Dari balkon kamarnya, Zoya menatap kepergian Zada yang mobilnya semakin menjauhi toko bunganya. Rasanya, Zoya ingin menangis. Baru saja Zoya menghabiskan waktunya beberapa menit dengan Zada, kini harus di ganggu oleh Ghaida.
Zoya ingin membenci Ghaida karena telah merebut semua yang Zoya miliki. Namun, Zoya selalu berpikir positif bahwa ini adalah ujian dalam rumah tangganya.
Namun jika Zoya boleh mengeluh, sebenernya Zoya hampir gila karena semuanya hilang dalam sekejab. Rumah tempat tinggalnya, suaminya, bahkan perhatian suaminya.
Tanpa terasa, cairan bening berhasil lolos dari sudut matanya. Inilah yang di khawatirkan dari suami yang berpoligami. Kadang, mereka tidak benar-benar adil dengan istri-istrinya. Dan itu terjadi dalam rumah tangga Zoya.
Zada tidak bisa berbuat adil dan lebih mementingkan istri keduanya. Sebenarnya, Zoya ingin sekali ikut Zada ke rumah sakit untuk memastikan Ghaida baik-baik saja. Entahlah, Zoya juga bingung pada dirinya sendiri.
Di satu sisi, Zoya begitu membenci Ghaida. Namun di sisi lain, ada rasa khawatir di hatinya apalagi mengetahui kondisi Ghaida yang sedang berbadan dua.
Zoya menghela nafasnya lelah. Dia memilih masuk karena udara malam semakin terasa dingin menusuk kulit. Zoya merebahkan tubuhnya di ranjang dengan posisi telentang.
Dia berpikir, malam ini Zoya akan tidur nyenyak karena ada suaminya. Namun, hal itu hanyalah angan-angan saja. Zoya memijat pelipisnya. Akhir-akhir ini Zoya sering merasakan pusing dan sakit kepala. Belum lagi perutnya juga kadang bergejolak.
Seperti saat ini, jika sedang banyak memikirkan masalahnya, Zoya mendadak mual. Karena sudah tidak tahan lagi, Zoya berlari kecil menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Huek! Huek! Huek!"
Dengan susah payah Zoya mengeluarkan isi perutnya. Karena tidak banyak makanan yang terisi, perutnya semakin merasa kesakitan di area kerongkongan.
Setelah membasuh mulut dan wajahnya, Zoya kembali merebahkan diri. Namun sebelum itu, Zoya sudah mengambil minyak angin aromaterapi untuk mengurangi rasa mualnya. Akhir-akhir ini juga, Zoya tidak berselera makan dan cenderung mual terhadap bau-bau bumbu dapur dan bau menyengat lainnya.
"Aku harus periksa ke dokter. Takut gerd ku kambuh lagi. Huft." Zoya bermonolog lalu mengembuskan nafasnya panjang.
••••••••••••
Samar-samar Zoya mendengar azan subuh di kumandangkan. Zoya membuka matanya perlahan dan duduk untuk mengumpulkan sisa-sisa nyawanya.
Setelah cukup, Zoya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak berselang lama, Zoya sudah kembali dengan tubuh yang lebih segar. Zoya segera memakai mukenanya dan menggelar sajadah panjangnya.
Walau hanya sekejap Zoya berdiri, Zoya melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada pegangan hidup selain Allah SWT. Zoya akan menggantungkan harapan dan keinginannya hanya kepada-Nya.
Cukup lama Zoya larut dalam zikir paginya. Hingga matahari mulai beranjak, Zoya bergegas membuat sarapan untuk dirinya. Saat sudah sampai di dapur, Zoya memeriksa isi kulkas yang hanya berisi dua butir telur.
Tidak ada pilihan lain, Zoya hanya membuat scramble egg untuk menu sarapannya. Namun, saat aroma telur terhidu di indera penciumannya, Zoya kembali merasakan mual.
Zoya sampai menutup hidungnya rapat-rapat. Dengan sangat terpaksa, hari ini Zoya akan sarapan di area rumah sakit tempat dirinya akan memeriksa kondisi tubuhnya.
Mungkin disana, Zoya bisa mencari sarapan enak dan bergizi. Dan entah mengapa, tiba-tiba Zoya ingin makan rujak. Air liur Zoya seakan mau menetes membayangkan rasa asam pedas pada rujak.
Zoya melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6 lewat 30 menit. Sebenarnya Zoya masih ada waktu untuk menyiram bunga-bunganya. Namun, Zoya sudah tidak sabar untuk mencari tukang rujak.
Tanpa berpikir panjang, Zoya segera mengambil tasnya dan berangkat menggunakan taksi online.
Sekitar setengah jam, Zoya sudah sampai di pelataran rumah sakit. Zoya masuk untuk mendaftar ulang karena Zoya sudah mendaftarnya semalam.
Setelah pendaftaran selesai, Zoya bergegas ke kantin rumah sakit. Rasa laparnya sudah tidak bisa di tunda lagi. Saat sampai di kantin, Zoya langsung memesan bubur ayam untuk sarapannya.
Untuk rujak, Zoya berani memakannya saat perutnya sudah terisi nasi atau makanan yang mengandung karbohidrat lainnya. Karena jika tidak, asam lambung atau gerd Zoya bisa kambuh lagi.
"Bubur ayam sama teh angetnya satu ya, Mbak. Tolong di antar ke meja nomor 1 ya, Mbak," ucap Zoya ramah dan menyunggingkan senyum hangatnya.
Setelah waiters mengiyakan, Zoya bergegas duduk menunggu makanannya. Tidak lama, bubur pesanannya datang. Zoya berdoa terlebih dahulu dan segera memakannya.
Bubur itu terasa lezat sekali di indera pengecapan Zoya. Bahkan, Zoya tidak sadar kalau buburnya sudah habis saking menikmatinya. Lalu, Zoya meneguk habis teh hangat pesanannya.
Saat Zoya akan beranjak untuk membayar makananya, tubuhnya tiba-tiba ada yang menabrak. "Aw!" Zoya mengaduh kesakitan pada area bahunya. "Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap seseorang yang menabrak Zoya.
Deg.
Jantung Zoya seperti mencelos dari tempatnya. Zoya mendongak dan melihat seseorang tadi sudah berjalan menjauh darinya. Zoya menatap punggung orang tersebut dengan tatapan yang .... Entahlah.
Zoya bergegas membayar pesanannya lalu mengikuti seseorang tersebut yang punggungnya masih bisa Zoya lihat. Dari kejauhan, Zoya bisa melihat seseorang tersebut masuk ke salah satu ruangan.
Zoya berjalan mendekati ruangan itu. Kebetulan, pintu ruangan itu terbuka hingga Zoya bisa dengan leluasa melihat kegiatan di dalamnya.
Tidak banyak ruang sekat di ruangan itu. Zoya bisa melihat sekitar 4 sekat menggunakan kelambu tinggi. Kebetulan, kelambu itu tidak di tutup sempurna. Pandangan Zoya jatuh pada dua manusia yang berhasil membuat hidup Zoya jungkir balik.
Samar-samar Zoya mendengar percakapan dua orang di dalam sana.
"Kamu makan dulu ya? Aku sudah belikan kamu bubur ayam. Di makan ya ... Biar tenaga kamu terisi lagi," suara Zada terdengat sangat perhatian.
"Aku mau Mas Zada menyuapiku. Aku masih sangat lemas, Mas," Itu merupakan suara Ghaida yang terdengar seperti rengekan. Zoya mengepalkan tangannya di samping badan.
'Istri pertama memang sudah tidak menarik lagi hingga mas Zada lebih memilih menemani Ghaida,' batin Lea merasa kecewa.
Untuk menyelamatkan hatinya dari rasa sakit berkepanjangan, Zoya memilih pergi. Zoya tidak sanggup jika harus melihat kemesraan Zada dan Ghaida.
Zoya berbalik dan berjalan tergesa-gesa. Namun, Zoya merasa kepalanya membentur seseorang. Zoya mendongak dan mendapati seseorang ada di depannya. "Maaf, Pak. Saya nggak sengaja karena terburu-buru," ucap Zoya merasa bersalah dan mundur beberapa langkah.
Zoya sedikit segan karena lelaki yang berdiri di depannya menggunakan setelan polisi. Dan saat Zoya melihat tanda di lengannya, Zoya semakin menciut karena lelaki di depannya memiliki pangkat yang sudah tinggi.
"Tidak apa-apa. Saya juga sedang terburu-buru. Mbak tidak apa-apa kan?" tanya polisi itu memastikan. Zoya menggeleng pelan. "Saya nggak papa, Pak. Saya baik-baik saja. Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Pak," pamit Zoya melenggang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari seorang polisi tersebut.
Namun, baru beberapa langkah Zoya berjalan, namanya di panggil oleh Zada yang sudah berada di ambang pintu. "Zoya!" Zoya menghentikan langkah dan memejamkan matanya untuk membuang amarahnya yang sebentar lagi terlampiaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Hikmah Araffah
wah keknya pak pol bakal jadi suami.km zoy
2023-11-15
1
Abinaya Albab
itu yg kamu tabrak pak pol berpangkat jodohmu berikutnya zoy 🤭
2023-09-02
0
andi hastutty
aduh Zoya ditabrak ma suaminya malah tidak dikenali kasian banget Zoya 😭😭😭
2023-05-03
0