Kabar dari Leon

Leon kembali mendekat dan mencoba mengintip keluar dari lubang pintu. Dia sangat terkejut dan kembali bersembunyi di belakang pintu, saat melihat keberadaan Alzam di depan apartemennya.

“Gawat! Ngapain tuh cowok ke sini? Mana sekarang nggak ada Oliv lagi. Hape! Iya, hape gue,” bisik pemuda tersebut.

Dia berlari kembali ke arah kamarnya dan mengambil ponsel yang tadi dia tinggalkan di sana.

Leon pun segera menghubungi sahabatnya, Olivia, dan memberitahukan keberadaan Alzam di tempatnya.

“Halo, Yon. Ngapain lu telpon gue? Mau nitip absen lagi lu ye? Ogah gue kalo gratisan mah,” ucap Olivia saat menerima panggilan dari Leon.

“Anjir nih anak. Gue dikira minta nitip absen. Eh... Mak Lampir sodaranya nenek gayung. Ada yang lebih penting lagi tau nggak?” gerutu Leon.

“Pa'an? Mode gawat darurat elu mah suka ngaco. Banyakan ngent*t jadi eror tau nggak? Hahaha...,” Kelakar Olivia.

“Wah... parah nih anak. Anjir lu emang. Eh, emaknya gerandong. Tuh cowok baek-baek elu sekarang ada di depan pintu apartemen gue! Dia nyariin elu dari tadi. Cepetan kesini! Kalau nggak, gue nggak bisa kemana-mana seharian,” ungkap Leon.

“Eh, anak jenglot. Beneran yang lu bilang tadi? Dia dateng? Lu nggak bo'ong kan?” tanya Olivia memastikan.

“Ya elah, ni anak. Makanya buruan sini, lu lihat sendiri sono!” seru Leon.

“Beneran, Yon? Beneran dia dateng? Aaaaa... Gue berhasil! Gue berhasil! Aaaa... akhirnya gue berhasil,” pekik Olivia.

Gadis itu tampak kegirangan saat mendengar bahwa Alzam datang kembali untuk mencarinya. Dia begitu senang karena akhirnya dia berhasil mendapatkan perhatian dari pemuda yang selalu bersikap tak acuh padanya itu.

“Liv! Cepetan lu ke sini! Gue bisa kelaperan kalo dia masih ada di luar!” seru Leon.

Akan tetapi di seberang sambungan sana, Olivia masih bersorak kegirangan karena kabar yang ia Terima dari sang sahabat, hingga ponselnya tak sadar ia jauhkan dari telinga.

Leon terus mendengar sahabatnya itu berteriak-teriak kegirangan saat dirinya semakin khawatir, karena Alzam yang terus menggedor pintu depan apartemennya.

“Wah... Nih anak beneran dah stress. Wah... Bentar lagi temen gua masuk RSJ. Wah... Parah, parah, parah, parah. Wah...,” gumam Leon seorang diri.

“Oliv! Keluar, Liv. Aku mau bicara sama kamu! Oliv!” teriak Alzam semakin keras.

Leon pun kembali mencoba memangil Oliv lewat ponselnya

“Eh, Mak Lampir. Tolongin gue dong! Tanggung jawab nih!” seru Leon.

Olive yang mendengar sayup-sayup suara dari ponselnya pun kembali mendekatkan benda tersebut ke telinganya.

“Dia masih di situ?” tanya Olivia.

“Anjir lu, pake nanya segala lagi. Ya masih lah. Orang yang dicari aja elu. Buruan kemari!” seru Leon.

“Lu panggil sekuriti dulu aja buat ngusir tuh cowok. Laporin aja kalo dia udah bikin rusuh di situ,” ujar Olivia.

“Lu serius? Bukannya lu ngarep banget dia nyariin elu?” tanya Leon.

“Yeeeee, nih anak malah kebanyakan nanya lagi. Kalo mau ke kurung di apartemen terus ya nggak papa sih. Serah elu aja,” sahut Olivia enteng.

“Eh... Iya, iya. Gue panggil sekuriti sekarang. Gue nggak tanggung jawab ya kalo dia nggak mau balik lagi buat nyariin elu,” ucap Leon.

“Itu urusan gue. Lu tenang aja. BeTeWe, Thanks infonya,” sahut Olivia.

Panggilan pun dimatikan.

Setelah mendengar perkataan dari Olivia, Leon pun segera menghubungi pihak keamanan apartemen, dan melaporkan Alzam kepada mereka. Tak lama kemudian, beberapa orang sekuriti datang dan melihat, jika memang Alzam sedang menggedor pintu salah satu unit yang berada di lantai tersebut.

Mereka pun kemudian memint Alzam untuk segera menghentikan aksinya dan pergi secara baik-baik, sebelum pihak kepolisian dilibatkan. Mereka mengaku telah mendapat laporan dari salah satu penghuni apartemen, yang tak lain adalah Leon, bahwa tindakan Alzam ini sangat mengganggu.

Meski dia ingin bertemu dengan Olivia, akan tetapi Alzam pun tak bisa memaksa, terlebih karena pihak keamanan sudah turun tangan. Dia tak mau catatan kriminalnya bertambah hanya karena seorang gadis.

Alhasil, pemuda tersebut pun berjalan gontai keluar dari apartemen. Sekuriti bahkan menjaga ketat lobi, agar Alzam tak lagi bisa masuk ke dalam dan membuat masalah.

Saat dia sampai di samping motor, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia pun dengan malas meraih benda tersebut dari dalam tas selempangnya, dan melihat ada nomor asing yang mengirim pesan teks.

Temui aku di caffe X jalan Y jam satu siang

^^^Oliv^^^

Alzam terkejut mendapat pesan itu. Setelah dilihat, ternyata itu adalah nomor yang malam dimana Olivia mabuk, menelponnya dan mengaku sebagai bartender klub XXX.

Kalau tahu ini nomornya, sudah ku telpon dari tadi. Si*lan! Ngapain susah-susah gedor pintu orang sampe ditegur satpam segala, umpat Alzam dalam hati.

Dia pun melihat jam di layar ponselnya. Sudah hampir jam sebelas dan dia pun kemudian bergegas menuju tempat yang dijanjikan oleh Olivia tadi.

...☕☕☕☕☕...

Setengah satu siang, Alzam nampak telah tiba di tempat yang sebutkan oleh Olivia dalam pesan teksnya. Dia tampak melihat ke kiri dan kanan. Rupanya, tempat tersebut adalah salah satu caffe yang berada di sekitar kampus Nusa Bangsa.

Pemuda itu menerka bahwa Olivia adalah salah satu mahasiswi di Universitas elit tersebut. Dia pun kemudian masuk dan menunggu di salah satu meja yang ada di dekat jendela.

Dari yang dilihatnya, tempat tersebut merupakan spot favorit para mahasiswa, dilihat dari banyaknya anak kuliahan yang datang mengunjungi caffe itu.

Seorang pelayan menghampirinya dan menyodorkan sebuah buku menu. Alzam tak membuka, akan tetapi langsung memesan secangkir kopi hitam panas.

Pelayan itu pun kembali mengambil buku menu, dan berbalik meninggalkan Alzam.

Tak berselang lama, pesana pun datang, lengkap dengan gula sachet dan juga satu cup susu serta krim.

Dia terus memperhatikan keluar jendela, berharap segera melihat kehadiran gadis yang ditunggunya datang ke tempat itu.

Sesekali, dia menyesap kopi panas di depannya, yang telah ia tambahkan setengah sachet gula.

Sudah pukul satu siang, namun Olivia belum juga datang. Alzam pun mengambil ponsel dari tas selempangnya dan mencoba menghubungi gadis tersebut.

Namun, saat panggilan tersambung, tak lama kemudian terdengar bunyi mesin penjawab otomatis yang mengatakan bahwa panggilan ditolak.

Alzam mencebik kesal karena sikap Olivia yang tak jelas. Namun, tak lama kemudian seseorang berdiri tepat di depannya, dan membuat Alzam mengangkat kepalanya. Dia pun serta merta berdiri dari duduknya dan menatap ke arah orang tersebut.

“Nggak usah telepon terus! Aku nggak bakal kabur kok,” ucap orang yang adalah Olive itu.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!