“Kangen? Aku? Justru yang ada aku lega dia nggak ada,” jawab Alzam semakin kesal.
Dia kembali sibuk dengan kertasnya.
Nurul yang melihat hal tersebut pun mengerutkan kening dan melihat ke arah Abas yang tadi sempat berbincang dengan Alzam.
Pemuda itu nampak mengedikkan bahunya, tanda sama-sama tak tahu dengan suasana hati sang bos.
Kemudian, Amy datang membawakan minuman yang tadi dipesan kepada Nurul.
“Dari tadi, si bos manyun mulu tuh, Bu,” bisik Amy.
Nurul pun seolah tahu apa yang saat ini sedang terjadi pada sahabatnya tersebut.
“Zam, nggak boleh lho terlalu sebel sama orang. Bisa-bisa, kamu beneran balik suka sama orang itu,” sindir Nurul.
Alzam tak menanggapi kembali perkataan gadis cantik berhijab tersebut. Dia lebih memilih sibuk dengan urusannya dan tak menemani Nurul seperti biasa.
Sedikit banyak, Nurul yang sering berinteraksi dengan anak didiknya, tau tentang masalah psikologis anak muda yang sedang mengalami pubertas. Dia merasa jika apa yang dialami Alzam saat ini, adalah salah satu tanda yang biasa di alami oleh anak didiknya yang pernah melakukan konseling dengannya.
Dia pun tak mau semakin membuat Alzam kesal dengan semua spekulasinya itu. Nurul kemudian memilih untuk menikmati es kopinya, dan berbincang dengan Amy yang merupakan lulusan dari SMK tempatnya mengajar.
...☕☕☕☕☕...
Sudah sepekan Olivia tidak datang ke kedai. Hal itu membuat hari-hari pemuda tersebut menjadi tenang, namun tak dipungkiri bahwa ada ruang di hatinya yang sedikit hampa.
Setiap mendengar bunyi lonceng yang tergantung di atas pintu masuk kedai, dia akan segera mendongak dan melihat siapa yang datang. Kemudian saat sudah mengetahuinya, raut wajah pemuda itu seketika berubah kecewa, seolah yang datang bukanlah yang ia harapkan.
Abas yang sejak awal memperhatikan hal itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kenapa lu?” tanya Amy pada rekan kerjanya.
“Si bos lagi kasmaran deh kayaknya,” sahut Abas lirih.
Tiba-tiba, Amy memukul lengan sang senior, dan membuat pemuda itu hampir memekik. Dia pun balas mendorong lengan Amy sedikit.
“Hampir aja gue teriak! Iseng amat sih lu, bocil?” keluh Abas.
“Ya lagian lu kalo ngomong ngaco,” gerutu Amy.
“Siapa yang ngaco. Lu nggak ngerasa si bos akhir-akhir ini aneh?” tanya Abas.
Amy mengegeleng pelan karena sambil berpikir.
“Hah, ya udah lah. Anak kecil kaya elu emang nggak peka,” sahut Abas.
“Iya bener. Gue masih kecil, nggak kaya elu yang udah tua, Bang. Hahaha...,” kelakar Amy.
“Diem lu!” sahut Abas kesal.
Hari ini, kedai cukup ramai oleh pengunjung, karena memang saat ini sedang akhir pekan. Alzam begitu sibuk mengurus kedainya, ditambah kegiatan barunya yang selalu melihat siapa orang yang datang ke kedai, dan berkali-kali membuat wajahnya menjadi kecewa.
Hari ini kedai tutup lebih awal, karena semuanya habis terjual sejak sore. Jam delapan semua sudah beberes untuk pulang, dan jam setengah sepuluh semua karyawan kembali ke rumah masing-masing.
Alzam seperti biasa mengendarai motor matic ke mana pun ia pergi. Motor itu adalah kendaraan yang berhasil ia beli dari hasil usaha kedainya.
Sebelumnya, sejak duduk di bangku SMA, dia selalu menggunakan transportasi umum untuk pulang pergi, bahkan sampai dia lulus kuliah. Barulah saat dia mengajukan pinjaman modal ke bank, Alzam mulai merintis kedainya dan juga memakai sedikit uang tersebut untuk DP kredit motor.
Awalnya, meski dia ragu karena harus berhutang pada bank, namun karena ingin membuka usaha, akhirnya dia berani mengambil langkah tersebut.
Berbekal saran dari sahabatnya, Nurul, akhirnya Alzam menjatuhkan pilihan untuk mengajukan pinjaman kepada sebuah bank syariah, yang memiliki bunga lebih ringan dan perhitungannya sesuai dengan yang disyariatkan.
Hingga sekarang sudah hampir lima tahun, dan pinjaman Alzam hampir lunas sepenuhnya. Rencananya, setelah pinjaman tersebut lunas, dia akan mulai berpikir untuk membuka cabang kedainya di tempat lain.
Sebenarnya, dia bisa mengambil pinjaman lebih untuk membuka cabang, dan sudah pasti akan disetujui pihak bank, karena pembayaran angsuran Alzam tidak pernah terlambat sekali pun.
Dia mencoba untuk konsisten, meski usahanya ditahun-tahun awal masih belum stabil seperti sekarang.
Hal itu karena, pada dasarnya Alzam adalah orang yang takut berhutang, sehingga saat dia terpaksa berurusan dengan hal seperti itu, dia akan berusaha untuk segera melunasinya, agar tak terus menjadi beban pikirannya.
Dia ingat perkataan sang ibu yang mengatakan bahwa, orang yang meninggal saat masih memiliki hutang, rohnya tidak akan diterima di dunia dan akhirat, sebelum hutangnya lunas.
Berdasarkan hal tersebut, Alzam berusaha dengan baik agar hutangnya segera lunas, dan tidak mau mencoba berhutang lagi, sekalipun untuk modal usaha.
Dia lebih berencana untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit modal baru untuk membuka cabang di tempat lain. Itulah rencana jangka panjang Alzam.
...☕☕☕☕☕...
Sekitar pukul sepuluh malam, Alzam sampai di rumah. Dia menghentikan laju motornya saat memasuki pelataran rumah sang ibu yang ditinggalinya bersama kedua adik perempuannya sejak kecil.
Rumah sederhana bercat putih dengan jendela kayu bergaya lama yang dicat biru, serta lantai keramik putih berkualitas rendah. Namun di sana, ada kehangatan keluarga yang setiap hari bisa Alzam rasakan.
Saat dia menuntun motornya mendekati rumah, dia mendengar suara tawa riang dari dalam sana.
“Jam segini kenapa masih belum pada tidur?” gumam Alzam.
Dia kemudian menaikkan motornya ke teras, dan menurunkan standar samping, kemudian membuka helm yang sedari tadi masih bertengger di atas kepalanya.
Saat dia berjalan mendekati pintu, dia seolah mendengar sebuah suara yang sudah sepekan ini menghilang dari jangkauan telinganya.
Hatinya tiba-tiba berdegup sedikti kencang, dan semakin kencang saat salah satu adiknya memanggil nama seseorang yang sangat dia kenal.
Dia susah payah menelan salivanya dan mencoba berjalan ke arah pintu. Dia mengulurkan tangan dengan ragu untuk meraih gagang stainless tersebut.
Bismillah, gumamnya dalam hati, yang entah kenapa seolah memerlukan keyakinan penuh hanya untuk membuka sebuah pintu biasa. Jantungnya bahkan sampai berdegup begitu cepat dan membuatnya menahan nafas.
Dia pun kemudian menarik tuasnya dan mendorong benda itu ke dalam.
Semua yang berada di ruang tamu pun menoleh, melihat kedatangan seseorang dari arah luar.
“Itu Mas Azam!” pekik salah satu gadis yang berada di ruang tamu.
Alzam terkejut bukan main, meski sebelumnya dia sudah bisa nemebak siapa yang ada di dalam.
“Olivia?” gumamnya dengan tatapan lurus ke arah gadis itu.
Dengan santainya, Olivia yang masih duduk di kursi usang di ruang tamu tersebut, melambaikan tangan ke arah Alzam.
“Hai, Mas Al?” sapa Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
kika
aku suka crita bgini, dripada yg CEO2...udah bosen...wkwk
2023-08-13
1
Sri Widjiastuti
jahil apa julid?? mempeng ni si oliv
2023-02-13
0
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk Olivia gak dtg ke cafe lagi,tapi sekarang lebih nekat langsung dtg kerumah😂😂😂
2022-12-30
0