Naomi, hari ini Pak Dino akan datang dan melakukan meeting internal. Kamu siapkan ruang meeting sebelum jam tiga sore. Pesan Alvin lewat massage.
Sementara dirinya masih ada di rumah. Hari ini dia mungkin telat, karena pala nya yang masih pusing karena ia sedang tidak enak badan. "Pusing banget!" Tapi ia tetap berusaha untuk bangun dan bersiap.
"Pagi, Naomi." Sapa Dino yang duduk di bangkunya dan berbicara seakan-akan tidak terjadi apapun diantara mereka.
"Naomi, kamu bahkan telat hari ini. Waktu wawancara pergi begitu saja. Apa ini sesuai dengan visi dan misi kamu yang pekerja keras?" Naomi lalu meletakkan surat pengunduran dirinya.
"Saya resign!" Ucapnya
"Naomi, kalau kamu punya masalah sama aku selesaikan diluar jangan di kantor." Namun Naomi tetap pergi begitu saja.
"Ok dunia! Gw baru berhenti kerja, dan sekarang pengangguran." Naomi tak sengaja menabrak mobil didepannya. "Oh! My God! Gw nabrak orang!"
"Sorry!" Naomi mengetuk kaca mobil didepannya.
"Naomi, kamu mau balas dendam sama, aku?" Naomi kaget yang ditabraknya adalah Dino dan kini, ia pingsan dan Naomi panik. "Someone help!" Sontak Naomi.
Dokter membalut luka Dino, "Makasih, Dok" ucap Dino yang masih merasa kesakitan.
"Kamu, benar-benar ya, gak bisa buat aku tenang!" Ucap Naomi marah-marah.
"Kamu yang nabrak saya, tapi kamu yang marah, kenapa kamu berhenti kerja?" tanya Dino.
"Karena kamu" jawab Naomi ketus.
"Ok, aku gak akan kerja lagi disitu. Aku akan fokus kerja di kantor papaku.Jadi kamu gak perlu resign." Jawab Dino.
"Mal-les" jawab Naomi semakin jutek.
"Kamu bakal aku adukan dengan pasal menganggu orang lain, paham!" Naomi mengambil tasnya dan pergi.
"Auu, sakit!!" Dino sengaja.
Naomi menghampirinya, "Ada apa Dino?"
"Kamu harus membayar tagihan rumah sakitnya." Dino lalu pergi dari rumah sakit dan membiarkan Naomi membayar semua tagihan rumah sakit yang tidak murah. Saat sampai di tempat tinggalnya, ia dikagetkan dengan banyaknya tumpukkan map dengan logo kantor tempat dia baru saja resign.
"Dino! Aku gak akan biarkan kamu membuatku susah." Naomi mengambil kotak dan memasukkan semuanya ke sana. Ia bergegas menuju kondominium Dino dan meletakkan semuanya di depan Dino, lelaki tampan dengan formal style, kemeja putih dan celana abu-abu. Tangan kanannya memegang wine.
"Naomi, kenapa datang ke sini?"
Naomi langsung melemparkan bukti pembayaran rumah sakit kepada Dino. "Aku udah gak punya urusan lagi sama kamu atau perusahaan kamu. Aku gak mau tahu lagi, semu aku kembalikan. Jangan pernah datang lagi ke rumah aku." Naomi marah-marah dan melemparkan bantal kearah Dino. "I hate you!"
"Really? Seriously." Dino memegang tangan Naomi. Rasa dan kehangatan yang sama Naomi rasakan dari sentuhan Dino yang menenangkan dan menggoda. "I'm sorry about Tessa.." Tiba-tiba mulutnya terkunci oleh ciuman Naomi. Ciuman romantis dan hangat setelah sekian lama.
"Aku gak mau lagi jadi korban keegoisan mu Dino..." Ucap Naomi menghentikan itu. Dino terdiam mendengarkan kalimat itu, wajahnya sendu melepaskan Naomi. "Jangan ingatkan aku dengan rasa itu, aku ingin menghapusnya."
"Aku hanya tidak ingin kamu jadi orang lain. Aku mau the real Naomi. Aku mau kamu apa adanya." Ucap Dino parau. Ucapannya cukup berefek untuk Naomi yang sudah memegang ganggang pintu.
"Aku selalu bertanya, apakah aku sudah cukup baik untuk kamu Naomi. Kenyataannya, kamu gak pernah jadi diri kamu saat bersama aku." Katanya terus membuat Naomi teriris mendengarnya. Dino menyentuh tangan Naomi. Sentuhan ini menggetarkan hatinya. Rasanya ia ingin berteriak. Naomi hanya terdiam membeku. Dino lalu mundur dan menjauh, ia rasa Naomi tidak nyaman dengan sentuhannya. "Hanya 5 menit." Ucapnya.
"Dua tahun yang lalu..." Naomi berlari memeluk Dino dan menciumnya lagi. Memeluknya dengan erat begitupun Dino tak ingin melepasnya. "Aku menginginkanmu .." Ucap Dino. "Peluk aku erat." Balas Naomi. Mereka melewati malam ini bersama saling merindukan satu sama lain.
"Naomi, kamu ingat kasur ini kamu yang pilih dulu." Tanya Dino sambil membelai rambut Naomi lembut di pelukannya.
"Gak ingat!"
"Nom, aku akan tuntut kamu dengan pasal melupakan kenangan indah." Jawab Dino kesal.
"Kamu akan saya tuntut dengan pasal membuat orang lain gak bisa hidup tanpa kamu, kamu harus membayar luka saya" Balas Naomi menciumnya.
Dino tidak percaya dengan ucapan Naomi, dia bisa berkata seperti itu. "Well, bagaimana cara saya membayar kamu" Tanyanya, Naomi mulai berpikir.
"Will you marry me?" Dino memberikan kotak merah tanpa membukanya. "Aku butuh waktu" ucap Naomi.
Sesuai permintaannya, Dino memberinya waktu 10 detik baginya berpikir untuk menerima atau menolaknya. Naomi kaget, panik, dan tak percaya dengan hal ini. Rasanya jantungnya akan meledak, ia berusaha menghentikannya namun pada hitungan ke 2, Naomi akhirnya mencium Dino dan berkata "Yes! Aku mau".
Dino menyodorkan kotak itu dan menyuruh Naomi membukanya serta memakainya sendiri.
"Loh! kok kosong?" Tanya Naomi heran.
"Cincinnya sudah ada sama kamu dari dulu, belum kamu jual kan?" tanya Dino meledek, Naomi kaget menyadari cincinnya sudah dia jual.
Naomi langsung berlari namun Dino menahannya lalu memasangkan cincin itu di jarinya.
"Toko tempat kamu jual adalah toko tempat aku membuat cincin ini, itu adalah toko salah satu temanku di New York, Nana dan dia bilang kalau si cewek berkacamata ku ini telah menjualnya lagi.
"Begitu mudahnya kamu menjual cintaku?" Tanya Dino sambil tersenyum.
"Kamu juga mudah mengandeng tangan wanita lain." Balas Naomi.
"Masih cemburu sama Tessa, aku gak jadi tunangan sama dia. Bukannya kamu yang menggagalkan pertunangan itu dengan memukul alarm kebakaran gedung."
"Kok kamu tahu?" Tanya Naomi malu setelah tindakannya ketahuan Dino.
"Awalnya aku datang ke kantor mau melamar kamu. Tapi malah dapat surat resign dari kamu." Balasnya lagi tertawa geli melihat Naomi malu hingga masuk ke dalam selimut. "Kamu bisa malu juga nom?" Tambah Dino lagi membuat Naomi semakin malu..
"Sorry, Dino" Naomi memeluk Dino dari belakang, ia juga membantu mengikatkan dasi Dino dan merapihkan bajunya.
"It's ok. Mrs. Dino Bratayudha. Saya mau beli kado buat Stefani keponakan saya.
"Stefani?"
"Anaknya Reihan."
"Saya aja?" tanya Naomi. "Pake kamu juga." jawab Dino lalu mengandeng tangannya.
"Naik apa?" tanya Naomi polos.
"Naik taksi lah Naomi, kan mobilnya udah kamu tabrak, lupa soal kejadian kemarin" jawab Dino sambil menunjukan tangannya yang masih di perban.
"Sorry" Naomi berkata dengan manja.
"Jangan pernah jadi orang lain lagi, dan jangan lakuin hal yang kamu gak suka." Ucap Dino.
"Jangan coba-coba naik kuda kalau gak bisa, liat tuh lukanya gak bisa hilangkan?" tambahnya mengelus luka di tangan kanan Naomi. Naomi bingung, Dino bisa tahu tapi ia pura-pura gak tahu.
"Nom, luka bakar di bahu kamu itu kapan kejadiannya?" Tanya Dino spontan.
"Waktu kecil saat usia aku 5 tahun di panti, kata Oma aku berebutan boneka sama seorang anak laki-laki."
Dino terdiam, ia meletakan pisau dan garpu yang dipegangnya. Bayangan waktu di rumah sakit kembali menghantuinya. "Berebutan boneka?" Dino merasa kepalanya sedikit pusing.
"It's ok, Naomi." Mereka melanjutkan sarapan mereka.
Setelah sekian lama, Naomi akhirnya menyandang status sebagai menantu keluarga Bratayudha dan istri dari Dino. Lelaki yang dicintainya, pernikahan ini tidak direstui oleh Hendrik namun Dino tidak tinggal diam dan menyerah akan cintanya. Semua janji yang dia janjikan sudah ia tepati dan pernikahan dilangsungkan dengan meriah.
"Ma, bukannya papa tidak senang Dino bahagia. Tapi papa gak bisa membiarkan Dino menderita karena papa..." Keluh Hendrik.
"Papa memisahkan mereka bukan tanpa alasan. Mereka gak boleh bersatu. Papa takut, Dino terluka." Tambah Hendrik.
"Semua akan baik-baik saja." peluk istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments