Dino! Jangan tinggalin aku. Kalau kamu tetap mau pergi, aku gak pernah buka hatiku lagi untukmu. Aku akan membenci kamu seumur hidupku. Aku akan melupakanmu, mencari laki-laki lain yang ingin hidup bersamaku.
Dino tetap kekeuh melangkahkan kakinya masuk kedalam pintu keberangkatan. Ia tidak berbalik arah terus menatap ke depan sambil melihat bayangan Naomi yang terus memanggilnya. "Milka, kakak titip Naomi. Biarkan dia mengejar mimpinya."
Dino! Berhenti!
Naomi memeluknya dari belakang, ia tidak mengindahkan para petugas yang melarangnya. "Dino, katakan apa yang kamu bilang tadi itu bohong! Katakan Dino!" Paksa Naomi.
"Naomi! Jikalau aku salah, aku tidak akan pernah memohon maaf mu. Kamu juga tidak perlu memaafkan ku. Aku juga akan melupakanmu." Ucap Dino, hatinya teriris oleh kata-katanya sendiri ditambah lagi ia harus memaksa dirinya untuk menatap Naomi.
Aku tak sanggup! Aku benci hidup ini. Aku benci menatap Naomi seperti ini. Naomi! Please berhentilah menangis. Aku bahkan tidak bisa memelukmu.
"Naomi! Stop! Lepaskan tanganmu, jangan buang waktuku." Dino mendorong Naomi hingga ia terjatuh.
"Dino! Apa yang sudah kita lewati dan aku berikan, apakah itu semua tidak berarti?" Tanya Naomi terpukul dengan sikap Dino yang berubah 360 derajat.
"Naomi, berhenti membicarakan masa lalu. Let me go!"
"No! Dino, aku akan balas dendam. Aku akan kasih liat kamu bertapa bahagianya hidupku tanpa dirimu. Aku tidak akan pernah memaafkan mu." Naomi mengambil dompetnya dan merobek foto mereka berdua yang selalu dibawanya.
"Kamu, ingin melupakan masa lalu. Aku pun juga." Naomi berbalik arah menjauhi Dino yang masih terdiam diposisi awal. Lama kelamaan tubuh Dino mulai melemah. Ia menangis tanpa bersuara. Ia menatap Naomi yang terus berjalan menjauh dari padanya. Ia berjalan dengan penuh tekat melupakan dirinya. "Naomi, maaf. Ini satu-satunya caraku untuk melindungi kamu dari papaku." Dino memungut serpihan foto itu. "Naomi.. I love you."
Dino menitihkan air matanya dikedua ujung matanya yang terpejam. Beberapa kali iya menarik napasnya untuk membuatnya tenang. Hari sudah menjelang malam dan Dino sudah berada di tempat parkir gedung Pertunjukan konser Balerina Swan selama kurang lebih dua jam.
"Den Dino, sekarang sudah jam tujuh dan Tuan juga mencari Aden. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
"Tunggu dulu, Pak. Saya ingin bertemu seseorang." Ucapnya tetap menutup matanya. Tak lama ponselnya berdering, Om Togaya menghubunginya dan mengatakan jika kini ia dan Naomi sudah sepakat untuk bekerja sama. Ia juga ingin bertemu dengan Dino sebelum kepulangannya ke Italia.
"Sure! Uncle. I will be there." Ucapnya menyambut baik kabar itu dan ajakannya untuk bertemu.
"Pak Beben tolong antar Naomi, saya akan pulang naik taksi." Perintahnya, ia tidak ingin papanya tahu tentang rencananya dengan Om Togaya.
*****
Dino keluar dari mobilnya menuju ke sebuah cafe private di daerah gedung pertunjukkan. Cafe ini termasuk dalam tempat yang elit, tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya tanpa reservasi.
"Uncle, how are you?" Sapa nya memberikan sebuah hadiah sebotol anggur dari salah satu produsen tertua di dunia.
"Kesukaan Uncle. Bagaimana Naomi Uncle, dia orang yang cukup berpotensi kan?" Ucap Dino langsung to the point.
"Yes! I like this. Thanks you. Dino, sejak awal Om yakin perusahaan akan jauh lebih maju jika dipegang oleh kamu. Orang yang selalu straight to the point. Om sudah melakukan sesuai yang kamu minta. Oh iya, soal beasiswa penuh yang dia dapat saat berada di Prancis juga dari kamu? " Tembak Togaya pada keponakannya.
"Yes, you right. Aku mengatur semuanya." Balas Dino singkat.
"Dino, Om yakin papa kamu gak akan suka dengan ini semua." Jawabnya.
"Papa gak akan tahu kalau om bisa menutupi ini semua."
"Dino, om selalu berada di pihak mu. Kamu satu-satunya keponakan om." Mereka lalu melanjutkan makan malam itu dengan nikmat sambil bernostalgia kehidupan Dino sewaktu kecil. Dino, selalu mendapatkan apa yang dia mau.
Satu hal lagi tentang Naomi dalam list-nya yang telah selesai. Bagi Dino kebahagiaan Naomi adalah segalanya. Dino tidak pernah sedikitpun meninggalkan Naomi. Dia selalu tahu semua hal tentang Naomi.
"Dino, apakah Naomi tahu kamu mengatur semua ini untuknya termasuk beasiswa di France?" Tanya Togaya.
"Gak tahu om. Dia sangat membenciku." Balas Dino.
"So, kenapa kamu masih bertahan bahkan mengorbankan segala hal. Dino, apa dia tahu kalau.."
Dino menghentikan perkataan Togaya dan memintanya untuk tidak lagi membahas hal itu.
"Om, please. Terakhir kali, dia membuat aku kehilangan kesempatan untuk meeting dengan salah satu CEO dari Jepang. Dia salah menginfokan jam meeting padaku." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Lalu, apa yang kamu lakukan."
"Aku harus terbang ke Jepang untuk membuat permintaan maaf. Tapi sebelumnya, Naomi telah berusaha memperbaikinya. Dia mengirimkan surat kepada Mr. Taksaka dan mengirimkan gift untuknya. Usaha yang kreatif." Ucapnya tertawa.
"Kamu selalu bahagia jika bercerita tentang dia." Celetuk Togaya.
"She is my booster." Balasnya singkat.
Pembicaraan ini semakin dalam, Togaya sangat menyayangi Dino. "Dino, kenapa kamu masih sendiri?" Tanyanya.
"Aku gak mampu mencari pengganti."
"Om tahu, perjanjian mu dengan ayahmu. Kamu memberi kebebasan untuk Naomi dengan kebebasan mu."
"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" Teriak pengunjung di cafe itu. Sirine kebakaran menyala, pengunjung mulai panik dan berhamburan. "Cepat keluar!" Teriak satpam di sana.
"Dino, ayo!" Tarik Togaya berusaha menyelamatkan Dino.
Api semakin membesar dan merembet ke lantai lain. Evakuasi dilakukan dengan cepat, semua orang di arahkan menuju ke jalur evakuasi. Diluar lebih dari 10 mobil pemadam kebakaran berdatangan dan mulai memadamkan api.
"Tolong! Tolong! Tolong!" Teriak Naomi, ia terjebak dalam kebakaran itu. Api semakin membesar, ia terus berteriak. Tolong! Ucapnya ketakutan. Dadanya juga semakin sesak karena asap yang terhirup olehnya. Naomi terus menutupi hidungnya dan mulutnya yang terus batuk, tolong! Ucapnya sekali lagi.
"Tolong aku! Dino!" Ia sangat ketakutan, Naomi teringat kembali kejadian ketika dirinya masih berumur 5 tahun dan terjebak dalam kebakaran di Panti Asuhan.
"Tolong! Tolong! Dino! Tolong!" Pintanya sudah setengah sadar. Naomi merasakan pala nya mulai pusing dan lemas. Ia ingat saat itu, ia berteriak meminta tolong kepada seorang anak laki-laki yang berada di seberangnya. Anak laki-laki itu membawa sebuah boneka. Tolong! Ia hampir tak sadarkan diri.
"Naomi!" Teriak seseorang, berlari kearahnya dengan jas menutupi kepalanya. Lelaki itu memeluk Naomi dan memapahnya berjalan mencari jalan keluar. Api yang semakin besar menutup akses mereka untuk keluar.
"Tuhan, tolong selamatkan kami." Ucap Dino sambil memeluk Naomi dengan erat. "Nom, kita pasti keluar." Dino terus mencari jalan untuk keluar.
"Naomi!" Dino panik, saat Naomi jatuh dan batuk-batuk. "Nomi, pegang!" Dino memberikan sapu tangannya dan mengendong Naomi. Namun, wanita itu menolak.
"Kenapa kamu disini? Kamu bukannya takut dengan Api." Ucap Naomi lemas.
"Stop! Bicara, kamu paling penting. Aku gak akan tinggalin kamu. Kita keluar sama-sama." Ucap Dove.
"Meskipun seperti ini, aku tidak akan memaafkan mu." Balas Naomi setengah sadar.
"Aku gak mengharapkan maaf mu, yang ku butuhkan adalah kamu hidup." Bentak Dino karena Naomi terus mendorongnya pergi. "Nomi, kalau kamu gak mau ikutin kata aku. Aku akan menghancurkan hidupmu." Ancam Dino.
"Jahat!" Ucap Naomi.
Yes! It's me!
Para tim SAR bergerak untuk mendeteksi lokasi Dino dan Naomi. Dino dengan nekatnya menerobos masuk kedalam Api setelah ia bertemu dengan Pak Beben yang masih ada di sana.
"Den, dari tadi neng Naomi belum keluar." Ucap Pak Beben.
Tanpa berkata apa-apa, dia langsung berlari menyiram tubuhnya dengan air lalu masuk kedalam. "Naomi! Where are you!" Teriaknya.
"Pak, tolong selamatkan keponakan saya." Pinta Togaya kuatir pada Dino. Ia sungguh nekat kalau soal Naomi.
Tak lama tim SAR datang, dan meminta menyelamatkan mereka. "Naomi, mereka datang. Naomi!" Naomi pingsan tak sadarkan diri.
"Dino! Are you crazy! Gimana kalau terjadi apa-apa sama kamu." Tegur Togaya.
"Aku merasa, jika Naomi memanggilku." Trauma Dino mulai muncul, ia ingat peristiwa tadi. Dino ternyata juga trauma dengan Api, dalam ingatannya ia yang masih kecil menangis sambil menunjuk seorang anak perempuan yang jatuh bersimbah darah.
"Om!" Dino mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya pingsan dalam pelukan Togaya.
"Dino!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments