Bab 10. Hamil?

"Zoya!"

Zoya menarik dan mengembuskan nafasnya beberapa kali sebelum menoleh. Setelah siap, Zoya menoleh dan memasang senyumnya. "Ada apa, Mas?" tanya Zoya bersikap tidak tahu apa-apa.

"Kamu disini? Mau menjenguk Ghaida?" tanya Zada dengan senyum bahagianya. Seakan, Zoya sudah menerima kenyataan untuk dimadu. Zoya tersenyum masam. "Nggak. Aku mau Periksa mag-ku yang kambuh," sangkal Zoya apa adanya.

Wajah Zada berubah khawatir. Zada berjalan mendekati Zoya. "Mag kamu kumat lagi? Kamu pasti nggak jaga pola makan kamu ya? Jaga pola makan kamu Zoya ...." ucap Zada perhatian dan mengacak rambut Zoya gemas.

Zoya memutar bola matanya jengah. "Apa Mas Zada pikir, aku masih bisa makan dengan nikmat dan tidur dengan nyenyak setelah orang yang aku percaya ternyata berkhianat? Aku nggak sewaras itu," ketus Zoya merasa kesal.

"Zoya ... Kalau bukan kamu yang menjaga diri kamu sendiri, lalu siapa lagi? Tolong ... Jaga diri baik-baik demi dirimu sendiri," pinta Zada lembut, tangannya bergerak untuk menggenggam jemari lentik Zoya. Namun, hal itu segera Zoya tepis. "Nggak usah pegang-pegang! Urus saja istri keduamu, Mas. Aku nggak butuh perhatianmu lagi,"

Zoya melirik ke depan di mana pak Polisi yang ditabraknya masih berdiri memerhatikan interaksi Zoya dan Zada. Pak Polisi itu juga sedang melihat ke arah Zoya. Zoya langsung memalingkan wajah saat pandangannya beradu dengan mata penuh selidik milik pak Polisi.

Zoya merasa malu dan membuatnya bergerak salah tingkah. "Aku pergi dulu. Nggak perlu pikirkan aku," ucap Zoya sebelum benar-benar beranjak dari tempatnya berdiri.

Zoya berjalan tergesa-gesa untuk menghindari sorot mata yang sedang mengawasinya. Setelah sampai di depan ruang pemeriksaan, Zoya menghela nafasnya lega. Dia duduk di kursi untuk menunggu giliran.

Tidak butuh waktu lama, namanya di panggil dan di persilakan untuk masuk ke ruang pemeriksaan. "Di timbang dulu ya, Mbak," perintah dokter wanita itu lembut dan mengulas senyum ramahnya. Zoya mengangguk dan segera melakukan pengecekan berat badannya.

"50 kilogram, Dok." ucap Zoya saat sudah mendapat hasil berat badannya. "Baiklah, Mbak. Duduk dulu ya. Kita tensi dulu," Zoya bergegas duduk di kursi yang berhadapan dengan Sang Dokter.

"100/70 ya, Mbak. Pusing nggak, Mbak? Mbak darah rendah ini," tanya dokter sambil mencatat hasil pemeriksaannya. "Pusing sama mual juga, Dok. Kadang, di pagi hari sama waktu maghrib suka muntah. Kayaknya asam lambung saya kambuh ya, Dok?" jawab Zoya menjelaskan keadaannya.

Sang Dokter mengulum senyum. "Kita periksa dulu ya, Mbak. Saya belum bisa mendiagnosa sebelum memeriksa dengan benar. Silakan berbaring dulu ya ...."

Zoya menurut. Dokter segera memeriksa keseluruhan keadaan tubuh Zoya. Termasuk menekan area kerongkongannya. "Sakit nggak, Mbak?" tanya dokter saat menekan kerongkongan Zoya. Zoya menggeleng yakin. "Nggak sakit sama sekali, Dok." jawab Zoya polos.

Dokter lagi-lagi mengulum senyumnya. "Baiklah, Mbak. Silakan duduk kembali ya ... Akan saya jelaskan keadaan Mbak yang sekarang," ucap Sang Dokter lalu kembali ke kursi kebesarannya.

"Selamat ya, Mbak. Mbak sedang hamil," ucap Sang Dokter dengan senyum bahagianya. Berbanding terbalik dengan Zoya yang wajahnya berubah pias. 'Aku hamil? Disaat hubunganku dengan mas Zada sedang seperti ini? Ya Allah ... Cobaan apalagi ini,' batin Zoya meronta.

"Kapan terakhir kali Mbak Zoya menstruasi?" tanya dokter lagi untuk menghitung umur kandungan Zoya. Zoya gelagapan dan mencoba mengingat kapan terakhir kali dia kedatangan tamu bulanannya.

Zoya menepuk jidatnya merasa bodoh. Zoya baru sadar kalau dia telat datang bulan sudah dua bulan ini. "Sekitar dua bulan terakhir, Dok," jawab Zoya pasrah.

"Wah ... Selamat ya, Mbak. Usia kehamilannya sudah menginjak minggu ke-8. Untuk memastikan lebih jelas, Mbak bisa periksa ke dokter kandungan untuk dilakukan pemeriksaan USG,"

Zoya berjalan keluar dari rumah sakit. Entahlah, Zoya harus senang atau sedih ketika mengetahui bahwa dirinya sedang berbadan dua. Zoya mengembuskan nafasnya lelah saat menyusuri lorong rumah sakit yang sedikit orang berlalu lalang.

Zoya berhenti sejenak dan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Dia menengadah dan mengusap wajahnya frustasi. 'Ya Allah ... Mengapa harus sekarang? Mengapa tidak dari dulu?' monolog Zoya bertanya-tanya.

Pantas saja Zoya ingin sekali makan rujak sejak tadi pagi. Helaan nafas berat kembali terdengar dari mulut Zoya. Zoya bergegas memesan taksi online dan akan membeli rujak keinginannya.

Disaat sedang hamil seperti ini, Zoya malah harus berbagi suami. Harusnya, saat ini Zada sedang menemani dirinya melakukan pemeriksaan. Entahlah, Zoya harus mengabarkannya pada Zada atau memilih menyembunyikannya.

Zoya akan pikirkan nanti. Yang harus Zoya pikirkan adalah, janin yang ada dalam perutnya yang membutuhkan banyak nutrisi.

Zoya tidak akan malas untuk makan lagi mulai sekarang. Karena bukan hanya dirinya yang butuh asupan, anaknya yang masih dalam perut juga butuh asupan untuk perkembangannya.

Zoya mengelus perut ratanya. Dia masih tidak menyangka ada janin yang tumbuh di rahimnya. Zoya tersenyum haru dengan mata yang berkaca-kaca. "Bunda nggak peduli ada ayahmu atau tidak. Bunda janji, Bunda akan menjaga kamu dengan baik. Sampai ketemu nanti pas kamu lahir ya ... Bunda bahagia ada kamu di dalam perut Bunda."

__________

Zoya sudah kembali dengan menenteng barang belanjaan untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Zoya harus mengisinya dengan bahan makanan agar nutrisi bayinya terpenuhi. Zoya juga membeli susu ibu hamil untuk dirinya konsumsi. Anaknya harus tumbuh sehat di dalam rahim dan setelah lahir nanti. Zoya sudah berjanji akan menjaga dan menyayangi anaknya dengan baik.

Setelah meletakkan barang-barang belanjaannya, Zoya membuka satu kantong yang berisi rujak. Zoya segera menuangkannya ke dalam wadah dan membawanya ke meja makan.

Air liur Zoya sudah menetes melihat buah-buahan yang sudah dipotong dan bumbu kacang yang wanginya menguar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zoya segera menikmati rujaknya. Lidah Zoya seperti dimanjakan dengan rasa pedas, asam, dan manis sekaligus.

Tidak butuh waktu lama, rujak di piringnya sudah tandas. Zoya meminum segelas air untuk membersihkan area mulutnya dan menghilangkan rasa pedas yang masih terasa di lidahnya.

"Kamu suka kan, Sayang? Gimana? Rujaknya enak kan?" ucap Zoya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Zoya merasa, dirinya seperti orang gila karena berbicara sendiri. Tapi, Zoya tidak peduli. Bukankah anak yang masih dalam perut juga bisa mendengar suara ibunya?

Benar atau tidak, Zoya akan menganggapnya seperti itu.

Zoya tersenyum bahagia. Semangatnya seakan telah kembali lagi. Sekarang, Zoya punya alasan untuk bertahan hidup lebih lama lagi. Dengan hati bahagia, Zoya turun untuk membuka toko bunganya. Dia harus mendapatkan penghasilan lebih untuk biaya hidup dan persalinannya nanti.

Zoya akan menabung mulai sekarang.

Setelah toko dibuka, Zoya mengambil alat penyemprot tanaman untuk memberikan minum pada tanamannya yang haus.

Jadikan aku hanya satu-satunya...

Sang garwa pambage Sang pelipur lara...

Nyanyikan kidung setia ...

Lagu yang di populerkan oleh Soegi Bornean yang berjudul Asmalibrasi itu mengalun merdu dari mulut Zoya. Sepanjang menyirami bunga, Zoya bersenandung ria seakan masalahnya yang kemarin tidak pernah ada.

.

.

.

.

.

**wkwkwk

Di selingi sama lagu dulu ya ..

biar nggak tegang mulu😆🙏**

Terpopuler

Comments

Siti Masitah

Siti Masitah

bagus zoya...gak butuh zada..

2024-05-02

0

andi hastutty

andi hastutty

mantap Zoya berbahagialah

2023-05-04

1

Eliyana Mobile

Eliyana Mobile

msh bingung alasan Zada nikah lg

2023-01-24

0

lihat semua
Episodes
1 Pengumuman.
2 Bab 1. Awal dari penderitaan.
3 Bab 2. Berkata jujur
4 Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5 Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6 Bab 5. Pergi
7 Bab 6. Kedatangan Zada
8 Bab 7. Masih saling mencintai
9 Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10 Bab 9. Cemburu
11 Bab 10. Hamil?
12 Bab 11. Zoya datang
13 Bab 12. Terbongkar
14 Bab 13. Mendapat saran
15 Bab 14. Berharga
16 Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17 Bab 16. Seharian dengan Zada
18 Bab 17. Zada vs Zaky
19 Bab 18. Cinta yang sama besar
20 Bab 19. Romantis ala Zada
21 Bab 20. Tamu tak di undang
22 Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23 Bab 22. Merasa aneh
24 Bab 23. Usai
25 Bab 24. Kabar buruk
26 Bab 25. Rela karena terbiasa
27 Bab 26. Lepaskan aku
28 Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29 Bab 28. Arunika Jannah
30 Bab 29. Seorang ibu
31 Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32 Bab 31. Ketok palu
33 Bab 32. Pedih
34 Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35 Bab 34. Penyesalan Zada
36 Bab 35. Menyerahkan diri
37 Bab 36. Hari pertama kursus
38 Bab 37. Bertemu lagi
39 Bab 38. Pertimbangan
40 Bab 39. Cinta yang tepat.
41 Bab 40. Banana Muffin
42 Bab 41. Bergetar
43 Bab 42. Bisa ditebak
44 Bab 43. Menikahlah denganku
45 Bab 44. Anak hilang
46 Bab 45. Penjelasan Ghaida
47 Bab 46. Ijab Qabul
48 Bab 47. Cerita masalalu
49 Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50 Bab 49. Suasana pengantin baru
51 Bab 50. Berseri-seri
52 Bab 51. Dua hal yang berbeda
53 Bab 52. Cuma Prank
54 Bab 53. GELAP
55 Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56 Bab 55. Kekuatan cinta
57 Bab 56. Zada berhak bahagia
58 Bab 57. Mata duitan
59 Bab 58. Skenario-Nya
60 Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61 Bab 60. Mundur perlahan
62 Bab 61. Husnudzon
63 Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64 Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65 Bab 64. Menjagamu
66 Bab 65. Kehilangan
67 Bab 66. Kalimat perpisahan
68 Bab 67. Karma
69 Bab 68. Suara hati seorang ibu
70 Bab 69. Sadar diri
71 Bab 70. Memohon ampunan
72 Bab 71. Mengunjungi Zada
73 Bab 72. WOW
74 Bab 73. Perkara 'enak'
75 Bab 74. Sikap Adis
76 Bab 75. Sah
77 Bab 76. Extra Chapter
78 Bab 77. Extra Chapter
79 Bab 78. Extra Chapter
80 BAB 79. Extra Chapter
81 Bab 80. Extra Chapter
82 Bab 81. Extra Chapter
83 Bab 82. Extra Chapter
84 Bab 83. Extra Chapter
85 Bab 84. Extra Chapter
86 Bab 85. Extra Chapter
87 Bab 86. Extra Chapter
88 Bab 87. Extra Chapter
89 Bab 88. Extra Chapter
90 Bab 89. Extra Chapter
91 Bab 90. Extra Chapter
92 Bab 91. Extra Chapter
93 Bab 92. Extra Chapter
94 Bab 93. Extra Chapter
95 Bab 94. Extra Chapter
96 Bab 95. Extra chapter
97 Bab 96. Extra chapter
98 Bab 97. Extra chapter
99 Bab 98. Extra chapter
100 Bab 99. Extra chapter
101 Bab 100. Extra chapter
102 Bab 101. Extra chapter
103 Bab 102. Extra chapter
104 Bab 103. Extra chapter
105 Bab 104. Extra chapter
106 Bab 105. Extra chapter
107 Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108 Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109 SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110 Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111 Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Pengumuman.
2
Bab 1. Awal dari penderitaan.
3
Bab 2. Berkata jujur
4
Bab 3. TALAK AKU, MAS!
5
Bab 4. Kehilangan 'Rumah'
6
Bab 5. Pergi
7
Bab 6. Kedatangan Zada
8
Bab 7. Masih saling mencintai
9
Bab 8. Ghaida lagi, Ghaida lagi ...
10
Bab 9. Cemburu
11
Bab 10. Hamil?
12
Bab 11. Zoya datang
13
Bab 12. Terbongkar
14
Bab 13. Mendapat saran
15
Bab 14. Berharga
16
Bab 15. Nyaman yang sebenarnya
17
Bab 16. Seharian dengan Zada
18
Bab 17. Zada vs Zaky
19
Bab 18. Cinta yang sama besar
20
Bab 19. Romantis ala Zada
21
Bab 20. Tamu tak di undang
22
Bab 21. Berdamai dengan keadaan
23
Bab 22. Merasa aneh
24
Bab 23. Usai
25
Bab 24. Kabar buruk
26
Bab 25. Rela karena terbiasa
27
Bab 26. Lepaskan aku
28
Bab 27. Ada pelangi setelah hujan
29
Bab 28. Arunika Jannah
30
Bab 29. Seorang ibu
31
Bab 30. Kenyataan yang menyakitkan
32
Bab 31. Ketok palu
33
Bab 32. Pedih
34
Bab 33. Pelajaran untuk Zada
35
Bab 34. Penyesalan Zada
36
Bab 35. Menyerahkan diri
37
Bab 36. Hari pertama kursus
38
Bab 37. Bertemu lagi
39
Bab 38. Pertimbangan
40
Bab 39. Cinta yang tepat.
41
Bab 40. Banana Muffin
42
Bab 41. Bergetar
43
Bab 42. Bisa ditebak
44
Bab 43. Menikahlah denganku
45
Bab 44. Anak hilang
46
Bab 45. Penjelasan Ghaida
47
Bab 46. Ijab Qabul
48
Bab 47. Cerita masalalu
49
Bab 48. Aku Bukan jodohnya
50
Bab 49. Suasana pengantin baru
51
Bab 50. Berseri-seri
52
Bab 51. Dua hal yang berbeda
53
Bab 52. Cuma Prank
54
Bab 53. GELAP
55
Bab 54. Muhammad Zaky Arkana
56
Bab 55. Kekuatan cinta
57
Bab 56. Zada berhak bahagia
58
Bab 57. Mata duitan
59
Bab 58. Skenario-Nya
60
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba
61
Bab 60. Mundur perlahan
62
Bab 61. Husnudzon
63
Bab 62. Pnemonia Aspirasi
64
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf
65
Bab 64. Menjagamu
66
Bab 65. Kehilangan
67
Bab 66. Kalimat perpisahan
68
Bab 67. Karma
69
Bab 68. Suara hati seorang ibu
70
Bab 69. Sadar diri
71
Bab 70. Memohon ampunan
72
Bab 71. Mengunjungi Zada
73
Bab 72. WOW
74
Bab 73. Perkara 'enak'
75
Bab 74. Sikap Adis
76
Bab 75. Sah
77
Bab 76. Extra Chapter
78
Bab 77. Extra Chapter
79
Bab 78. Extra Chapter
80
BAB 79. Extra Chapter
81
Bab 80. Extra Chapter
82
Bab 81. Extra Chapter
83
Bab 82. Extra Chapter
84
Bab 83. Extra Chapter
85
Bab 84. Extra Chapter
86
Bab 85. Extra Chapter
87
Bab 86. Extra Chapter
88
Bab 87. Extra Chapter
89
Bab 88. Extra Chapter
90
Bab 89. Extra Chapter
91
Bab 90. Extra Chapter
92
Bab 91. Extra Chapter
93
Bab 92. Extra Chapter
94
Bab 93. Extra Chapter
95
Bab 94. Extra Chapter
96
Bab 95. Extra chapter
97
Bab 96. Extra chapter
98
Bab 97. Extra chapter
99
Bab 98. Extra chapter
100
Bab 99. Extra chapter
101
Bab 100. Extra chapter
102
Bab 101. Extra chapter
103
Bab 102. Extra chapter
104
Bab 103. Extra chapter
105
Bab 104. Extra chapter
106
Bab 105. Extra chapter
107
Salahkah Bila Aku Mendua by: Ika Oktafiana
108
Berbagi Suami by Ika Oktafiana
109
SAYAP CINTA YANG PATAH BY IKA OKTAFIANA
110
Ummu Sibyan by Ika oktafiana
111
Balas Dendam Putra Terbuang by ika oktafiana

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!