Fitting

“Gimana kalau kita tentuin target?” tanya Olivia.

Leon nampak menyimak perkataan sahabatnya itu.

“Kalau elu bisa dapetin si Nurul, merah bakal jadi milik lu. Tapi, kalau elu nggak bisa dapetin si Nurul, si putih jadi milik gue. Dan kalau elu bisa bikin dia jauh dari Alzam, gue bakal kasih bonus yang gede buat elu. Gimana?” tawar Olivia.

“Jangka waktunya?” tanya Leon.

“Kali ini gue baek kok. Nggak ada jangka waktu. Pastiin aja lu bisa dapetin tuh cewek dan bikin dia jauh dari cowok gue,” jawab Olivia.

“Oke, kalau gitu siap-siap lu ucapin selamat tinggal ama si merah,” sahut Leon.

“Dih, pede banget ni anak,” ejek Olivia.

“Lu lihat ya. Nggak ada yang bakal bisa nolak pesona Leon Xavier Agung,” sahut Leon.

“Bagus deh kalo gitu. Jadi, deal?” tanya Olivia memastikan.

“Deal!” sahut Leon.

Dentingan kaleng beradu kembali terdengar, di susul suara tegukan dari masing-masing sahabat yang sedang menyusun rencana licik itu.

...☕☕☕☕☕...

Beberapa hari setelah acara lamaran, nampak Bu Aminah meminta beberapa tetangga untuk urun rembug perihal acara nikahan, yang kurang dari sebulan lagi akan dilaksanakan.

Ini adalah acara pernikahan anak pertamanya, sehingga Bu Aminah perlu meminta saran dari orang yang pernah menggelar acara tersebut.

Untuk masyarakat seperti Bu Aminah, acara-acara seperti ini mereka tidak akan melibatkan sebuah wedding organizer, karena hal itu terlalu mewah dan memakan biaya yang lebih banyak.

Mereka lebih senang saling membantu bergantian sesama tetangga, baik selama persiapan acara hingga pasca acara. Akan tetapi untuk urusan pelaminan, gaun pengantin serta make up nya, dia perlu mencari yang sedikit bagus, mengingat calon menantunya yang adalah seorang putri pengusaha kaya.

Dia tak mungkin mengadakan acara yang kelewat sederhana, dan membuat besannya malu. Meski begitu, wanita tua tersebut tak serta merta mencari yang mewah dan mahal, akan tetapi lebih kepada minimalis dan elegan.

Bu Aminah tak mau terlalu mengada-adakan sesuatu yang dirinya dan sang putra tak mampu wujudkan.

Beberapa saran dari para tetangga yang kebetulan tergabung dalam kelompok pengajian rutin RT setempat, telah masuk ke dalam catatan Bu Aminah, untuk selanjutnya berdiskusi dengan Alzam.

Namun, setiap kali Bu Aminah meminta Alzam untuk memberi masukan akan hal tersebut, pemuda itu selalu tak mau, dan terlihat malas dengan pembahasan tersebut.

Hingga Bu Aminah pun terpaksa meminta pendapat kepada kedua putrinya yang masih berusia belia.

Kanina atau Ina yang sering berkomunikasi dengan Olivia, juga melibatkan gadis itu dalam mempertimbangkan apa yang perlu mereka persiapkan untuk acara pernikahan nanti.

Meski Olivia gadis manja yang selalu dekat dengan kata mewah, akan tetapi dalam hal ini, dia sama sekali tak mau menuntut terlalu banyak kepada calon suaminya, mengingat Alzam belum sepenuhnya menjadi miliknya, dan hal itu yang menjadi prioritas utamanya saat ini.

Akhirnya, tiba saatnya Olivia dan Alzam mendatangi seorang perias pengantin yang terbilang bagus di daerah tersebut, meski bukan sekelas make up artis yang sering dipakai di pernikahan orang-orang kaya lainnya.

Pagi ini, Olivia nampak sedang bersiap-siap untuk pergi bersama calon suami dan calon mertuanya. Si*lnya, semalam Leon mengajaknya untuk keluar dan berpesta di sebuah klub malam.

Olivia pun harus terbangun dengan otak yang masih linglung, dan dipaksa untuk sadar sepenuhnya demi agenda wajib calon pengantin ini.

Sesekali, dia terlihat menggelengkan kepala dengan cepat untuk mengusir rasa pusingnya. Gadis itu bahkan baru tidur selama kurang dari tiga jam, dan terpaksa bangun karena melihat tanda yang begitu jelas tertulis di aplikasi pengingat ponselnya.

Saat gadis itu sudah siap dan berjalan menuruni tangga spiral yang berukuran besar dan mewah, tiba-tiba saja Rosaline menghampirinya dengan penampilan yang sudah sangat rapi.

Olivia pun memicingkan mata sembari menautkan kedua alisnya, melihat penampilan sang bunda.

“Kenapa lihatnya kek begitu?” tanya Rosaline.

“Mamah mau arisan kemana lagi? Bukannya dua hari lalu udah pergi ya?” tanya Olivia.

“Siapa bilang mama mau pergi arisan?” sahut Mama Ros.

“Lah terus mau kemana pake dandan serapi ini?” tanya Olivia lagi.

“Ya nemenin kamu buat fitting baju pengantin lah. Apa lagi coba?” jawab Mama Ros.

“Mamah? Nemenin aku? Nggak! Aku mending pergi sendirian aja,” ucap Olivia.

“Lho? Kenapa? Mamah cuma mau lihat seperti apa gaun pengantin anak mamah nanti. Mamah nggak mau dong acara sekali seumur hidup anak mamah jadi nggak berkesan. Kecuali, kalau kamu emang berencana mau ada yang kedua kalinya sih, mamah nggak masalah kalo kali ini dapet yang biasa aja” sahut Mama Ros.

“Mah!” pekik Olivia kesal mendengar perkataan mamahnya.

“Udah nggak usah ngobrol terus. Ayo berangkat,” seru Mama Ros.

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu. Yang jelas, Olivia tahu bahwa sejak awal ibunya tidak pernah setuju jika dia sampai menikah dengan Alzam, karena alasan status sosial mereka yang sangat jauh berbeda.

Akan tetapi, meskipun Olivia tahu ada yang aneh dengan sikap Mamah Ros nya, gadis itu tak bisa menolak ketika sang ibu ingin ikut melakukan fitting baju pengantin bersama.

Akhirnya, kedua perempuan itu pun berangkat bersama menggunakan mobil sang ibu, yang selalu dikendarai oleh supir pribadinya.

Olivia langsung menuju ke alamat yang diberikan oleh Ina sebelumnya, karena menurut adik Alzam itu, ibu dan kakaknya akan langsung menunggu di sana.

Beberapa saat kemudian, keduanya telah sampai di sana. Nampak sebuah studio pengantin kecil di daerah pinggiran kota, dengan beberapa manequin yang dipakaikan gaun pengantin yang nampak usang dan berdebu.

“Ini tempatnya?” tanya Mamah Ros seraya melihat sekeliling.

Olivia kembali membuka ponselnya dan melihat alamat yang dikirimkan oleh calon adik iparnya.

“Bener kok, Mah. Tuh di papan namanya juga ada alamatnya. Sama kok kayak yang di pesan,” sahut Olivia.

“Yang bener aja? Anak mamah mau pake baju pengantin di tempat beginian? Nggak! Nggak boleh! Kita balik lagi aja yuk, Liv,” seru Mamah Ros tak senang.

“Mamah apaan sih? Kalo mamah mau pulang, pulang aja sendiri. Oliv mau masuk ke dalem,” sahut Olivia.

Gadis itu pun segera membuka pintu mobil dan beranjak keluar. Ibunya mencoba mencegahnya, akan tetapi gadis itu tak mau mendengar dan tetap turun meninggalkan  ibunya yang masih berada di dalam mobil.

Akhirnya, mau tak mau Mamah Ros pun keluar, dan ikut masuk ke dalam studio perias pengantin itu meski ragu-ragu.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Terpopuler

Comments

afrena

afrena

klu mau yg mewah bantuin dong calon mantunya jgn menghina mulu taunya. lagian jg anaknya gk jdi masalah kok sewot sich. menikah gk harus mewah tpi sakral.

2022-11-21

0

Benazier Jasmine

Benazier Jasmine

gmn orgtua olivia, klo mint resepsi yg mewah ya bantuin biayanya

2022-11-15

1

lihat semua
Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!