Bertamu

“Kenapa, Liv?” tanya Leon di seberang.

“Nggak tau. Kata Bi Ijah ada yang nyariin gue di bawah. Gue lihat dulu deh,” sahut Olivia.

“Ya udah, kalau gitu teleponnya udahan aja. Gue juga mau pergi keluar cari makan,” ucap Leon di seberang.

“Ya udah. Bye,” sahut Olivia.

Sambungan pun dimatikan. Olivia bangun dari tempat tidurnya dengan masih menggunakan pakaian rumah ala Olivia. Hot pants dengan kaus lengan  pendek yang hanya sepanjang pusar.

Rambutnya ia ikat cepol ke atas dan keluar dari kamarnya begitu saja. Dia melihat Bi Ijah, sang asisten rumah tangga di keluarganya, sedang berdiri menunggu nonanya keluar.

“Siapa sih Bi yang nyariin aku?” tanya Olivia.

“Ada ibu-ibu sama cowok ganteng dateng nyariin Non. Kata Bapak, saya disuruh manggil Non Oliv buat turun. Cepetan katanya,” seru Bi Ijah.

“Ibu-ibu sama cowok? Siapa yah?” gumam Olivia.

“Mending Non Oliv lihat dulu aja,” ucap Bi Ijah.

Olivia pun berjalan ke arah tangga dan mengintip dari ujung tangga atas, yang berada di dekat ruang tamu.

Dia begitu terkejut saat mendapati bahwa targetnya telah berada di sana, berhadapan dengan ayah dan juga ibunya.

Olivia pun seketika berbalik dan masuk kembali ke kamar, membuat Bi Ijah kebingungan dengan sikap Olivia yang seolah ketakutan.

Sang ART itu pun kembali mengetuk pintu kamar nonanya beberapa kali, hingga mendengar sahutan.

“Bentar, Bi. Oliv ganti baju dulu,” sahut Olivia dari dalam.

...☕☕☕☕☕...

Sementara itu di ruang tamu, tamu yang dibicarakan oleh Bi Ijah tadi sedang duduk di sofa ruangan depan tersebut, berhadapan langsung dengan tuan dan nyonya Abimana.

Tampak Tuan Abimana bersikap biasa saja kepada kedua tamunya itu, dan mencoba berbincang dengan ramah, tanpa mengurangi wibawanya di depan lawan bicara.

Sedangkan sang istri, Rosaline Abimana, tampak memandang tak suka ke arah kedua orang di hadapannya.

“Jadi, kedatangan ibu dan nak...,” ucap Tuan Abimana.

“Alzam. Nama saya Ahmad Alzam Amani, Pak,” sahut Alzam melanjutkan.

“Jadi, kedatangan ibu dan Nak Alzam ini kemari, ada kaitannya dengan anak saya begitu?” tanya Abimana.

“Ya, bisa dibilang seperti itulah. Tapi, sebaiknya kita tunggu Nak Oliv untuk hadir di tengah-tengah kita terlebih dahulu” ucap wanita yang bersama Alzam, yang tak lain adalah Bu Aminah, ibunda Alzam.

“Baiklah. Asisten rumah tangga kami sedang memanggilnya. Tunggulah sebentar lagi,” seru Tuan Abimana.

Sementara itu, Rosaline nampak menatap kedua orang tersebut dengan tatapan sinis, dan memandang rendah kedua tamunya tersebut. Sejak awal kedatangan mereka, yang pertama kali dilihat wanita anggun itu adalah penampilan mereka yang sederhana. Dia pun bertanya-tanya ada hal apa mereka mencari sang putri.

Tak lama kemudian, seseorang muncul dari lantai atas, menuruni anak tangga dengan penampilan yang begitu rapi dan juga tertutup.

Olivia mengenakan pakaian yang lebih sopan daripada yang tadi ia pakai sebelumnya, karena melihat terlebih dahulu siapa tamu yang datang mencari dirinya. Rambutnya pun ia gerai dan sudah terlihat lebih tertata.

Gadis itu mengenakan celana bahan dengan dipadu kemeja longgar. Sangat berbeda dengan yang sering Olivia pakai saat di depan orang tuanya.

Tuan Abimana hanya diam, meski sebuah senyum tipis terulas kala melihat perubahan wujud sang putri, ketika menemui kedua tamunya itu.

“Assalamu’alaikum,Bu Aminah,” sapa Olivia.

Gadis itu bahkan mengucap salam yang selama ini tidak pernah dia ucapkan, dan terlebih mencium punggung tangan wanita tua yang datang bertandang ke rumah kedua orang tuanya.

Rosaline sampai terkejut dan menoleh ke arah sang suami. Dia ingin protes, karena selama ini Olivia tidak pernah bersikap sesopan dan sebaik ini pada dirinya dan sang suami. Akan tetapi Tuan Abimana memberi isyarat dengan jari telunjuknya, agar sang istri tetap diam.

“Assalamu’alaikum, Mas Al,” sapa Olivia lagi kepada pria incarannya.

Dia lalu duduk di kursi single, yang berada di dekat sang bunda, Rosaline.

“Sepertinya, Oliv sudah sangat dekat dengan Anda berdua,” ucap Tuan Abimana.

“Beberapa waktu lalu, Oliv sering main ke rumah kami. Dia anak yang baik dan selalu mau bermain dengan kedua putri saya. Benarkan, Nak Oliv?” sahut Bu Aminah.

Olivia hanya mengangguk malu-malu saat ditanya oleh ibu dari pria incarannya itu.

“Jadi begitu. Lalu, apa tujuan Anda kemari?” tanya Tuan Abimana.

Bu Aminah nampak menoleh ke arah putranya, Alzam, yang nampak gugup ketika ayah dari gadis yang selalu mengganggunya itu mulai menanyakan kembali, apa tujuan kedatangannya.

Wanita tua itu meraih tangan putranya, dan menepuknya beberapa kali dengan lembut, seolah memberi tahu bahwa semua akan baik-baik saja.

Dia lalu menoleh ke arah tuan rumah, sambil mengucap basmalah dalam hati.

“Saya datang kemari, ingin melamar Nak Oliv untuk putra saya, Alzam,” ucap Bu Aminah.

Tuan Abimana sudah bisa menebak sejak awal akan hal itu, sehingga dia nampak biasa saja. Berbeda dengan sang istri yang begitu terkejut, dan mengepalkan tangannya kuat.

“Melamar? Siapa kalian berani melamar putri kami, hah?” tanya Rosaline kasar.

Bu Aminah dan Alzam seketika kaget dengan suara ibu rumah tangga itu yang terdengar begitu keras di telinga.

“Nyonya, saya tahu, kami hanya orang biasa yang jauh berbeda derajatnya dari keluarga Anda ini. Tapi, biarkan kami, si miskin ini bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi,” ucap Bu Aminah.

Mendengar hal tersebut, Tuan Abimana nampak mengerutkan keningnya, karena seolah menangkap sesuatu yang salah dari ucapan Bu Aminah.

“Putri kami tidak kekurangan apapun. Siapa kalian mau bertanggung jawab atas Olivia kami, hah? Pah, sebaiknya usir saja mereka dari sini, Pah. Aku nggak mau mereka bicara omong kosong di sini,” seru Rosaline.

Wanita itu melipat kedua lengannya di depan dada dan membuang muka ke lain arah, berharap sang suami segera mengusir kedua tamu tak diundangnya itu.

“Tunggu dulu. Apa maksud Anda dengan bertanggung jawab? Apa ada sesuatu yang tidak kami ketahui?” tanya Tuan Abimana mulai serius.

Dia menoleh ke arah sang putri. Pandangan mata mereka bertemu, meski Olivia segera memalingkan wajah, dan membuangnya ke arah lain, seolah tak mau perbuatannya terungkap oleh ayahnya.

Sedang Tuan Abimana yang sangat paham akan sikap sang putri, seketika tahu apa yang telah terjadi.

Ulah apa lagi yang sudah kau buat, Oliv? batin Tuan Abimana.

Dia menghela nafas panjang, sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Alzam dan ibunya. Dia melihat pemuda itu nampak tegang, dan sedari tadi menautkan jemarinya dengan kuat.

“Katakanlah, atau sebaiknya Anda berdua ikuti saja perkataan istri saya,” seru Tuan Abimana.

“Maaf, Tuan. Sebenarnya...,” ucap Bu Aminah.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!