Sebulan setelah pertemuan itu, Dino belum lagi bertemu dengan Naomi. Beberapa proyek besar yang di handle perusahaannya ditambah Hendrik yang sudah pulang membuat dirinya semakin sibuk.
"Din, kapan kamu berniat untuk melamar Tessa? Kalian sudah sangat dekat selama di England." Celetuk Hendrik saat mereka membahas konsep design yang harus mereka gunakan untuk konstruksi selanjutnya.
"Kenapa pa? Dia mau segera menikah? Papa bisa jodohkan dia dengan salah satu rekan bisnis papa." Balasnya tak peduli.
"Dino!" Bentak Hendrik merasa tak suka dengan jawaban itu. "Papa maunya kamu yang menikah bukan orang lain."
"Kapan aku pernah dekat dengannya. Papa yang diam-diam menyuruh dia masuk ke apartemen aku. Aku bahkan gak pernah bicara panjang lebih dari 10 menit selain urusan kantor. Jadi aku gak pernah merasa dekat dengan dia. Atau perlu aku bantu carikan yang sesuai?" Balas Dino menohok.
"Aku gak akan menikah dengan orang sembarangan." Tambahnya lalu menyodorkan design konstruksi yang sudah dia check dan setujui kepada ayahnya untuk segera di tandatangani.
"Jangan berharap kamu bisa bersama dengan wanita itu!" Ancam Hendrik.
"Bagaimana jika aku memaksa!" Tantang Dino membuat Hendrik naik pitam. "Papa, akan membuat dia menderita." Ancamnya lagi.
"Seperti saat papa membunuh cucu didalam kandungan Naomi. Pa, ingat sesuatu yang berarti di keluarga kita ada bersama Naomi." Balasnya.
"Dino, sejak kapan kamu jadi kurang ajar sama papa!"
Kali ini Dino membantah ayahnya dan mengatakan, "Aku akan selalu hormat sama papa. Aku adalah anak kandung papa. Aku gak mau papa bersedih seperti aku yang pernah kehilangan anakku. Aku bahkan baru tahu setelah dia sudah pergi." Balas Dino tak kuasa menahan semua rasa penyesalan yang dalam di hatinya. Ia tak ingin bertengkar dengan ayahnya. Ia memilih untuk meninggalkan ruangan itu.
"Papa, lakuin itu karena gak mau liat kamu sakit di akhir!" Ucap Hendrik yang tak di hiraukan oleh Dino.
Malam terasa begitu sepi, seseorang duduk sendirian dengan 6 botol bir kaleng disampingnya sambil memandang jauh ke langit. Berkali-kali, lelaki itu mengusap air mata yang keluar dari matanya. Sesekali ia menertawakan dirinya. "Milka, apakah kamu melihat kakak dari sana? Apakah kamu kecewa?" Teriak Dino frustasi.
Ia berbicara lagi,
"Milka, papa bilang semua yang dilakukannya adalah untuk kebaikan kakak, kebaikan apa? Ada apa dengan Naomi, mengapa papa begitu membencinya." Tanyanya lagi. Dia berharap seseorang bisa menemaninya. Berharap seseorang bisa menjadi temannya berbagi cerita. Ia mencoba menghubungi Adam berkali-kali, namun tak ada respond. Ia hanya bisa merenung sambil menyandarkan dirinya di sisi depan tempat tidurnya yang menghadap ke kaca besar. Dari kaca itu, ia dapat melihat indahnya kota, lampu-lampu gedung pencakar langit.
"Kamu melihatku, Milka? Apakah kamu juga melihat Naomi? Apa yang sedang dilakukannya. Aku merindukannya." Ia kembali meneguk bir.
"Milka! Kakak rindu sama kamu." Teriaknya lalu menengguk bir kaleng itu lagi. "Aku gak boleh mabuk, aku gak boleh menyalahkan diri sendiri." Ucapnya dalam keadaan mabuk.
Hatiku terasa hampa, setelah memilih untuk meninggalkannya hari itu, tidak ada kebahagiaan di dalam diriku. Aku seperti mayat hidup yang berjuang untuk bertahan. Aku seorang pengecut yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahku sendiri yang menghancurkan hubunganku. Ayahku yang paling aku hormati dan sayangi membayar seseorang untuk menjebak kekasihku. Aku, laki-laki yang lari dari kenyataan dan memilih meninggalkan wanita yang paling aku cintai. Disaat ia rapuh, aku memilih cara paling kejam untuk meninggalkannya.
Andai dia tahu, aku memilih pilihan tersulit dari yang ada saat itu. Aku sangat menderita dan sangat merindukannya.
"Dino! Lo ngapain mabuk-mabukkan di sini. Semua orang di rumah nyariin Lo." Teriak Adam panik ketika melihat Dino dengan kaleng Bir yang berserakan dimana-mana.
"Aku kangen sama Milka, Dam!"
"Bukan disini tempatnya, bukan dengan minum-minum. Besok gw temenin ke sana." Ucap Adam memapahnya menuju mobil.
"Aku udah gak bisa ke sana. Aku gagal melindungi orang yang aku cintai." Balasnya lalu pingsan tak sadarkan diri.
"Dino! Lo kenapa jadi begini sih. Dua tahun yang lalu Lo memilih meninggalkan dia. Bahkan disaat gw minta kalian kembali tapi Lo menolak. Sekarang, Lo menderita sampai seperti ini." Adam memasangkan sabuk pengaman dan mengantarkan Dino ke rumahnya.
Selama diperjalanan ia turut memikirkan sahabatnya itu. Ia ingat pembicaraan mereka terakhir sebelum Dino memutuskan untuk pergi. Ketika itu Dino datang ke apartemennya dalam keadaan basah kuyup dan panas tinggi. Ia tidak sadarkan diri sampai dua hari. Dalam keadaan tidak sadarkan diri ia selalu mengatakan maaf.. maafin aku.
"Dino! Lo udah sadar?" Sapa Adam ketika sahabatnya itu bangun.
"Adam, apa yang akan Lo lakukan ketika orang yang kita hormati secara tidak sengaja menyakiti dan menghancurkan hidup wanita yang Lo cintai?"
Tanya parau dan frustasi.
"Minta maaf, perbaiki kesalahan." Balas Adam santai, ia lalu bertanya apa yang sebenarnya di hadapi Dino.
"Aku gak bisa memperbaikinya, kesalahan ini terlalu fatal. Bagaimana caranya Dam!" Dino menangis. "Papaku Dam yang telah membayar Gilang untuk menghancurkan hubungan aku." Ucapnya.
"Aku telah menyakiti Naomi selama ini."
"Dino. Kenapa Lo nangis. Bagus kalau Naomi gak pernah mengkhianati kamu. Bagus dong!"
"Papa gw yang menyebabkan Naomi keguguran!" Balasnya membuat Adam terdiam. Matanya kini berubah ketika melihat Dino begitu hancur dan rapuh. Sahabat yang selalu menguatkannya kini menghadapi kenyataan pahit. Dalam hati ia tidak percaya, Hendrik yang sudah dia anggap seperti ayahnya tega melakukan itu semua.
"Aku gak sanggup menemui Naomi." Peluknya.
Seminggu setelahnya, Dino meminta pengacaranya untuk merubah surat kepemilikan Condominium atas namanya menjadi milik Naomi. Selain itu, dia juga membeli sebuah studio ballet untuk Naomi.
"Din, maksud Lo apa? Lo mau pindah ke Inggris. Lo jangan jadi pengecut!"
"Ini cara terbaik untuk aku dan dia. Dia berhak dapat laki-laki lebih baik."
"Lo yakin bisa kehilangan dia. Bisa liat dia sama cowok lain? Bohong Lo!" Kecam Adam kesal.
"Aku akan selesaikan malam ini." Balas Dino lalu meninggalkan ruang kerjanya.
*****
2 Tahun yang lalu, tepat dihari Dino memutuskan untuk pindah ke Inggris setelah menghabiskan malam bersama Naomi.
"Dino, itu Naomi. Dia ngejar Lo! Pak berhenti." Ucap Adam.
"Jalan Pak. Jangan berhenti!"
"Ja-ngan Dam." Dino mencegah Adam. Dino menutup matanya menitihkan air mata.
*****
"Naomi, ini gw Adam. Gw perlu bantuan Lo. Gw mau Lo datang ke apartemen Dino. Gw akan kasih tahu Lo kenyataan yang sebenarnya. Lo bersedia?" Tanya Adam.
"Aku gak mau lagi berurusan dengan dia." Balas Naomi namun hatinya tetap ingin tahu.
Apa yang harus ku pilih. Haruskah aku membuka kembali lembaran masa laluku?
Lembaran yang begitu menyakitkan tentang Dino.
"Maaf tapi dia adalah masa laluku."
...****************...
Naomi sadarlah Dino adalah bagian dari masa lalu mu, dia sudah meninggalkanmu. Sekarang kamu udah hidup dengan bahagia. Kamu sudah punya Alexander. Dia lelaki yang baik. "Naomi! Stop memikirkan Dino!" Ucapnya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Tidak! Dia tidak boleh, dia tidak boleh ada di dalam pikiranku!" Jawabnya. "Lebih baik aku menghubungi Alexander!"
"Alexander kamu dimana?"
"Aku sedang diluar bersama atasanku. Ada apa?" Tanya Alexander. Naomi mengajaknya bertemu untuk makan malam bersama dengannya. "Baik, sampai jumpa Naomi." Ucapnya.
"Ada apa Alex?" Tanya atasannya yang tak lain adalah Dino.
"Naomi, mengajak saya pergi makan malam." Perkataan itu jelas menganggu Dino. "Lalu? Kamu terima?" Jawabnya lagi.
"Kamu suka sama Naomi? Kamu tahukan alasan mengapa saya membayar kamu untuk menjaga Naomi." Jawab Dino.
"Maaf Pak. Saya akan segera membatalkannya." Balas Alexander.
"ALEX!" Panggil Naomi.
"Naomi!" Panggil Alex kaget melihat dirinya. Tidak hanya Alex wanita itu juga kaget dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Jadi selama ini kamu dan Dino saling kenal dan berhubungan? Kenapa kamu gak kasih tahu aku Alex!" Tanya Naomi bertubi-tubi."
"Waktu itu bukan tempatku untuk berbicara" Naomi langsung menamparnya. "Stay away from my life!" Ucapnya lalu menyiram segelas air kepada Dino. "Kamu gak akan bisa mempermainkan aku! Meskipun kamu orang kaya!"
Dino hanya diam dan membersihkan bajunya. Namun tangannya dengan cepat menarik Naomi dan meminta Alexander untuk pergi dan kembali bekerja. "Naomi! Apa salah Alexander? Kenapa kamu harus tampar dia?" Dia sampai berdiri dari bangkunya dengan muka yang emosi dan menahan rasa sakit pada hatinya.
"Dia itu! lelaki yang aku harapkan bisa membuat aku melupakanmu!" Ucap Naomi dengan mudah. "Aku ingin melepaskan mu dan semua yang terjadi di masa lalu."
Dino terdiam dan menatap Naomi dengan tajam, tangannya tak ingin melepaskan Naomi. Ia meletakkan sapu tangan yang diberikan Alexander, dan membuangnya keatas meja. Dino berjalan mendekati Naomi dengan ekspresi tak percaya, "Naomi, aku gak akan minta maaf sama kamu. Ingat baik-baik kata aku, kamu tidak akan bisa melupakan aku." Ia menarik Naomi ke pelukannya dan menatap kedua matanya. Ia meraba rambut Naomi dengan lembut, pipinya dan bibirnya. Ini membuat Naomi risih. Dia lalu berbisik di telinga Naomi, seperti sedang menggoda.
"Hanya orang bodoh dan egois yang berbohong pada dirinya sendiri. Mengaku orang lain sebagai pacarmu. Alexander orang yang aku bayar untuk mengusik hidupmu, paham!" Dino lalu mengecup bibir Naomi.
"Aku jauh lebih baik. Aku kenal dan hafal semua tentangmu Naomi." Ia mengelus kulit lembut Naomi. Sentuhan itu membuat Naomi melirik padanya. Dino lalu pergi meninggalkannya.
"Dino! Aku menyesal mengenal kamu ... menyesal mencintai kamu .... menyesal...."
Dino hanya bisa menyimpan semua dalam hatinya. Meskipun harus merasakan teriris setiap kali Naomi bicara.
Naomi kalau aku bisa bicara, saat ini hatiku seperti tertusuk duri mendengar semua perkataan dari bibirmu. Kalau kamu tahu yang sebenarnya, kamu gak akan mau menemui ku Nom.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments