Bogor, 20 Tahun yang lalu.
Naomi kecil berlari menuju pintu pagar setelah mendengar bel berbunyi. "Oma, ada yang datang!" Ucapnya. Naomi kecil dikenal sebagai anak yang paling periang diantara yang lain. Ia sangat menyukai strawberry dan warna merah.
"Iya, Naomi." Ucap Oma Murni dari dalam.
"Siapakah kamu?" Tanya Naomi kepada seorang anak laki-laki yang berada diluar pagar. Anak laki-laki itu terlihat sedih, ia baru saja kehilangan Om yang dekat dengannya. Anak laki-laki itu hanya menatapnya tanpa berkata apapun. "Hello, aku bertanya siapakah kamu?" Tanya Naomi lagi. Namun, anak laki-laki itu tetap diam sampai Oma membuka pintu pagar itu.
"Naomi, kasian itu. Dia takut kamu tanya seperti itu." Ucap Oma Murni. Lalu menyapa kedua orang tua anak itu, "Selamat Sore Bu Ratih dan Bapak Hendrik, saya merasa terhormat dengan kedatangan bapak dan ibu ke panti kecil kami. Silahkan masuk Bu." Ajak Oma Murni dengan senyum yang hangat.
"Baik Bu." Jawab Bu Ratih dengan hangat, ia lalu mengandeng tangan anaknya untuk masuk bersamanya.
"Tunggu!" Ucap Naomi menarik tas Gemblok yang dipake anak itu. Hal ini membuat langkah Ratih terhenti, "Hi anak manis, kenapa?" Tanyanya lembut. Tatapan mata Ratih membuat Naomi teduh, ia langsung bersandar dalam pelukannya. "Siapa nama kamu?" Tanya Ratih.
"Naomi." Jawabnya
"Ini, Dino. Anak tante." Ratih memperkenalkan Dino pada Naomi.
"Hallo Dino." Sapa Naomi.
"Hallo Naomi." Sapa Dino kecil padanya. "Ayo,main!" Ajaknya.
*****
Naomi menatap kedua mata Dino, sedikit demi sedikit ia mengingat masa lalunya. Masa lalu yang ia lupakan. No! Kenapa harus kamu anak laki-laki itu.
"Naomi, kamu kenapa? Kalau ada masalah kita bisa omongin semua baik-baik. Kita udah suami dan istri. Apa yang terjadi selama aku di Jepang?" Tanya Dino mengelus rambut Naomi yang terdiam membisu. Dalam hatinya ia gelisah, takut dan bingung dengan Naomi. Dino memeluk Naomi erat, "Naomi jangan diam aja, aku gak bisa hidup tanpa kamu." Ucapnya.
Naomi masih terdiam membisu, ia hanya bisa menahan rasa sakit dalam hatinya. "Lepasin aku!" Ucapnya.
"Naomi, badan kamu panas. Muka kamu pucat! Kita ke dokter ya."
"Don't touch me!" Ucap Naomi dengan nada rendah. Dino semakin gelisah, ia yakin sesuatu pasti terjadi.
"Jangan temui aku lagi." Ucap Naomi sangat menyakitkan bagi Dino. "Jangan ikutin kalau kamu masih mau kita ketemu." Ancamnya pergi melangkahkan kaki dari rumah itu.
"Naomi! Kamu gak boleh pergi. Rumah kamu disini. Sekali kamu pergi, kamu gak akan bisa kembali lagi!" Cegah Dino, ia takut kehilangan Naomi. Naomi tetap tidak bergeming dan terus melangkah. "Hallo, Satpam! Aku, Dino Bratayudha. Siapapun gak boleh keluar dari sini tanpa seizin saya termasuk Naomi Bratayudha!" Ia segera memberikan perintah kepada semua pekerja termasuk satpam dan penjaga rumah.
"Bratayudha!" Teriak Naomi. "Aku gak butuh nama itu! Aku gak sudi menyandang nama itu." Teriaknya menunjuk Dino.
"Naomi! Hentikan kegilaan kamu!" Ucap Ratih yang terganggu dengan pembicaraan mereka berdua. "Apapun yang terjadi diantara kalian! Bicarakan baik-baik, kalian bukan lagi anak kecil!" Bentak Ratih.
"Ma, tenang. Dino dan Naomi akan bicara baik-baik. Naomi, aku kasih kamu waktu untuk menenangkan diri. Ayo kita masuk." Dino masih bersabar dan akan selalu bersabar menghadapi Naomi. Ia yakin Naomi gak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang atau alasan yang penting.
"Aku gak akan masuk ke rumah itu lagi." Ucapnya membuat semua orang kaget terutama Dino. "Naomi!" Dino langsung berlari untuk menangkap istrinya itu. "Naomi, sadar! Pak Beben ambil kunci mobilku. Ma, aku bawa Naomi ke rumah sakit dulu."
******
Naomi terlihat begitu lemas. Ia tak sadarkan diri setelah berjuang menahan kekecewaan yang dialaminya.
"Adam, gimana kondisi Naomi?" Tanya Dino panik. Ia bingung dengan situasi yang dia hadapi. Semua terjadi begitu mendadak tanpa tahu awal mula dari semuanya. "Aku gak tahu apa yang terjadi sama Naomi. Tiba-tiba dia berubah begitu drastis." Keluhnya kuatir dengan kondisi Naomi.
"Dia kekurangan cairan. Sepertinya dia sangat kelelahan. Jaga dia, biarkan dia istirahat beberapa hari." Jawab Adam tanpa solusi.
"Ok Dam." Ucap Dino yang terus berada di samping Naomi. "Nom, apapun yang terjadi kamu harus ngomong sama aku. Aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak mau liat kamu disini." Ucap Dino sambil menitihkan air mata.
Selama berjam-jam ia hanya menatap Naomi yang masih tertidur pulas. Selama itu juga ia selalu memberikan energi positif kepada Naomi. Semua akan baik-baik saja.
"Nom, kamu sudah sadar." Ucap Dino bahagia tapi tidak sebaliknya. Naomi semakin menghindarinya. Ia bahkan tak ingin disentuh oleh Dino. Ia tidak mengizinkan Dino membantunya, dia lebih nyaman bersama suster. Namun, Dino tetap bersabar. Dia memindahkan beberapa pekerjaannya di rumah sakit agar ia tetap bisa menemani Naomi. Selama itu juga Naomi tetap mencari cara untuk pergi dari Dino.
"Naomi, kamu mau kemana!" Tanya Dino yang baru saja kembali dari konsultasi dengan dokter. Naomi sudah berganti baju dan hendak pergi dari rumah sakit.
"Aku mau pergi! Jangan sentuh aku!" Ucap Naomi sinis, hal ini membuat Dino emosi.
"Naomi! kamu gak boleh pergi kemanapun! Kamu harus disini bersama aku! Kalau kamu mau pergi! Ayo kita pulang!" Dino menggenggam tangan Naomi erat hingga dia kesakitan.
"Lepasin aku!" Teriak Naomi bahkan sampai mengigit tangan Dino.
"Naomi, kamu itu kenapa?" Tanya Dino namun Naomi langsung berteriak seperti bertemu dengan orang asing yang akan mencelakainya. Ia terus berteriak memanggil suster. "Naomi ini aku Dino, suami kamu." Dino benar-benar shock melihat Naomi seperti ini. Ia terlihat sangat depresi. Naomi menangis histeris, "Pergi Dino! Pergi!"
Dino terpukul melihat Naomi. Ia terdiam dan hanya melihat suster-suster itu menenangkannya. "Din, gw terpaksa kasih dia obat penenang." Ucap Adam yang tak lagi di gubris Dino. Dino tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Dia menyakiti Naomi dengan tangannya.
Aku gak bisa melihat Naomi seperti ini. Apa salahku Nomi? Kenapa kamu harus seperti ini? Kamu melihatku seperti orang jahat.
Dino menitihkan air matanya dan memilih keluar dari ruangan itu menuju tangga darurat dan meluapkan semuanya di sana. Ia memukul dinding hingga tangannya terluka. Ia terus mengingat semua ucapan Naomi hari ini dan kemarin. "Naomi! Why!" Teriaknya semakin mempercepat pukulannya.
"Dino udah cukup! Ingat! Tangan Lo ini adalah nyawa perusahaan Lo." Adam memeluk Dino yang sudah tak berdaya. Adam tahu Dino sangat terpukul hanya dengan melihat luka yang ada di tangannya.
"Kenapa Dam, aku gak tahu salahku apa? Naomi bilang dia benci aku Adam." Keluhnya sangat menyakitkan. Adam tahu ini berat, ia menyarankan Dino untuk mengobati lukanya dulu dan menenangkan diri. Namun, Dino tak bisa berhenti menangis, hatinya sakit dengan apa yang dilakukan Naomi. "Aku sangat mencintainya Dam." Ucapnya.
Sementara itu, Naomi masih berusaha untuk keluar dari rumah sakit dengan menukar bajunya dengan seragam suster pingsan akibat ulahnya. "Suster, saya minta maaf" Ucapnya melanjutkan aksinya. Tak ada yang curiga dengan penampilannya dengan mudahnya ia keluar dari rumah sakit tanpa diketahui siapapun.
Tak berapa lama, Dino dan Adam kembali untuk mengecek keadaan Naomi. "Seharusnya dia sudah bangun, pasti dia akan lebih tenang." Hibur Adam. Dino juga mengharapkan keadaan yang lebih baik untuk Naomi. "Mudah-mudahan."
"Naomi." Panggil Dino sambil membuka pintu kamarnya. Dino masih mengira jika Naomi masih tidur karena selimut masih menutupi semua badannya. Kadang Naomi suka melakukan itu.
"Nom, kamu kebiasaan. Kalau kamu kayak gini kamu gak bisa napas." Dino menarik selimut itu dan kaget melihat bukan Naomi namun seorang suster yang memakai baju pasien tangan dan mulutnya di plaster.
"Suster Mita!" Sebut Adam shock.
Dino langsung berlari keluar kamar dan mencari Naomi keseluruh rumah sakit. Ia bahkan meminta semua anak buahnya mencari Naomi. "Suster! Gimana bisa istri saya hilang!" Ucapnya marah sambil mengebrak meja.
"Dino, tenang! Lo buat semua takut."
"Adam Lo gak tahu apa-apa. Gw takut Dam!" Jawab Dino kalut. "Hallo, Ma.." Ucap Dino, Ratih memberitahunya jika Naomi ada di rumah. "Aku pulang sekarang!"
Sesampainya di rumah, ia mendapati Ratih duduk sambil memeluk foto keluarga mereka. Dino terdiam, hatinya tahu sesuatu telah terjadi. Ia melangkah perlahan memeluk sang ibu. "Ma, ada apa?"
"Maafin mama Dino. Maaf karena mama menutupi semua ini. Naomi sudah pergi Dino." Ucapnya membuat Dino shock. "Gak mungkin ma. Kenapa ma? Kenapa mama biarin gitu aja. Naomi istri aku ma, menantu Mama." Ucapnya tak percaya dan mengecek sendiri dengan mata kepalanya, tidak ada lagi baju di lemari Naomi bahkan foto pernikahannya sudah hancur.
"Gak ini, gak mungkin! Gak! Naomi!" Teriaknya. "Ma, Naomi ma." Panggilnya dalam pelukan Ratih yang hanya dapat memeluknya.
"Ini salah mama dan papa Dino." Ucap Ratih juga ikut menangis bersama Dino. Tak hanya mereka semua yang ada di sana juga bersedih.
******
"Naomi kamu mau kemana?" Cegah Ratih menarik koper yang dibawa Naomi.
"Ma, lepasin! Aku udah tahu semuanya. Seharusnya sejak awal aku gak pernah masuk dalam keluarga ini. Keluarga tidak bertanggung jawab yang membiarkan anak laki-laki melupakan tindakannya yang telah menghancurkan hidup seorang anak perempuan dengan luka cacat seumur hidupnya." Naomi melampiaskan semuanya yang tidak ditangkap oleh Ratih.
"Apa maksud kamu? Dino sangat mencintai kamu dan rela berkorban untukmu!" Bela Ratih.
"Lalu bagaimana dengan ini?" Naomi menunjukkan bekas lukanya. "Bagaimana dengan kecelakaan 20 tahun yang lalu." Naomi melemparkan boneka beruang miliki Dino sewaktu kecil. Boneka yang menjadi penyebab awal kecelakaan itu.
"Kamu... sudah tahu semuanya?" Ratih shock dengan semua ini. Rahasia yang dia tutupi rapat-rapat kini sudah terbuka. Dia langsung mengingat percakapannya dengan Hendrik 5 tahun yang lalu.
"Ratih, Dino gak boleh berhubungan dengan wanita itu. Aku akan memisahkan mereka." Ucap Hendrik ketika Ratih bersikeras untuk mendukung hubungan mereka berdua.
"Pa, Dino hanya akan bahagia bersama Naomi. Dino sangat mencintai Naomi."
"Ratih, aku juga sayang sama Dino. Dia anak laki-lakiku satu-satunya. Aku gak mau Dino sakit dan terluka. Aku gak mau Dino hidup dalam traumanya."
"Kalau gitu kita ceritakan ke dia, apa yang terjadi ketika dia masih lima tahun." Ucap Ratih. "Gak bisa, Kalau kamu ceritakan yang sebenarnya Dino akan mengalami penyesalan seumur hidup." Ucap Hendrik menghentikan langkah Ratih.
"Naomi adalah anak perempuan itu. Anak yang kamu tinggalkan begitu saja di rumah sakit 20 tahun yang lalu." Ucap Hendrik menjadi petir bagi Ratih hari itu.
"Kita harus memisahkan dia. Mama gak perlu kuatir, semua papa yang urus." Ucap Hendrik. Ini adalah awal hubungan Hendrik dan Gilang.
Ratih tak bisa lagi berkata-kata, di depannya Naomi menatapnya dengan penuh kekecewaan. Sebaik-baiknya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Rahasia yang diharapkan untuk terus terkubur kini telah terbuka. Ia tidak pernah membenci Naomi, memisahkan dia dari anaknya. Ia sangat menyayangi Naomi. Dia secara diam-diam mendukung keduanya meskipun ia tahu suaminya adalah orang yang merencanakan perpisahan mereka.
"Ibu Ratih Bratayudha yang terhormat. Tahukah anda apa yang dilakukan suami anda. Ia sudah menghancurkan sebuah keluarga menyebabkan seorang anak hidup dipanti asuhan!"
"Maksud kamu?" Tanya Ratih parau. Naomi sebisa mungkin menahan air matanya. Ia memilih pergi meninggalkan Ratih dan yang lain.
"Bi, tolong jaga tuan Dino." Ucapnya melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.
*****
Dalam pelukannya, Ratih memberikan boneka beruang itu pada Dino. "Ma, ini bonekanya Milka? Bukannya ini mama simpan digudang?"
"Dino, maafin mama. Saat kamu menemukan ini di gudang, mama bohong. Boneka ini bukan milik Milka tapi milik kamu. Boneka kesayanganmu saat kamu berumur 5 tahun." Ucap Ratih terbata-bata.
"Aku.. Gak mungkin.. Karena ini? Gak mungkin aku kan ma." Tanya Dino masih tidak percaya. Ia masih menolak mempercayainya. "Kemana Naomi ma?"
"Dia pulang ke panti sayang." Dino segera menyusulnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments