Siang ini, Zada masih berada di rumah Zoya. Masalah Ghaida yang hamil bukan anak Zada, dia hanya menceritakan sekilas dari mana asal-usul Ghaida hamil. Ghaida mengalami pele*cehan hingga berujung hamil.
Selebihnya, Zada belum ingin bercerita terlalu jauh. Zoya berusaha memaklumi walau dalam benaknya timbul rasa keingintahuan yang tinggi. Tapi, melihat raut wajah Zada yang begitu berat saat menceritakannya, Zoya menjadi tidak tega.
"Mas, tadi pagi aku belum sempat siram bunga. Aku akan melakukannya sekarang," ucap Zoya berpamitan. Zada yang duduk di seberang Zoya juga ikut beranjak. "Aku ikut ya?" jawab Zada lalu mengekori Zoya saat Zoya mengangguk menyetujui.
Sesampainya di bawah, Zoya bergegas mengisi alat penyemprot bunganya dengan air. Setelah itu, Zoya mulai menyemprotkan airnya pada bunga-bunganya yang bermekaran. "Cantik seperti kamu ya," ucap Zada yang sudah berada di belakang Zoya.
Zoya menoleh dan mengernyit heran. "Apanya yang cantik, Mas?" tanya Zoya polos. Zada terkekeh lalu tangannya bergerak untuk mengacak rambut Zoya. "Kamu yang cantik. Habis ini, kita makan siang dimana?" tanya Zada dengan maksud ingin mengajak Zoya pergi makan bersama.
Zoya menggercapkan matanya beberapa kali untuk mencerna kalimat suaminya. "Kita mau makan di luar?" tanya Zoya dengan binar di matanya. Zada tersenyum dan mengangguk senang melihat Zoya yang begitu antusias.
Sesuai rencana, Zoya dan Zada akan makan di restoran terdekat. Sejak berada di mobil, Zoya tidak berhenti tersenyum sambil tangannya mengelus perutnya yang masih rata. 'Lihatlah, Nak. Kamu bahagia kan? Bisa pergi bersama ayahmu?' batin Zoya terharu.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Zada melirik sekilas lalu fokus lagi berkendara. Zoya mengangguk dan tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-giginya yang putih.
Zada terkekeh dan menarik tangan Zoya untuk dirinya genggam. Zada juga mengecup punggung tangan istrinya beberapa kali. Batin Zoya sudah meronta-ronta ingin sekali berteriak bahagia. Namun kenyataannya, Zoya hanya bisa merasakan pipinya yang panas karena sudah bersemu merah.
Tidak berapa lama, keduanya sampai di sebuah restoran bernuansa Sunda. Setelah turun, Zada menautkan jari-jarinya pada jari Zoya. Zoya menatap tangannya yang sudah bertaut dengan jari Zada dengan perasaan berbunga-bunga. Zadanya tidak pernah berubah walau sudah menikah lagi.
Zoya tersenyum bodoh mengingatnya.
Bagai mendapat durian runtuh, kebahagiaan Zoya tidak sampai di situ saja. Setelah makan, Zada mengajaknya berkeliling mall. "Kita kesana ya, Sayang," tunjuk Zada pada butik muslimah yang tentunya menjual baju-baju muslimah.
Zoya menatap suaminya heran. Namun tak urung, Zoya tetap mengikuti langkah suaminya. "Kamu suka warna apa? Kamu bisa pilih baju sesukamu disini," ucap Zada menatap Zoya dengan senyum hangatnya.
Zoya menghentikan langkahnya untuk menatap Zada. "Aku beli baju disini?" tanya Zoya antara percaya dan tidak. Zada mengangguk santai. "Paksaannya masih berlaku kan?" tanya Zada menarik turunkan alisnya.
Seketika Zoya teringat akan ucapannya saat Zada membawa pulang Ghaida. Dia pernah mengatakan, mengapa Zada tidak memaksanya untuk memakai hijab? Lamunannya tersentak saat Zada memberikan usapan lembut di puncak kepalanya. "Mau ya? Aku paksa pakai hijab?" Zada berucap lembut lengkap dengan senyum manisnya.
Zoya mana bisa menolak jika suaminya sudah mode merayu semanis itu? Bagai kerbau yang di colok hidungnya, Zoya mengangguk mengiyakan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zada segera menarik tangan Zoya lembut untuk memilih baju dan gamis yang cocok untuknya.
Butuh waktu satu jam untuk Zoya menemukan baju yang cocok yang tentunya atas saran dari Zada juga. Zada segera membawa barang belanjaan menuju kasir untuk membayar. Setelah barang-barang berpindah ke paperbag dan Zada membayar, keduanya keluar butik dengan Zada yang memeluk pinggang Zoya posesif.
"Mulai besok, kamu harus pakai baju yang habis kita beli ya ... Aku mau mode maksa demi kebaikan kamu,"
Zoya mendongak saat suaminya itu berbisik di telinganya. "Iya, insyaAllah aku akan pakai itu semua,"
_______
"Toko bunga hari ini tutup ya?" tanya Zada yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Zoya mendengus pelan, mengabaikan pertanyaan Zada dan segera membuka pintu rumahnya.
Zoya bergegas masuk diikuti oleh Zada. Namun, langkah Zoya terhenti saat Zada menarik tangannya dan tiba-tiba saja, tubuhnya di angkat untuk duduk di meja kasir. "Mas! Apaan sih ... Aku kaget loh, Mas!" ketus Zoya merasa kesal.
Zada tersenyum lebar seakan tidak peduli dengan protes yang Zoya lemparkan. "Jangan naik dulu. Aku mau kasih tahu kamu sesuatu," ucap Zada, menatap Zoya lekat. "Kasih tahu apa lagi?" rengek Zoya merasa jengah karena di sepanjang perjalanan pulang, Zoya di ceramahi panjang lebar oleh Zada. Yang tentunya seputar wanita yang harus menutup aurat.
"Kamu tahu, alasan mengapa bila laki-laki meninggal dunia, liang kuburnya harus digali sedalam lima kaki? Sedangkan kuburan wanita digali sedalam tujuh kaki?" tanya Zada sambil memperhatikan raut wajah lawan bicaranya.
Zoya menggeleng keras. Dia sama sekali tidak mengetahui alasan dibaliknya. "Memang, apa alasannya?" tanya Zoya mulai tertarik dengan pembahasan Zada.
"Tujuannya adalah, apabila ada banjir bandang, jasad wanita tidak akan mengapung hingga memperlihatkan auratnya. Allah begitu memuliakan seorang wanita walau nyawa sudah berpisah dengan raga. Jadi, jagalah keindahan tubuhmu dengan menutup aurat,"
Zoya takjub dengan penjelasan suaminya. Dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Memang benar, Islam begitu memuliakan seorang wanita dengan memerintahkan untuk menutup auratnya. "Insya Allah aku akan berubah, Mas," putus Zoya pada akhirnya.
Biarlah dia terpaksa menggunakan hijabnya. Itu akan lebih baik daripada dia sukarela membuka auratnya. Ibarat kata, lebih baik di paksa masuk surga daripada dengan sukarela masuk neraka.
Zada tersenyum haru. Ucapannya berhasil membuat Zoya terbuka pintu hatinya. "Pinter ... Gitu dong. Kan aku jadi makin cinta," ucap Zada sambil mencolek hidung mancung Zoya. Zoya balas tersenyum menatap suaminya.
Tangan Zada bergerak mengelus pipi Zoya. Sebuah sentuhan yang membuat Zoya terhanyut sampai memejamkan mata merasakan tangan lembut Zada menyapu pipinya.
"Zoya?" Zada memanggil dengan penuh kelembutan. "Hm?" jawab Zoya masih dengan memejamkan mata. "Bisakah kamu menerima keadaanku yang sekarang?"
Zoya langsung membuka matanya. Pikiran Zoya menjadi tidak karuan saat mendapat pertanyaan seperti itu. Otaknya berpikir keras hingga menciptakan pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa di jawab oleh Zada.
"Apakah yang sejak tadi Mas Zada lakukan hanya untuk membuatku rela dimadu? Sikap manis dan romantis yang Mas Zada berikan hanya untuk membuatku luluh?" Dengan susah payah Zoya menelan salivanya.
Zoya pikir, Zada tulus melakukannya. Namun siapa sangka, bahwa ada maksud terselubung di dalamnya. Wajah Zada berubah gelagapan. "Bukan seperti itu, Zoya. Kamu salah paham,"
Zoya membuang muka dan turun dari meja. Kakinya mulai melangkah menuju anak tangga. "Pulanglah, Mas. Jangan tanyakan aku tentang itu. Aku tidak akan pernah rela untuk berbagi suami walau aku mendapat jaminan surga."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
terima kasih untuk dukungan kalian😍
yuk, terus dukung sampai tamat ya😁🙈
readers bilek: nggak tau diri banget si othor
othor: nggak papa lah nggak tau diri. karena dukungan kalian memang sangat berarti😘
aku terhura melihat antusias kalian😭
makasih banget ya😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
andi hastutty
setuju Zoya biarpun jaminan surga ngga rela di madulah banyak cara menuju surga bukan menyiksa hati
2023-05-04
1
Windarti08
setuju👍👍👍 jangan dipaksa istri harus menerima suami poligami walaupun balasannya Surga. percuma kalau ikhlasnya hanya dimulut tapi hatinya luka tak berdarah. meskipun poligami masuk dalam syariat tapi menjalani pun tak kalah berat. hanya orang-orang terpilih yg sanggup menjalaninya
2023-01-13
0
Tati Suwarsih Prabowi
bisa masuk surga itu bkn hanya dari stu...masih banyak kebaikan2 yg lain yg bisa menghantarkan kita maduk SurgaNya
2023-01-12
0