Memohon petunjuk

Keesokan harinya, Alzam kembali ke kedai. Dia berusaha mengalihkan perhatiannya atas kejadian tersebut. Dia sendiri masih tak tahu harus berbuat apa.

Meski otaknya menolak mengakui, namun dalam hati dia terus ingin menemui Olivia dan meminta maaf.

Dia sampai membuat semua pekerjanya kebingungan melihat sikap Alzam hari ini. Pria yang selalu ramah, sopan dan baik itu, kini menjadi pendiam dan bahkan akan marah jika terganggu sedikit saja.

Hingga semuanya memilih diam dan tak menyinggung Alzam sama sekali, kecuali jika itu sangat penting.

Hari itu, Nurul datang lagi. Dia terlihat masih mengenakan seragam gurunya, dan membawa buku batik besar di tangan.

Amy menyapa Nurul dan menawarinya minum.

“Bu Nurul, baru pulang ngajar?” tanya Amy sambil meletakkan segelas es kopi kesukaan Nurul.

“Nggak kok. Cuma habis home visit tadi. Biasalah anak-anak. Nggak masuk tanpa keterangan tiga hari, gurunya yang nyariin ke rumah,” sahut Nurul ramah, meski nampak jelas lelah di wajahnya.

“Bu Nurul wali kelas berapa sekarang?” tanya Amy.

“Masih sama. Oh iya, itu Alzam kok dari tadi diem aja? Kenapa? Sibuk banget ya?” tanya Nurul balik.

“Oh, si bos. Nggak tahu, Bu. Udah dua hari nggak ke kedai, tiba-tiba pas dateng udah berubah kek gitu,” jawab Amy.

“Berubah gimana?” tanya Nurul penasaran.

“Lihat aja, Bu. Dia kek sengaja sibuk buat ngalihin pikiran. Kalau ada yang ganggu dikit aja, langsung kena semprot coba. Trus juga kan kalau ibu kemari, selalu nyapa dan nemenin ngobrol kan. Tapi lihat, sekarang malah keknya nggak nyadar deh kalo ibu dateng. Jawab salam aja nggak kan tadi,” ungkap Amy.

“Ehm, gitu,” gumam Nurul.

“Oh iya, Oliv ada ke sini lagi nggak kemarin-kemarin?” tanya Nurul.

“Cewek nggak jelas itu, Bu?” tanya Amy memastikan

“Hus! Kalo ngomong. Namanya Olivia, My. Dia udah kesini lagi belum?” tanya Nurul lagi.

“Sejak hari itu, dia nggak pernah nongol lagi tuh,” jawab Amy.

“Kalian ada nanyain gadis itu ke Alzam nggak?” tanya Nurul lagi.

“Ngapain, Bu. Bukan urusan kita juga,” jawab Amy.

“Ehm...,” gumam Nurul.

Ditengah perbincangan, seorang pelanggan datang dan membuat Amy menyudahi obrolannya dengan sang guru. Nurul pun memaklumi dan menikmati es kopinya sendiri.

Ibu guru itu kemudian mengangkat gelasnya dan berdiri, meninggalkan tas dan juga buku besarnya di meja. Sementara dia berjalan menghampiri meja Alzam yang ada di pojokan.

“Ehem! Assalamu’alaikum, Bapak Ahmad Alzam Amani,” sapa Nurul.

“Waalaikumsalam,” jawab Alzam.

Dia pun mendongak dan melihat bahwa sahabatnya sudah berdiri di depannya.

“Nur, kapan dateng?” tanya Alzam.

Nurul menarik sebuah kursi yang berada dekat dengannya, dan duduk di depan Alzam.

“Dari tadi. Sibuk banget ya sampe nggak nyadar kalo aku dateng?” tanya Nurul.

“Iya nih. Maaf yah. Udah dua hari aku nggak masuk, jadi banyak yang perlu di cek,” jawab Alzam yang kembali berkutat dengan kertas-kertas di atas meja.

“Si Oliv nggak kesini, Zam?” tanya Nurul.

Mendengar nama itu disebut, entah kenapa emosi Alzam naik, dan spontan menggebrak meja.

“Nggak usah nanyain dia lagi kenapa sih?” bentak Alzam.

Hal itu sontak membuat semua orang menoleh dan melihat ke arah dia orang sahabat yang sedang duduk berhadapan di sana. Sedangkan Nurul, gadis itu nampak biasa saja dan malah menyedot es kopi di tangannya dengan santai.

“Oh, jadi kamu lagi mikirin dia toh,” sahut Nurul.

Alzam seketika tersadar, bahwa dia sudah lepas kendali, dan membentak sahabat yang selalu baik padanya.

“Maaf, Nur. Aku cuma lagi banyak pikiran aja. Nggak tahu kenapa pas denger nama dia jadi tambah emosi,” ucap Alzam mencoba menjelaskan.

“Emosi? Yakin itu yang kamu rasain? Zam, aku udah pernah bilang ke kamu kan, jangan terlalu benci sama orang. Ntar yang ada kamu malah jadi suka sama dia,” timpal Nurul.

“Ini bukan masalah cinta, Nur. Tapi...,” sahut Alzam.

Dia kemudian segera mengul*m bibirnya, karena hampir saja keceplosan di depan sang sahabat, dan Nurul tahu itu.

Melihat Alzam diam, Nurul pun melanjutkan kata-katanya.

“Aku nggak tau apa yang terjadi antara kalian berdua. Tapi yang pasti, kemelut di hati itu nggak akan pernah terasa enak, Zam. Sebaiknya kamu urai benang kusutnya. Cari solusi terbaiknya, biar kamu nggak terus berada di bawah perasaan nggak nyaman kek gini. Kesian lho karyawan mu dijutekin mulu. Mana Alzam yang baik, sopan dan ramah itu, hem?” bujuk Nurul.

Mendengar perkataan dari Nurul tadi, Alzam pun menghela nafas panjang. Dia meletakkan pensil yang sedari tadi ia pegang ke atas meja.

“Emang susah yah ngomong ama ahli psikologi kaya kamu, Nur. Nggak ada rahasia yang bisa ditutupin sama sekali,” ucap Alzam.

Nurul tersenyum di balik sedotan es kopinya. Dia nampak menyedot es tersebut dan kembali berucap.

“Aku emang nggak tahu apa masalahnya dan nggak mau maksa kamu buat cerita juga. Tapi dari yang aku lihat, ini bukan masalah sederhana, dilihat dari sikap kamu yang berubah banget. Sebagai teman, Aku cuma nggak mau kamu berlarut-larut dalam masalah yang saat ini kamu alami.”

“Pesen ku, kamu coba cari seseorang yang bisa bantu kamu buat selesein masalah ini. Disimpen sendiri juga nggak akan ada gunanya, yang ada malah nggak selesai-selesai. Aku yakin kamu tahu sebaik-baiknya tempat mengadu adalah pada Yang Maha Mendengar,” seru Nurul panjang lebar.

“Makasih buat sarannya ya, Nur,” ucap Alzam.

Nurul hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasih dari Alzam tadi.

...☕☕☕☕☕...

Beberapa hari berlalu dan Olivia benar-benar tak muncul sama sekali di depan Alzam, membuat pemuda itu semakin merasa tak tenang.

Masalah pagi itu saja belum terselesaikan, ditambah perkataannya yang keterlaluan tempo hari, semakin membuat Alzam terus memikirkan gadis itu.

Alzam yang tak pernah lepas sholat malam, beberapa hari ini terlihat semakin lama duduk berdiam sembari menengadahkan tangan ke atas, berdialog dari hati dengan Sang Pencipta.

Hal tersebut disadari oleh sang ibu yang juga selalu bangun di sepertiga malam, dan masih mendapati lampu kamar sang putra menyala, bahkan saat hampir menjelang subuh.

Bu Aminah pun mencoba melihat apa yang dilakukan oleh Alzam dan ternyata sejak tadi, pemuda tersebut masih dalam posisi yang sama. Awalnya, Bu Aminah merasa mungkin tingkat keimanan Alzam sedang naik, sehingga ibadahnya pun menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun, setelah berhari-hari diperhatikan, Alzam terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia sering tak fokus dan banyak melamun. Malam itu, Bu Aminah kembali mendapati sang putra yang masih bermunajat kepada Allah dalam waktu yang lama.

Dia pun kemudian masuk, saat melihat putranya mengusap kedua telapak tangannya ke wajah, pertanda doanya telah selesai ia panjatkan.

Alzam nampak kaget melihat sang bunda yang tiba-tiba masuk ke kamarnya, dan duduk di tepi tempat tidurnya.

"Ibu,"

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!