Dino mengendarai mobilnya dengan cepat menuju Panti Asuhan. Ia tidak akan pernah melepaskan Naomi untuk alasan apapun.
"Tidak! anak itu gak mungkin aku. Please, God, I love Naomi, I can't live without her." Dino menangis sambil memukul stir mobilnya.
Aku gak tahu harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan jika semua ini benar? Apa? Bagaimana jika Naomi membenciku. Aku gak sanggup kehilangan dia. Kenapa di reject Naomi!
Dino sampai di depan Panti dan terburu-buru memasuki halaman rumah. "Naomi! Aku tahu kamu di dalam! Naomi ayo kita pulang! Naomi." Dino terus menggedor pintu panti yang terkunci dari dalam. Rumah itu terlihat sepi, semua anak panti berada di kamar.
"Naomi!" Panggil Dino lagi sambil terus berusaha menggedor pintu. "Bi Menur, Naomi ada di dalam?" Tak mendapat jawaban, Dino berusaha masuk wajahnya udah berantakan dan kusut. Rambut yang biasanya tertata rapi kini berantakan. "Bi, kenapa aku mau ketemu Naomi!" Ia berusaha menghindari Bi Menur yang menghalangi jalannya.
"Naomi tidak ingin menemui kamu." Ucap Bi Menur semakin membuat Dino terpukul. "Kamu gak pantas di sini, setelah apa yang kamu lakukan dengan dia di masa lalu." Tambah Bi Menur membuat Dino kalut.
"Apa yang aku lakuin? Aku melakukan segalanya untuk Naomi! Aku cinta sama Naomi Bi. Aku gak mungkin nyakitin dia." Dino memaksa Bi Menur untuk bicara yang sebenarnya.
"Kamu adalah anak kecil yang menyebabkan kecelakaan itu, Dino Bratayudha." Jawabnya membuat Dino terpuruk.
"Gak! Itu gak benar. It's not me!" Dino melangkah mundur, "No! It's liar. No,I don't remember that." Dia sangat terpukul.
Tiba-tiba, Bi Menur menyalakan api di depan Dino. Dino kaget, dia menatap api itu dalam membuat kepalanya sakit. Dia terjatuh di atas sofa yang ada di ruang tamu. Ingatan-ingatan kecil itu muncul. Dalam ingatan itu, Dino sedang bermain dengan Naomi. Dino juga memberikan boneka beruang miliknya pada Naomi. Sekilas juga terlihat dia sedang berebut boneka itu dengan Naomi.
"Tidak! Auuuu!" Teriak Dino membuat Bi Menur panik. Sementara, Naomi masih tetap di dalam kamar sambil mendengar teriakan itu bersama Nino.
Ingatan tentang kebakaran itu juga muncul. Disitu, ia terus memaksa Naomi mengembalikan boneka itu hingga Naomi terjatuh. "Stop!" Dino ingin ingatan itu berhenti di kepalanya. Bi Menur semakin panik dan memutuskan untuk memanggil Nino.
Tak sanggup mendengar itu semua, Naomi memutuskan untuk keluar tanpa mengindahkan perkataan Nino bersamaan dengan kedatangan Ratih. "Dino!" Peluk Ratih. "Sudah Nak!" Ucapnya.
"Ma, Sakit. Naomi!" Dino mencoba berdiri dan berjalan kearahnya. Ia memeluk Naomi erat, "Nom, it's not me! trust me." Ucapnya sambil menatap kedua mata Naomi dan meletakkan kedua tangannya di pipi istrinya. "Aku gak mungkin nyakitin kamu." Ucapnya dalam, ia meminta Naomi menatapnya dan melihat kejujuran dimatanya. Ini adalah ketulusan Dino.
"Aku bisa liat, kamu gak akan nyakitin aku. Tapi itu memang kamu!" Naomi mendorong Dino, ia berkata jijik dengan sentuhan Dino.
Dino terpukul, ia merasakan sakit yang luar biasa dalam hatinya.
"Naomi, aku gak ingat apapun. Naomi, Bi Menur salah. Anak itu bukan aku. Aku pertama kali melihat kamu saat aku berumur 9 tahun." Jawab Dino, ia mencoba menjelaskan pada Naomi."
Naomi hanya terdiam mendengar Dino. Jadi, Dino kenal dia sudah lama.
"Aku gak bisa pulang, aku gak bisa kembali sama kamu. Anak kecil itu kamu. Kamu yang udah buat aku hidup dengan bekas luka ini. Kamu tahu! Aku harus menyembunyikan luka ini dengan make up selama ini. Sejak kecil, aku jadi bahan bullian karena luka ini. Itu alasan kenapa aku pindah ke Jakarta."
Dino masih terus berusaha, "Naomi, kita bicarakan ini baik-baik."
"No, it's you. I remembered." Jawab Naomi menghentikan semua usaha Dino. Ia menunjukan foto masa kecil yang di dapatnya dari Nino. Dino mengambilnya dan menangis, tangannya gemetar.
"Nom, aku minta maaf. Jujur, aku gak ingat apapun. Semua samar di pikiranku. Maafin aku Nom. Kita pulang ya. Aku akan menebusnya, aku akan selamanya bersamamu, aku terima kamu apa adanya sejak awal Nom." Pintanya.
"Iya, kamu tapi gak keluarga kamu. Martabat kamu, Keluarga Bratayudha gak pernah menerima menantu dengan bekas luka seperti ini, No." Balas Naomi ingin lepas dari Dino. Naomi mulai merasa pusing di kepalanya.
"Lalu gimana, Lo membayar semua yang dilakukan ayah kamu, Hendrik Bratayudha!" Teriak Nino penuh amarah.
"A-yah a-ku." Sebut Dino terbata-bata, entah apa yang akan di sebut Nino. Haruskah semua terbuka sekarang.
Apakah Nino tahu yang di lakukan papa pada Naomi, Gilang dan peristiwa itu?
Dino terus berpikir, ia menatap wajah ibunya. Atau adakah hal lain yang tidak aku ketahui?
Nino dengan penuh amarah menatap Dino, "Papa kamu yang gak punya hati!" Nino menarik keras Dino. "JANGAN SENTUH ADIK GW!" Teriaknya menarik Naomi dan mendorong Dino.
"Nino, ini bukan cara yang benar menyelesaikan masalah. Naomi istri sah aku." Ucap Dino menatap Naomi. Ia tahu Naomi juga tersiksa.
"Diam!" Nino menghajar Dino. "Istri sah? Lo yang bawa adik gw dalam penderitaan!" Balas Nino emosi dengan kata-kata istri sah. "Gw gak sudi! Adik gw jadi menantu seorang pembunuh dan penjahat seperti ayah Lo! Dia menghancurkan hidup Naomi, GW, Keluarga GW!" Nino ingin menghajar Dino namun ia tahu Naomi akan terluka jika ia melakukannya.
"Pembunuh? Penjahat? Menghancurkan hidup Naomi, Keluarga? Maksudnya." Dino bingung dengan kata-kata Nino tapi ia yakin ini penyebab Naomi meninggalkannya. Sesuatu yang tidak dia ketahui. Melihat anaknya dipukuli, Ratih memohon pada Nino untuk melepaskannya. Sementara Dino dan Nino saling bertatapan.
"Kalau gw kasih tahu Lo! Lo pasti membenci ayah Lo!" Ucap Nino menghapus air matanya yang tumpah ketika ia mengingat kekejaman Hendrik pada keluarganya. Ia sekarang menekan leher Dino dengan tangan kirinya. "Dino." Ia tak sanggup meneruskannya. Ia, tahu Dino sangat membanggakan ayahnya.
"Tolong lepaskan anak saya." Ratih memohon dan tak berapa lama, Naomi juga memohon. "Kak, lepasin Dino. Jangan kak." Ucapnya. Nino menatap Naomi, "Kamu masih aja membelanya. Dia harus tahu! Perbuatan ayahnya!"
"Dino! Ayah kamu telah membunuh orang tua aku dan Naomi. Ayah kamu menabrak kedua orang tua kami menyebabkan aku dan Naomi harus tinggal di panti asuhan. Ayah kamu juga yang menyebabkan aku masuk penjara, demi menjaga nama baik om kamu. Ia membuat hidup seorang pemuda yang bekerja sebagai cleaning service di kantor harus menekan di penjara selama lebih dari 20 tahun!" Lega setelah melampiaskan semuanya. "Ceraikan Naomi!" Ucapnya lagi tak digubris Dino yang sudah terlanjur shock dan hancur, tatapannya kosong setelah mendengar semua. Badannya lemas begitu juga dengan Ratih yang baru tahu hari ini.
Sosok yang dia banggakan dan hormati adalah orang yang menyebabkan Naomi harus tinggal di panti asuhan dan satu tahu kemudian dia datang dan menyebabkan luka dipundak Naomi. Dia terpukul, "Pa-pa aku yang menyebabkan ini semua?" Tanyanya lagi seperti orang yang linglung.
"Go away!" Teriaknya mengusir Dino dan menarik Naomi ke dalam.
Dino hanya terdiam di halaman rumah. Ia menangis, terlalu banyak yang tidak dia ketahui. Ratih hanya bisa memeluknya.
"Mom, apa yang terjadi? Papa yang melakukan ini semua? Inikah alasan papa membenci Naomi?" Tanyanya pada Ratih yang terus memeluknya.
"Ayo kita pulang." Ajaknya meninggalkan panti itu. Pak Beben membawa mobil Dino sementara Krisna supir Ratih menyetir mobil yang mereka gunakan.
Dino masih diam dan shock dengan semuanya. Semua terjadi begitu cepat.
"Naomi salahkah aku mencintaimu?" Ucapnya memeluk foto pernikahan yang ada di kamarnya yang sepi dan kosong. Dia menangis tak henti-henti. "Naomi. I'm sorry." Ucapnya. "Kalau aku tahu, aku gak akan memasuki hidupmu Nomi." Ucapnya terpukul sambil memukulkan kepalanya ke tembok.
Pa, kenapa terlalu berat buat aku. Bagaimana cara aku membayarnya pa? Dalam tangisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments