Setelah cukup lama merengek, akhirnya Zada memberikan kuncinya agar Zoya bisa keluar. Namun, hal itu tidak serta merta membuat Zada melepaskan Zoya. Zada masih saja mengekori Zoya kemana pun kaki Zoya melangkah. "Mas, kamu nggak ada kegiatan lain ya? Selain ngikutin aku terus?" tanya Zoya merasa jengah dengan suaminya itu.
"Kamu lupa, kamu masih istri aku? Dan kamu juga lupa? Kalau surganya istri itu ada pada suaminya?" Zada malah bertanya balik yang semakin membuat kekesalan Zoya bertambah. Zoya menghela nafasnya lelah. "Terus aku harus gimana?" tanya Zoya yang sebenarnya tersentil dengan ucapan Zada. Dia berbalik dan menghentikan langkahnya.
Zada berubah menatap Zoya serius. "Tinggallah disini, Zoya. Kembalilah ...." Entah sudah keberapa kali Zada memohon dengan kalimat yang sama. Namun, untuk kesekian kalinya juga, Zoya menggeleng. Zoya kembali melanjutkan langkahnya.
"Jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak aku suka, Mas," jawab Zoya berwajah dingin dan datar. Bersamaan dengan itu, Zoya sudah sampai di ambang pintu. "Aku pulang dulu," pamit Zoya berhenti sejenak untuk menatap wajah tampan Zada.
Wajah Zada terlihat memelas agar Zoya mau menuruti keinginannya satu itu. Zoya justru tersenyum geli melihat wajah Zada yang sudah seperti anak kecil yang sedang merengek meminta mainan. "Kenapa kamu tersenyum? Senang ya, lihat suami menderita?"
Zoya tidak fokus lagi pada apa yang diucapkan Zada. Perhatiannya teralihkan oleh Ghaida yang sedang menuruni anak tangga. Zoya hanya mengamati dengan sorot mata yang .... Entahlah.
Zoya bisa melihat Ghaida tersenyum ke arah dirinya. Zoya berusaha membalas senyum itu walau berupa senyuman tipis. Zada yang sejak tadi memperhatikan Zoya pun mengikuti arah pandang Zoya. Dan Zada bisa melihat Ghaida yang berjalan mendekat.
"Mbak Zoya ... Udah lama datangnya? Kok aku nggak tahu kalau Mbak datang kesini?" tanya Ghaida mendayu-dayu lengkap dengan senyum ramahnya. Zoya berdecih dan memutar bola matanya malas. "Suaranya biasa aja bisa nggak? Suara wanita yang sengaja dibuat lemah lembut tuh, bisa jadi aurat," ketus Zoya memperingati.
"Maaf sebelumnya, Mbak. Tapi, aku melakukan semua itu di depan suamiku. Jadi sah-sah saja menurut ajaran syariat," jawab Ghaida berusaha menyangkal tuduhan Zoya.
"Mayoritas ulama memandang suara perempuan tidak termasuk sebagai aurat. Namun jika suara yang dikeluarkan dapat menimbulkan hal-hal buruk atau mudharat, dibuat mendayu-dayu, maka suara perempuan menjadi haram untuk didengar banyak orang," sela Zada tidak bermaksud membela salah satunya.
Dia hanya mengungkapkan pendapat tentang apa yang dia ketahui. "Tuh dengerin. Dibikin biasa aja kan bisa ... Heran ...." Zoya lagi-lagi bersuara dan membuat Ghaida tertunduk malu. "Udah ... Udah ... Jangan berdebat. Mending kalian saling ngobrol akrab,"
"Siapa yang sedang berdebat?" tanya suara dari arah pintu. Ketiganya sontak mengalihkan pandangan menatap arah sumber suara. Zoya seketika memasang senyum ramahnya dan bergerak untuk menyalimi dan mencium punggung tangan orang itu.
Wajah Zada berubah pias saat mengetahui siapa yang datang. Sedangkan Ghaida, tampangnya masih terlihat bingung karena belum mengenal seseorang di ambang pintu tersebut.
"Mama ... Kesini sama siapa, Ma?" tanya Zoya antusias. Wanita yang di panggil mama itu membelai pipi Zoya lembut. "Sama Papa. Dia lagi parkir yang benar dulu, tuh," tunjuknya pada mobil yang belum selesai terparkir.
Ya, yang datang adalah orangtua Zada. Pak Rama dan bu Maya sengaja mengunjungi rumah anak dan menantunya karena sudah lama tidak bertemu. "Kamu gimana kabarnya, Sayang? Kok udah lama banget nggak datang ke rumah, Mama?" tanya bu Maya membuat mimik cemberut.
Zoya terkekeh masam. "Akhir-akhir ini, Zoya sama Mas Zada sibuk, Ma." jawab Zoya berbohong menutupi masalah rumah tangganya. "Loh! Ini siapa?" tanya bu Maya penasaran, jari telunjuknya mengarah pada Ghaida.
Zada semakin gelagapan saat melihat Ghaida juga mengulurkan tangan untuk melakukan hal yang sama seperti yang Zoya lakukan. "Saya istri Mas Zada, Ma," jawab Ghaida tanpa beban.
Zoya mengangkat satu alisnya menyaksikan suaminya yang sudah pucat pasi. Zoya bisa membaca bahwa, orangtua Zada belum mengetahui anaknya yang berpoligami.
"Apa?! Istri Zada?! Jangan bercanda kamu? Sejak kapan Zada menikah lagi?" tanya bu Maya terkejut. Kemudian, tatapannya beralih pada Zoya yang juga sedang menatapnya. "Zoya ... Apa benar dia istri Zada?" tanya bu Maya pada Zoya.
Dengan sangat terpaksa, Zoya mengangguk lemah. Nafas Bu Maya sudah terlihat naik turun tak beraturan. Zoya semakin takut ini tidak akan baik untuk kesehatan mamanya. "Ma ... Tenang dulu. Biar Mas Zada yang menjelaskan ke Mama nanti," Zoya berusaha menenangkan bu Maya.
Namun, baru saja Zoya selesai bicara, bu Maya sudah menatap Zada penuh amarah. Karena merasa bersalah, Zada hanya menunduk menerima apapun yang akan mamanya lakukan.
PLAK!
Satu tamparan berhasil mendarat dengan mulus di pipi Zada. Kepala Zada sampai meneleng karena tamparan mamanya begitu keras. "Mengapa kamu melakukan ini pada Zoya?! Apa kurangnya Zoya selama ini?!" tanya bu Maya menatap nyalang pada Zada.
"APA!"
Pekik suara yang diduga milik pak Rama. "Apa Papa nggak salah dengar? Zada ... Katakan, kalau ini semua nggak benar," ucap pak Rama masih berusaha menyangkal.
"Itu semua benar, Pa. Ghaida adalah istriku," lirih Zada tanpa menatap pak Rama dan bu Maya. Zoya kembali merasakan sesak saat dengan jelas Zada menyebut Ghaida adalah istrinya. Rasanya, Zoya ingin menyangkal jauh-jauh label 'istri' yang tersemat untuk Ghaida.
Bu Maya langsung menangis sesenggukan. "Mama nggak nyangka kamu akan melakukan poligami, Da. Mama kecewa sama kamu," ucap bu Maya disela tangisnya.
Pak Rama langsung memeluk tubuh istrinya agar tenang. Zoya juga melakukan hal yang sama untuk memberikan ketenangan pada bu Maya. "Ma ... Zoya nggak papa kok, Ma. Zoya nggak masalah kalau Mas Zada nikah lagi," Kalimat itu tentunya tidak sampai hati. Zoya mengucapkannya hanya untuk membuat bu Maya tenang.
Bu Maya menghentikan tangisnya. "Lihat! Wanita sebaik ini yang kamu duakan? Zada ... Mama sudah tidak mengenalmu lagi," ucap bu Maya sambil menggelengkan kepalanya lemah.
Zada menangis. Dia menangis karena dua wanita yang sangat dia cintai telah dia buat terluka. Ini bukan keinginannya. Tapi, Zada mempunyai alasan menikahi Ghaida. "Maafkan Zada, Ma. Ini—"
Belum sempat Zada menyelesaikan kalimatnya, pak Rama sudah mengangkat tangan agar Zada tidak perlu melanjutkan kalimatnya. "Ini bukan salah Mas Zada, Bu. Ini sa—" Ghaida berusaha untuk membela Zada namun, lagi-lagi tangan pak Rama terangkat.
"Kita pulang ya, Ma. Kita bisa kesini lagi lain hari. Zoya, kamu ikut kami, Sayang," pak Rama berucap lembut pada dua wanita beda generasi itu. Zoya gelagapan dan merasa bersalah karena tidak bisa membela suaminya. Dia juga bimbang harus ikut mama dan papa atau tetap pulang ke rumahnya.
Bagaimana pun juga, Zoya tidak tega melihat suaminya dan Ghaida di sudutkan seperti itu. Zoya tidak enak hati jika sampai ikut mertuanya di saat sedang terjadi masalah seperti ini. Entahlah, Zoya juga bingung dengan pikirannya sendiri.
"Kamu nggak usah pikirkan perasaan dua manusia di depanmu. Ikutilah kata hatimu, Zoya," ucap bu Maya terdengar pedas dan nyelekit.
Zoya berada di jurang kebimbangan. Pikirannya sedang berperang untuk mencari jawaban yang tepat. "Ma, Zoya akan tetap disini. Bagaimana pun juga, Zoya masih istri sah Mas Zada,"
Semua tercengang mendengar keputusan Zoya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Aku nggak bakal bosan nih buat ingatkan kalian untuk jadi pembaca aktip hihi😁
bukan tanpa sebab, like, komen dan dukungan kalian yang lain sangat berarti untuk othor.. aseeek😅
dukungan kalian tuh bagaikan bahan bakar yang siap pakai.. aku jadi makin semangat nulisnya🔥
pokoknya, terima kasih untuk kalian semua yang udah support karya aku😍
teremuuaah di hati dan terlope sekebon sawi😘😘🔥🔥**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Jetty Eva
Benar" Zoya merendahkan diri...bukankah Zada tdk pernah meminta izin nikah lagi.?? trus dtang" wanitax udh hamil.?? otak Zoya di mana..?????
2025-03-14
0
yuyunn 2706
adakah didunia nyata seperti Zoya Thor?
2025-01-24
0
andi hastutty
mulai sekali hatimu Zoya 😭
2023-05-04
1