Setelah berpikir semalaman suntuk, Zoya memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia tidak akan sanggup melihat suaminya tertawa bersama wanita lain. Zoya akan pergi setelah berpamitan dulu dengan suaminya.
Ya, Zada tetap akan mempertahankan Zoya dan tidak akan pernah mengucapkan talak untuk Zoya. Baji*ngan bukan? Tapi, itulah Zada. Zoya tidak mau sakit hati terlalu banyak sehingga dia memutuskan untuk pergi. Walau nanti, Zada pasti akan mencegahnya.
Zoya sudah tidak peduli. Dia ingin egois untuk urusan seperti ini. Saat bangun tidur, tubuh Zoya sangat lelah dan lemas. Mungkin karena efek menangis semalaman dan baru bisa tertidur saat pukul 2 dini hari.
Zoya sudah tidak se-berantakan semalam. Dia sudah mandi dan berganti baju. Dalam renungan panjangnya, Zoya sudah bertekad untuk kuat. Dia tidak boleh lemah hanya karena cinta.
Zoya keluar kamar setelah memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam koper. Dia akan sarapan bersama Zada untuk terakhir kalinya, Mungkin. Karena Zoya tidak yakin setelah ini mau menemui Zada. Hatinya masih begitu sakit dan terluka.
Belum kering luka yang Zoya rasakan, dia sudah melihat adegan yang membuat dadanya sesak. Zada sedang membantu menepuk punggung Ghaida yang sedang muntah-muntah. Zoya berdecih dan tersenyum masam.
Dia melanjutkan langkah meniti anak tangga hingga Zoya sampai di meja makan. Zoya menoleh pada dua manusia pengantin baru yang tidak menyadari kehadirannya. 'Ghaida benar-benar sudah menggeser posisiku. Mas Zada sampai tidak menyadari jika aku sudah berada di sini,' batin Zoya merasa sakit hati.
Zoya berusaha tak acuh dan memakan sarapannya. Begitu banyak makanan yang ada di meja. Zoya teringat sesuatu dan menghentikan gerakannya. Dia menatap satu persatu piring yang berisi lauk dan sayur. Zoya langsung meletakkan sendoknya kembali. Zoya semakin tidak berselera walau tadi pun, Zoya sama sekali tidak ada niatan untuk makan.
Zoya bisa menduga bahwa yang memasak makanan sebanyak ini adalah Ghaida. Sungguh, Zoya merasa tidak ada apa-apanya di banding Ghaida. Dia sudah kalah telak dari Ghaida. 'Ghaida bisa segalanya, sedangkan aku? Entahlah.' batin Zoya meratapi nasib buruknya.
Tapi, hidup harus tetap berjalan. Dunia akan baik-baik saja walau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Zoya harus makan walau harus dipaksakan.
Tanpa Zoya duga, Zada dan Ghaida menoleh bersamaan saat mendengar suara sendok di letakkan kembali. Zoya yang sadar, melirik sekilas dan berucap. "Maaf, sendokku menganggu aktifitas kalian. Silahkan lanjutkan. Aku akan pergi tanpa kalian suruh," ucap Zoya kalau beranjak dari kursi.
Saat akan berbalik, ada tangan yang mencekal lengannya. Zoya menatap tangan yang memegang tangannya. Dia mendongak dan mendapati Ghaida mencegah dirinya untuk pergi. "Apa?" tanya Zoya datar. Zoya tidak mau berpura-pura baik-baik saja. Dia sangat kecewa dan terluka.
"Mbak, makan dulu ya. Aku sudah siapkan sarapan untuk kita," ucap Ghaida lembut dan mengulas senyum manisnya. "Nggak. Aku nggak lapar," ketus Zoya berbalik lalu akan beranjak pergi. Namun hal itu urung karena suara Zada sudah menginterupsi. "Hargai Ghaida, Zoya!" bentak Zada dengan suara tegasnya.
Zoya mengepalkan tangannya di samping tubuh. Zada tidak pernah membentaknya. Tapi kali ini, dengan lantangnya Zada membentaknya. Air mata Zoya jatuh tak terbendung. Air bah yang dari semalam berusaha Zoya habiskan nyatanya tidak sepenuhnya kering.
Zoya berbalik dan menatap Zada dengan air mata bercucuran. Cukup lama Zoya menatap Zada yang menatap dirinya nyalang. "Baiklah. Jika itu maumu. Aku akan hargai Ghaida sebagai sesama wanita. Dan dengan ini, aku akan menyerahkan seutuhnya tugasku pada Ghaida. Dia wanita yang cocok menjadi istrimu, Mas. Tidak seperti aku. Jadi—" ucap Zoya sengaja menjeda ucapannya.
Menunggu reaksi dua manusia di depannya yang tidak memiliki simpati kepadanya.
Dengan sekuat tenaga, Zoya melanjutkan ucapannya. "Jadi, aku pamit undur diri. Tugasku sudah selesai. Silahkan nikmati masa-masa indah kalian disini. Aku tidak akan mengganggunya. Hari ini, aku memutuskan tidak akan tinggal dengan kalian. Aku akan pergi,"
Zoya menyeka air matanya dan memasang senyum di paksakan. "Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Zoya mencoba untuk berlapang dada. Setelah itu, Zoya segera menaiki anak tangga untuk mengambil barang-barangnya.
Dia akan pergi. Zoya tidak tahu apa dirinya akan kembali lagi atau tidak. Untuk saat ini, Zoya ingin mencari kedamaian hati. Zoya ...." panggil Zada dengan tenggorokan yang tercekat. Zoya menoleh. "Ya, Mas?" jawab Zoya masih mengulas senyum palsunya.
"Dengarkan aku dulu ...." pinta Zada penuh penyesalan karena sudah membentak Zoya. Zoya menggeleng lemah. "Nggak, Mas. Nggak ada yang harus aku dengar lagi. Karena setiap aku mendengar ucapan dari mulutmu, aku selalu merasa terluka. Lebih baik aku menutup telingaku,"
Tanpa mau membuang waktu, Zoya berlari kecil menaiki anak tangga. Tidak berapa lama, Zoya kembali dengan menyeret koper besarnya. Setelah berada di lantai bawah, Ghaida mencegahnya. "Jangan pergi, Mbak. Biar aku yang pergi. Mbak nggak pantas pergi. Aku yang lebih pantas," pinta Ghaida yang mulai menitikkan air mata.
Zoya terdiam tanpa berminat untuk menjawabnya. "Sudah? Aku pergi ya. Titip mas Zada. Jangan lupa urus semua keperluannya," Zoya berpesan tulus pada Ghaida. Tanpa menoleh pada Zada, Zoya pergi meninggalkan rumah yang sebenar-benarnya 'Rumah'.
Jika Zada tidak mau menalaknya, biarlah Zoya menjalani surga di atas laranya. Lara yang Zoya rasakan mungkin tidak akan sembuh dengan cepat. Tapi, Zoya akan berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Tidak terasa, Zoya sudah berada di gerbang depan. Sebelum benar-benar pergi, Zoya menatap rumahnya sekali lagi. Rumah yang begitu banyak meninggalkan kenangan pahit dan manis. Seketika, kenangan saat dirinya bersama Zada berputar di kepala kayaknya kaset kusut.
"Selamat tinggal 'rumah'."
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Hanya sekitar 45 menit, Zoya akhirnya sampai di tempat tujuan, yaitu toko bunga sekaligus rumah barunya. Dulu, Zoya lahir dan di besarkan di rumah yang sudah merangkap menjadi toko bunga milik keluarganya.
Zoya bersyukur karena dia tidak menjualnya. Zoya bergegas masuk dan menaiki anak tangga dimana ada satu kamar, kamar mandi, dan ruang tamu. Cukup luas.
Untuk area bawah, Zoya gunakan untuk menjual bunga-bungannya. Zoya tidak perlu bersih-bersih terlalu ekstra karena dia sudah membersihkannya setiap hari.
Zoya langsung merebahkan diri. Dia memilih untuk menutup toko bunganya beberapa hari ke depan. Zoya ingin menenangkan diri dan menata hatin terlebih dahulu.
Rasa sesak di dadanya belum juga mereda. Zoya menatap langit-langit ruangan yang hanya berurukuran 3×4 meter itu. Baru saja Zoya menjadi seorang permaisuri, kini semua itu sudah di ambil alihkan.
Bodohnya, di saat-saat seperti ini, Zoya merindukan suaminya. Air mata kembali membasahi pipi yang terlihat pucat dari biasanya itu. Sulit sekali mengendalikan diri untuk tidak menangis. Zoya merasa, dirinya sedang dalam masa rapuh-rapuhnya.
Rumah tangga yang dibangun tiga tahun terakhir ini, begitu meninggalkan duka dan sesak yang mendalam. "Mas Zada jahat. Jahat banget ...."
Setelah itu, hanya ada suara isakan yang terdengar pilu.
Karena lelah menangis dan semalaman Zoya tidak tidur, akhirnya Zoya terlelap untuk melupakan masalah hidupnya sejenak. Ya. walau sejenak, itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Endang Supriati
siapa bilang istri hamil bisa dicerai atau menceraikan, masa iddah sampai dia melahirkan!
2024-02-01
0
andi hastutty
klo Zoya hamil ngga bisa mengugat
2023-05-03
0
Eliyana Mobile
semoga Zoya kuat 💪🥺😭
2023-01-24
0