu saja? Siapa yang akan mengurus semua keperluanku? Apa aku bisa menjalani hari beratku tanpamu? Aku tidak yakin Zoya ...."
Tanpa terasa, cairan bening menetes dari sudut mata Zada. Zoya bisa menyaksikan itu. Ada kepedihan yang mendalam di sana. Zoya berusaha menguasai dirinya kembali. Berusaha untuk tidak terbujuk rayuan suaminya. Walau Zoya melihat ada ketulusan saat Zada mengucapkannya. Tapi, Zoya ingin egois sekali saja.
Perasaannya teramat perih dan teriris. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu. "Kasih aku waktu sendiri, Mas. Aku ingin sendiri saat ini," pinta Zoya lemah, pandangannya kosong.
Zada seperti tidak rela untuk beranjak dari sana. 'Mungkin memang benar, jika aku harus memberikan waktu Zoya untuk menenangkan diri,' monolog Zada dalam hati. "Baiklah ... Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan ini,"
Zoya bisa melihat punggung Zada menjauh. Zoya menatapnya dengan hati yang tersayat-sayat. Suaminya sudah menikah lagi. Suatu kenyataan yang ingin sekali Zoya elak. Tapi, hal itu begitu nyata adanya.
"Huek, huek." Perut Zoya tiba-tiba bergejolak. Zoya sedikit berlari menuju kamar mandi untuk menumpahkan isi perutnya. "Huek, huek." Hanya cairan berwarna kuning yang keluar dari mulut Zoya. Zoya mencoba berpikir sejenak dan sadar akan sesuatu. 'Ya iyalah cuma cairan, kan aku belum makan sejak tadi,' batin Zoya mencari jawaban atas kebingungannya.
Setelah membasuh wajahnya, Zoya mendongak untuk menatap wajah sendu dan mata sembabnya di cermin. Zoya melihat penampilan dirinya begitu buruk. 'Pantas saja mas Zada nikah lagi. Aku aja yang nggak sadar diri,' monolog Zoya tersenyum perih.
Zoya kembali untuk beristirahat karena tiba-tiba tubuhnya merasa lemas. Zoya merebahkan dirinya di atas ranjang dengan posisi meringkuk. Pikirannya di Bayangi oleh ucapan Zada bahwa Ghaida sedang mengandung.
Air mata Zoya luruh lagi. Zoya begitu mengasihani dirinya sendiri yang belum bisa memberikan anak untuk Zada. 'Sepertinya, memang aku yang bermasalah. Buktinya, mas Zada bisa menghamili Ghaida. Aku memang nggak berguna,' ucap Zoya menyalahkan dirinya sendiri.
Hari telah berganti menjadi gelap. Bahkan sangat gelap karena bulan dan bintang tidak hadir untuk menghiasi dinding langit. Segelap dan sesuram ruangan yang saat ini sedang Zoya tempati. Tepatnya, di kamar Zoya dan Zada dulu. Iya, hanya dulu, karena sekarang, Zada pasti sedang tidur bersama Ghaida.
Membayangkan hal itu, Zoya semakin terisak dalam tangisnya. "Bunda ... Rasanya sakit sekali. Zoya nggak tahu akan sanggup atau enggak, Bun. Bunda ... Zoya kangen sama, Bunda," terdengar mengiris kalbu. Bunda yang Zoya sebut itu sudah tiada di dunia. Bundanya sudah berpulang kepada Tuhannya.
"Ayah ... Ayah adalah satu-satunya lelaki di dunia ini yang tidak pernah menyakiti Zoya. Cinta ayah begitu besar pada Zoya. Zoya ingin di peluk ayah lagi. Zoya ingin menjadi anak kecil lagi jika tahu menjadi dewasa itu rumit. Ayah ... Putrimu ini terlalu lemah tanpa ada lelaki di samping Zoya. Mas Zada ... Dia sudah menikah lagi. Zoya nggak tau harus pada siapa Zoya mengadu,"
Zoya bermonolog seakan sedang berbicara dengan orangtuanya yang sudah tiada beberapa tahun lalu. Ya, Zoya sudah menjadi yatim piatu. Zoya pikir, Zada akan selalu ada untuknya, akan selalu menemani dirinya. Namun Zoya salah, suaminya sudah menghianati pernikahannya.
Zoya sesenggukan hingga kesusahan untuk bernapas. Bagaimana pun juga, Zoya adalah seorang wanita yang mempunyai sisi rapuh. Apalagi, selama ini Zoya sangat bergantung pada suaminya. Zoya seperti kehilangan arah dan tidak tahu kemana dia harus pulang.
Karena sesuatu yang dia sebut 'Rumah', sudah tidak senyaman dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Endang Supriati
rasanya sakit, benci, kesal,dendam, marah, klu tdk ada hukum dunia. udh saya bunuh depan org mereka berdua. jantung nya tsk goreng,juniornya dibuat sosis terus kasih anjingg.
2024-02-01
0
andi hastutty
😭😭😭nyesek banget pernah diposisi Zoya mencintai kaya orang gila dan ngga bisa membenci dan tidak mau dilepas oleh suami tapi sakit. kayanya Zoya hamil juga
2023-05-03
0
Eliyana Mobile
sedih thorr kok jd ikut nangis juga😭
2023-01-24
0