"Sejauh ini keadaan Dino baik-baik saja. Apakah dia punya trauma dengan api atau terjebak dalam kebakaran?" Tanya Dokter itu mengobservasi keadaan pasien.
"Tidak" Teriak Hendrik dengan tegas. "Dino tidak memiliki trauma apapun dimasa kecilnya." Ucapnya lagi.
"Sebelum kejadian ini, apa Dino pernah mengalami peristiwa yang sama?" Dokter itu bertanya lagi.
"Dokter, anak saya baik-baik saja." Tegas Hendrik menutupi sesuatu dari dokter itu.
Setelah dokter itu pergi, percekcokan antara Hendrik dan istrinya dimulai. "Pa, kenapa gak Jujur saja, Dino memang pernah terjebak dalam kebakaran saat masih kecil."
"Ma, kita udah sepakat tidak akan membahas kejadian itu lagi, semua sudah papa bereskan. Dino lebih baik hidup tanpa mengingat kejadian itu."
"Pa, Dino harus mengobati traumanya."
"Ma, kalau kamu mau membuka masalah ini. Seharusnya, kamu jangan pernah merestui hubungan mereka berdua. Pada akhirnya, anak kita yang akan terluka."
"Terluka atau tidaknya urusan belakangan, yang terpenting anak aku sembuh!"
"Ma, dia juga anakku. Anakku satu-satunya, kamu lupa semenjak dia putus dari Naomi dia menutup dirinya dari hubungan percintaan. Dia gak bisa melupakan Naomi. Ia rela melakukan segalanya termasuk memberikan mata Milka ke Naomi. Kamu lupa?"
"Pa, Milka dekat dengan Naomi. Mama yakin Milka pasti senang karena dia bisa memberikan kesempatan pada Naomi untuk melihat dunia."
"Ma, cukup! Papa bosan mama selalu membela anak itu. Anak miskin yang tidak akan pernah setara dan pantas untuk anak kita. Sampai kapanpun papa tidak akan pernah setuju!" Hendrik meninggalkan rumah sakit dengan wajah kesal dan hati yang panas.
Aku tidak akan membiarkan rahasia ini terbongkar. Aku tidak ingin lagi kehilangan anakku.
"Hallo, namaku Dino .. Nama kamu siapa?" Tanya Dino kecil sambil membawa boneka beruang kecil pada seorang anak perempuan berbaju dress pink, rambut ponytail dan bando bunga. "Hi!" Sapa anak itu dan menyebutkan namanya. Anak itu juga mengajaknya bermain, ia baru saja melipat pesawat dari kertas.
"Main yuk!" Ajak anak itu melempar pesawat kertas itu ke udara. Wah! Sahut Dino antusias dan ikut melipat pesawat kertas itu. Mereka bermain bersama selama Dino dan keluarganya berada di Bogor.
Dino yang merasa nyaman dengan anak itu kembali dan memberikannya sebuah boneka beruang yang selalu dibawanya. "Buat kamu." Ucapnya memberikan boneka itu padanya.
"Terima kasih!" Balas anak itu tersenyum.
Tiba-tiba semua kebahagiaan itu berubah menjadi kejadian menakutkan dalam hidup Dino. Sebuah lilin jatuh dari atas meja dan membakar semua kertas yang ada tepat dibawahnya. "Api!" Teriak Dino
"Dino!" Teriak Hendrik langsung menariknya dan menyelamatkannya.
-----
"Tidak! Pa, selamatkan dia. Pa!" Teriak Dino dalam kondisi tidak sadarkan diri.
"Dino! Dino!" Tepuk sang ibu membuatnya sadar. "Ma, aku mimpi buruk. Aku mimpi aku masih kecil, aku terjebak dalam api dan ada anak yang terluka. Ma, anak itu gimana? Selamatkan?" Tanya Dino bertubi-tubi, tubuhnya penuh keringat, napasnya cepat dan ia panik.
"Dino, itu semua cuman mimpi. Kamu gak pernah mengalami hal mengerikan itu." Sang Ibu memeluknya erat. "Ma, Dino takut." Ungkap Dino memeluk sang ibu erat.
Maafkan mama nak, mama gak mau kamu lebih hancur.
"Ma, gimana Naomi?" Tanyanya kuatir sekali.
"Dia baik-baik saja. Aku mau ketemu Naomi." Paksanya. "Jangan, Dino." Ungkapnya.
Dino mencoba menenangkan dirinya dan berpikir positif tentang Naomi. Ia yakin Naomi akan baik-baik saja. Dia melihat luka bakar kecil di tangannya dan mengingat bekas luka di pundak Naomi. "Nom, kita punya bekas yang sama." Ucapnya tersenyum.
"Oma, siapa yang menyelamatkanku?" Tanya Naomi yang baru saja sadar. Kondisinya masih lemas dan batuk-batuk akibat efek dari asap yang dia hirup. Di sampingnya, ada sapu tangan Dino. Sapu tangan hadiah darinya dulu. Hadiah ulang tahun Dino.
"Dino yang menyelamatkanku?" Ucapnya dan Oma Murni mengiyakan semua itu.
"Oma yakin dia masih sangat mencintaimu. Oma dengar dia menerjang api untuk mencarimu."
"Oma aku masih gak bisa maafin dia." Ucap Naomi menangis sedih, ia sadar rasa itu masih ada. Namun, Dino memilih meninggalkan dia meskipun Naomi sudah memintanya untuk tinggal. Dalam hatinya, ia takut akan kehilangan Dino lagi. Ia takut akan sakitnya kenyataan yang ada. Ia semakin jauh dengan Dino bagaikan langit dan bumi.
"Oma, Dino yang sekarang sangat sulit ku gapai. Sekarang dia seorang CEO dari perusahaannya sendiri dan juga president direktur dari Bratayudha grup."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Balas Oma Murni, sedih melihat Naomi sangat tidak percaya diri. Ia menjadi rendah diri padahal sebelumnya tidak.
"Apa karena pertemuan kamu dengan Pak Hendrik?" Tambahnya dan membuatnya menangis.
"Aku janji tidak akan menganggu Dino selama aku masih bisa bekerja bersama dia. Ini satu-satunya cara untuk dekat dengan Dino."
"Naomi selama ini kamu bohong jika sudah membencinya."
"Aku masih mencintainya Oma."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments