Olivia tak menyahuti perkataan dari pria itu, dan tak tertarik dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut. Tak berselang lama, Leon datang dengan beberapa kaleng beer dingin, dan camilan yang memang selalu ada di dalam lemari pendinginnya sebagai persediaan.
“Nih temen curhatnya udah siap! Sekarang, mau curhat apa lu?” tanya Leon sambil meletakkan semua yang ia bawa dari dapurnya.
Olivia turun dari sofa dan duduk di atas karpet bergabung dengan Leon. Dia mengambil satu kaleng beer dingin yang ada di hadapannya, dan kemudian membukanya. Diteguknya minuman itu sedikit demi sedikit.
“Aaaah!” des*h Olivia saat selesai meneguk minuman di tangannya.
Nampak raut wajah muram yang jelas terlihat pada diri Olivia, pertanda jika ada hal serius yang akan dia utarakan.
“Gue ditolak sama cowok!” kata Olivia memulai sesi curhatnya.
“Hah? Lu ditolak cowok? Kok bisa? Gimana ceritanya?” cecar Leon.
“Gue ngajak dia buat nikah, tapi dia malah nggak mau!” sahut Olivia sambil kembali meneguk minumannya itu.
“Uhuk! Uhuk!”
Leon terbatuk-batuk mendengar ucapan dari gadis yang duduk di sampingnya itu.
“What? Nikah? Lu udah seserius itu ama tuh cowok sampe ngajakin dia nikah?” tanya Leon lagi, yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Gue juga nggak tau kenapa gue kepengin banget dapetin dia! Yang gue tau, dia nggak mau pacaran, jadi cara satu-satunya buat dapetin dia ya cuma nikah!” jawab Olivia.
“Cowok waras kaya apa sih yang udah berani nolak lu?” tanya Leon sambil menyesap beer kaleng itu.
“Dia satu-satunya cowok baik-baik yang pernah gue temuin! Dan gue pengen banget dapetin dia!” tutur Olivia.
“Satu-satunya? Lah gue emang bukan cowok baik-baik gitu maksud lu? Anjir lu, Liv!” gerutu Leon.
“Bukan gitu, Yon! Elu itu udah kaya sodara buat gue, jadi, elu nggak termasuk golongan cowok dimata gue, but brother! Lagian, gue nggak doyan barang second kaya elu,” ucap Olivia.
"Wah... sekate-kate nih anak," gerutu Leon
"Lah emang bener kan lu bekas banyak cewe," sahut Olivia
“Iya juga sih! Oke, deh! Oke! Tapi, kalau dia emang cowok baik-baik, berarti buat naklukin dia cuma ada satu cara!” ucap Leon.
“Apaan tuh?” tanya Olivia antusias.
Tak langsung menjawab, Leon hanya menyeringai memikirkan ide yang sudah ada di kepalanya itu.
Leon kemudian mendekat ke arah Olivia, dan membisikkan sesuatu di telinga gadis tersebut. Olivia nampak terkejut terlihat dari kedua matanya yang membulat dan alis yang hampir menyatu.
“Gila lu! Nggak! Itu gila! Gue nggak mau!” tolak Olivia ketika Leon selesai berbisik padanya.
“Tadi katanya lu pengin nikah ama tuh cowok, giliran gue kasih ide, malah lu tolak! Gimana sih lu, Liv?” sungut Leon.
“Ya lagian Elu ngasih ide kacau gitu! Emang lu pikir gue cewe apaan!” jawab Olivia tak kalah bersungutnya.
“Terserah lu dah! Yang jelas, itu cara terampuh buat dapetin tuh cowok baik-baik lu!” sahut Leon.
“Udah ah! Jangan bahas dia lagi! Bete gue!” seru Olivia cemberut.
Mereka pun kembali menikmati beer yang ada ditangan masing-masing. Sampai tak terasa, beer di lemari pendingin apartemen Leon telah habis mereka minum.
“Gue balik ya! Udah malem! Dah!” kata Olivia yang mulai pusing akibat terlalu banyak minum beer kalengan.
“Oke! Lu hati-hati ya!” sahut Leon yang kemudian kembali menghilang di balik pintu.
...☕☕☕☕☕...
Leon Xavier Agung, seorang pemuda yang selalu berpikir praktis namun juga ceroboh. Anak tunggal dari seorang pengusaha kaya raya, teman dari orang tau Olivia. Dia dan Olivia berteman sejak kecil, namun sifat Olivia yang selalu seenaknya saja dan Sikap Leon yang terlalu berfikir praktis, tak menjadikan mereka berdua pasangan dan hanya sebatas teman.
Mereka kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama. Hampir setiap hari mereka bertemu dan nongkrong bareng. Wajar jika Olivia, si pemburu hal baru, sudah tahu luar dalam dari pemuda tersebut, dan membuatnya sama sekali tak tertarik dengan sang sahabat.
Leon sering menghabiskan malamnya dengan para wanita bayaran, yang tergoda dengan paras rupawannya, terlebih dengan isi dompetnya yang unlimited. Namun sayangnya, parasnya tak sejalan dengan isi otaknya. Dia terlalu bod*h untuk urusan sosial umum. Namun sangat pandai dalam hal berbisnis, sehingga dia sudah dipercayai ayahnya untuk mengelola salah satu anak perusahaannya, meski masih duduk di bangku kuliah.
...☕☕☕☕☕...
Beberapa hari berlalu. Setiap hari, Olivia selalu saja mengganggu hidup Alzam. Gadis itu selalu datang ke kedai, dan duduk berlama-lama di salah satu meja yang dekat dengan tempat biasa Alzam duduk, memeriksa pembukuan kedainya.
Karena kedai itu belum terlalu sempit, sehingga mereka tidak menyisakan satu ruangan khusus untuk owner atau menejer, dan menggunakan seluruh ruangan untuk meja tamu.
Setiap kali Olivia datang, suasana hati Alzam selalu saja terasa buruk. Semua bisa melihat bahwa pemuda itu sangat terganggu dengan kehadiran gadis tersebut.
Meski berbagai cara telah Olivia lakukan untuk menarik perhatiannya, akan tetapi, Alzam selalu mencoba agar tak termakan taktiknya seperti tempo hari.
Dia tak mau sampai berakhir konyol, karena berurusan dengan gadis aneh yang selalu suka bertindak seenaknya sendiri. Ditambah belum sebulan mereka berkenalan, tapi sikap Olivia yang selalu menempel, membuat Alzam risih.
Merasa tak mendapat respon dari targetnya, Olivia merubah taktik. Suatu hari, dia tak muncul sama sekali di kedai, bahkan bayangannya pun sama sekali tak terlihat.
“Mas, hari ini tumben gadis itu nggak dateng?” tanya Abas, salah satu pegawai senior di kedainya.
“Biarkan saja. Bagus kan kalau dia nggak datang buat ganggu bisnis kita,” sahut Alzam datar.
“Iya, sih. Tapi...,” jawabannya.
“Tapi, apa?” sela Nurul yang tiba-tiba datang menyela pembicaraan mereka berdua.
Semua menoleh dan melihat sosok cantik berhijab itu. Guru muda tersebut berjalan masuk dan menghampiri temannya.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
“Waalaikumsalam. Nur, dari mana?” tanya Alzam.
“Biasa. Habis dari toko buku. Yang kemarin udah habis ku baca,” jawab Nurul.
Gadis itu pun duduk di kursi yang dekat dengan meja Alzam.
“Kalian lagi ngomong apaan sih? Kok kayaknya mukamu serius gitu, Zam?” tanya Nurul.
“Nggak papa kok. Nggak penting juga. Oh ya, mau pesen apa?” tanya Alzam.
“Nggak usah. Aku Cuma mampir bentar kok,” tolak Nurul.
“Aku buatin es kopi seperti biasa aja yah,” tawar Alzam.
“Ya udah deh,” sahut Nurul.
Alzam kemudian menoleh ke arah meja barista. Di sana sudah ada salah satu karyawannya yang bernama Amy, yang langsung mengacungkan ibu jari ke atas tanda mengerti pesanan Nurul.
Pemuda itu pun tak perlu berkata lagi dan kembali sibuk dengan kertas-kertas di depannya.
Nurul nampak melihat sekeliling. Ada beberapa orang yang tengah duduk di dalam kedai. Saat ini, kedai terlihat tidak cukup ramai. Mungkin karena masih jam sibuk.
Namun, tiba-tiba dia teringat sesuatu yang beberapa hari belakang ini selalu ada di sini, tapi nampaknya hari ini tidak muncul.
“Ehm... Zam, Oliv nggak ke sini?” tanya Nurul.
“Nggak. Udah bosen kali,” jawab Alzam ketus.
Melihat sikap Alzam yang seolah kesal saat mengatakan kata 'bosan', Nurul pun tersenyum tipis.
“Kamu kangen ya sama dia? Merasa kehilangan gitu? ” tanya Nurul menggoda.
Alzam pun seketika mengangkat kepala dan menatap ke arah sahabatnya itu.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Ni cewek kata nya cuma sahabat,tp dr tingkah nya yg selalu rajin dtg kesimi kayak nya Nurul juga punya perasaan terpendam nih ke Alzam,percaya deh,?
2022-12-30
2
Qaisaa Nazarudin
Pasti mau menjebak Alzam,,🤦🏻♀️🤦🏻♀️Kalo Alzam nikah sama Oliv Alzam harus banyak kerjaan,mendiddik dan mengawasin oliv ke jln yg bener,pergaulan yg bener,,
2022-12-30
0