Bab 9. Cemburu

Dari balkon kamarnya, Zoya menatap kepergian Zada yang mobilnya semakin menjauhi toko bunganya. Rasanya, Zoya ingin menangis. Baru saja Zoya menghabiskan waktunya beberapa menit dengan Zada, kini harus di ganggu oleh Ghaida.

Zoya ingin membenci Ghaida karena telah merebut semua yang Zoya miliki. Namun, Zoya selalu berpikir positif bahwa ini adalah ujian dalam rumah tangganya.

Namun jika Zoya boleh mengeluh, sebenernya Zoya hampir gila karena semuanya hilang dalam sekejab. Rumah tempat tinggalnya, suaminya, bahkan perhatian suaminya.

Tanpa terasa, cairan bening berhasil lolos dari sudut matanya. Inilah yang di khawatirkan dari suami yang berpoligami. Kadang, mereka tidak benar-benar adil dengan istri-istrinya. Dan itu terjadi dalam rumah tangga Zoya.

Zada tidak bisa berbuat adil dan lebih mementingkan istri keduanya. Sebenarnya, Zoya ingin sekali ikut Zada ke rumah sakit untuk memastikan Ghaida baik-baik saja. Entahlah, Zoya juga bingung pada dirinya sendiri.

Di satu sisi, Zoya begitu membenci Ghaida. Namun di sisi lain, ada rasa khawatir di hatinya apalagi mengetahui kondisi Ghaida yang sedang berbadan dua.

Zoya menghela nafasnya lelah. Dia memilih masuk karena udara malam semakin terasa dingin menusuk kulit. Zoya merebahkan tubuhnya di ranjang dengan posisi telentang.

Dia berpikir, malam ini Zoya akan tidur nyenyak karena ada suaminya. Namun, hal itu hanyalah angan-angan saja. Zoya memijat pelipisnya. Akhir-akhir ini Zoya sering merasakan pusing dan sakit kepala. Belum lagi perutnya juga kadang bergejolak.

Seperti saat ini, jika sedang banyak memikirkan masalahnya, Zoya mendadak mual. Karena sudah tidak tahan lagi, Zoya berlari kecil menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.

"Huek! Huek! Huek!"

Dengan susah payah Zoya mengeluarkan isi perutnya. Karena tidak banyak makanan yang terisi, perutnya semakin merasa kesakitan di area kerongkongan.

Setelah membasuh mulut dan wajahnya, Zoya kembali merebahkan diri. Namun sebelum itu, Zoya sudah mengambil minyak angin aromaterapi untuk mengurangi rasa mualnya. Akhir-akhir ini juga, Zoya tidak berselera makan dan cenderung mual terhadap bau-bau bumbu dapur dan bau menyengat lainnya.

"Aku harus periksa ke dokter. Takut gerd ku kambuh lagi. Huft." Zoya bermonolog lalu mengembuskan nafasnya panjang.

••••••••••••

Samar-samar Zoya mendengar azan subuh di kumandangkan. Zoya membuka matanya perlahan dan duduk untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawanya.

Setelah cukup, Zoya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berselang lama, Zoya sudah kembali dengan tubuh yang lebih segar. Zoya segera memakai mukenanya dan menggelar sajadah panjangnya.

Walau hanya sekejap Zoya berdiri, Zoya melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada pegangan hidup selain Allah SWT. Zoya akan menggantungkan harapan dan keinginannya hanya kepada-Nya.

Cukup lama Zoya larut dalam zikir paginya. Hingga matahari mulai beranjak, Zoya bergegas membuat sarapan untuk dirinya. Saat sudah sampai di dapur, Zoya memeriksa isi kulkas yang hanya berisi dua butir telur.

Tidak ada pilihan lain, Zoya hanya membuat scramble egg untuk menu sarapannya. Namun, saat aroma telur terhidu di indera penciumannya, Zoya kembali merasakan mual.

Zoya sampai menutup hidungnya rapat-rapat. Dengan sangat terpaksa, hari ini Zoya akan sarapan di area rumah sakit tempat dirinya akan memeriksa kondisi tubuhnya.

Mungkin disana, Zoya bisa mencari sarapan enak dan bergizi. Dan entah mengapa, tiba-tiba Zoya ingin makan rujak. Air liur Zoya seakan mau menetes membayangkan rasa asam pedas pada rujak.

Zoya melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit. Sebenarnya Zoya masih ada waktu untuk menyiram bunga-bunganya. Namun, Zoya sudah tidak sabar untuk mencari tukang rujak.

Tanpa berpikir panjang, Zoya segera mengambil tasnya dan berangkat menggunakan taksi online.

Sekitar setengah jam, Zoya sudah sampai di pelataran rumah sakit. Zoya masuk untuk mendaftar ulang karena Zoya sudah mendaftarnya semalam.

Setelah pendaftaran selesai, Zoya bergegas ke kantin rumah sakit. Rasa laparnya sudah tidak bisa di tunda lagi. Saat sampai di kantin, Zoya langsung memesan bubur ayam untuk sarapannya.

Untuk rujak, Zoya berani memakannya saat perutnya sudah terisi nasi atau makanan yang mengandung karbohidrat lainnya. Karena jika tidak, asam lambung atau gerd Zoya bisa kambuh lagi.

"Bubur ayam sama teh angetnya satu ya, Mbak. Tolong di antar ke meja nomor 1 ya, Mbak," ucap Zoya ramah dan menyunggingkan senyum hangatnya.

Setelah waiters mengiyakan, Zoya bergegas duduk menunggu makanannya. Tidak lama, bubur pesanannya datang. Zoya berdoa terlebih dahulu dan segera memakannya.

Bubur itu terasa lezat sekali di indera pengecapan Zoya. Bahkan, Zoya tidak sadar kalau buburnya sudah habis saking menikmatinya. Lalu, Zoya meneguk habis teh hangat pesanannya.

Saat Zoya akan beranjak untuk membayar makananya, tubuhnya tiba-tiba ada yang menabrak. "Aw!" Zoya mengaduh kesakitan pada area bahunya. "Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap seseorang yang menabrak Zoya.

Deg.

Jantung Zoya seperti mencelos dari tempatnya. Zoya mendongak dan melihat seseorang tadi sudah berjalan menjauh darinya. Zoya menatap punggung orang tersebut dengan tatapan yang .... Entahlah.

Zoya bergegas membayar pesanannya lalu mengikuti seseorang tersebut yang punggungnya masih bisa Zoya lihat. Dari kejauhan, Zoya bisa melihat seseorang tersebut masuk ke salah satu ruangan.

Zoya berjalan mendekati ruangan itu. Kebetulan, pintu ruangan itu terbuka hingga Zoya bisa dengan leluasa melihat kegiatan di dalamnya.

Tidak banyak ruang sekat di ruangan itu. Zoya bisa melihat sekitar 4 sekat menggunakan kelambu tinggi. Kebetulan, kelambu itu tidak di tutup sempurna. Pandangan Zoya jatuh pada dua manusia yang berhasil membuat hidup Zoya jungkir balik.

Samar-samar Zoya mendengar percakapan dua orang di dalam sana.

"Kamu makan dulu ya? Aku sudah belikan kamu bubur ayam. Di makan ya ... Biar tenaga kamu terisi lagi," suara Zada terdengat sangat perhatian.

"Aku mau Mas Zada menyuapiku. Aku masih sangat lemas, Mas," Itu merupakan suara Ghaida yang terdengar seperti rengekan. Zoya mengepalkan tangannya di samping badan.

'Istri pertama memang sudah tidak menarik lagi hingga mas Zada lebih memilih menemani Ghaida,' batin Lea merasa kecewa.

Untuk menyelamatkan hatinya dari rasa sakit berkepanjangan, Zoya memilih pergi. Zoya tidak sanggup jika harus melihat kemesraan Zada dan Ghaida.

Zoya berbalik dan berjalan tergesa-gesa. Namun, Zoya merasa kepalanya membentur seseorang. Zoya mendongak dan mendapati seseorang ada di depannya. "Maaf, Pak. Saya nggak sengaja karena terburu-buru," ucap Zoya merasa bersalah dan mundur beberapa langkah.

Zoya sedikit segan karena lelaki yang berdiri di depannya menggunakan setelan polisi. Dan saat Zoya melihat tanda di lengannya, Zoya semakin menciut karena lelaki di depannya memiliki pangkat yang sudah tinggi.

"Tidak apa-apa. Saya juga sedang terburu-buru. Mbak tidak apa-apa kan?" tanya polisi itu memastikan. Zoya menggeleng pelan. "Saya nggak papa, Pak. Saya baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Pak," pamit Zoya melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari seorang polisi tersebut.

Namun, baru beberapa langkah Zoya berjalan, namanya di panggil oleh Zada yang sudah berada di ambang pintu. "Zoya!" Zoya menghentikan langkah dan memejamkan matanya untuk membuang amarahnya yang sebentar lagi terlampiaskan.

Terpopuler

Comments

Hikmah Araffah

Hikmah Araffah

wah keknya pak pol bakal jadi suami.km zoy

2023-11-15

1

Abinaya Albab

Abinaya Albab

itu yg kamu tabrak pak pol berpangkat jodohmu berikutnya zoy 🤭

2023-09-02

0

andi hastutty

andi hastutty

aduh Zoya ditabrak ma suaminya malah tidak dikenali kasian banget Zoya 😭😭😭

2023-05-03

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!