Setelah kesal dengan kelakuan Dino yang seperti menganggapnya wanita bodoh. Naomi merebahkan badannya di atas kasur busa di kamarnya yang sederhana. "Aku gak akan pernah tertipu lagi denganmu."
Ia mencoba menaikan moodnya dengan memasak makanan yang ada di kulkas.
Tok! Tok! Tok!
Seseorang mengetuk pintunya, Naomi heran siapa yang akan datang di tengah malam seperti ini. Ia mencoba mendelik dari balik jendela tapi tidak melihat siapapun.
"For you!" Ucap Dino membuat Naomi kaget. "Aku tahu kamu mengintip dari dalam. Kalau kamu liat aku, kamu gak akan bukain pintu." Balas Dino santai tak terpengaruh oleh Naomi yang masih shock dengan kedatangan Dino.
"Mau apa kamu?" Tanya Naomi ketus, "Bawa balik makanan ini." Meskipun hatinya tidak rela membuang pasta kesukaannya.
Dino tertawa kecil mendengar perkataan itu, "I know you bad. Mood mu pasti jelek setelah mengetahui Alexander adalah orang suruhan ku." Ucapnya meledek sambil menggoda.
"Stop! Jangan mendekat!" Naomi mundur menjauhkan dirinya dari Dino. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang lewat batas. "Kenapa Naomi takut. Aku udah tahu semuanya." Ucapnya semakin menggoda Naomi.
Naomi merasa terancam dengan perkataannya sehingga buru-buru menyilangkan tangannya. "Aku bukan mainan mu. Pergi!" Dia menunjuk pintu rumahnya. Namun Dino semakin mendekat dan menariknya ke dalam pelukan Dino. Ia mencium bau aroma Dino merasakan tubuhnya. Dino memeluknya dengan erat dan menggeser rambut Naomi dengan lembut memperlihatkan lehernya lalu menciumnya dengan lembut membuat wanita itu geli.
"Dino" Panggil Naomi dengan mata terpejam. Ia sudah masuk perangkap Dino.
"Kenapa Naomi, kamu merindukan aku." Ucapnya lalu mencium Naomi dengan lembut. Suasana semakin dalam Naomi sangat bahagia bisa memeluk Dino lagi.
Dino juga meneteskan air mata memeluk Naomi erat. "Apa kamu membenciku?" Tanya Dino. "Iya, saat kamu tidak peduli padaku." Ucap Naomi membuat Dino tersenyum. "Aku gak suka kamu bilang Alex bisa mengantikan ku." Ia mengecup Naomi terutama bekas lukanya dan melihat tanda di perut Naomi, tanda bekas operasi dulu. Dino langsung terdiam.
"Kenapa Dino?" Tanya Naomi menatap lelaki di depannya. Dino juga menatapnya dan meneteskan air mata. Naomi mencium Dino namun lelaki itu membeku. Air mata terus menetes dari kedua matanya di kedua pipi Naomi. "Aku rasa ini salah. Aku mau berhenti!" Ucap Dino melepaskan Naomi yang sedang memeluknya. Ia buru-buru merapikan bajunya yang berantakan.
"Dino!" Panggil Naomi kesal membuat langkah Dino terhenti. "Apa maksud kamu. Berhenti? Kamu pikir aku mainan kamu. Kamu bisa datang dan pergi!"
Dino tetap membelakangi Naomi, mukanya sudah merah. "Berikan aku laporan proyek IT itu." Jawab Dino lalu meninggalkannya. Naomi hancur dengan semua permainan Dino.
Maaf Naomi! Maaf Naomi! Ucap Dino terus memukul dirinya sendiri tanpa ia sadari mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir menabraknya. Beruntung ia langsung mengalihkan mobilnya dan hanya melewati trotoar. "Auuu!" Ia melihat luka kecil di dahinya. Tertawa kecil lalu menangis, bodoh! Jangan mulai Dino!
Naomi duduk sambil terus melihat kearah ruangan dan jalan menuju kantornya.
Aku risau semenjak semalam, apa yang terjadi pada Dino? Aku belum melihatnya pagi ini. Dino bukanlah orang yang akan terlambat tanpa pemberitahuan seperti hari ini. Apa yang terjadi setelah dia pulang dari rumahku?
"Naomi, Pak Dino apa sudah datang?" Tanya Rekso padanya sambil melihat jam dengan cemas. "Pak Dino dimana? Meeting sama klien dari Swedia mau dimulai bentar lagi. "Nom, coba hubungi pak Dino." Pintanya.
"Pak, saya gak bisa menghubungi Pak Dino." Ucapnya. "Naomi, kalau Pak Dino sudah datang langsung ke ruang meeting ya." Pesannya lagi.
"Dino, kamu dimana? Apa aku hubungi Adam?" mencari ponsel di tasnya dan menghubungi Adam. "Dam, apakah kamu bersama dengan Dino?" Tanyaku ..
"Dam, aku udah di kantor." Ucap Dino setelah mengambil ponsel itu dari tanganku. "Kamu gak perlu hubungi Adam jika aku belum datang. Kamu punya nomor teleponku kan? Gak bisa hubungin aku?" Tanyanya langsung pada Naomi.
"Aku udah coba menghubungi kamu tapi gak diangkat." Jawab Naomi.
"Naomi, hari ini kamu kerja diluar kantor. Aku mau kamu pergi ke tempat itu, setelahnya berikan laporan kepadaku." Dino menyodorkan tiket pertunjukan balerina black swan.
"Wow, Serius Dino!" Naomi kaget sekaligus senang menerima tiket itu. "Kamu senang Nom?"
"Iya jelas aku senang. Kamu tahukan Din, aku suka banget sama ballet. Din kamu masih ingat .." Naomi terdiam menyadari jika Dino di depannya bukan lagi kekasihnya tapi atasannya. Tidak ada lagi hubungan diantara mereka berdua.
"Sekarang kamu boleh pergi.."
"Din, apa yang harus aku laporkan?" Tanya Naomi.
"Aku akan kirimkan ke kamu nanti." Balas Dino, "Pak, Naomi akan turun sebentar lagi." Ucapnya kepada supir pribadinya. "Kamu diantar Pak Beben ya. Kamu kenalkan Pak Beben? Supir pribadi aku."
"Naomi, jangan biarkan Pak Beben menunggu." Ucapnya lagi sebelum pergi menuju ruang meeting.
"Fritz, aku ke sana 5 menit lagi.."
"Pak Dino ini berkas yang bapak cari."
"Terima kasih Bu, langsung diberikan ke sekretaris saya."
"Baik Pak." Bu Sari, Manager Accounting kepercayaan Dino kembali menerima dokumen yang telah ditandatangani itu dan memberikannya pada Naomi.
"Bu, berikan pada Fritz."
"Baik Pak, saya pikir ke Bu Naomi. Dia juga sekretaris Bapak." Namun Dino tak menggubrisnya dan langsung keluar ruangan.
Fritz! Sekretaris Dino? Lalu apa fungsi ku disini?
*****
5 Jam berlalu, Dino kembali ke kantornya setelah hampir seharian melakukan rapat dengan kliennya. Ia menatap meja Naomi yang kosong. "Maaf tapi dia adalah masa laluku." Ucapan Naomi yang diingatnya semalam.
"Aku memanglah masa lalu mu Naomi. Sekarang, seharusnya pertunjukan itu sudah selesai. Kenapa Naomi belum menghubungiku?" Ia lalu mengirimkan pesan pada Naomi.
D: Naomi, Bagaimana pertunjukkannya? Apakah kamu suka?
N: Din, keren banget! Aku suka banget. Semoga suatu hari nanti aku bisa mengadakan pertunjukkan ini. Din, aku kenalan sama orang baru, namanya Mr. Togaya, dia lagi investor. Dia mau bangun sekolah ballet di Indonesia.
D: Oh ya, bagus dong Naomi. Semoga Mr. Togaya mau berinvestasi di studio mu. Naomi, malam, maukah kamu makan malam bersamaku?
N: Boleh, aku tunggu kamu disini.
D: Ok, Tunggu aku.
Naomi, aku senang kalau kamu senang.
"Om, Togaya. Ini Dino om. Gimana om, kapan om akan mulai berinvestasi?" Tanya Dino pada Om Togaya, adik ayahnya.
"Dino, kenapa kamu gak langsung aja." Balas Togaya. "Om, aku sudah jelaskan kemarin, please om bantu aku." Pinta Dino.
"Om, aku berharap bisa mendorongnya untuk mendapatkan mimpinya." Ia menyampaikan harapan terdalamnya bagi Naomi, wanita yang sangat dicintainya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments