"Jangan senang dulu. Aku cuma kasihan sama kalian berdua. Aku nggak akan tinggal disini, tenang aja. Aku akan tetap pulang," ucap Zoya sesaat setelah pak Rama dan bu Maya pergi.
"Zoya?" panggil Zada lembut. Tatapan Zoya beralih menatap Zada penuh tanya. "Biar aku antar. Ini sudah malam dan tidak banyak sopir taksi yang mau menerima penumpang," sambung Zada dengan membalas tatapan Zoya.
Zoya ingin menolak namun, Zada sudah kembali bersuara dan memaksanya. "Tolong, menurutlah. Ini sudah malam dan tidak baik bila seorang wanita masih berada di jalan sendirian,"
"Iya, Mbak. Biar Mas Zada yang antar," desak Ghaida ikut menyahut.
Zoya tersenyum masam. "Nggak usah. Lagian baru jam 9. Belum terlalu malam. Aku pulang ...." Tanpa menunggu jawaban, Zoya berlalu begitu saja.
Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Zoya terus menatap ke luar jendela. Pemandangan di malam hari membuat Zoya nyaman untuk menatap jalanan yang tidak pernah lengang.
Kerlap-kerlip lampu dari ruko-ruko di pinggiran jalan membuat mata Zoya terasa di manjakan. Zoya sangat menyukai suasana malam seperti ini. Zoya seperti mendapat ketenangan untuk hatinya.
Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Zoya. Sekuat dan setabah apapun Zoya, dia tidak bisa menutupi rasa sakit secara terus-menerus. Zoya harus mulai memikirkan hidupnya ke depan. Zoya tidak bisa berada dalam jurang penderitaan terlalu lama.
Entah apa alasan Zada melakukan ini semua. Yang pasti, Zoya sudah begitu kecewa dengan Zada. Lagi-lagi Zoya mengembuskan nafasnya kasar. Bersamaan dengan itu, mobil taksi sudah berhenti di pelataran rumahnya.
Zoya bergegas turun dan membayar tagihan. Setelah taksi itu berlalu, Zoya berjalan sambil mencari kunci rumah yang berada dalam tasnya. Setelah ditemukan, Zoya segera memasukkan kunci pada lubangnya.
Klik.
"Assalamualaikum, Mbak ...."
Zoya berjenggit kaget. Baru satu kali Zoya memutar kunci, tiba-tiba dia di kejutkan dengan suara berat milik seorang pria dari arah belakang. Zoya menoleh untuk melihat siapa yang menyapa dirinya.
"Eh! Bukannya—" ucap Zoya terhenti dengan jari telunjuk mengarah pada seorang pria di hadapannya. "Waalaikumsalam." Zoya menyambung lagi karena belum menjawab salam dari pria tersebut.
"Perkenalkan,nama saya Zaky Firdausyah. Maaf bila kedatangan saya mengagetkan, Mbak. Apakah benar, toko Mbak—, menjual bunga?" ucap pria bernama Zaky itu sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
"Panggil saja, Zoya. Iya, saya jual bunga, Pak. Pak Polisi mau beli?" tanya Zoya langsung pada intinya. Pak Polisi bernama Zaky itu mengangguk dan tersenyum. Ya, Zaky adalah polisi yang ditemui Zoya saat di rumah sakit.
Bedanya, sekarang Zaky tidak memakai baju dinasnya. Dia memakai jaket bomber berwarna hitam dan kaos dalaman berwarna putih. Sedangkan untuk celana, dia menggunakan celana jeans berwarna hitam. Penampilan kasual justru menambah kesan tampan untuk Zaky. "Saya ingin membeli bunga kesukaan istri saya. Bunga mawar kuning,"
Zoya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Toh, mau mawar kuning atau merah, bukankah itu bukan urusan Zoya? batin Zoya berbicara. "Sebentar ya, Pak. Saya buka dulu tokonya," ucap Zoya mulai membuka pintu lagi. Setelah itu, Zoya membuka pintu geser tokonya untuk mempersilahkan Zaky masuk dan memilih bunganya.
"Silahkan, Pak." ujar Zoya mempersilahkan.
Zaky mengangguk dan masuk menuju rak-rak bunga yang masih segar karena di petik langsung dari sumbernya. Zoya berjalan menuju meja kasir dan meletakkan tasnya di atas meja.
Zoya terus memperhatikan Zaky yang sedang memilih bunga. Seperti sadar sedang di tatap, Zaky mendongak menatap Zoya. Saat pandangan keduanya beradu, Zoya langsung membuang muka asal. Zoya menunduk dan pura-pura sibuk dengan komputer di depannya. Sedangkan Zaky, dia mengulum senyum melihat Zoya yang salah tingkah.
"Ini, Mbak. Lima tangkai saja. Di pisah jadi dua ikat sesuai warna ya, Mbak," ucap Zaky sambil menyodorkan tiga tangkai mawar kuning dan dua tangkai mawar merah. Zoya mengernyit heran. 'Bukankah tadi dia mengatakan istrinya suka mawar kuning? Lalu, yang warna merah untuk siapa?' batin Zoya bertanya-tanya.
"Mbak?" Sentak Zaky karena Zoya justru melamun. Zoya tersentak dan segera menghitung totalannya. "Sebentar, Pak. Saya hitung dulu," ucap Zoya yang otaknya sudah kosong karena terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dirinya pikirkan.
Zaky tersenyum dan memandang wajah Zoya. "Lagi banyak masalah ya, Mbak?" tanya Zaky mencoba mengakrabkan diri. Zoya mendongak menatap Zaky kaget. Namun, sesegera mungkin Zoya membuang tatapan itu. "Ya gitu lah, Pak. Resiko jadi istri pertama," jawab Zoya yang mulai terbawa suasana.
"Istri pertama? Jadi, yang sedang terbaring di rumah sakit waktu itu, istri keduanya?" tanya Zaky begitu saja. Entah mengapa, Zaky merasa ingin mengenal lebih dekat dengan wanita di hadapannya.
Zoya tertawa. "Ya begitulah lah, Pak. Suami saya nikah lagi tanpa izin dulu ke saya. Kecewa banget rasanya," ucap Zoya tanpa sadar mulai mengeluarkan unek-uneknya. Mungkin, karena efek tidak punya bahu untuk bersandar, Zoya menjadi mudah bercerita dengan orang yang baru saja di kenal dan mau bertanya masalah hidupnya.
Zoya juga bingung. Mengapa semua mengalir begitu saja tanpa paksaan.
"Mbak masih cinta sama suami, Mbak?" tanya Zaky mulai larut dalam pembicaraan. Zoya mengangguk lemah. "Saya sangat mencintai suami saya. Tapi, saya juga tidak bisa dalam posisi ini terus menerus," keluh Zoya lelah.
Zaky menatap wanita tangguh di depannya dengan tatapan kagum. Dimadu bukanlah perkara mudah walau jaminannya adalah surga. Tapi, bukankah surga bisa di dapat dengan cara lain? Selain menyakiti satu sama lain?
"Mbak Zoya ... Jika Mbak sanggup menjalaninya, Mbak punya jaminan surga. Tapi, jika Mbak nggak sanggup, itu tidak masalah. Manusia memang punya stok sabar yang terbatas. Saran saya, jika Mbak Zoya merasa sakit hati terus menerus, ada baiknya dibicarakan baiknya bagaimana. Karena sebenar-benarnya cinta itu tidak saling menyakiti, Mbak." ucap Zaky panjang kali lebar memberikan pendapatnya.
Zoya menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan tidak percaya. "Mungkin benar, saya harus bicara dengan suami saya," ucap Zoya membenarkan ucapan Zaky.
"Satu lagi, Mbak. Mintalah petunjuk Allah SWT. Libatkanlah Allah SWT dalam segala urusan, Mbak Zoya. InsyaAllah, Mbak tidak akan salah langkah," Zaky berucap dengan senyum manisnya.
Zoya seperti mendapat angin segar setelah mendengar ucapan Zaky. Zoya tersenyum, beban di hatinya seakan ikut berkurang setelah menceritakan masalah hidupnya. "Makasih ya, Pak. Sudah memberikan saran yang baik untuk saya,"
"Ini ... Bunganya gratis untuk istri, Bapak. Anggap saja ucapan terima kasih dari saya," ucap Zoya menyodorkan bunga yang sudah di ikat rapi menjadi dua bagian dan membungkusnya dengan kertas koran.
Zaky tersenyum dan menerima bunganya. "Ini khusus untuk Mbak Zoya yang sudah menjadi kuat menjalani hidup. Tetap semangat ya, Mbak. Itu tandanya, Allah sayang sama Mbak Zoya,"
Zoya terpaku di tempat dan tangannya refleks menerima satu ikat mawar merah. Zoya belum bisa mencerna tujuan Zaky memberinya bunga. "Saya pamit dulu. Assalamualaikum,"
"Waalaiku—salam."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Wah .. wah .. wah ...
ada apa dengan pak polisi nih?😋
kok tiba-tiba kasih bunga, mawar merah lagi.. wkwkwk.
makasih untuk kalian yang udah komen dan like di setiap babnya.. lope sekebon untuk kalian😘😍
untuk Zoya, kalian tenang saja. semua akan indah pada waktunya... aseeek😅
maaf nggak bisa balas komen kalian satu-satu😘. tapi, aku seneng banget kalian mau komen dan like.
aku berasa di anggap sama kalian😘.
terlope-lope pokoknya untuk para readerskuh tersayang😘😍**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Abinaya Albab
ini pak pol duda apa gmn ya apa istrinya gi sakit klo duda mgkn bunganya mau ditaruh dimakam tp ini kok mlh ngasih bunga 🌹 ke zoya 🤔
2023-09-02
0
andi hastutty
apakah bohong Zaki punya istri ?😂jodoh tuh Zoya klo Zaky blom punya istri beneran hahahha
2023-05-04
0
guntur 1609
semangat zaky. pepet trs zoya
2023-05-04
0