Olivia menatap pria di hadapannya itu dengan sebelah sudut bibir yang terangkat, seolah sedang mengejeknya.
“Aku cuma pengin kamu lihat aku, Mas! Dan ternyata cara ku ini berhasil kan! Kamu yang dari tadi cuek, nggak peduliin keberadaan ku sama sekali, sekarang lihat kan? Kamu sendiri yang nyamperin aku, dan mau ngomong sama aku!” ujar Olivia merasa menang.
Alzam begitu geram dan jengah dengan sikap dari gadis yang berdiri di hadapannya itu.
Kenapa aku harus berurusan dengan gadis seperti dia sih? Si*l! umpat Alzam dalam hatinya.
Pertemuan tak terduga mereka seminggu yang lalu, sudah benar-benar membuat hari-hari Alzam belakangan ini begitu terusik, dengan kehadiran seorang Olivia yang suka bertindak serta bersikap seenaknya sendiri dalam hal apapun.
Awalnya, Alzam yang hanya ingin membantu seseorang yang sedang membutuhkan bantuan, tak tahu jika akan berujung pada masalah yang terus disebabkan oleh orang yang telah ditolongnya.
Saat itu, Olivia sedang kebingungan karena mobilnya mogok di daerah hutan sekitar puncak, di mana sinyal telepon seluler sangat sulit didapatkan, hingga ia pun tak bisa meminta bantuan siapa pun juga.
Saat itu lah Alzam lewat dan melihat Olivia yang sedang berdiri dan meminta bantuan pada setiap orang yang lewat.
Karena udara yang dingin, Alzam tak melihat jelas bagaimana penampilan gadis itu, karena Olivia membungkus tubuhnya dengan jaket tebal.
“Aa! Aa! Tolongin dong! Mobil ku mogok nih!” ucap Olivia, saat Alzam lewat di hadapannya dengan mengendarai sebuah motor matic.
Alzam yang memang pada dasarnya adalah seseorang yang baik hati pun, menepikan motornya dan berjalan menghampiri gadis tersebut.
“Mogok kenapa, Mbak?” tanya Alzam.
“Nggak tau! Tiba-tiba aja mogok di sini! Aku nggak begitu tau soal mesin, Aa!” tutur Olivia.
“Boleh saya cek?” tanya Alzam, sambil menunjuk ke arah kap mobil.
“Iya, sebentar aku bukain!” sahut Olivia yang kemudian menekan sebuah tombol yang ada di hadapan kursi kemudi.
Kap pun terbuka, dan Alzam berjalan mendekati tempat di mana mesin mobil itu berada, sambil melipat lengan bajunya hingga di atas siku.
Dengan seksama, Alzam mencoba menganalisa, di mana kerusakan yang dialami mobil yang sepertinya mahal itu. Setelah dia merasa mengetahui kerusakannya, pemuda itu pun mengambil peralatan mekanik yang biasa ia bawa, dan mencoba untuk memperbaiki sebisanya.
“Coba di starter!” seru Alzam kepada Olivia, yang sedari tadi memperhatikan Alzam yang dengan telaten mengotak atik mesin mobilnya.
Olivia pun segera masuk ke dalam mobil dan mencoba menekan tombol start yang ada di depannya. Seketika, mesin mobil pun kembali hidup, baik Alzam maupun Olivia bersama-sama bernafas lega.
“Bisa, Aa!” teriak Olivia girang.
Alzam hanya membalasnya dengan tersenyum. Saat itu lah, awal mula rasa suka tertanam dalam hati Olivia, terhadap pria yang telah membantunya itu.
Olivia pun kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Alzam, yang sedang membetulkan lengan bajunya yang sempat ia lipat tadi, setelah sebelumnya dia membereskan alat-alat bengkel yang ia gunakan untuk memperbaiki mobil itu.
“Makasih ya, Aa!” ucap Olivia.
“Sama-sama! Sudah sewajarnya sesama manusia saling tolong menolong! Kebetulan saya tau sedikit soal mesin mobil!” ujar Alzam merendah.
Wah! Udah ganteng, baik hati, pinter, nggak sombong lagi! Bener-bener cowo perfect! puji Olivia dalam hatinya.
“Oh iya! Kenalin, aku Olivia! Aa namanya siapa?” tanya Olivia modus.
“Alzam! Dan tolong jangan panggil Aa!” jawab Alzam.
“Terus?” tanya Olivia lagi.
“Panggil saya Mas saja! Lagipula, Saya kebetulan bukan orang sini juga!” tutur Alzam.
“Mas Alzam! Aku panggil Mas Al aja yah!” seru Olivia.
“Boleh nggak papa!” sahut Alzam tersenyum.
Terserah dia aja lah! Toh kami juga nggak mungkin ketemu lagi! gumamnya dalam hati.
Setelah itu, Alzam pamit undur diri, dan kembali mengendarai motor matic nya menuju tujuan awal. Olivia masih terpaku menatap kepergian laki-laki yang sudah membuat dirinya tertarik itu, hingga laki-laki tersebut tak lagi terlihat dari pandangan matanya.
Setelah pertemuan tak disengaja itu, keesokan harinya, Alzam kembali ke kedainya dan menjalani rutinitas seperri biasa, yaitu mengelola kedainya.
Tanpa ia sangka, dirinya bertemu kembali dengan Olivia di kedai. Kedatangan wanita itu selalu menjadi pusat perhatian, semenjak dia datang pertama kali ke tempat itu. Pakaiannya yang selalu nyentrik dan kaca mata hitam yang selalu menggantung di ujung hidungnya, membuat siapa pun pasti akan memperhatikannya.
Awalnya, Alzam kira itu adalah kebetulan yang luar biasa. Namun siapa sangka, Olivia menangkap sesuatu yang berada di belakang motor pemuda tersebut saat pertemuan awal mereka, yaitu stiker kedainya yang tertempel rapi di sana.
Alzam mulanya tak begitu keberatan dengan kemunculan Olivia di kedainya, namun kemudian, Olivia selalu datang hampir setiap hari, dari siang hingga petang. Dia selalu saja mengganggu dan berusaha mengajak bicara Alzam, hingga puncaknya adalah tadi malam, ketika Olivia nekad menunggu Alzam hingga malam, tanpa membawa mobil mewah yang biasanya ia bawa.
Olivia memakai alasan tersebut untuk meminta pemuda tersebut mengantarkan dia pulang ke rumah. Alzam tak pernah menduga jika saat itu, Olivia sedang merencanakan sesuatu untuknya. Sampai pada akhirnya, dia benar-benar muak dengan gadis tersebut.
Kelakuan Olivia yang selalu berbuat seenaknya, membuat geram dan jengah seorang Alzam yang terkenal penyabar dan sopan. Hingga di depan Olivia, Alzam tak segan-segan menunjukkan rasa ketidaksuakaannya terhadap gadis itu.
Ada suatu ketika saat Olivia menunjukkan keposesifannya terhadap Alzam, di mana dia selalu mengganggu setiap kali ada teman, kenalan atau sekedar pelanggan perempuan yang menyapa Alzam. Sikapnya itu sontak membuat Alzam seakan dijauhi, terlebih oleh kaum hawa.
Namun, ada satu perempuan yang bukannya menjauh karena kehadiran Olivia, melainkan justru semakin mendekat dan menunjukkan sikap bersahabat dengan gadis tengil itu.
Olivia sangat membencinya, karena setiap kali perempuan tersebut datang, Alzam pasti merasa senang karena sikapnya yang tak mempan oleh tingkah Olivia.
Kembali ke masa kini, di mana ketegangan sedang berlangsung di kedai milik Alzam karena ulah seorang Olivia. Namun, di tengah ketegangan itu, seseorang datang dan langsung memberi salam kepada setiap orang yang ada di sana dengan suara yang terdengar begitu lembut.
“Assalamualaikum!” sapanya.
“Waalaikumsalam!” sahut orang yang ada di dalam kedai bersamaan, tak terkecuali Alzam.
Melihat kehadiran orang itu, Olivia yang tadi merasa di atas angin karena berhasil mendapat perhatian dari Alzam, kini mendadak menunjukkan raut muka ketidak sukaan.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
#polos banget
2022-12-30
1
Qaisaa Nazarudin
Mas Alzam nya mah polis banget😂🤣🤣🤣
2022-12-30
0
Qaisaa Nazarudin
wkwkwk ketahuan,pantesan dia tau kedai nya di mana😂😂😂
2022-12-30
0