Malam harinya, Zada pulang ke rumah. Dia tidak bisa membuat Zoya khawatir karena dirinya. Bila dirinya tidak pulang, sudah dipastikan bahwa Zoya tidak akan tertidur sampai pagi. Dan itu sudah sering terjadi bila Zada lembur bekerja.
Zada sampai rumah saat jarum jam menunjuk angka 11 tepat. Zada bisa melihat suasana rumahnya yang masih terang pertanda Sang pemilik rumah belum tertidur.
Zada mengedarkan pandangan mencari keberadaan Zoya. Barangkali, Zoya masih berada di dapur atau di ruang tengah. Dan benar saja, saat dirinya melewati ruang tengah, Zada melihat Zoya sudah tertidur pulas dengan televisi yang masih menyala.
Zada berjalan tanpa suara menghampiri Zoya. Setelah sampai, Zada menekuk lututnya untuk menatap wajah istri cantiknya. Rambutnya yang tergerai indah telah menutup sebagian wajah putih mulusnya.
Zada menyingkirkan rambut nakal itu dan memandang Zoya penuh cinta. Dia sangat mencintai Zoya. Tidak ada niat sedikit pun untuk menghianatinya. 'Semoga, kamu bisa mengerti, Zoya,' monolog Zada dalam hati.
Zada mengecup kening Zoya dan menekannya cukup lama. Zada sudah berfirasat bahwa setelah ini, dirinya pasti akan didiamkan cukup lama oleh Zoya karena sudah menikah lagi secara diam-diam.
Tapi apa pun itu, Zada akan menerima semua amarah Zoya padanya. Bahkan, jika Zoya memukul, menendang, menampar, dan menjambak rambutnya pun, Zada akan menerimanya.
Rasa sakit karena pukulan dan di tampar tidak sebanding dengan rasa sakit yang telah Zada torehkan. Saat Zada sedang larut dalam pikirannya, Zoya menggeliat dan membuka sedikit matanya.
"Mas ... Mas Zada sudah pulang dari tadi? Maaf, Mas, aku ketiduran," Zoya langsung menegakkan tubuhnya untuk duduk. Zada mencegahnya karena Zoya pasti lelah seharian ini mengurus toko bunganya.
"Nggak usah bangun. Biar Mas gendong kamu ke kamar ya?" pinta Zada dengan tatapan sendu. Zoya tersenyum simpul dan mengangguk. Setelah itu, Zada menggendong Zoya menuju kamar ala bridal style.
Zoya segera mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan menatap wajah tampan Zada penuh puja. "Makasih ya, Mas. Karena sudah mencintaiku sebanyak dan sedalam ini. Aku bersyukur mempunyai suami seperti Mas Zada," ucap Zoya saat Zada sedang berusaha menaiki anak tangga.
Hati Zada semakin dihunus rasa bersalah yang besar. Zoya begitu mempercayai dirinya dan dengan mudahnya, Zada menghianati kepercayaan Zoya. Tanpa menatap Zoya, Zada menjawabnya. "Aku juga merasa beruntung punya istri sepertimu,"
Tidak terasa, Zada dan Zoya sudah sampai di kamarnya. Zada membawa tubuh Zoya ke atas ranjang dengan hati-hati. Setelah itu, Zada berpamitan untuk membersihkan diri.
Tidak berapa lama, Zada sudah kembali dan bergabung dengan Zoya yang sedang duduk di ranjangnya dengan bersandar di headboard. "Bagaimana hari ini, Mas? Lancar kan? Kamu pasti lelah kan, pulang sampai larut begini?" tanya Zoya perhatian.
Zada langsung memeluk pinggang istrinya dengan manja dan menyandarkan kepalanya di bahu Zoya. Zada memejamkan mata merasakan kenyamanan. Semua masalah yang baru saja Zada temui seakan hilang begitu saja saat dirinya sudah bersama Zoya.
Zoya memang wanita terbaik yang telah Allah SWT kirimkan untuknya. "Cukup melelahkan, Sayang." Zada menjeda ucapannya terlebih dahulu. "Dan Alhamdulillah lancar," lirih Zada karena batinnya tidak pernah bisa berbohong.
Hari ini merupakan hari terberat untuk Zada. Dan mungkin saja, esok akan menjadi hari terberat untuk Zoya. Zada percaya, Zoya wanita yang kuat. Zada kemudian mengendus-endus wangi Zoya yang sudah menjadi candunya.
"Ih, Geli Mas. Kenapa sih, lagi manja banget? Hahaha," Zoya tergelak saat merasakan geli akibat ulah suaminya. Zada hanya tersenyum sendu menatap senyum Zoya yang begitu merekah dan penuh kebahagiaan.
Rasa-rasanya, Zada semakin tidak tega bila harus merusak kebahagiaan itu. Tapi, Zada harus berterus terang agar tidak menjadi masalah di kemudian hari. Zoya berhenti tertawa saat melihat Zada terdiam menatap dirinya.
"Kenapa Mas? Kok liatinnya begitu?" tanya Zoya penasaran. Zada segera tersadar dan tersenyum sendu. "Nggak papa. Memangnya salah ya? Kalau aku mau menatap istri sendiri? Habis, kamu cantik banget," puji Zada tulus.
Zoya tersenyum malu-malu mendapat pujian dari Zada. "Makasih ya, Mas. Aku memang beruntung memiliki suami seperti Mas Zada. Semoga, cinta kita sampai jannah-Nya,"
"Aamiin ya rabbal'alamin."
..............
Zada harus ke kantor dulu sebelum nanti sore menjemput Ghaida. Zada akan mengajak Ghaida tinggal bersama Zoya. Zada selalu dihantui rasa bersalah karena Sikapnya kemarin pada Zoya seperti mencerminkan laki-laki yang setia. Padahal, diam-diam Zada menikah lagi.
Hingga waktunya bekerja, Zada masih belum bisa mengembalikan fokusnya. Zada memikirkan sesuatu yang akan terjadi nanti. Seketika Zada menyebut nama Tuhannya. Dia sudah menduga-duga terlebih dahulu padahal Zada belum tahu apa rencana Allah SWT nanti.
"Astaghfirullahal'azdim. Ampuni hamba-Mu ini Ya Allah. Hamba percaya bahwa Engkau tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan Hamba-Mu. Maafkan Hamba yang sudah berprasangka yang tidak-tidak," monolog Zada menyesali pikiran buruknya.
Bukankah yang menentukan jalan hidup manusia adalah Tuhan? Lalu mengapa Zada harus khawatir? Zada menghela dan mengembuskan nafasnya beberapa kali. Dia berusaha untuk mengembalikan fokusnya kembali.
Zada harus menyelesaikan pekerjaannya. Dia cukup percaya bahwa Allah SWT selalu bersama dirinya.
Sore pun akhirnya tiba. Zada harus menjemput Ghaida yang masih berada di hotel. Tadi pagi, Zada sudah menyuruh Ghaida untuk mengemas barang-barangnya yang berada di rumah juga.
Rencananya, Zada akan menjemput Ghaida terlebih dahulu lalu, mengambil barang-barang Ghaida sekalian berpamitan pada kedua orangtua Ghaida. Tidak berapa lama, mobil Zada sudah terparkir di lobi hotel. Dia segera naik ke lantai atas tempat Ghaida berada.
Ting. Tong.
Zada menekan bel agar Ghaida membukakan pintu. Tidak berapa, pintu terbuka dari dalam.
Ceklek.
"Assalamualaikum Mas Zada." sapa Ghaida saat suami barunya sampai di hotel lagi. Dia menyalimi dan mencium punggung tangan Zada. "Waalaikumsalam Ghaida," Zada menjawabnya dan mengelus puncak kepala Ghaida yang tertutup kerudung.
Bagaimana pun, Zada harus adil pada kedua istrinya. Walau sejujurnya, Zada belum bisa mencintai Ghaida, gadis yang baru saja di temuinya.
Zada berjalan memasuki kamar hotel. "Sudah dibereskan semua kan?" tanya Zada saat melihat satu koper yang berada di pinggir ranjang tertutup rapat. "Sudah, Mas. Tinggal ke rumah ambil barang-barang Ghaida lalu pamit sama ayah dan bunda," jawab Ghaida sambil mempersembahkan senyum manisnya.
Tidak mengapa bukan? Zada adalah suami sahnya. Jadi, Ghaida boleh menunjukkan senyum manis di hadapan imamnya. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja," ucap Zada yang berhasil membuyarkan lamunan Ghaida.
"Baiklah, Mas."
Ghaida bergerak untuk menyeret kopernya. Namun hal itu segera dicegah oleh Zada. "Biar aku saja yang bawa. Kasihan kamu sama kandunganmu," Lalu, Zada mengambil alih koper yang sudah berada di tangan Ghaida.
Diam-diam, Ghaida mengulum senyumnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. 'Mas Zada memang suami idaman. Beruntungnya aku karena menjadi istrinya,' batin Ghaida merasa senang.
Lalu, Zada keluar kamar diikuti Ghaida. Kaki Zada terasa berat melangkah. Pikirannya mengatakan untuk menyembunyikan pernikahan keduanya. Namun, hatinya berkata bahwa Zada harus jujur. Jujur memang menyakitkan. Namun, Akan lebih berbahaya lagi jika Zoya tahu dari orang lain.
Lebih baik, Zada segera mengakui perbuatan dosanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
andi hastutty
wanita terbaik tidak akan merusak rumah tangga seseorang dan kepercayaan seorang istri.
2023-05-03
1
Eliyana Mobile
msh nyimak thorr
2023-01-24
0
maharastra
masih penasaran,,ghaida pasti anak bos zada
2022-12-12
0