Tempat uji iman

“Waalaikumsalam, siapa ya?” tanya orang di seberang.

“Apa benar ini Bang Ikhsan, pemilik ruko nomer dua delapan di jalan simpang timur?” tanya Alzam.

“Benar. Oh, ini yang kemarin chat mau lihat ruko yah?” tanya Ikhsan balik.

“Iya, Bang. Abang jadi kesini kan?” tanya Alzam lagi.

“Duh, maaf banget, Bro. Gue ada keperluan mendadak. Sodara ada yang meninggal dunia pagi tadi. Jadi gue lupa kalau ada janji sama ente. Gimana kalo next time aja? Kebetulan juga sekarang gue lagi di luar kota,” ucap Ikhsan si pemilik ruko.

“Innalillai wa innailaihirojiun. Iya, Bang. Nggak papa. Next time, kalo bisa Abang kabari duluan,” sahut alzam.

“Oke. Oke. Siap. Sekali lagi, sorry banget ya, Bro!” ucap Ikhsan.

“Iya nggak papa, Bang. Assalamu’alaikum,” sahut Alzam.

“Waalaikumsalam,” jawab Ikhsan.

Sambungan pun dimatikan.

Alzam yang sudah terlanjur turun pun, mencoba melihat kondisi di sekitar ruko. Memang tempat yang cukup bagus untuk dijadikan cabang selanjutnya.

Tempatnya juga tidak berada di depan jalan raya, melainkan di area pejalan kaki di sekitar taman yang menuju arena olahraga warga.

“Pohonnya lumayan banyak. Kalau di letakkan beberapa meja dan kursi di sini, bisa jadi area out door malah menjadi spot favorit pengunjung,” gumamnya saat melihat sekeliling.

Dia mendongak ke atas, dan melihat bahwa bagian tersebut juga memiliki balkon. Dia semakin tertarik untuk melihat lebih lanjut bangunan itu.

Namun apa daya, dia masih harus bersabar dan menunggu sampai pemiliknya bisa datang dan bertemu dengan Alzam.

Cukup lama dia berkeliling melihat sekitar. Tak terasa, jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Dia pun terpaksa harus kembali melajukan motornya dan bermaksud pulang ke rumah.

Namun di tengah jalan, ponselnya berdering dan membuat Alzam pun menepi dan menghentikan laju motor matic-nya.

Dia mengambil benda tersebut dari dalam tas dan melihat ada nomor asing yang menghubunginya.

Alzam mengerutkan kening dan mencoba mengingat nomor tersebut, akan tetapi dia sama sekali tak ingat dengan nomor itu.

Akhirnya, karena khawatir ada hal penting, dia pun menerima panggilan tersebut.

“Halo, Assalamu’alaikum,” sapa Alzam.

“Halo, Bro. Bisa minta tolong nggak? Ini cewe lu udah mabuk banget. Jemput gih buru!” ucap orang di seberang.

“Mabuk? Cewe? Maaf, tapi ini siapa?” tanya Alzam bingung.

“Gue bartender di klub malam XXX. Di sini ada cewe yang lagi mabuk. Pas gue tawarin buat panggilin taksi online, dia malah kasih lihat nomer lu ke gue, dan minta elu buat jemput dia sekarang. Namanya... Ehm... Bentar gue coba tanya dia dulu,” jawab orang itu.

Alzam diam. Terdengar suara orang tadi, sedang berbicara dengan seseorang lainnya di seberang sana, menanyakan siapa namanya. Tak lama kemudian, orang tersebut kembali berbicara dengan Alzam lewat panggilan telepon yang masih tersambung tadi.

“Namanya Olivia. Lu kenal kan, Bro? Buruan di jemput gih. Kesian! Ntar keburu dibawa pergi sama cowok-cowok rese,” lanjutnya.

Telepon kemudian dimatikan begitu saja, tanpa menunggu Alzam menjawab bersedia atau tidak.

Sejak kapan cewek rese itu punya nomerku? Pasti dari Kanina, terka Alzam dalam hati.

Pemuda itu pun kebingungan. Dia enggan mendekat ke tempat haram seperti itu, akan tetapi nasib seorang gadis dalam bahaya.

Seolah tengah terjadi perang batin antara ego dan hati nurani, pria itu sampai duduk diam beberapa saat di atas motor yang sudah dibiarkan menyala sejak tadi.

Biarin ajalah dia di sana. Kalau dia tahu tempat seperti itu, berarti sejak awal emang udah kebiasaan mabuk-mabukan. B*do amat lah. Lagian cewe kek dia, siapa yang tahu pasti masih perawan apa nggaknya, batin Alzam.

Dia mencoba menekan hati nuraninya sekuat mungkin, karena pemuda tersebut tak mau berurusan lagi dengan gadis bernama Olivia itu.

Namun, saat dia sudah melajukan motornya dan hampir mencapai jalan raya, dia kembali bergumam dalam hati.

Tapi, gimana kalau dia beneran dalam bahaya? Akhir-akhir ini banyak berita pemerkosaan, yang ujungnya kasus pembunuhan. Bisa gawat ini. Aku bisa-bisa ikut keseret, gumamnya dalam hati.

Akhirnya, dia pun berbelok dan menuju ke arah klub malam yang tadi disebutkan si penelepon. Tempat hiburan itu sangat terkenal, hingga orang seperti Alzam pun bisa tahu di mana tempatnya, meski dia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana.

Cukup memakan waktu dari ruko tadi sampai ke tempat tujuan. Alzam pun tiba di sana sekitar hampir tengah malam. Namun seperti namanya, tempat ini justru akan semakin ramai di waktu-waktu seperti ini.

Alzam ragu antara masuk, atau putar balik. Dia bergidik ngeri melihat seliweran orang-orang, terutama para wanitanya yang berpakaian minim bahan dan cenderung hampir telanjang.

Berkali-kali Alzam beristighfar agar dia terhindar godaan syaitan yang berwujud manusia itu.

Kemudian, pemuda tersebut melihat keberadaan dua orang bodyguard bertubuh besar dan tinggi, sedang berjaga di depan pintu masuk klub XXX. Alzam pun bermaksud meminta bantuan mereka untuk membawa keluar Olivia.

Dengan langkah ragu, Alzam turun dari sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan, dan kemudian mendekati salah satu bodyguard tadi.

“Assalamu’alaikum, Bang,” sapa Alzam.

Bodyguard itu melihat penampilan Alzam dari atas ke bawah, lalu kembali lagi ke atas. Dia melihat Alzam yang memakai kemeja polos berkerah bundar dengan sebuah jaket berwarna gelap di bagian luar, serta celana bahan yang sedikit longgar.

“Maaf, Pak Ustadz. Kayaknya Anda salah tempat deh. Tempat kita nggak ngadain tausiah malam,” sahut si bodyguard.

“Bukan, Bang. Saya kemari mau cari temen saya. Tadi saya dapet telepon dari bartender sini, katanya temen saya itu minta dijemput,” jawab Alzam.

“Oh, kalau gitu masuk aja, Tadz,” seru si bodyguard.

“Bisa tolong bawa keluar orangnya aja nggak? Biar saya tunggu di sini. Maaf ngerepotin, Bang,” ucap Alzam.

Si bodyguard itu nampak melihat ke arah temannya, dan yang dilihat malah melempar dagu ke dalam.

“Ya udah. Ustadz tunggu di sini bentar,” sahut si bodyguard.

Dia pun masuk ke dalam, dan meninggalkan Alzam berdiri sendirian di salah satu sisi pintu. Banyak wanita-wanita malam yang lewat dan melihat paras tampan Alzam. Tak jarang ada yang mencoba menggodanya, atau hanya sekedar mengerlingkan mata genitnya.

Alzam seolah tengah uji nyali di tengah tempat angker. Dia berkali-kali merapalkan doa-doa, setiap kali ada yang berusaha mendekatinya.

Dia bahkan sampai menghadap ke dinding, demi agar tidak di sentuh oleh para wanita itu.

Tak berapa lama, si bodyguard keluar dengan memapah seorang gadis. Alzam kenal betul pakaiannya, karena baru beberapa jam lalu dia meninggalkan gadis tersebut di depan tower sebuah apartemen.

“Apa ini temannya, Ustadz?” tanya bodyguard.

“Iya, benar. Dia bawa mobil tidak ya?” tanya Alzam.

“kayaknya nggak. Di dalam tasnya nggak ada kunci mobil. Pesen taksi online aja, Tad. Biar motornya tinggal di sini dulu,” ucap si bodyguard.

Alzam nampak berpikir sejenak. Dia tak mungkin kembali lagi ke tempat uji iman seperti ini. Karena terlalu lama berpikir, si bodyguard pun menginterupsi nya.

“Tadz, bisa cepet nggak?” tanya si bodyguard sedikit kesal.

“Iya, iya. Saya panggil taksi di depan dulu. Nunggu yang online takut lama,” sahut Alzam cepat.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

hantar dia masuk taksi dan bg ke sopir taksi alamat rumah ortu nya,jadi gak perlu Alzam yg ngantar,atau Alzam naik motor aja ngikutin taksi nya sampai di rumah ortu nya olive,,setelah itu lansung pulang aja,gak perlu singgah,,

2022-12-30

0

afrena

afrena

huahaaa ustadz, aduh gara pakaian jdi ustadz dadakan.

2022-11-21

0

lovely

lovely

c Leon kmna ko Jai Azam yg kna imbasnya 😕

2022-09-20

0

lihat semua
Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!