Zoya langsung menyingkirkan tangan Zada yang berada di dagunya. Entah mengapa, Zoya tidak ingin mendengar nama Ghaida keluar dari mulut Zada. Wajar bukan, jika Zoya merasa cemburu dan tidak terima?
Zada menghela nafasnya lelah. "Boleh aku tidur disini malam ini?" pinta Zada dengan wajah memelasnya. Zoya terdiam untuk membaca raut wajah Zada. 'Apakah ada maksud terselubung?' batin Zoya bertanya-tanya.
"Hahahaha." Zada tergelak saat Zoya menatapnya dengan wajah curiga. "Tenang, aku nggak akan minta jatahku sebagai suami sekarang. Aku nggak akan memaksa kamu. Aku hanya ingin, tidur dengan nyenyak malam ini," jelas Zada dengan wajah sendunya.
Zoya mengangguk lemah. "Mas boleh tidur di sini," jawab Zoya yang melihat kejujuran di mata suaminya. Dia juga melihat mata Zada yang terdapat lingkaran hitam di bawahnya, seperti kurang tidur.
Zoya juga sadar, bahwa Zada masih berstatus sebagai suaminya. Bukan hak baik jika seorang istri sampai tidak mengizinkan suaminya tidur satu ranjang dengan istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Aku akan bersih-bersih dulu," pamit Zada sambil beranjak dari ranjang. Zoya segera mencegah dengan mencekal tangan suaminya. "Disini nggak ada baju ganti punya Mas," ucap Zoya memberitahu.
Zada tersenyum. "Aku bawa di mobil. Aku harus ambil dulu,"
Setelah mengucapkan itu, Zada kembali turun mengambil bajunya. Tidak berselang lama, Zada kembali dan langsung membersihkan diri. Zada keluar dengan bertelanjang dada. Zoya yang akan lewat untuk mengambil wudu pun, menundukkan kepala merasa malu.
Padahal, Zada adalah suaminya sendiri. Entah mengapa, Zoya selalu malu bila melihat Zada keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya.
"Kita salat jamaah kan, Zoya?" tanya Zada lembut saat Zoya melewati dirinya. Tanpa menatap Zada, Zoya menjawabnya. "Iya, aku ambil wudhu dulu, Mas,"
Keluar dari kamar mandi, Zoya bisa melihat dua sajadah sudah di gelar di kamarnya yang hanya berukuran 3×4 itu. Kebetulan, kasur di kamarnya juga tidak terlalu besar. Hanya berukuran 140×200 cm. Jadi, untuk melakukan salat, mereka bisa secara berjamaah.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, keduanya melakukan salat isya berjamaah dengan khusyuk. Setelah salat selesai, keduanya larut dalam doa masing-masing.
*
Ghaida melaksanakan makan malamnya tanpa selera saat suaminya meminta izin untuk tidur di rumah Zoya malam ini. Ghaida cukup sadar bahwa, dirinya tidak sepenting itu bagi Zada. Namun, ada keinginan agar Zada mau mengutamakan dirinya. Ghaida ingin egois pada suaminya sendiri.
Ghaida ingin Zada banyak menghabiskan waktu bersama dirinya. Setelah berhasil makan lima sendok, Ghaida kembali ke kamarnya. Setiap kali banyak pikiran, Ghaida selalu merasakan pusing dan mual. Untuk menelepon suaminya pun, Ghaida tidak berani takut akan mengganggu.
Akhirnya, Ghaida merawat dirinya sendiri dengan minum obat yang sudah di resepkan oleh dokter. Setelah itu, Ghaida membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia harus banyak istirahat karena sedang mengandung.
Saat baru saja membaringkan tubuhnya, Ghaida bisa merasakan perutnya bergejolak seakan semua isinya ingin keluar. Ghaida bergegas ke kamar mandi untuk menumpahkan makanan yang belum ada tiga puluh menit tinggal di perutnya.
"Huek, huek, huek!"
Semua makanan yang di konsumsi Ghaida keluar semua. Tubuh Ghaida mendadak lemas sehabis muntah. Dia membasuh wajahnya agar sedikit lebih segar. "Aku harus telepon Mas Zada. Kalau tidak, ini akan bahaya untuk anakku dan aku,"
Tut, Tut, Tut.
Hingga dering ke lima, belum ada tanda-tanda jika Zada akan menerima telepon darinya. Ghaida mencoba menghubungi lagi. Hasilnya masih tetap sama, Zada tidak mengangkat telepon darinya.
Ghaida tidak kehabisan ide. Dia mengirimi pesan pada Zada dan berharap untuk segera di baca.
Ghaida:
Mas, aku pusing sama mual nggak wajar lagi. Bisa tolong pulang sekarang? Aku butuh kamu, Mas.
.√√ 19:20
Belum ada tanda-tanda Zada akan membalas pesannya. Centang dua warna abu-abu itu tak kunjung berubah warna menjadi biru. Ghaida merasakan tubuhnya semakin lemah. Rasa pusing yang mendera di kepalanya juga selain menusuk-nusuk rasanya.
Karena takut terjadi sesuatu, Ghaida memilih untuk mengajak asisten rumah tangga di rumah Zada untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kebetulan juga, ada sopir pribadi yang tinggal di rumah itu.
"Bibi ...!" panggil Ghaida panik sambil menuruni anak tangga. Namun, yang di panggil tak kunjung menampakan diri. "Bibi ...!" panggil Ghaida sekali lagi dan seseorang yang di panggil bibi sudah muncul dari arah belakang.
"Kenapa, Mbak? Apa butuh sesuatu?" tanya Bu Maya, asisten rumah tangga ramah. "Bi, tolong antar saya ke rumah sakit ya? Mual banget sama pusing nih ... Dan ini udah tahap berlebihan,"
Belum sempat bu Maya menjawab, Ghaida terhuyung dan tidak sadarkan diri. Ghaida pingsan. Untung saja, bu Maya segera menangkap tubuh Ghaida sehingga tidak sampai terjatuh ke lantai.
Bu Maya berteriak memanggil sopir pribadi di rumah itu untuk membantunya membawa Ghaida ke dalam mobil.
Setelah sopir datang, keduanya membawa Ghaida ke rumah sakit. Dan tidak lupa, keduanya sudah menghubungi Zada terlebih dahulu untuk menyusul ke rumah sakit yang alamatnya sudah di kirim.
*
Sejak Zada datang ke toko bunga yang sudah menjadi rumahnya itu, Zoya tidak banyak bicara. Walau sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.
Zoya malah larut menatap pemandangan kota di malam hari yang begitu indah saat di lihat dari balkon kamarnya.
"Kamu udah makan belum, Zoya?" tanya Zada perhatian. Zoya menggeleng. "Aku nggak lapar, Mas. Mas tenang aja, di kulkas ada persediaan makanan kalau aku lapar nanti. Apa Mas Zada lapar?" tanya Zoya memastikan.
"Aku sedikit lapar. Bisakah kamu membuatkan aku nasi goreng spesial buatan kamu?" ucap Zada lalu memeluk Zoya dari belakang.
"Mas, jangan begitu lah. Kalau ada yang lihat, aku nggak enak," Zoya bergerak tak nyaman saat Zada mulai memberikan perhatiannya. "Zoya ... Biarlah seperti ini dulu. Aku sangat rindu untuk memeluk dan menghirup wangi tubuhmu. Kamu tahu, obat tidur yang paling mujarab adalah, tidur sambil memelukmu,"
"Nggak usah tebar kata-kata manis lah, Mas. Buktinya, kamu malah nikah lagi kan?" jawab Zoya menohok. "Sekarang aku tanya dan kamu harus jawab jujur," pinta Zoya sambil membalikkan tubuhnya. Zada mengangguk menyetujui. "Baiklah."
"Ghaida sudah hamil berapa bulan?"
Belum sempat Zada menjawab pertanyaan Zoya, ponsel Zada berdering menandakan ada telepon masuk. "Angkat dulu, Mas. Siapa tahu penting," perintah Zoya mengizinkan.
"Hallo?"
".........."
"Apa?!"
"Saya segera ke sana,"
Telepon terputus. Zoya menatap Zada dengan alis mengkerut. "Ada apa, Mas? Apa ada masalah?" tanya Zoya penasaran. Zada terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ghaida di larikan ke rumah sakit,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
yuyunn 2706
cinta boleh bget Zoya tapi jgn bodoh Krn cinta
2025-01-24
0
Sulati Cus
mulai serakah
2024-02-07
0
andi hastutty
ihh sebel yah ghaidah ganggu ajha
2023-05-03
0