Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...

Zoya langsung menyingkirkan tangan Zada yang berada di dagunya. Entah mengapa, Zoya tidak ingin mendengar nama Ghaida keluar dari mulut Zada. Wajar bukan, jika Zoya merasa cemburu dan tidak terima?

Zada menghela nafasnya lelah. "Boleh aku tidur disini malam ini?" pinta Zada dengan wajah memelasnya. Zoya terdiam untuk membaca raut wajah Zada. 'Apakah ada maksud terselubung?' batin Zoya bertanya-tanya.

"Hahahaha." Zada tergelak saat Zoya menatapnya dengan wajah curiga. "Tenang, aku nggak akan minta jatahku sebagai suami sekarang. Aku nggak akan memaksa kamu. Aku hanya ingin, tidur dengan nyenyak malam ini," jelas Zada dengan wajah sendunya.

Zoya mengangguk lemah. "Mas boleh tidur di sini," jawab Zoya yang melihat kejujuran di mata suaminya. Dia juga melihat mata Zada yang terdapat lingkaran hitam di bawahnya, seperti kurang tidur.

Zoya juga sadar, bahwa Zada masih berstatus sebagai suaminya. Bukan hak baik jika seorang istri sampai tidak mengizinkan suaminya tidur satu ranjang dengan istrinya.

"Terima kasih, Sayang. Aku akan bersih-bersih dulu," pamit Zada sambil beranjak dari ranjang. Zoya segera mencegah dengan mencekal tangan suaminya. "Disini nggak ada baju ganti punya Mas," ucap Zoya memberitahu.

Zada tersenyum. "Aku bawa di mobil. Aku harus ambil dulu,"

Setelah mengucapkan itu, Zada kembali turun mengambil bajunya. Tidak berselang lama, Zada kembali dan langsung membersihkan diri. Zada keluar dengan bertelanjang dada. Zoya yang akan lewat untuk mengambil wudu pun, menundukkan kepala merasa malu.

Padahal, Zada adalah suaminya sendiri. Entah mengapa, Zoya selalu malu bila melihat Zada keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggangnya.

"Kita salat jamaah kan, Zoya?" tanya Zada lembut saat Zoya melewati dirinya. Tanpa menatap Zada, Zoya menjawabnya. "Iya, aku ambil wudhu dulu, Mas,"

Keluar dari kamar mandi, Zoya bisa melihat dua sajadah sudah di gelar di kamarnya yang hanya berukuran 3×4 itu. Kebetulan, kasur di kamarnya juga tidak terlalu besar. Hanya berukuran 140×200 cm. Jadi, untuk melakukan salat, mereka bisa secara berjamaah.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, keduanya melakukan salat isya berjamaah dengan khusyuk. Setelah salat selesai, keduanya larut dalam doa masing-masing.

*

Ghaida melaksanakan makan malamnya tanpa selera saat suaminya meminta izin untuk tidur di rumah Zoya malam ini. Ghaida cukup sadar bahwa, dirinya tidak sepenting itu bagi Zada. Namun, ada keinginan agar Zada mau mengutamakan dirinya. Ghaida ingin egois pada suaminya sendiri.

Ghaida ingin Zada banyak menghabiskan waktu bersama dirinya. Setelah berhasil makan lima sendok, Ghaida kembali ke kamarnya. Setiap kali banyak pikiran, Ghaida selalu merasakan pusing dan mual. Untuk menelepon suaminya pun, Ghaida tidak berani takut akan mengganggu.

Akhirnya, Ghaida merawat dirinya sendiri dengan minum obat yang sudah di resepkan oleh dokter. Setelah itu, Ghaida membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia harus banyak istirahat karena sedang mengandung.

Saat baru saja membaringkan tubuhnya, Ghaida bisa merasakan perutnya bergejolak seakan semua isinya ingin keluar. Ghaida bergegas ke kamar mandi untuk menumpahkan makanan yang belum ada tiga puluh menit tinggal di perutnya.

"Huek, huek, huek!"

Semua makanan yang di konsumsi Ghaida keluar semua. Tubuh Ghaida mendadak lemas sehabis muntah. Dia membasuh wajahnya agar sedikit lebih segar. "Aku harus telepon Mas Zada. Kalau tidak, ini akan bahaya untuk anakku dan aku,"

Tut, Tut, Tut.

Hingga dering ke lima, belum ada tanda-tanda jika Zada akan menerima telepon darinya. Ghaida mencoba menghubungi lagi. Hasilnya masih tetap sama, Zada tidak mengangkat telepon darinya.

Ghaida tidak kehabisan ide. Dia mengirimi pesan pada Zada dan berharap untuk segera di baca.

Ghaida:

Mas, aku pusing sama mual nggak wajar lagi. Bisa tolong pulang sekarang? Aku butuh kamu, Mas.

.√√ 19:20

Belum ada tanda-tanda Zada akan membalas pesannya. Centang dua warna abu-abu itu tak kunjung berubah warna menjadi biru. Ghaida merasakan tubuhnya semakin lemah. Rasa pusing yang mendera di kepalanya juga selain menusuk-nusuk rasanya.

Karena takut terjadi sesuatu, Ghaida memilih untuk mengajak asisten rumah tangga di rumah Zada untuk mengantarnya ke rumah sakit. Kebetulan juga, ada sopir pribadi yang tinggal di rumah itu.

"Bibi ...!" panggil Ghaida panik sambil menuruni anak tangga. Namun, yang di panggil tak kunjung menampakan diri. "Bibi ...!" panggil Ghaida sekali lagi dan seseorang yang di panggil bibi sudah muncul dari arah belakang.

"Kenapa, Mbak? Apa butuh sesuatu?" tanya Bu Maya, asisten rumah tangga ramah. "Bi, tolong antar saya ke rumah sakit ya? Mual banget sama pusing nih ... Dan ini udah tahap berlebihan,"

Belum sempat bu Maya menjawab, Ghaida terhuyung dan tidak sadarkan diri. Ghaida pingsan. Untung saja, bu Maya segera menangkap tubuh Ghaida sehingga tidak sampai terjatuh ke lantai.

Bu Maya berteriak memanggil sopir pribadi di rumah itu untuk membantunya membawa Ghaida ke dalam mobil.

Setelah sopir datang, keduanya membawa Ghaida ke rumah sakit. Dan tidak lupa, keduanya sudah menghubungi Zada terlebih dahulu untuk menyusul ke rumah sakit yang alamatnya sudah di kirim.

*

Sejak Zada datang ke toko bunga yang sudah menjadi rumahnya itu, Zoya tidak banyak bicara. Walau sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.

Zoya malah larut menatap pemandangan kota di malam hari yang begitu indah saat di lihat dari balkon kamarnya.

"Kamu udah makan belum, Zoya?" tanya Zada perhatian. Zoya menggeleng. "Aku nggak lapar, Mas. Mas tenang aja, di kulkas ada persediaan makanan kalau aku lapar nanti. Apa Mas Zada lapar?" tanya Zoya memastikan.

"Aku sedikit lapar. Bisakah kamu membuatkan aku nasi goreng spesial buatan kamu?" ucap Zada lalu memeluk Zoya dari belakang.

"Mas, jangan begitu lah. Kalau ada yang lihat, aku nggak enak," Zoya bergerak tak nyaman saat Zada mulai memberikan perhatiannya. "Zoya ... Biarlah seperti ini dulu. Aku sangat rindu untuk memeluk dan menghirup wangi tubuhmu. Kamu tahu, obat tidur yang paling mujarab adalah, tidur sambil memelukmu,"

"Nggak usah tebar kata-kata manis lah, Mas. Buktinya, kamu malah nikah lagi kan?" jawab Zoya menohok. "Sekarang aku tanya dan kamu harus jawab jujur," pinta Zoya sambil membalikkan tubuhnya. Zada mengangguk menyetujui. "Baiklah."

"Ghaida sudah hamil berapa bulan?"

Belum sempat Zada menjawab pertanyaan Zoya, ponsel Zada berdering menandakan ada telepon masuk. "Angkat dulu, Mas. Siapa tahu penting," perintah Zoya mengizinkan.

"Hallo?"

".........."

"Apa?!"

"Saya segera ke sana,"

Telepon terputus. Zoya menatap Zada dengan alis mengkerut. "Ada apa, Mas? Apa ada masalah?" tanya Zoya penasaran. Zada terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ghaida di larikan ke rumah sakit,"

Terpopuler

Comments

yuyunn 2706

yuyunn 2706

cinta boleh bget Zoya tapi jgn bodoh Krn cinta

2025-01-24

0

Sulati Cus

Sulati Cus

mulai serakah

2024-02-07

0

andi hastutty

andi hastutty

ihh sebel yah ghaidah ganggu ajha

2023-05-03

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!