Zoya sedang berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Setelah berbincang banyak dengan Zaky, Zoya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
Entah mengapa, ada perasaan takut saat Zaky menatap dirinya dengan tatapan berbeda. Zoya juga tidak begitu senang saat Zaky mengatakan dirinya terlalu berharga untuk di sia-siakan.
Aneh sekali rasanya jika pria lain yang mengucapkannya. Jika yang mengucapkan kalimat itu adalah Zada, mungkin wajah Zoya sudah merah merona merasa tersipu. Seketika Zoya merasa bersalah karena masih berstatus menjadi istri Zada namun, tidak menjaga jarak dengan lawan jenis.
Sambil berjalan, Zoya menghela nafasnya lelah. Memang, Zada telah menyakitinya. Namun, bukan berarti Zoya harus membalasnya bukan? Bukankah balas dendam terbaik adalah dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi?
Tanpa terasa, tinggal lima langkah lagi dirinya akan sampai. Namun, saat Zoya menatap rumahnya, disana sudah ada Zada yang duduk di teras depan tokonya. Zoya mengernyit heran dan semakin mempercepat jalannya.
"Mas Zada?" lirih Zoya terkejut. Zada mendongak dan beranjak dari duduknya. Zada tersenyum tipis menatap Zoya yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Sudah selesai jalan-jalannya?" tanya Zada masih belum mengalihkan pandangan dari Zoya. Zoya balas menatap lelaki yang masih resmi menjadi suaminya itu. "Sudah, Mas." jawab Zoya singkat.
"Kamu bahagia?" tanya Zada lagi. Zoya semakin dibuat bingung dengan pertanyaaan suaminya yang seakan tahu apa yang baru saja dirinya lakukan. "Jelas aku bahagia. Karena dengan jalan-jalan, aku bisa me-refresh pikiran," jawab Zoya memberikan alasannya.
Zada tersenyum penuh arti dan mengalihkan pandangannya. Zoya seperti merasakan aura yang berbeda saat Zada bertanya padanya. Pertanyaannya seperti kalimat interogasi kepada maling yang tertangkap basah. 'Kok maling? Memangnya aku maling apa?' batin Zoya bertanya-tanya.
"Zoya?"
"Ya?"
"Aku kesini untuk mengajak kamu sarapan. tapi ... Melihat kamu sudah sarapan bersama seseorang di taman, mungkin aku akan mengajakmu lain hari," ucap Zada berusaha mengukir senyumnya.
Deg.
Zoya tersentak. 'Bagaimana bisa mas Zada tahu? Apakah mas Zada melihatku?' batin Zoya semakin dihantui rasa takut dan bersalah. "A—aku—," Zoya tergagap layaknya orang yang tertangkap basah melakukan kejahatan.
Zada langsung membawa tubuh Zoya ke dalam dekapannya. "Kita masuk dulu ya," ajak Zada penuh kelembutan. Bagai kerbau yang di colok hidungnya, Zoya mengangguk dan mulai membuka kunci.
Zoya langsung mengajak Zada ke lantai atas yang terdapat sofa untuk duduk. Sekarang, Zoya dan Zada sudah duduk dengan posisi berhadapan di sofa. Suasana seketika hening. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan di antara keduanya.
Karena merasa tidak tahan berada dalam situasi tersebut, Zoya bersuara, memecahkan keheningan. "Mas, soal yang tadi ...." ucap Zoya terhenti. Terdengar helaan nafas keluar dari nafas Zada. "Zoya ... Apa kamu tidak bahagia dalam pernikahan ini?" tanya Zada tanpa ada nada mengintimidasi.
Zoya mendongak. Entah mengapa pertanyaan Zada begitu menyesakkan dadanya. Bukankah ini yang dia mau? Diceraikan oleh Zada? Lalu, mengapa sekarang lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab 'iya'?
"Mas ...."
"Zoya ... Jika kau tidak bahagia dalam pernikahan ini dan lebih bahagia bersama laki-laki yang bersamamu di taman tadi, aku ikhlas dan akan menalakmu. Apapun itu, yang terpenting kamu bahagia," ucap Zada menatap mata Zoya lekat.
Zoya menggeleng lemah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tenggorokannya seperti kesusahan untuk menelan salivanya sendiri. "Bukan seperti itu, Mas. Semua tidak seperti yang Mas Zada lihat," Zoya berucap dengan sekuat tenaga karena tenggorokannya terasa tercekat.
Zada seakan tidak mendengarkan penjelasan Zoya dan melanjutkan kalimatnya lagi. "Aku sudah terlalu egois karena masih menahanmu di dalam rumah tangga yang terdapat orang ketiga. Aku sudah melukaimu, Zoya ... Aku ...." Zada tidak sanggup meneruskan kalimatnya karena Zada juga tidak sanggup menerima kenyataan yang ada.
Zada menunduk dan tanpa terasa, air matanya jatuh. Zoya langsung berpindah mendekati Zada dan duduk bersimpuh di hadapannya. Zoya menangkupkan kedua tangan suaminya dan menangis tersedu-sedu.
'Ya Allah ... Mengapa rasanya sakit sekali mendengar suamiku mengatakan akan menalakku? Ya Allah ... Mengapa aku tidak menginginkan rumah tanggaku berakhir sampai disini? Ada apa dengan hatiku? Apakah ini jawaban atas segala doa panjangku?' batin Zoya, hatinya bagai di remas-remas.
"Mas ... A—aku ... A—"
Belum sempat Zoya melanjutkan kalimatnya, Zada sudah mengangkat tubuh Zoya agar berada dalam pangkuannya dengan posisi menyamping. Zoya menghentikan tangisnya saat matanya beradu dengan mata Zada. "Mas Zada nangis? Kenapa?" tanya Zoya saat melihat mata Zada merah dan berair. Zada hanya menjawabnya dengan senyuman.
Justru, tangannya bergerak untuk mengusap pipi Zoya yang basah karena air mata. "Mas ...." Zoya langsung berhambur memeluk leher suaminya. Zoya kembali menangis sesenggukan. Zada membalas pelukan Zoya dengan erat dan menumpahkan tangisnya disana.
"Zoya ... Maafkan aku ... Maafkan aku karena sudah membuatmu terluka dan merasa kesepian," tubuh Zada bergetar menahan tangis. Masih dalam pelukan, Zoya tidak menjawab dan semakin menelusupkan wajahnya pada leher Zada.
Zoya merasa nyaman dan aman saat ada Zada di sampingnya. Inilah yang bisa Zoya sebut 'nyaman yang sebenarnya'. Zoya tidak bisa menemukan kenyamanan pada pria manapun kecuali pada suaminya.
Setelah tangisannya mereda, Zoya melonggarkan pelukan untuk menatap Zada. Kini, giliran tangan Zoya yang bergerak untuk menghapus air mata suaminya. "Mas ... Bisakah kau memberikanku alasan?" tanya Zoya menatap manik dalam milik Zada.
Tangan Zada bergerak menyingkirkan anak rambut Zoya yang menghalangi wajah. "Alasan apa yang ingin kau tanyakan?" Zada berucap dengan lembut. Zoya tampak ragu pertanyaannya akan berakhir tanpa mendapat jawaban. "Tanyakan. Aku akan jawab jika bisa menjawabnya." sambung Zada seakan bisa membaca pikiran Zoya.
"Apa alasan Mas Zada menikahi Ghaida tanpa sepengetahuanku?" tanya Zoya pada akhirnya. Wajah Zada berubah datar. "Aku tidak bisa menjawabnya," jawab Zada tegas.
Lagi-lagi Zoya harus menelan kekecewaan atas keegoisan Zada. Zoya beringsut turun dari pangkuan Zada dan kembali duduk di sofa yang bersebrangan dengan suaminya.
"Kamu boleh pulang, Mas!" usir Zoya halus. Zoya enggan menatap Zada dan memalingkan wajah menatap sembarang arah. Zada menghela nafasnya lelah. Dia beranjak dan mulai melangkah menuju ujung tangga.
Zoya semakin dibuat kecewa karena Zada tetap pada pendiriannya. Malah sekarang, Zada akan pergi meninggalkannya lagi. Mata Zoya mulai berkaca-kaca saat langkah kaki Zada terdengar menuruni tangga. Zoya menelusupkan wajahnya pada sandaran sofa dan menangis sesenggukan di sana.
Karena terlalu larut dalam tangisnya, Zoya sampai tidak mendengar langkah kaki Zada yang kembali. Tiba-tiba, Zoya merasakan tubuhnya di peluk dari belakang dengan erat. Zoya menoleh dan mendapati Zada kembali.
"Mas Zada kembali?" tanya Zoya dengan binar di matanya. Zada mengangguk dan tersenyum. "Maaf jika aku terlalu banyak melukaimu. tapi satu yang harus kau tahu, anak yang di kandung Ghaida bukanlah anakku,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya ... Zoya masih bucin sama Zada😆
keduanya masih saling mencintai. kan kasian kalau di tinggal pas lagi sayang-sayangnya😭🙈
Othor bilek: tapi, satu yang harus kau tahu, ku menanti kau tuk kembali ... hoo ... hou... hou...
🤣🤣🤣 tauklah pales🙈
jangan lupa dukungannya ya😘
like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian😍❤️
i lop readers sekebon. Sarangbeo💖💖
kabuuuuur🏃🏃🏃🏃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Siti Masitah
egois x zada..padahal bukan anknya kok di nikahi dasar...
2024-05-02
0
andi hastutty
klo bukan anakmu kenapa kamu yg tanggung jawab ? memanglah laki2 egois semua cuman dia yg mau di mengerti
2023-05-04
0
Eliyana Mobile
Zada bikin emosi mak2 naik turun
2023-01-24
0