Mengadu

Seorang perempuan datang ke kedai. Dengan senyum manisnya, ia menyapa semua yang saat itu berada di dalam tempat tersebut. Kerudung berwarna peach bermotif dedaunan musim gugur, yang dipadu dengan gamis berwarna senada, membuat perempuan itu nampak begitu cantik dan anggun.

“Eh! Ada Oliv juga ya!” sapa Nurul, perempuan yang selalu mengganggu ketenangan Olivia, tentu saja menurut versinya.

“Nggak usah sok ramah deh!” gumam Olivia, yang sangat jelas terdengar oleh hampir seluruh orang yang ada di sana.

“Dari mana, Nur?” tanya Alzam ramah.

“Cih! Kalau sama dia aja, bisa baiiiiik banget! Kalau sama aku, hah, boro-boro!” gerutu Olivia.

Alzam tak begitu memedulikan ocehan Olivia. Dia justru berjalan mendekati Nurul.

“Aku dari toko buku, Zam!” jawab Nurul, sambil menggoyang-goyangkan kantong kresek berlogo sebuah toko buku terkenal di depan wajahnya.

Pandangan Nurul kemudian beralih kepada Olivia, yang sedari tadi berdiri tak jauh dari posisinya, dengan wajah cemberut.

“Oliv! Kamu sudah lama di sini?” tanya Nurul ramah.

“Nggak usah sok akrab deh!” sahut Olivia ketus.

Alzam yang mendengar itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Dasar gadis aneh! Tadi katanya pengin diajak bicara! Sekarang, giliran ada yang dengan senang hati ngajakin ngomong, malah cuek! Bener-bener freak!” sindir Alzam tanpa menatap ke arah Olivia.

“Tapi, aku maunya ngobrol sama Mas Al! Bukan sama dia!” ucap Olivia, sambil menunjuk ke arah Nurul.

Nurul yang ditunjuk Olivia pun kebingungan dengan maksud dari gadis itu.

“Ada apa sih?” tanyanya.

“Udah! Nggak usah ditanggepin! Nggak penting juga kok!” sahut Alzam.

Olivia kesal karena sikap Alzam yang sangat berbeda, antara dirinya dan juga Nurul.

“Oh, iya! Mau minum apa?” tawar Alzam.

“Ehm ... Tolong bikinin es kopi deh, My!” pesan Nurul pada Amy, salah satu pelayan di kedai milik Alzam.

“Tapi, Bos! Tadi kan kata bos kedainya ditutup!” ujar Amy bingung.

“Nggak papa! Kamu bikinin aja ya!” sahut Alzam.

“Oke, Bos!” jawab Amy.

“Duduk di sana yuk, Nur!” ajak Alzam.

Nurul pun berjalan mengikuti Alzam, dan duduk berhadapan dengannya. Nampak Olivia mengentak-entakkan kakinya kesal melihat kedekatan kedua orang itu.

“Oliv! Sini gabung bareng!” ajak Nurul.

“Males!” jawab Olivia ketus.

Dengan kesal, Olivia berjalan keluar dengan langkah kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan keras di lantai, tanda protes kepada Alzam. Namun, pemuda itu sama sekali tidak memedulikan tingkah gadis tersebut.

Setelah kepergian Olivia dari kedainya, Alzam memerintahkan kepada anak buahnya, untuk bersiap membuka kedai kembali. Seluruh anak buah Alzam pun mengiyakan instruksi dari bos mereka.

“Kenapa tadi tutup? Apa belum buka? Tapi ini udah siang banget lho!” cecar Nurul.

“Makhluk aneh tadi yang bikin rusuh di sini!” jawab Alzam malas.

“Rusuh gimana?” tanya Nurul.

“Ya masa, tadi dia itu ngusir semua pelanggan kedai dengan seenaknya! Gila ‘kan! Kalau bukan rusuh, apa namanya?” tutur Alzam kesal.

“Oh! Ya udah sih! Dia ‘kan emang lagi cari perhatian sama kamu aja, Zam!” ucap Nurul.

“Heh! Yang ada, dia malah bikin aku emosi! Dia tuh selalu seenaknya sendiri tau nggak!” tutur Alzam.

“Tapi dari yang aku lihat, kamu tuh justru seperti perhatian banget ke dia deh, Zam!” kata Nurul.

“Perhatian?! Perhatian gimana?” tanya Alzam yang tak paham.

“Ya perhatian! Kamu bisa sampai ngerasain dia nyebelin, dia seenaknya, sampai kamu kalau nyeritain dia ke aku, selalu aja berapi-api! Dan kalau kamu lagi sama dia, kamu itu beda banget, Zam! Serasa lebih hidup gitu!” jelas Nurul.

“Ya ‘kan karena emang dia itu nyebelin, Nur!” sahut Alzam.

Nurul menggeleng sambil tersenyum.

“Enggak, Zam! Aku tuh kenal banget sama kamu! Kamu itu ya, selalu saja jadi pria yang baik, sopan, sabar dan ramah ke semua orang, kecuali Oliv! Kalau sama Oliv, kamu bisa ekspresiin diri kamu yang sebenarnya! Kamu bisa terbuka sama dia, tanpa adanya ke-jaimanmu! Bahkan, bisa-bisa kamu jatuh cinta lho nanti sama dia!” tutur Nurul.

“Hah? Jatuh cinta? Jangan ngada-ngada deh, Nur!” sanggah Alzam.

“Kita nggak tau siapa jodoh kita, Zam! Kalau emang dia itu ditakdirkan oleh Allah sebagai jodohmu, emang kamu bisa apa selain menerimanya?” seru Nurul.

“Apes dong!” gumam Alzam yang masih bisa terdengar oleh Nurul.

“Eh ... Nggak boleh bilang gitu! Ingat, ucapan adalah do'a! Masa kamu do'ain diri kamu sendiri apes sih!” omel Nurul.

“Iya, Bu guru!” sahut Alzam yang menirukan gaya bicara anak sekolah.

“Udah lah, jangan bahas dia lagi! Bisa darah tinggi aku!” gerutu Alzam.

Perempuan itu pun hanya tersenyum melihat tingkah dari sahabatnya tersebut.

Nurul Syahlaa Shaima, seorang perempuan cantik, anggun, sopan dan juga baik hati. Dia adalah sahabat sekaligus teman satu SMA, dan bahkan satu kampus dengan Alzam, akan tetapi berbeda jurusan. Dia bekerja sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah kejuruan negeri di kotanya. Karena ketegasan dan kedisiplinannya dalam mendidik siswa, dia didaulat sebagai wakil kepala sekolah di bidang kesiswaan.

Nurul bukan tipe guru yang galak dan diktator, melainkan dia seorang guru yang mencoba dekat dan akrab dengan seluruh anak didiknya. Sehingga, ketika dia berhadapan dengan seorang Olivia yang memiliki sifat cenderung kekanakan dan manja, dia tak heran dan sudah terbiasa.

...☕☕☕☕☕...

Di lain tempat,

Olivia yang sedang kesal dengan apa yang dilakukan oleh Alzam kepadanya, memutuskan pergi untuk menemui sahabat karibnya.

Setelah beberapa saat dia berkendara, kini tibalah Olivia di sebuah komplek apartemen di sebuah kawasan Elit. Dia memarkirkan mobil mewahnya di basemen, dan segera menaiki lift untuk menuju unit milik temannya itu.

Dengan muka malas dan ketukan keras di pintu apartemen tersebut, Olivia berusaha membuat si pemilik unit keluar dari sarangnya.

Setelah cukup lama Olivia mengetuk atau lebih tepatnya menggedor pintu itu, seseorang dari dalam pun membukakannya. Nampak seorang pemuda menyembulkan kepala dari balik pintu.

Tanpa salam dan tanpa kata sapaan, Olivia langsung saja nyelonong masuk ke dalam, sambil mendorong si empunya rumah hingga dia pun menyingkir dari depan pintu. Olivia berjalan masuk diikuti oleh si tuan rumah, hingga sampailah dia di ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di sana.

“Lu kenapa, Liv? Muka lu kusut amat! Lupa disetrika ye?” tanya Leon, sahabat Olivia, saat melihat sahabatnya itu nampak sedang kesal.

“Hah!” Olivia menghembuskan nafasnya dengan kasar, menandakan dia sedang ingin berkeluh kesah.

“Tunggu bentar! Gue ambil temen curhat lu dulu!” ujar Leon sambil berjalan menuju ke arah dapurnya.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Terpopuler

Comments

kika

kika

wkwk...nurul bs lihat bahwa oliv udah bikin hdup alzam yg monoton jdi lbih berapi2...wkwk... mski awalny api emosi...lama2 mungkin jd api asmara ya thor.... suka...suka....lanjut thor...

2023-08-13

1

afrena

afrena

iya ela sy kira sahabatnya cewek rupanya cowok😁

2022-11-21

0

lovely

lovely

kirain cewek teman curhat bya

2022-09-19

0

lihat semua
Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!