Naomi terbangun dari tidurnya, tangan kekar Dino masih memeluknya dengan erat. Ia merasakan hembusan napas Dino di punggungnya. Perlahan dia memindahkan tangan itu dari tubuhnya, melihat Dino yang tertidur pulas disampingnya. Ia melihat keadaannya yang hanya tertutupi oleh selimut yang sama dengan Dino. Bajunya berserakan dilantai bercampur dengan baju Dino.
Kring! Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung mengambil dan menutupnya. Ia takut jika Dino terbangun karena suara itu.
"Nomi, kamu dimana? Kamu baik-baik saja?" Tanya Nino padanya dengan menahan air mata atas apa yang terjadi semalam ia berkata semua baik-baik saja. Ia merasa bersalah pada kakaknya namun harus dia akui kehangatan semalam sangat membuatnya bahagia. "Aku akan segera pulang. Aku menginap di rumah teman. " Ia segera mengambil bajunya dan pergi secepat mungkin sebelum sekretaris Dino datang.
"Bu Naomi." Panggil Bu Sari yang ternyata sudah datang lebih dulu. "Ibu semalaman tidur disini bersama Pak Dino?" Tanyanya sontak membuat Naomi malu.
"Iya Ibu Sari, dia bersama saya semalam. Bu siapkan ruang meeting dengan klien jam 8.30 WIB." Dino dengan santainya keluar seperti tak ada masalah diantara mereka berdua. "Saya siap-siap dulu." Ucapnya lalu masuk lagi dengan membanting pintu dan mengacuhkan Naomi. What the hell! Ucap Naomi dalam hati.
Dino masuk dengan perasaan kesal mendengar perkataan Naomi, "Apa teman? Awas kamu Naomi!" Dia kesal. "Kenapa musti teman." Semakin kesal.
Sebenarnya sebelum Naomi bangun Dino sudah membuka matanya lebih dulu. Dilihatnya, Naomi yang tidur dengan lelap disampingnya. "Kamu dari dulu gak pernah berubah." Ucapnya mencubit hidung Naomi lembut, membuat wanita itu menggeliat semakin erat memeluknya. "Nom, aku akan menjaga kamu dengan baik. I love you, Nomi." Dia memandang cincin di jari keduanya. Dino terus memandangi Naomi dengan berbagai gaya tidurnya mulai dari berpelukan dengannya hingga membelakanginya. Dino hanya tersenyum dan terus menciuminya dengan lembut. Terkadang dia ngorok dan mengigau. Dino selalu disisinya.
Ketika dia tahu Naomi akan bangun, dia pura-pura tidur sehingga dia mendengarkan perkataan istrinya itu di telepon. Setelah Naomi pergi ia bangun dengan segera mengambil pakaiannya dan memastikan semua orang tahu jika wanita itu menginap bersamanya. "Nom, kamu gak bisa mempermainkan aku. Setelah semalam kamu menganggap aku teman?"
"Bodoh Naomi! Kenapa bisa hal tersebut terjadi pada kamu. Gila kamu Nomi." Keluhnya. Ia merasa bersalah pada Nino yang selalu mewanti-wanti untuk jangan Luluh dengan Dino tapi tetap saja dia melakukan hal itu dengan lelaki itu. "Gimana caranya aku bilang ke mereka jika aku gagal." Naomi menghentikan langkahnya di depan pintu panti asuhan. Ia duduk di depan pagar dan membayangkan raut kekecewaan Oma dan yang lainnya.
"Naomi." Panggil Nino. "Ngapain kamu disitu?" Tanya sembaring membukakan pintu untuk Naomi.
"Kak, maafin Naomi. Aku gagal mempertahankan panti ini. Maaf." Ucapnya membuat Naomi semakin bersedih. "Aku mau ke kamar."
Naomi masuk ke kamar mandi dan membiarkan dirinya basah oleh siraman air. Ia menangis mengingat semua yang sudah terjadi. Ia ingat bagaimana dulu ia mengejar Dino. Berubah dari culun hingga menjadi cantik. Berusaha menutupi lukanya, Caranya menyatakan cinta pada Dino. Waktu-waktu yang dia lewati bersama dengannya. Ingatan yang paling menyedihkan adalah kenyataan Hendrik Bratayudha adalah orang yang membunuh keluarganya dan Dino adalah anak laki-laki itu.
"Kenapa! Kenapa!" Ia mengingat peristiwa semalam saat dengan erat Dino memeluknya dan dengan hangat menyentuhnya. Dia terus menggosokkan badannya.
"Naomi!" Oma Murni terus mengetuk pintu kamarnya. "Iya, Oma ada apa?" Tanyanya. "Terima kasih Nak, Dino sudah menarik tuntutannya." Ucap Oma Murni dengan ekspresi bahagia. Aku akan berikan apapun yang kamu mau Naomi ucapnya berbisik ditelinga Naomi mengecup lehernya dengan lembut dan memberikan malam yang indah untuk Naomi. Kalimat itu terlintas dipikirannya setelah mendengarkan itu semua. "Dino yang menarik itu semua."
"Maaf Bu Naomi, Pak Dino sedang ke Belanda untuk business trip." Ucap Bu Sari pada Naomi. Dino makasih untuk ini semua.
Naomi mulai membangun kembali kehidupannya, ia mulai mengajari anak panti cara untuk menari balet serta bermain piano. Ia mengajari mereka step by step seperti Dino pernah mengajarinya dulu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, 30 hari sudah berlalu. Dino belum menghubungi sama sekali. Setiap kali Naomi mengingat kenangannya dengan Dino, ia tersenyum sendiri. Terutama ingatannya soal bagaimana Dino mengajarinya bermain piano.
"Nom, aku baru ngajarin kamu kemarin! Masa udah lupa?" Tegur Dino di samping Naomi.
"Maaf, aku gak bisa Dino." Ucapnya memeluk tangan kanan Dino yang membuatnya luluh.
"Kak Naomi, masa gak bisa? Padahal ini buku Milka." Jawab Milka dengan enteng namun berdampak bagi mental Naomi. "Buku Milka, pelajaran SD dong." Keluh Naomi. "Emang iya." Jawab Dino santai, Naomi langsung mencubitnya. "Sakit Nom."
Naomi tersenyum sendiri mengingatnya bertapa sulitnya dia belajar Piano dulu. "Kak Naomi senyum-senyum sendiri." Tegur salah satu anak di sana.
"Selamat siang " Sapa seseorang yang tiba-tiba datang bertamu. "Naomi!" Gilang langsung memeluk Naomi. Dia baru saja tiba dari Kalimantan, tempatnya selama ini mengadu nasib.
"Siapa dia!" Tegus Nino dengan judes. "Dia, Gilang temanku dulu." Naomi memperkenalkannya. Gilang dan Nino dengan cepat membaur dan saling bercerita. Gilang juga bercerita tentang kisahnya dengan Naomi dan Dino yang semakin membuat Nino membencinya. "Tidak akan ku biarkan Dino bersama adikku." Ucapnya memberi dukungan pada lelaki itu.
Mendapatkan angin segar, ia berharap bisa memiliki Naomi seutuhnya. Lama kelamaan Gilang kembali hadir dalam hidup Naomi, ia membantu Naomi dan anak-anak panti. Namun Naomi tetap tidak bisa melupakan Dino.
"Nom, aku mau ngajak kamu makan malam." Ajak Gilang menjadikan dirinya sebagai sahabat untuk Naomi.
"Tapi disini restauran mahal. Kamu yakin." Balas Naomi. Gilang menyakinkan Naomi untuk pergi bersamanya.
"Aku bersiap!" Ucap Naomi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments