Selamat kamu diterima sebagai karyawan PT. Profla - Sabrina.
"Aku keterima kerja! Omaaa! Aku keterima kerja!" Teriak Naomi. Ia berlari keluar kamar dan menari-nari diruang tamu. "Aku keterima kerja!" Ucapnya lagi. Rasanya seperti mendapatkan lotre.
"Oma aku siap-siap dulu." Dia begitu senang sampai-sampai menabrak meja yang ada di sudut dinding dekat kamarnya. "Aduh!" Tapi dia tetap tersenyum dan lanjut menari. Hari ini dapat kerja ucapnya terus menerus sambil merapihkan bajunya. Berjalan dengan senang hati sambil melantunkan lagu dengan bergumam. "Ibu Naomi ya. Silahkan langsung naik ke ruang HRD." Dia langsung diantarkan ke ruang HRD. Ia menaiki lift menuju lantai 14, semakin mendekati lantai tersebut rasanya deg degan tapi dia tetap semangat.
"Selamat pagi." Sapa orang-orang di sana sangat ramah. Membuatnya kaget, tak menyangka semua karyawan di sana sangat sopan dan ramah. "Selamat pagi.." Balasnya tapi ada juga yang membicarakannya dan meliriknya seperti melihat orang dari planet luar. "Silahkan Bu." Salah satu orang di sana memintanya untuk masuk seorang diri sambil memberikan amplop coklat berisi datanya. "Masuk sendiri aja..." Ucapnya takut.
"Permisi pak. Saya Naomi, karyawan baru untuk departemen Marketing." Ucapnya sambil memberikan amplop datanya.
"Kenapa telat? Kalau kamu dihadapkan oleh klien yang membuat kamu marah, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya orang itu dilihat mengarah ke arah jendela yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.
"Bersikap Sabar! Berdialog dan mencari solusi." Ucap Naomi dengan tegas. "Oh ya...Ibu Naomi." lelaki itu berbalik arah dan tersenyum padanya. "We meet again, Ms. Naomi." Sapa nya. "Visi dan Misa yang bagus, Nom. Follow me!" Ucapnya menyuruh kan mengikutinya ke ruang kerjanya dilantai 25, CEO PT. Plofa. Dino Bratayudha.
"Dino!" Naomi kaget mendengar, suara laki-laki yang baru saja menyapanya.
"Naomi tunggu!" Teriak Dino sambil mengelap bajunya dengan handuk. Naomi tidak perduli dan langsung berlari. Dino pun mengejarnya, "Naomi, tunggu. Kamu datang kesini untuk wawancara? Aku belum selesai berbicara sama kamu. Ayo kita kembali lagi ke ruangan aku."
"Tidak perlu. Aku akan cari kerja ditempat lain." Jawab Naomi terburu-buru.
"Kenapa? Aku mau kamu jadi sekretaris ku lagi Nom." Balas Dino.
"Aku gak akan mau kerja sama kamu. I hate you!" Ucapnya membuat Dino terdiam. Banyak mata yang menyaksikan hal ini.
"Aku gak tahu jika perusahaan ini bagian dari Bratayudha."
"Ini perusahaan aku Nom. Tidak ada hubungannya dengan Bratayudha." Jawabnya.
"Apa kamu tidak merindukan aku?" Tanyanya lagi.
"Bukankah kamu tidak ingin melihatku lagi? Aku sudah punya pacar namanya Alexander. Jadi lepaskan tangan kamu dan menjauh lah dari ku saat ini juga." Dia mendorong Dino dan masuk ke lift. Dino mengejar Naomi ke lantai dasar, dan menariknya keluar dari lift. Semua orang melihat mereka, "lepasin aku.."
"Naomi... kita bisa bicara baik - baik bukan kayak gini caranya."
"Aku gak perlu bicara baik-baik. Aku udah bilang, aku sudah melupakanmu. Aku sudah punya pacar dan namanya..."
"Alexander..." Balas Dino. "Aku dengar dengan jelas. Tapi permasalahannya kamu adalah karyawan di kantor ini. Kamu sudah menandatangani surat kontrak kerja. Jadi kamu harus profesional." tegas Dino, ia menarik Naomi mendekat, "Kamu pikir aku peduli sama kamu. Aku tahu hati kamu Nom." bisiknya. "Temui aku di kantorku 10 menit dari sekarang."
...****************...
"Mulai hari ini. Kamu akan mengantikan Bu Sari sebagai sekretaris ku. Ini tempat kamu dan di sana meja aku." Dino menunjuk meja yang berada ditengah itu sebagai mejanya.
"Dino, aku melamar bukan untuk sebagai seorang sekretaris. Aku melamar untuk posisi PR." Balas Naomi.
"Sabrina gak info kalau ada orang baru yang aku pilih untuk masuk di posisi itu. Kamu gak cocok untuk posisi itu." Balasnya lagi membuat keduanya terlibat dalam sebuah percekcokan.
Aku gak mau Din. Aku mengundurkan diri!" Ancam Naomi yang tak digubris oleh Dino. " Silahkan, bukankan kamu butuh pekerjaan untuk membayar semua hutang-hutang rumah panti?" Ucap Dino dengan santai, ia menyenderkan dirinya pada sebuah bangku hitam kulit yang nyaman.
"Aku bisa cari pekerjaanku sendiri." Naomi tidak ingin kalah dari Dino.
"Ok! Sekarang kamu mau kerja di bagian mana? Tapi bukan PR. Aku akan hubungi HR, dan merekomendasikan kamu di posisi itu. Selain itu, aku akan bantu kamu membayar hutang panti. Tidak gratis, aku akan memotongnya sebesar 30% dari upahmu tiap bulan plus bunga 10%. Gimana?"
"Dino, kamu keterlaluan. Kamu udah banyak berubah, kamu lebih cocok jadi seorang rentenir! Aku gak akan terima tawaran kamu."
"Stop Naomi! Aku gak ingin berdebat. Ini adalah keputusanku." Dove melemparkan berkas Naomi di hadapannya, "Kamu lupa Aku bisa dengan mudah menghubungi semuanya." Sambil melempar sebuah amplop berisi list perusahaan yang dilamar oleh Naomi namun tak satupun menerimanya. "Kamu mau coba?" Tantangnya.
"Dino! Apa salah aku sama kamu? Masalah Gilang? Kamu yang tinggalin aku!" Naomi mulai kesal, rasanya ingin sekali menghajar Dino. "Stop! Jangan berdebat soal ini. Cukup sampai disini. Hallo, tolong beritahukan pak Cakra untuk ke ruangan saya."
"Kembalilah ke kursi mu dan lakukan tugasmu. Dino mengusir Naomi pergi dari hadapannya. "Hutang Panti akan aku bereskan." Ucapnya lagi.
"Aku gak butuh uang kamu!" Naomi hendak meninggalkan Ruangan kerja Dino. "Naomi, apa keadaanmu sudah baik-baik saja?" Tanya Dino menghentikan langkah kaki Naomi.
Mengapa Dino bertanya seperti itu padaku? Apa yang dia ketahui tentang keadaanku. Tidak! tidak ada yang tahu soal ini kecuali Oma Murni.
Naomi tetap terdiam dan tidak berbicara apapun.
"Apa masih ada orang yang selalu mengikuti mu? Dimana kamu tinggal sekarang? Kembalilah ke Condominium." Dino memberikan kunci Condominium mereka kepada Naomi. "Aku gak butuh uang atau perhatian dari kamu." Ucapnya setelah menampar wajah Dino.
"Aku mengundurkan diri." Tegas Naomi.
Dino tertawa mendengarnya. "Semudah itu, kamu mundur. Semudah itu juga kamu melupakan apa yang terjadi diantara kita. Perlu aku ingatkan kamu lagi?" Dino berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Naomi. Mendorongnya hingga menempel pada dinding, terperangkap dalam pelukannya.
"Aku masih mengingat dengan jelas kejadian malam itu saat di acara perhelatan summer satu tahun yang lalu." Dino terus mengintimidasi Naomi. Naomi tak ingin terus berada di bayang intimidasi Dino, ia memutuskan untuk melawan dengan balas menggoda Dino.
"Aku tahu, aku adalah wanita yang kamu peluk dengan penuh kehangatan." Balasnya balas menggoda Dino. Sekilas Dino merasakan kata-kata itu masuk kedalam hatinya. Hatinya mulai bergetar.
"It's just one night." Balas Naomi dengan sombong.
"One night!" Dino sangat kecewa. Ia ingat bagaimana cara Naomi memeluknya, menciumnya dan menghabiskan malam yang cukup panas dengannya.
"Aku akan mengundurkan diri!" Ucap Naomi lagi.
"Bagaimana dengan panti? Kamu rela mereka tinggal di jalanan?" Balas Dino dengan nada yang tinggi.
"Aku memang meninggalkan kamu Naomi. Tapi kamu lupa apa yang aku katakan malam itu. Hidupmu adalah milikku, Tubuhmu juga adalah milikku." Dino lalu menarik Naomi, "Liat mata aku Nom, aku akan selalu mendapatkan apa yang aku mau!" Ia lalu mencium Naomi dan tak melepaskannya sedikitpun.
Naomi terus bergerak mencoba lepas dari Dino. Namun, ia semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya. "Auuu!" Keluh Dino, ia meraba ujung bibirnya yang terluka. "Nomi, kamu gigit aku?" Tanyanya kesal.
"Aku bukan Naomi yang dulu Dino. Naomi yang begitu mencintai kamu. Aku melakukan segalanya untuk kamu. Sekarang, aku adalah Naomi yang ingin melupakanmu." Balas Naomi dengan nada bergetar, tapi tekadnya sudah bulat. Dia bahkan tak ingin melihat Dino. "Naomi" Panggil Dino melemah, ia cukup terpukul dengan perkataan Naomi barusan. Matanya berkaca, otot pada mukanya juga menegang. "Apakah kamu menyesali masa lalu kita?" Tanyanya.
"Ia, aku menyesali pertemuan kita, kebersamaan kita, semua tentang kita dimasa lalu! Cukup aku gak mau bahas lagi! Jangan ganggu aku Dino. Aku sudah cukup tenang selama dua tahun ini!" Pinta Naomi kesal, ia juga merasakan pedih di hatinya.
"Nom, happy birthday." Ucap Dino memeluknya dari belakang, "Aku berharap kamu bisa bahagia." Ia lalu memberikan sebuah kotak berisi sebuah kotak musik yang dibelinya saat berada di Italia.
Tok! Tok! Tok!
"Pak Dino, memanggil saya? " Kata Pak Cakra dari sudut pintu yang belum terbuka semua.
"Iya, Pak Cakra silahkan duduk." Balasnya sementara Naomi masih menatapnya. "Kamu masih ada urusan? Ruangan saya tidak menerima orang yang bukan karyawan kantor. So, kamu bisa keluar sekarang." Dino lalu mengambil CV Naomi dan menghancurkannya di mesin penghancur.
Bertapa hancurnya hati Naomi melihat apa yang dilakukan Dino. Dalam hati ingin sekali mengutuk lelaki itu. Perubahan besar terjadi dalam diri Dino. Dimana Dino ku yang dulu? Dino yang selalu mengutamakan ku. mencintaiku. Dino yang pernah menjadi calon ayah anakku. Naira akhirnya memutuskan untuk keluar, setiap langkahnya begitu berat. Luka yang ingin di tutupnya terbuka lagi. Rindu yang di tahannya justru semakin membuatnya menderita.
"Pak Cakra, segera lunasi hutang-hutang panti itu dan Naomi." Titah Dino pada asistennya itu. "Pak, tolong pesankan kue cheesecake untuk saya sore ini."
Naomi, aku bukan Dino yang dulu. Dino yang memilih untuk menghindar. Kali ini aku tidak akan menghindar. I still love you!
*****
"Oma, Naomi pulang." Ucapnya disambut pelukan Oma Murni yang selalu bisa membuatnya tenang. "Kak Naomi!!!" Teriak anak-anak yang lain.
"Kakak bawain kalian kue cheesecake." Naomi lalu menunjukkan kue tersebut dan meminta anak-anak untuk mencicipinya. "Kak, kita udah kenyang, di ruang makan banyak sekali kue cheesecake." Kata Chika salah satu anak panti, umurnya masih 4 tahun.
"Kue cheesecake?" Ulangnya, "Seseorang mengirimkan 50 pieces cheesecake untuk kita." Oma Murni coba menjelaskan semuanya. "Dia juga membelikan cheesecake strawberry khusus untuk kamu." Tambahnya lagi semakin membuat Naomi yakin orang yang dia maksud adalah Dino. Setelah melihat kotak kue nya ia semakin yakin bahwa orang itu adalah Dino. Toko kue yang mengirimkannya adalah toko kue favorite Dino dulu. Di toko itu juga Dino belajar membuat kue khusus untuk Naomi.
Sementara itu, di kamar Dino.
"Dino, aku masih menyimpan foto itu?" Tanya Tina pada anaknya lalu memeluknya dengan hangat.
"Ma, mana mungkin aku melupakan anak aku." Ucapnya. "Hari ini aku bertemu dengan Naomi. Dari tatapannya, dia sangat tidak menyukaiku." Ucapnya sambil memeluk Tina dengan erat. "Dia mau melupakan Dino." Tina hanya bisa memeluk anaknya sambil berbagi kesakitan yang dirasakan sang anak.
*****
Satu jam sebelum kepulangan Naomi. Dino datang ke Panti Asuhan.
"Oma Murni" Sapa Dino.
"Dino, sudah lama kamu tidak berkunjung kemari." Balas Oma memeluknya. "Aku juga merindukan Oma." Dino membalas pelukan itu.
"Buat apa kamu kesini" Teriak salah satu orang yang tak asing untuknya. Dia bahkan melempari Dino dengan garam, "Pergi! Tidak ada tempat untuk mu disini!"
"Hentikan! Dino sebaiknya kamu ikut sama Oma." Oma mengajak Dino ke kamarnya.
"Oma!" Dino memberikan hormat sambil bersujud. "Dino datang untuk meminta maaf atas apa yang terjadi pada Naomi. Dino memang tidak pantas untuk Naomi. Kesakitan Naomi akibat Dino, berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya." Pinta Dino sambil berlutut di depan Oma.
"Dino, apa yang kamu lakukan untuk Naomi sudah lebih dari cukup." Peluk Oma Murni. "Oma, tidak pernah menyalahkan mu, Nak." Pelukan itu membuat Dino tak kuasa menahan air mata. Mereka menangis bersama, "Oma akan terus menjaga Naomi untuk kamu."
Sementara itu, di malam hari ia masih duduk sambil menatap meja Naomi. Dengan, segelas anggur di depannya. Ia ingat kejadian setelah perpisahan dengan Naomi. Ia hancur dan mabuk-mabukkan. Tak lama, Bu Sari masuk dan mengantarkan beberapa dokumennya. "Bu .. Besok Naomi akan masuk kerja sebagai sekretaris saya seperti dulu"
"oh ya, bagus pak. Mulai besok ruangan Ibu saya pindahkan ya.." ucapnya sebelum Bu Sari pergi meninggalkannya.
Ia memutar kursinya, dan mengingat bagaimana dinginnya Naomi padanya. "Peri kecilku sudah berubah menjadi peri salju. Begitu dingin hatinya." ucapnya. "Aku merindukanmu Naomi.."
----
Flashback Sweet Moment,
Dino terburu-buru masuk ke Ruangannya dan Naomi sudah menunggunya untuk mengajak pulang bersama.
"Nom, sorry. Hari ini kita gak bisa pulang bareng lagi. Aku ada meeting bentar lagi. Kamu langsung pulang. Biar Bu Sari yang handle." ucapnya. Naomi terdiam, namun otaknya berpikir. Naomi dengan 1000 akal tidak akan pernah kalah dari lelaki yang 10 tahun dikenalnya. "Loh kamu ngapain? Ayo Nom. Aku mau jalan ini." Ucap Dino lagi. Naomi langsung menarik duduk di bangkunya. Ia lalu duduk diatas paha Dino. Ia lalu memeluk Dino dan mencium kedua pipinya.
"Naomi! Kamu ngapain sih? Ini di kantor Nom. Bisa diliatin karyawan Nom." Dino berusaha mencegah Naomi.
"Aku kangen sama kamu Din." Naomi berusaha ingin mencium Dino dan memeluknya erat.
"Gak akan ada yang liat, Dino." Tambah Naomi, ia manja sekali.
"Nom, jangan disini. Aku ada meeting penting." Cegah Dino. Namun, Naomi menang. Ia mendapatkan ciuman Dino.
"Ok! Tunggu! Kita makan malam setelah selesai meeting." Ucapnya menggelengkan kepala melihat sikap manja Naomi yang tidak biasa. Akhirnya dia luluh juga.
"I love you. Aku mau selalu dekat sama kamu." Ucap Naomi manja tidak seperti biasanya. Dino hanya bisa menghela napasnya panjang. Tiba-tiba, Bu Sari datang dan melihat mereka berdua.
"Bu Sari." Naomi langsung berdiri dari posisinya dengan ekspresi malu. Tapi tidak dengan Dino yang lebih santai.
"Naomi, sekarang kamu keluar. Aku mau ketemu klien aku." Pintanya dan langsung meninggalkan gedung bersama Bu Sari.
"Pak, apakah ada rencana menikah waktu dalam waktu dekat?" Tanya Bu Sari. "Maybe!" Balas lelaki itu.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments