Mengantar

“Kenapa kamu bisa di sini?” tanya Alzam bingung.

“Nak Olivia ini cuma main ke rumah. Dia ke sini dari tadi siang,” sahut Ibu Aminah, ibunda Alzam.

“Mas Azam kok jahat banget. Punya pacar cantik dan baik begini kenapa nggak dikenalin ke kita sih?” tanya Kanina, atau yang sering di panggil Ina.

“Iya nih Mas Azam. Jahat banget,” timpal Zahra, adik bungsu Alzam.

“Kita belum lama jadian kok. Iya kan, Mas Al?” sahut Olivia.

Mendengar perkataan dari ibu dan adiknya, Alzam bisa menyimpulkan bahwa Olivia pasti telah berkata yang tidak semestinya. Dia yang awalnya merasa berdebar saat hanya mendengar suaranya, kini kembali merasa kesal saat melihat sikap gadis tersebut.

“Sudah malam. Sebaiknya kau segera pulang. Gadis baik-baik tidak pantas berada di rumah laki-laki sampai malam begini,” ucap Alzam dingin.

“Zam, apa begitu cara bicara sama tamu? Nak Olivia ini bukan sengaja mau berlama-lama di sini. Tapi temannya yang mau menjemput ada urusan mendadak, jadi sampai sekarang belum bisa dateng ke sini,” jawab Bu Aminah.

“Itu cuma alasan dia saja, Bu. Jangan mau di bohongi gadis licik ini,” tepis Alzam.

“Zam, ibu nggak inget pernah ngajarin kamu bicara sekasar ini sama orang,” sahut Bu Aminah kecewa.

Melihat hal tersebut, Alzam pun hanya bisa menghela nafas panjang. Dia melirik ke arah Olivia dan tampak jelas sebuah senyum samar muncul di bibir gadis kaya itu.

“Sebaiknya kamu antar Nak Olivia pulang. Sepertinya, temannya juga akan lama. Seperti yang kamu bilang tadi, tidak baik anak gadis lama-lama berada di rumah seorang pemuda yang bukan mukhrimnya,” seru Bu Aminah.

“Nganter pulang?” tanya Alzam tak percaya.

Dia kembali melempar tatapan tajam ke arah Olivia.

“Aku nggak pulang ke rumah kok. Kamu bisa nganterin aku ke apartemen aja. Janji deh, nggak bakal ada kejadian kek waktu itu lagi,” jawab Olivia.

Alzam nampak berpikir karena tak mau sampai terjebak dalam situasi aneh seperti tempo hari.

“Zam, mikir apa lagi? Ayo cepat anterin Nak Olivia pulang” seru sang ibu.

Akhirnya, mau tak mau, Alzam pun menurutinya. Dia masuk ke dalam kamar dan mengambil sebuah helm cadangan serta menukar tas yang tadinya selempang menjadi tas punggung besar, nyaris mirip ransel camping, lalu kemudian kembali keluar.

"Lho, Zam? Kenapa bawa tas ransel segala?" tanya Bu Aminah.

"Buat pembatas, Bu," sahut Alzam.

Pemuda itu pun kembali melangkah keluar rumah.

Melihat hal itu, Olivia pun segera bangkit berdiri dan berpamitan kepada Bu Aminah dan kedua putrinya.

“Olivia pamit dulu ya, Bu,” ucap Olivia sopan.

“Hati-hati di jalan ya, Nak Oliv,” seru Bu Aminah.

“Nanti main ke sini lagi ya, Kak,” seru Zahra.

“Iya, Kak. Sering-sering aja ke sini temenin kita belajar kayak tadi,” timpal Ina.

“Beres. Tapi, sekarang kakak pulang dulu ya,” sahut Olivia sambil melambaikan tangan ke arah keduanya.

Dia pun berjalan mengikuti Alzam yang sudah kembali menuntun motornya ke halaman.

“Nih pake!“ seru Alzam ketus.

“Makasih, Mas Al,” sahut Olivia sambil meraih helm tersebut.

Alzam tak menimpali lagi. Dia kemudian naik ke motornya dan men-starter benda tersebut.

Olivia kembali menoleh ke belakang dan melihat ketiga perempuan yang masih berdiri di teras rumah berdinding lapuk itu.

Dia melambaikan tangan ke arah mereka dan semua pun membalas. Dia kemudian naik ke motor Alzam, dan pemuda itu segera membawa pergi Olivia dari halaman rumah ibunya.

...☕☕☕☕☕...

Hari berganti, dan hampir setiap hari Alzam akan pulang dan mendapati Olivia sedang berada di rumahnya hingga malam. Semua itu selalu diakhiri dengan Alzam yang mengantarkan gadis tersebut ke apartemen, yang sebelumnya pernah ditunjukkan oleh Olivia.

Suatu hari, Alzam yang mulai mendengar omongan para tetangga yang menggunjing keluarganya, akibat keberadaan Olivia di rumahnya yang setiap hari sampai larut malam itu.

“Tampangnya aja alim. Tapi, anak gadis orang dibiarin sampe malem di rumahnya,” ucap salah satu dari mereka.

“Aku pernah lho lihat, cewe itu di sana sampai tengah malem baru dianterin pulang sama si Alzam,” timpal yang lain.

“Iya, apa nggak takut tuh kalo anak laki-laki kebanggaannya sampe khilaf?” tambah yang lain lagi.

“Kayanya gadis itu kaya. Mungkin Bu Aminah mau merubah nasib dengan cara praktis,” terka yang lain lagi.

Semua omongan itu tak sengaja di dengar Alzam, saat dia hendak membeli sesuatu di warung dekat rumahnya.

Dia sampai mengurungkan niatnya itu dan berbalik kembali ke rumah. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk berbicara pada Olivia agar tidak lagi datang ke rumahnya dan membuat nama ibunya menjadi buruk di mata warga.

Hari ini, dia seperti biasa pergi ke kedai untuk menjalankan usahanya. Akan tetapi, dia tak di sana sampai kedai tutup.

“Bas, aku mau pulang cepet. Seperti biasa, jam sembilan rame nggak rame tetep tutup kedainya, dan jangan lupa beres-beres dulu sebelum pulang. Aku ada urusan penting,” ucap Alzam.

“Siap, Bos,” sahut Abas.

Setelah berpesan pada karyawannya, Alzam pun kemudian bersiap untuk pulang. Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam. Selepas sholat isha, Alzam pun meninggalkan kedai dan menuju ke rumahnya.

Seperti dugaan, Olivia sedang berada di sana. Dia pun segera masuk ke dalam dan melihat bahwa kedua adiknya sedang bercanda dengan gadis itu.

“Assalamu’alaikum,” salam Alzam.

“Waalaikumsalam. Lho, Mas Azam kok udah pulang?” tanya Zahra.

“Iya. Alhamdulillah, kedai hari ini rame, jadi tutup cepet. Ibu mana?” tanya Alzam.

“Ibu pergi ke pengajian Ustadz Kholik. Kan ini malam kamis, Mas. Lupa ya?” jawab Zahra.

“Astagfirullah hal Adzim. Ini malam kamis yah? Mas lupa. Kalian udah sholat isha?” tanya Alzam.

“Udah dong, Kak,” sahut Ina dan Zahra bersamaan.

Tatapannya beralih ke Olivia, yang sedari tadi diam menyangga pipi dengan kedua tangannya, sambil terus memandangi dirinya.

“Kamu?” tanya Alzam.

Olivia mengangkat kedua alisnya dan menunjuk ke arah dirinya sendiri. Sebuah senyum lebar muncul dan memamerkan deretan gigi putih yang tertata rapi di dalam mulut Olivia.

“Aku lagi datang bulan. Kan orang datang bulan nggak boleh sholat. Benerkan? Benerkan?” jawab Olivia sambil mencari dukungan dari Kanina dan Zahra.

Alzam memutar bola matanya karena terlalu malas menghadapi sikap Olivia. Dia menduga jika jawaban tadi hanya alasan gadis itu saja, karena Alzam yakin gadis seperti Olivia mana mau melaksanakan sholat lima waktu.

“Aku akan pergi keluar, sekalian mengantarmu pulang. Kau berkemaslah sekarang,” seru Alzam.

“Apa? Tapi ini masih sore?” tanya Olivia.

“Kalau begitu, silakan pulang sendiri. Karena aku masih ada urusan,” sahut Alzam ketus.

Dia berjalan berlalu menuju ke kamarnya yang berada di ujung belakang. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan kembali menoleh ke belakang.

"Jangan berpikir untuk menginap di sini, karena rumah ini sudah tidak punya tempat lagi untuk orang asing," ucap Alzam.

Dia pun kembali melangkah dan masuk ke kamarnya.

“Kak Oliv sabar yah. Kak Alzam emang begitu. Tapi aslinya baik kok,” ucap Ina menghibur Olivia.

Dia mengira bahwa gadis itu akan tersinggung karena perkataan sang kakak yang begitu ketus.

Dia tak tahu jika Olivia sudah kebal dengan hal itu.

“Kamu tenang aja. Kakak tahu luar dalem Mas kamu kok, In,” sahut Olivia sambil mengerlingkan sebelah matanya.

Dia lalu mengemas semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

“Kakak pulang cepet yah hari ini. Sebelum mas mu tambah ngambek. Hihihi....,” ucap Olivia.

Semua terkekeh karena baru kali ini ada orang yang bisa meledek kakak mereka seperti itu.

Alzam memang selalu bersikap baik pada siapapun, sampai tak ada yang tau sisi jahil dan ketusnya saat bersama sang adik di rumah.

Hingga sampai datang Olivia yang juga mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat kedua adik Alzam seolah memiliki Sekutu untuk melawan sang kakak.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Diihh emak emak bawang,,khilafbapa nya Alzam kan kerja,yg tinggal di rimah kuga semuanya wanita,,

2022-12-30

0

afrena

afrena

sekutu kaya perang z yak😁

2022-11-21

0

lihat semua
Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!