"Zoya!"
Zoya menarik dan mengembuskan nafasnya beberapa kali sebelum menoleh. Setelah siap, Zoya menoleh dan memasang senyumnya. "Ada apa, Mas?" tanya Zoya bersikap tidak tahu apa-apa.
"Kamu disini? Mau menjenguk Ghaida?" tanya Zada dengan senyum bahagianya. Seakan, Zoya sudah menerima kenyataan untuk dimadu. Zoya tersenyum masam. "Nggak. Aku mau Periksa mag-ku yang kambuh," sangkal Zoya apa adanya.
Wajah Zada berubah khawatir. Zada berjalan mendekati Zoya. "Mag kamu kumat lagi? Kamu pasti nggak jaga pola makan kamu ya? Jaga pola makan kamu Zoya ...." ucap Zada perhatian dan mengacak rambut Zoya gemas.
Zoya memutar bola matanya jengah. "Apa Mas Zada pikir, aku masih bisa makan dengan nikmat dan tidur dengan nyenyak setelah orang yang aku percaya ternyata berkhianat? Aku nggak sewaras itu," ketus Zoya merasa kesal.
"Zoya ... Kalau bukan kamu yang menjaga diri kamu sendiri, lalu siapa lagi? Tolong ... Jaga diri baik-baik demi dirimu sendiri," pinta Zada lembut, tangannya bergerak untuk menggenggam jemari lentik Zoya. Namun, hal itu segera Zoya tepis. "Nggak usah pegang-pegang! Urus saja istri keduamu, Mas. Aku nggak butuh perhatianmu lagi,"
Zoya melirik ke depan di mana pak Polisi yang ditabraknya masih berdiri memerhatikan interaksi Zoya dan Zada. Pak Polisi itu juga sedang melihat ke arah Zoya. Zoya langsung memalingkan wajah saat pandangannya beradu dengan mata penuh selidik milik pak Polisi.
Zoya merasa malu dan membuatnya bergerak salah tingkah. "Aku pergi dulu. Nggak perlu pikirkan aku," ucap Zoya sebelum benar-benar beranjak dari tempatnya berdiri.
Zoya berjalan tergesa-gesa untuk menghindari sorot mata yang sedang mengawasinya. Setelah sampai di depan ruang pemeriksaan, Zoya menghela nafasnya lega. Dia duduk di kursi untuk menunggu giliran.
Tidak butuh waktu lama, namanya di panggil dan di persilakan untuk masuk ke ruang pemeriksaan. "Di timbang dulu ya, Mbak," perintah dokter wanita itu lembut dan mengulas senyum ramahnya. Zoya mengangguk dan segera melakukan pengecekan berat badannya.
"50 kilogram, Dok." ucap Zoya saat sudah mendapat hasil berat badannya. "Baiklah, Mbak. Duduk dulu ya. Kita tensi dulu," Zoya bergegas duduk di kursi yang berhadapan dengan Sang Dokter.
"100/70 ya, Mbak. Pusing nggak, Mbak? Mbak darah rendah ini," tanya dokter sambil mencatat hasil pemeriksaannya. "Pusing sama mual juga, Dok. Kadang, di pagi hari sama waktu maghrib suka muntah. Kayaknya asam lambung saya kambuh ya, Dok?" jawab Zoya menjelaskan keadaannya.
Sang Dokter mengulum senyum. "Kita periksa dulu ya, Mbak. Saya belum bisa mendiagnosa sebelum memeriksa dengan benar. Silakan berbaring dulu ya ...."
Zoya menurut. Dokter segera memeriksa keseluruhan keadaan tubuh Zoya. Termasuk menekan area kerongkongannya. "Sakit nggak, Mbak?" tanya dokter saat menekan kerongkongan Zoya. Zoya menggeleng yakin. "Nggak sakit sama sekali, Dok." jawab Zoya polos.
Dokter lagi-lagi mengulum senyumnya. "Baiklah, Mbak. Silakan duduk kembali ya ... Akan saya jelaskan keadaan Mbak yang sekarang," ucap Sang Dokter lalu kembali ke kursi kebesarannya.
"Selamat ya, Mbak. Mbak sedang hamil," ucap Sang Dokter dengan senyum bahagianya. Berbanding terbalik dengan Zoya yang wajahnya berubah pias. 'Aku hamil? Disaat hubunganku dengan mas Zada sedang seperti ini? Ya Allah ... Cobaan apalagi ini,' batin Zoya meronta.
"Kapan terakhir kali Mbak Zoya menstruasi?" tanya dokter lagi untuk menghitung umur kandungan Zoya. Zoya gelagapan dan mencoba mengingat kapan terakhir kali dia kedatangan tamu bulanannya.
Zoya menepuk jidatnya merasa bodoh. Zoya baru sadar kalau dia telat datang bulan sudah dua bulan ini. "Sekitar dua bulan terakhir, Dok," jawab Zoya pasrah.
"Wah ... Selamat ya, Mbak. Usia kehamilannya sudah menginjak minggu ke-8. Untuk memastikan lebih jelas, Mbak bisa periksa ke dokter kandungan untuk dilakukan pemeriksaan USG,"
Zoya berjalan keluar dari rumah sakit. Entahlah, Zoya harus senang atau sedih ketika mengetahui bahwa dirinya sedang berbadan dua. Zoya mengembuskan nafasnya lelah saat menyusuri lorong rumah sakit yang sedikit orang berlalu lalang.
Zoya berhenti sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia menengadah dan mengusap wajahnya frustasi. 'Ya Allah ... Mengapa harus sekarang? Mengapa tidak dari dulu?' monolog Zoya bertanya-tanya.
Pantas saja Zoya ingin sekali makan rujak sejak tadi pagi. Helaan nafas berat kembali terdengar dari mulut Zoya. Zoya bergegas memesan taksi online dan akan membeli rujak keinginannya.
Disaat sedang hamil seperti ini, Zoya malah harus berbagi suami. Harusnya, saat ini Zada sedang menemani dirinya melakukan pemeriksaan. Entahlah, Zoya harus mengabarkannya pada Zada atau memilih menyembunyikannya.
Zoya akan pikirkan nanti. Yang harus Zoya pikirkan adalah, janin yang ada dalam perutnya yang membutuhkan banyak nutrisi.
Zoya tidak akan malas untuk makan lagi mulai sekarang. Karena bukan hanya dirinya yang butuh asupan, anaknya yang masih dalam perut juga butuh asupan untuk perkembangannya.
Zoya mengelus perut ratanya. Dia masih tidak menyangka ada janin yang tumbuh di rahimnya. Zoya tersenyum haru dengan mata yang berkaca-kaca. "Bunda nggak peduli ada ayahmu atau tidak. Bunda janji, Bunda akan menjaga kamu dengan baik. Sampai ketemu nanti pas kamu lahir ya ... Bunda bahagia ada kamu di dalam perut Bunda."
__________
Zoya sudah kembali dengan menenteng barang belanjaan untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Zoya harus mengisinya dengan bahan makanan agar nutrisi bayinya terpenuhi. Zoya juga membeli susu ibu hamil untuk dirinya konsumsi. Anaknya harus tumbuh sehat di dalam rahim dan setelah lahir nanti. Zoya sudah berjanji akan menjaga dan menyayangi anaknya dengan baik.
Setelah meletakkan barang-barang belanjaannya, Zoya membuka satu kantong yang berisi rujak. Zoya segera menuangkannya ke dalam wadah dan membawanya ke meja makan.
Air liur Zoya sudah menetes melihat buah-buahan yang sudah dipotong dan bumbu kacang yang wanginya menguar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zoya segera menikmati rujaknya. Lidah Zoya seperti dimanjakan dengan rasa pedas, asam, dan manis sekaligus.
Tidak butuh waktu lama, rujak di piringnya sudah tandas. Zoya meminum segelas air untuk membersihkan area mulutnya dan menghilangkan rasa pedas yang masih terasa di lidahnya.
"Kamu suka kan, Sayang? Gimana? Rujaknya enak kan?" ucap Zoya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Zoya merasa, dirinya seperti orang gila karena berbicara sendiri. Tapi, Zoya tidak peduli. Bukankah anak yang masih dalam perut juga bisa mendengar suara ibunya?
Benar atau tidak, Zoya akan menganggapnya seperti itu.
Zoya tersenyum bahagia. Semangatnya seakan telah kembali lagi. Sekarang, Zoya punya alasan untuk bertahan hidup lebih lama lagi. Dengan hati bahagia, Zoya turun untuk membuka toko bunganya. Dia harus mendapatkan penghasilan lebih untuk biaya hidup dan persalinannya nanti.
Zoya akan menabung mulai sekarang.
Setelah toko dibuka, Zoya mengambil alat penyemprot tanaman untuk memberikan minum pada tanamannya yang haus.
Jadikan aku hanya satu-satunya...
Sang garwa pambage Sang pelipur lara...
Nyanyikan kidung setia ...
Lagu yang di populerkan oleh Soegi Bornean yang berjudul Asmalibrasi itu mengalun merdu dari mulut Zoya. Sepanjang menyirami bunga, Zoya bersenandung ria seakan masalahnya yang kemarin tidak pernah ada.
.
.
.
.
.
**wkwkwk
Di selingi sama lagu dulu ya ..
biar nggak tegang mulu😆🙏**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Siti Masitah
bagus zoya...gak butuh zada..
2024-05-02
0
andi hastutty
mantap Zoya berbahagialah
2023-05-04
1
Eliyana Mobile
msh bingung alasan Zada nikah lg
2023-01-24
0